Pernikahan berlatar belakang perjodohan terpaksa harus Ares dan Queen jalani meskibtidak ada cinta di antara keduanya, bahkan mereka juga sama-sama sudah memiliki kekasih masing-masing, mereka sepakat untuk menerima perjodohan yang di atur oleh orang tua mereka demi tujuan mereka masing-masing, lantas bagimana Ares dan Queen menutupi rumah rangga mereka yang penuh kepalsuan itu, dan bagaimana kisah cinta mereka dengan pasangan mereka masing-masing, jika ternyata sebuah bencana justru menumbuhkan benih-benih cinta di antara keduanya, yuk ikuti kisahnya di sini ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita duka
"Segera ke rumah sakit Harapan, papah mu kritis!" suara Rahma hampir tidak terdengar jelas karena berbicara sambil menangis di ujung telepon sana.
Queen terhenyak antara sadar dan tidak dia langsung berdiri dan berlari keluar kamar, menyambar kunci mobil dengan pakaian seadanya untuk segera menyusul sang ibu ke rumah sakit.
Dengan pikiran yang kacau dan bayangan-bayangan buruk yang menghantuinya di sepanjang perjalanan membayangkan keadaan ayahnya yang tiba-tiba saja di kabarkan kritis, padahal baru tadi siang ayahnya mampir ke apartemennya.
Ada sekelumit ganjalan di hatinya, apa keadaan ayahnya ini ada hubungannya dengan pertengkaran dirinya dengan Ares? Adakah ayahnya mendengar apa yang di perdebatkan dirinya dengan suaminya tadi? Tapi,,, kenapa tadi siang sepertinya wajah ayahnya seolah tidak menunjukkan apapun jika memang dia mendengarnya.
Sampai di rumah sakit, Rahma yang tadinya sedang berdiri di depan pintu ICU langsung berlari dan berhambur memeluknya, "Queen,,,, papa mu Queen,,,, dia--- dia---"
Belum sempat ibunya menyelesaikan kalimat yang akan di sampaikan pada putrinya, pintu ruang ICU tempat dimana Soni di tangani terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan itu dengan wajah yang lesu, sudah bisa di tebak jika dokter itu akan membawa berita buruk.
"Bagaimana keadaan papa ku, dok?" tanya Queen melawan rasa takutnya, sekuat tenaga dia menyiapkan mental untuk jawaban terburuk yang akan di terimanya dari mulut sang dokter.
Namun ternyata, sekuat apapun dia berusaha, saat dokter menggelengkan kepalanya sambil berkata "Maaf," tangis Queen sudah langsung pecah, dia tahu apa maksud dari ucapan kata maaf dan gelengan kepala dokter yang ditanyainya itu.
Dunia tiba-tiba terasa gelap dimata Queen, tubuhnya meluruh ke lantai, kedua kakinya terasa lemas bagai tidak bertulang, sejurus kemudian dia sudah tidak ingat lagi apa yang terjadi padanya, karena dia kehilangan kesadarannya saking tidak mampu menahan emosi dan kesedihan dalam dirinya.
Entah berapa lama Queen pingsan, namun saat dia terbangun, tiba-tiba ayah dan ibu mertuanya sudah berada di sisi ranjangnya.
"Queen,,, kamu sudah bangun?" tanya Sekar sang ibu mertua mendekat.
"Papah--- mana papah ku?" tanya Queen dengan wajahnya yang sepertinya masih terlihat linglung.
"Queen, papah mu dalam perjalanan sedang di bawa ke rumah, di temani mama mu, kami di sini menunggu mu sadar, kuatkan diri mu, nak. Semua sudah menjadi takdir yang di atas. Sekarang berdoa saja agar perjalanan papa mu menuju keabadian di lancarkan, ayo kita pulang ke rumah mu, kamu sudah sanggup, kan?" ujar Sekar dengan lembut menguatkan hati Queen.
Tangis Queen kembali pecah, namun kali ini tidak bersuara, hanya tetesan air matanya saja yang semakin deras menganak sungai meluncur melintasi pipi mulusnya.
"Queen, kemana Ares?" tanya Panji tiba-tiba. Sejak kedatangan dirinya ke rumah sakit, dia belum melihat batang hidung putranya di sana.
"Ah,,, itu,,, emh,,, mas Ares,,, dia--- dia sedang tugas luar kota, aku belum sempat menghubunginya karena semalam terburu-buru datang ke sini menyusul mama." kilah Queen.
Tidak mudah mencari alasan yang logis untuk menutupi apa yang di lakukan suaminya dalam keadaannya yang sedang terpuruk seperti ini, alasan tugas ke luar kota satu-satunya alasan paling masuk akal yang dia pikirkan saat ini, namun dia lupa jika Panji mempunyai banyak akses untuk bertanya ke para staf di perusahaan putranya itu.
Panji hanya mengangguk, meski dari raut wajahnya terlihat jelas jika dia tidak puas dengan jawaban Queen.
"Baiklah, kamu segera ke rumah duka untuk menemani bu Rahma dan juga Queen, aku ada urusan sebentar, aku segera menyusul ke sana." kata Panji pada istrinya.
**
Di apartemen Elsa.
