Reuni, ajang bertemunya kembali dengan kawan lama. Tidak jarang, ajang ini dijadikan momen pamer kekayaan dan kekuasaan. Apakah mungkin, kisah cinta lama dapat bersemi kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Nyak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mandi Bersama
Pov : Tompi
Satu minggu setelah Gandi pulang dari rumah sakit, aku hanya berkomunikasi lewat ponsel. Tidak lagi mengunjungi rumah Widya. Sama-sama introspeksi diri dan merenung, mau seperti apa kami ke depannya? Aku juga punya perasaan, dan aku tidak mau dia melukaiku lagi.
Hari-hariku masih sama seperti sebelumnya. Setiap sore bertemu dengan Widya di rumah karena luka mamah masih sedikit terbuka. Tentu saja tidak ada komunikasi dengannya. Terkadang aku mencoba menghindarinya, tapi selalu saja aku masih bertemu dengannya.
Sore itu aku pulang lebih awal. Aku mengecek kamar mamah dan ternyata sudah ada wanita itu. Kulihat masih ada sedikit lubang di bibir mamah.
"Itu kapan nutupnya, sih?" tanyaku ingin tahu.
"Kenapa? Sudah tidak tahan bertemu denganku terus?" Galaknya Widya hari ini. Apa dia tersinggung dengan ucapanku ketika di rumah sakit?
"Kata siapa aku tidak mau bertemu lagi denganmu?"
Widya dan mamah memandangiku. Aku segera balik badan dan meninggalkan kamar mamah. Kupilih menyiram tanaman di belakang rumah. Sayang sekali, beberapa ada yang sudah mati kering karena kurang air. Widya yang sudah selesai melakukan perawatan luka menghampiriku.
Awalnya hanya mengikuti langkahku. Mengajakku mengobrol dan menanyakan aku sudah makan atau belum. Aku enggan membangun komunikasi lagi dengannya. Pokoknya aku sudah bertekad akan move on darinya.
Hah, aku juga heran dengan diriku sendiri. Kenapa aku susah sekali move on darinya? Gerakan Widya mengejutkanku. Tiba-tiba saja dia merebut selang air dariku lalu menyemprokan air ke bajuku.
"Wid!" protesku karena kaos yang kupakai basah.
Dia malah mengejekku. Menjulurkan lidahnya dan menyemprotkan air lagi. Aku berkacak pinggang lalu tersenyum. Apa ini? Dia ingin bermain denganku? Permainan yang menurutku hanya cocok untuk anak-anak? Tapi aku menikmatinya. Dia membombardirku dengan semprotan air. Hingga bajuku basah kuyup.
"Widya, stop! Awas kamu ya!"
Kucoba merebut selang air itu dan berhasil. Dia mulai ketakutan dan mulai berteriak kecil. Kusemprot semua badannya dari mulai hijab sampai rok jeans yang dipakainya. Tidak ada tempat berlindung. Dia malah berlindung di balik tubuhku. Kuputar badan lalu kusemprot lagi ia dengan air.
"Stop, Mas. Dingin!" pintanya agar aku menghentikan aksiku. Dia masih mencoba menghindari semprotan air dariku.
Aku tidak peduli, aku masih menyemprotnya dengan air. Setelah puas barulah kuhentikan aksiku. Kami berdua sama-sama tertawa. Kulepaskan selang air itu dan mendekatinya.
Aku tidak peduli lagi dengan dunia yang menentang kami. Kuanggap dia memberiku sinyal untuk kembali merajut hubungan ini lagi. Godaannya mampu meluluhkan rasa benciku dengan mudah. Untuk kesekian kalinya, aku jatuh hati pada wanita bernama Widya.
Ku pegang pipinya lalu aku melayangkan ciuman di keningnya. Tidak kusangka, balasanpun kuterima. Tubuhku langsung dipeluknya dengan erat.
"Aku rindu sama kamu, Mas." Pelukannya semakin erat. Akupun membalasnya.
"Kamu sendiri yang memulainya, ya? Jangan minta putus lagi. Semoga ini adalah kesempatan kita mendapatkan restu mamah, Yang."
Dia tertawa, "Cie ..., sudah tidak marah lagi, ya?"
Akupun tersenyum, begitu mudahnya dia menghapus kemarahanku. Mati-matian aku sok jual mahal, eh, dilebur dengan mudah olehnya.
