NovelToon NovelToon
Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Mengubah Takdir
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.

Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.

Lalu Yong Ing meninggal.

Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.

Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.

Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.

Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.

Dan itu baru tiga hari pertama.

Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.

Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023: Tertangkap Basah

Tiga hari itu terasa seperti menahan bara di telapak tangan.

Jason tetap bekerja, tetap makan, tetap menjawab kalau ditanya. Tetapi semua orang di rumah Lim tahu ia sedang menahan sesuatu yang bisa meledak kapan saja.

Malam pertama, ia duduk di teras sampai lewat tengah malam. Daniel keluar membawa segelas air hangat, berdiri sebentar di sampingnya, lalu tidak jadi bertanya. Ayah dan anak itu sama-sama bukan orang yang pandai membuka luka dengan kata-kata.

"Kalau tidak kuat, masuk," kata Daniel akhirnya.

Jason hanya mengangguk.

Malam kedua, Margaret menemukan kotak mochi masih utuh di meja. Semut sudah mulai mendekat. Ia membuang kotak itu tanpa bertanya. Jason melihat dari pintu dapur, matanya merah, tetapi ia tidak berkata apa-apa.

Malam ketiga, Vanessa hampir tidak tahan.

"Mama, kalau aku jadi Jay, sudah kuseret rambutnya."

"Karena itu kamu bukan Jay," kata Margaret.

Vanessa terdiam, lalu bergumam, "Kadang Mama terlalu benar sampai menyebalkan."

Livia pulang setiap malam dengan alasan berbeda.

Hari pertama, lembur laporan.

Hari kedua, rapat pembelian.

Hari ketiga, stok gudang kacau.

Margaret tidak membantah satu pun.

Ia hanya meminta Jason mengingat jam, tempat, dan pakaian. Dari potongan-potongan kecil itu, pola mulai terlihat. Livia selalu keluar setelah makan siang. Ia selalu turun di dekat department store, tetapi tidak selalu masuk. Kadang ia berjalan ke arah losmen kecil di belakang RS, tempat tamu luar kota biasa menginap murah.

Sore hari ketiga, Margaret berkata, "Hari ini."

Jason berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong.

"Aku ikut."

"Memang kamu ikut. Tapi dengar dulu. Kalau pintu terbuka dan kamu melihat sesuatu, jangan sampai lupa tujuan."

"Tujuan apa?"

"Bukti. Bukan membunuh orang."

Jason tertawa pendek. Tidak lucu.

Margaret membawa Nokia, foto yang sudah dicetak kecil di studio kilat, dan tas kain kosong. Ia juga menyuruh Oscar berjaga di rumah, kalau harus memanggil Adrian.

Oscar memegang telepon rumah seperti prajurit memegang senjata. "Kalau Ko Adrian tanya ada apa?"

"Bilang bawa tas kantor dan jangan banyak tanya."

"Dia pasti tetap banyak tanya."

"Suruh dia tanya di jalan."

Losmen itu berdiri di gang sempit dekat RS. Cat dindingnya kuning kusam. Di depan ada meja resepsionis kecil, kipas angin berputar lambat, dan seorang penjaga yang terlihat malas.

Margaret tidak masuk dari depan.

Ia sudah bertanya pada pedagang rokok di sebelah. Tangga belakang losmen dipakai untuk tamu yang tidak ingin terlalu terlihat. Livia masuk lewat sana setengah jam sebelumnya. Martin menyusul sepuluh menit kemudian.

Jason mendengar itu, wajahnya langsung kosong.

Kosong lebih menakutkan daripada marah.

Mereka naik tangga belakang. Lantai dua bau sabun murah dan rokok. Di ujung lorong, suara tawa perempuan terdengar pendek.

Jason berhenti.

Margaret menatap pintu nomor 207.

Di dalam, Livia berkata, "Nanti malam aku pulang sebentar. Dia sudah curiga."

Suara laki-laki menjawab, "Biarkan. Orang seperti dia bisa apa?"

Kalimat itu menjadi kunci.

Jason menutup mata satu detik.

Selama tiga hari, ia masih menyisakan satu bagian kecil dalam dirinya yang berharap semua ini salah. Mungkin Livia memang bekerja. Mungkin foto di toko kopi hanya salah paham. Mungkin ia, yang sejak kecil sering dianggap kasar dan bodoh, kali ini juga terlalu cepat marah.

