Penglihatan menembus dimensi ghaib. Tidak hanya di alam nyata, dalam pandangan lain bahwa sosok Indigo ketika berada alam bawah sadar itu sukmanya bisa terlepas keluar dari badannya. Berjalan-jalan menembus ruang dan waktu dunia lain. Setiap malam dirinya di kejar kematian yang mengancam. Para Indigo yang meninggal nanti ada dua kemungkinan. Yang pertama takdir dari Yang Maha Kuasa atau yang kedua karena tidak dapat kembali ke wujud tubuhnya di alam dunia. Simak kisahnya..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Tabir Alam bersinggah
Siapa yang mengikuti gerakan suara membayang membisik suara mengerikan?
Ketukan kata hati
Satu keinginan Ming sesegera mungkin anaknya Fengsi terbebas dari masalah. Atas persetujuan sang putri, Ming membawa Feng berobat ke seorang tabib. Meskipun dia mengetahui penyakit anaknya bukanlah penyakit medis, tapi besar harapannya dengan ramuan penenang di harapkan Feng terlepas dari penderitaannya.
Sebelum pergi, Aluna memberikan sebuah benang hitam ke tangan Ming. Dia berjanji akan datang ke alam lain membantu menemukan benang hitam jika di pakaian ke tangan Feng. Namun pandangan yang terlihat bukan semudah membalikkan telapak tangan.
Sebelum memasangkan benang di tangan Feng, dia harus memastikan tidak akan terputus sehingga Aluna bisa mencari keberadaanya ketika di alam lain.
Mencoba menjalani pengobatan dari tabib kepercayaan Kerajaan tidak menyembuhkan gejala aneh pada Feng. Tepat di malam hari Feng melayang, kemudian dia menempelkan tubuhnya di dinding. Setelah menjerit sekuat-kuatnya.
Tin_tin__
Klakson mobil rombongan mahasiswa teman sekampus Feng beramai-ramai datang menemui Feng. Tiga dari enam orang yang berdiri di depan pintu itu memasang wajah tertekuk kecut. Pandangan mereka langsung tertuju ke dalam ruangan. Terutama Cira yang melingak-linguk mencari Feng.
“Ajuma Ming, kami datang mau menjenguk Feng. Kami dengar Feng sedang sakit..”
“Cira, terimakasih sudah mau datang dan terimakasih juga pada teman-teman Feng yang lainnya. Mari masuk, Feng ada di kamarnya” jawab Ming membuka Tirai gorden kamar anaknya.
Tiga teman perempuan masuk dan tiga anak laki-laki mencari kursi sandar di samping ruangan. Ming menyuguhkan minuman dan kue di dalam toples-toples kaca. Cira membantu meletakkan di meja lalu mendekati Ming untuk menyampaikan pendapatnya.
“Ajuma..... Maaf sebelumnya perihal Cira yang tidak tau apa kaitan Feng dengan lokasi akan kami teliti lebih lanjut.Tugas kampus menuju daerah pedalaman di daerah Barat. Kami baru mengetahui beberapa hari lalu, Feng mengatakan tempat lokasi kami belajar di dekat rumah nenek Feng.”
“Cira, Ajuma tidak tau harus berbuat apa. Satu harapan Ajuma yang menginginkan Feng lekas sembuh.”
......................
Dua minggu berlalu
Feng tampak mulai sehat dan kembali sedia kala. Akan tetapi Ming di kejutkan mendengar ucapan anaknya sepulang dari kampus. Keinginannya yang kuat pergi ke wilayah Barat sambil singgah ke rumah sang nenek.
“Feng, kita sudah membahas sebelumnya. Ada sesuatu yang memberatkan keluarga kita sehingga tidak lagi berpijak di tanah tersebut.”
“Bu, Feng sudah besar dan bisa jaga diri. Ini keputusan Feng bu, sepertinya nenek memanggil Feng untuk pulang kampung..”
Feng membujuk ibunya tanpa henti, Ming sangat berat melepaskan anaknya walau hanya beberapa hari. Dia meminta Feng memakai gelang tali hitam dan berjanji agar jangan pernah melepaskannya. Perjalanan panjang di mulai di pagi hari yang mendung, Ming yang masih tidak tenang berkali-kali memeluk anaknya.
Mobil melaju selama tiga jam, sepanjang perjalanan hanya ada pepohonan di bagian samping kanan dan kiri. Berjarak satu meter dari lepas pantai, mereka beristirahat sembari menikmati pemandangan. Cira melupakan amanat dari Ming, dia yang terlalu penat hingga terkesima melihat pemandangan lepas pantai berlarian hingga berpose di depan kamera dengan teman-temannya.
“Ci, si Feng mana?” tanya Uza yang tampak kebingungan.