"Sayang mau kemana? Pagi-pagi sudah rapi begitu?" tanya Elsa yang melihat Ares sudah gagah dengan setelan kerjanya.
"Ke kantor lah, masih banyak yang harus aku selesaikan." jawab Ares sembari tangannya terus mengobrak abrik tas kerjanya seperti sedang mencari sesuatu.
"Sayang, besok kita akan menikah, kita harus mengecek dan memastikan jika semuanya sudah siap, bagaimana bisa kamu masih memikirkan pekerjaan, apa pernikahan kita tidak sepenting itu?" rajuk Elsa dengan nada di buat seolah-olah sedang kesal namun dengan nada manjanya.
"Bukan seperti itu, tentu saja pernikahan kita penting untuk ku, hanya saja---"
"Kalau memang pernikahan kita penting untuk mu, aku minta kamu menemani ku melihat tempat acara pernikahan kita, lupakan masalah pekerjaan untuk beberapa hari ini saja," rayu Elsa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ares dan bergelayut manja di lengan kekar Ares yang akhirnya mau tidak mau mengalah lagi pada permintaan kekasihnya itu.
"Baiklah, tapi aku kehilangan ponsel ku, aku harus menghubungi kantor,, apa kamu melihat dimana ponsel ku? Ares melonggarkan kembali simpul dasinya yang rasa-rasanya terasa semakin mencekik lehernya.
"Aku tidak melihatnya, bukankah semalam masih kamu pakai untuk menelpon beberapa klien penting?" kata Elsa.
"Iya, sepertinya aku mulai pikun, aku lupa dimana meletakkan ponsel ku." keluh Ares.
"Sudahlah, aku akan menghubungi staf kantor dan menugaskan mereka untuk menghandle pekerjaan mu untuk beberapa hari ini, sekalian aku juga mengajukan cuti ku." Elsa meraih ponselnya hendak menghubungi kantor.
"Tapi ponsel ku?"
"Ponsel mu tidak mungkin hilang, hanya kita berdua di rumah ini, mungkin kamu hanya lupa meletakkannya, aku akan membantu mu untuk mencarinya setelah ini," kata Elsa sambil mengusap layar pipih miliknya mencari-cari nomor tujuan yang akan di hubunginya.
**
Di kantor,
Langkah Panji yang akan masuk ke ruang kerja putranya di cegah oleh seorang staff yang menghentikan langkahnya.
"Selamat pagi tuan, apa anda ingin bertemu tuan Ares?" tanya staff itu ramah karena tahu jika yang ada di hadapannya itu adalah ayah dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Ya, katakan ke kota mana dia bertugas?" singkat Panji sambil mengangguk, dia tidak punya waktu untuk berbasa basi, bibirnya bahkan tidak tersenyum sama sekali saat staff itu menyambutnya ramah dengan senyuman tadi.
"Tuan Ares tidak sedang tugas keluar kota, beliau tidak masuk karena katanya sedang sakit dan harus istirahat selama beberapa hari di rumah." jawab staff itu dengan polosnya sesuai dengan informasi yang di dapat dari Elsa sebelumnya.
"Sakit?" beo Panji dan langsung di jawab dengan anggukan staff itu, "Dia di rumahnya?" tanya Panji lagi yang lagi-lagi di angguki pria yang berdiri di hadapannya itu.
"Lantas Elsa? Mana dia?" Panji melihat meja Elsa yang tidak jauh dari ruang kerja putranya yang juga kosong.
"Mba Elsa mengajukan cuti tahunan, tuan." terang staff itu.
"Beri aku alamat tempat tinggal Elsa sekarang juga, CEPAT!" teriak Panji di akhir kalimat yang terdengar seperti bentakkan akibat dia tidak mampu lagi menampung amarahnya.
katanya reza brandalan dan memanfaatkan quin.. lalu apa bedanya dg ares laki2.brenhsekmdan tdk bertanggungjawab.. selingkuh pula.. bukannyaembaea istei ke jalan yg benar malah menjerumuskan..
kau melaknat pelakor dan membinasakannya kayak bukan manusia
tapi kau begitu spesial kan pebinor thomas
*Thomas bisa merasakan tubuh queen
*queen sangat lembut dan pengertian dengan Thomas
*Thomas berkali merendahkan bahkan melecehkan harga diri suami queen dan queen diam saja
author ini kelakuan menjijikan lelaki yang begitu kau spesial kan di novel ini(Thomas)
*penjahat
*lelaki murahan yang nyesek sana sini
*lelaki menjijikan yang membayangkan tubuh istri orang
*lelaki menjijikan yang menjamah tubuh istri orang dengan ancaman
lelaki kayak begini yang kau spesial kan thor, miris polah pikirmu thor
pola pikir wanita dan istri jablay mereka akan kebaaperan dengan pria lain yang suka padanya, bahkan jika lelaki itu menghalalkan tubuh nya bahkan sampai menjamah tubuh, istri kayak gini tetap akan lembut pada pria itu, dan kalau wanita2 kayak gini berkarya buat novel jadi novel2 kayak gini yang sangat memuja2 pebinor, begitu lembutnya merekan memperlakukan pebinor bahkan mereka biarkan pebinor menjamah tubuh pemeran utama wanita (sudut pandang authornya)
ingat novel kalian adalah cerminan karakter kalian