Satu kalimat Martin menghabisi bagian kecil itu.

Jason menendang pintu.

Kunci losmen murahan itu langsung terlepas.

Livia menjerit.

Martin, yang sedang duduk di tepi ranjang dengan kemeja terbuka di leher, melompat berdiri. Livia berdiri di samping meja, rambutnya tidak serapi biasanya, tasnya terbuka, dan wajahnya putih seperti kertas.

"Ko!"

Jason tidak menjawab.

Ia maju dan memukul Martin sekali. Laki-laki itu jatuh menabrak meja kecil. Gelas air tumpah, map cokelat terbuka, beberapa kertas meluncur ke lantai.

Margaret masuk tepat setelahnya.

"Cukup."

Jason masih ingin maju. Napasnya keras. Kedua tangannya mengepal.

"Cukup," ulang Margaret.

Livia meraih tasnya dengan tangan gemetar. "Mama, ini salah paham. Kami hanya teman biasa. Urusan kerja. Martin sedang bantu aku..."

Margaret mengangkat Nokia.

Layar kecil itu menyala. Foto pertama muncul: toko kopi, Livia dan Martin duduk terlalu dekat.

Livia berhenti bicara.

Margaret menekan tombol lagi. Foto kedua, tangan Martin di punggung kursi Livia.

"Teman biasa?" tanya Margaret.

Martin berdiri sambil memegang sudut bibirnya. "Kalian menerobos kamar orang. Saya bisa lapor."

Jason menoleh.

Martin langsung mundur setengah langkah.

Margaret tersenyum tipis. "Lapor saja. Nanti jelaskan juga kenapa istri orang ada di kamar losmenmu."

"Kami tidak melakukan apa-apa!" Livia berteriak.

Vanessa tidak ada di sana. Sayang sekali. Kalau ada, kalimat itu pasti sudah digoreng sampai matang.

Margaret hanya melihat tas Livia yang terbuka.

Di dalamnya ada bedak, sisir, dompet, dan amplop cokelat kecil.

Livia melihat arah mata Margaret. Ia langsung meraih tas itu.

Jason lebih cepat.

Ia menarik tas dari tangan Livia. Barang-barang jatuh ke lantai. Livia menjerit dan mencoba mengambil amplop.

Margaret mengambilnya dulu.

Di dalam amplop ada slip transfer bank.

Nama penerima: Martin Liu.

Jumlah: Rp 500.000.

Tanggalnya bukan sekali. Ada tiga lembar, tiga bulan berturut-turut.

Ruangan itu mendadak tidak punya udara.

Jason menatap angka itu lama.

"Ini uang apa?"

Livia menangis seketika. "Aku pinjamkan. Dia ada masalah. Aku cuma membantu teman."

"Uang bulanan?" suara Jason pecah.

Livia tidak menjawab.

Margaret memegang slip itu dan tertawa kecil tanpa senyum.

"Pantas lauk di rumah makin tipis. Ternyata uang bulanan dipakai memberi makan laki-laki orang."

Martin marah. "Jaga mulutmu!"

Jason bergerak lagi.

Margaret tidak mencegah kali ini, hanya berkata, "Jangan pukul kepala."

Martin mendengar itu dan wajahnya berubah. Ia mundur sampai punggungnya menabrak lemari.

Di lorong, pintu-pintu mulai terbuka. Penjaga losmen naik dengan panik. Margaret segera memasukkan slip transfer ke tas kainnya, lalu menyuruh Jason berdiri di dekat pintu.

"Telepon Adrian," katanya pada penjaga. "Atau kami telepon Polsek."

Penjaga losmen langsung lebih patuh.

Setengah jam kemudian, Adrian datang dengan kemeja kerja kusut dan tas kantor di tangan. Wajahnya menunjukkan satu hal: ia sudah terlalu sering dipanggil saat keluarga ini meledak.

Begitu melihat ruangan, Martin yang babak belur ringan, Livia yang menangis, Jason yang seperti tiang listrik mau tumbang, dan Margaret yang duduk tenang memegang slip bank, Adrian menghela napas panjang.

"Lagi-lagi aku yang bereskan kekacauan."

Margaret menunjuk kursi. "Duduk. Kerja."

"Mama bahkan tidak kasih aku waktu mengeluh."

"Mengeluh sambil kerja."

Adrian duduk.