“Ya ampun aku baru ingat si Feng! Gawat, Ajuma Ming pasti marah besar sama aku kalau tau aku nggak menjaganya. Aku kira Feng sedari tadi sama kamu za!”
Cira berlari mencari di susul teman-teman yang lainnya. Uza paham betul akan sifat Feng yang tidak suka akan keramaian. Uza menemukan dia berjongkok menghadap ke pohon yang tampak angker. Batang-batangnya yang tinggi dan berimpitan, Uza menepuk pelan pundaknya.
“Ming, kamu ngapain? Aku cariin kamu dari tadi..”
“Aku lagi ngobrol sama adik-adik kecil, mereka kehausan Za.”
“Udahan yuk kita lanjutin perjalanannya keburu malam.”
Za menggandeng tangan Ming, sekali lagi dia menoleh ke belakang. Tidak terlihat seorang anak pun disana.
Setengah perjalanan yang panjang di isi dengan senda gurau. Feng mulai kelelahan tanpa terasa tertidur bersandar di pundak Uza. Benang yang terkait di pergelangan tangan Feng perlahan mulai terlepas dari tangannya. Feng mengalami mimpi buruk, suara –suara yang memanggilnya semakin jelas terdengar. Antara sulit membuka mata, tubuh terasa tertindih seolah nafas tergantung di tengah tenggorokan.
Sebuah acara tradisional pertunjukan tari-tarian, wajah-wajah penari yang pucat fasih. Feng di tarik sosok wanita tua yang tersenyum memperlihatkan giginya berwarna hitam. Dia di giring ke bagian tengah, memasangkan beberapa kalung di lehernya.
Kalung panjang hingga menjulur ke bagian perut di ronce berbagai macam bunga yang wanginya sangat menyengat. Kalung kedua aksesoris tulang-belulang yang di rangkai membuat Feng bergidik membayangkan tulang hewan apa yang ada di kalungnya. Pada kalung ketiga, Feng berteriak karena tidak kuat lagi menahan rasa takut.
Berlari di dalam kesibukan orang-orang yang melakukan menatapnya melotot di sela melakukan kegiatannya. Feng tersandung batu nisan, perlahan sosok tangan dari dalam tanah menariknya dengan cengkraman yang sangat kuat.
“Feng! Feng!”
Berkali-kali Uza membangunkan sampai Feng benar-benar dalam posisi sadar. Di depan tanda papan nama jalan, terlihat jalan masuk yang sangat sempit sehingga tidak memungkinkan kendaraan masuk ke dalamnya. Uza berdiri paling belakang, dia membawa barang-barang Feng dan memastikan melewati jalan tikungan pandangannya tetap tertuju agar tidak kehilangan jejaknya.
Ada dua cabang memasuki pedesaan, satu cabang adalah desa wilayah Barat dan satunya lagi desa wilayah Khusus pemilik suku asli.
“Kita belok kiri aja, jangan sembarangan langsung meneliti sebelum melakukan ritual atau persyaratan di tempat ini” ucap Yopi mengingatkan.
“Tapi kan di bagian kanan udah jelas kalau itu rumah nenek aku. Kok harus pake pamit ke warga lain? Huffhh!”
“Feng benar Yop, udah mulai turun hujan nih. Kita ambil jalur kanan aja yuk..” Cira berteriak berlari mendahului yang lain.
Berhenti mengamati rumah panggung berciri khas adat tingkat tiga yang terbuat dari bahan material kayu sedangkan atapnya terbuat dari ijuk. Memasuki pintu depan ada puluhan anak tangga, di bagian tangan tangga banyak di tumbuhan lumut hijau yang menempel.
“Nenek!” teriak Feng.
Di depan pintu yang terbuka separuh, telah berdiri seorang wanita memakai penutup kepala berwarna hitam melebarkan senyuman melihat Feng. Tanpa sepatah kata pun yang terlontar, dia menarik tangan Feng ke dalam. Teman-temannya ikut masuk, di dalam rumah berlampu cahaya redup berwarna merah, mereka di kagetkan mendengar suara tawa wanita-wanita yang tertawa duduk di bagian sudut.
“Arghh!” teriak Yopi bergerak keluar tiba-tiba pintu terbanting tertutup.
“Huhh! Hampir lepas jantung ku!” Cira yang mulai curiga melihat keanehan rumah.
“Feng, kamu yakin ini rumah nenek kamu?” bisiknya bernada bergetar.
Penggambaran suasana dan detail dalam cerita ini sangat kuat, membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan ketegangan dan ketakutan yang dirasakan oleh Aluna.
Saya penasaran dengan bagaimana Aluna akan menemukan solusi untuk menghadapi bencana yang akan datang, dan apakah dia akan berhasil mengubah nasibnya.
Pesan tentang pentingnya keberanian, persatuan, dan harapan dalam menghadapi tantangan hidup sangat menginspirasi.