Dalam sepuluh menit, ia sudah memisahkan barang bukti: foto Nokia, slip transfer, nama losmen, nomor kamar, nama Martin, dan keterangan penjaga. Ia tidak banyak bertanya pada Jason. Ia tahu adiknya sedang pecah dari dalam.

Penjaga losmen mencoba mundur pelan-pelan.

Adrian langsung menoleh. "Jangan pergi dulu. Kamu lihat mereka masuk jam berapa?"

Penjaga itu menelan ludah. "Saya cuma jaga meja."

"Bagus. Berarti kamu tahu meja menerima kunci kamar nomor 207 dari siapa."

Margaret hampir tersenyum. Adrian kalau sudah memegang tas kantor, wajahnya memang menyebalkan, tetapi berguna.

Martin mencoba mengambil map cokelatnya.

Adrian menahan map itu dengan satu jari.

"Semua barang di meja jangan disentuh dulu."

"Kamu polisi?"

"Bukan. Tapi aku orang yang akan membuat urusanmu dengan polisi jadi sangat rapi kalau kamu terus banyak bicara."

Martin menutup mulut.

Adrian menulis keterangan di belakang salah satu foto. Tanggal, jam, tempat. Tulisannya cepat dan kecil. Di bagian bawah ia menyuruh penjaga losmen paraf.

Penjaga itu tampak ingin menolak.

Jason menatapnya.

Penjaga itu langsung paraf.

Livia mencoba mendekati Jason.

"Ko, dengarkan aku. Aku salah, tapi kita bisa bicara di rumah."

Jason mundur.

Gerakan itu lebih keras daripada tamparan.

Livia membeku.

Adrian membuka dompet Livia untuk mencari KTP karena perlu mencatat identitas. Di sela kartu belanja dan nota toko, ada kertas kecil dari klinik dekat RS.

Awalnya ia hanya melirik.

Lalu wajahnya berubah.

"Mama."

Margaret menoleh.

Adrian menyerahkan kertas itu.

Hasil pemeriksaan kehamilan.

Positif.

Perkiraan usia kandungan: delapan minggu lebih.

Jason menatap kertas itu, lalu menatap Livia.

Ruangan itu menjadi sangat senyap.

Adrian menutup mata sebentar, seperti orang yang ingin menghindari pekerjaan tetapi pekerjaan itu berdiri tepat di depannya.

"Jay," katanya pelan, "kamu dan Livia... terakhir kapan?"

Wajah Livia kehilangan seluruh warna.

Jason tidak menjawab.

Ia tidak perlu menjawab.

Margaret melihat tangan anaknya perlahan turun, bukan karena tenang, melainkan karena seluruh tenaganya seperti habis dicabut.

Sudah lebih dari tiga bulan.

1
🌸nofa🌸
keren banget kak, nambah pengetahuan tentang pengelolaan keuangan keluarga. makasih dah rutin update🙏
Fauziah Daud
mantap.. trusemangattt
Fauziah Daud
karen
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
Dewiendahsetiowati
crazy up thor
Dewiendahsetiowati
wah Margaret asetnya sudah berkembang banyak
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ini waktu up nya ngga salah liat kan ya/Shy/
Dewiendahsetiowati
mantab Margaret
Dewiendahsetiowati
belum mulai sudah tekor duluan,tapi tetap semangat Jason
Dewiendahsetiowati
Jason mulai bangkit lagi bersama Marco dan Toby
Dewiendahsetiowati
Margaret suka bener deh ngomongya🤣🤣
Dewiendahsetiowati
kasihan Jason
Dewiendahsetiowati
Ama the best deh aktingnya,Jason jadi bodyguard jadi tenaganya kayak Hulk dibutuhkan.Vanesa dan Margaret mulutnya bon cabe level 100.kelyarga kocak dan kompak🤣🤣
Dewiendahsetiowati
Oscar bikin ngakak 🤣🤣
Dewiendahsetiowati
ada main nih sama kakak iparnya
Dewiendahsetiowati
semua sudah berjalan kearah yang benar tinggal buang benalu yang ada dirumah👍👍
Dewiendahsetiowati
othornya taruh bawangnya kebanyakan,nyesek baca part Sophie😭😭😭
Dewiendahsetiowati
bagus Margaret tegas sama orang2 toxic
Dewiendahsetiowati
hadir thor
cinnamon
kapan up nya thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!