"Mas, dingin."
Aku enggan melepas pelukanku, malah semakin ku pererat.
"Aku bisa masuk angin nanti, Mas." Widya masih saja protes.
Akhirnya aku melepaskannya. Dia bingung sendiri bagaimana caranya pulang. Salahnya sendiri menggodaku.
"Pinjam bajunya kak Tisha saja." Aku segera mencari ponselku. Kuminta Rania mengantarkan bajunya ke rumah.
"Tante kok bajunya basah semua kenapa?" tanya Rania ketika melihat Widya basah kuyup.
Sebelum dia menjawab, aku sudah bersuara. "Tante sama Om baru saja main air bersama!"
"Ha? Main air? Dimana? Kamar mandi?" tanya remaja itu. Aku tahu yang dia pikirkan sampai anak itu bergidik ngeri. Widya memarahiku karena bicara sembarangan pada Rania.
"Ganti baju di kamar sana," selorohku sembari mengeringkan rambut.
Aku memeriksa ponselku lagi.
Ipar Gue : Hei! Bocah gendeng! Ngomong apa kamu sama Rania? Pikiran anakku menjadi traveling, Tompi!
Ipar Gue : Tapi, emang beneran kalian mandi bersama?
Aku tertawa membaca pesan itu. Sudah kuduga, Rania pasti overthinking. Siapa juga yang bilang kami mandi bersama? Aku hanya bilang, main air bersama. Tapi, ya sudahlah, biarkan anggapan mereka begitu.
Me : Iya, kami mandi bersama. Percintaan orang dewasa kan memang begini, Kak!
Ipar Gue : Bocah gendeng! Kalau sampai ada aib lagi, Kakak nggak mau bantu! Itu baju yang dipakai Widya nggak usah dikembalikan. Baru buka segel tuh. Anggap hadiah dari Kakak. Tapi, kalian beneran balikan?
Me : Sudah mandi bersama ya berarti balikan, to!
Ipar Gue : Astogee, semoga kalian cuma mandi doang, nggak lebih!
Kembali aku terpingkal-pingkal karena kak Tisha ikut-ikutan overthinking. Widya bertanya apa yang membuatku senang. Dia membaca pesan itu dan memarahiku. Segera kutarik pinggangnya sehingga kini dia duduk di pangkuanku.
Widya hendak berdiri, takut ketahuan oleh mamah. Aku merapikan rambutnya yang keluar dari handuk. Hasratku sebagai lelaki pastilah muncul. Sekuat tenaga aku menyembunyikannya. Belum saatnya.
"Tunggu sekitar enam bulan lagi, aku akan datang melamar pada abah. Dan saat itu, aku sudah mundur dari jabatanku saat ini," ucapku penuh keyakinan.
Widya tidak setuju. "Tapi, Mas, pekerjaan itu adalah hal yang kamu cintai."
Aku menggeleng, "Hal yang paling aku cintai di dunia ini adalah kamu dan Gandi. Tolong jangan cegah usahaku. Sebaliknya, dukung calon suamimu ini sepenuhnya."
Kami saling beradu pandang, ku katakan lewat sorot mataku, aku mencintaimu, Widya.
Dia menghela napas. "Ya sudah, terserah kamu saja. Kamu mau usaha apa?"
"Aku sudah mulai bisnis jasa bodyguard dan pengawalan. Bulan ini mau beli tanah, nantinya mau aku buat wahana air soft gun. Bukan sendiri sih, patungan sama teman-teman. Percayalah denganku, hargai usahaku dengan cara mendukungku, oke?"
Dia mengangguk. Suara mamah lirih terdengar memanggil nama Widya. Kami segera beranjak menuju kamar mamah. Aku mengikutinya dari belakang.
"Ada apa, Tante?" tanya Widya.
"Tante lapar," jawab Mamah.
"Mau makan apa? Widya kupaskan buah, ya?"
Telaten sekali wanita ini. Aku duduk di samping mamah, lalu mulai kulancarkan aksiku.
"Mamah ini sudah tua. Apa nggak ingin punya mantu yang bisa merawat Mamah, yang telaten seperti Widya?" tanyaku.
"Pengen, coba kamu cari." Mamah menunjuk buah melon untuk dimakannya.
"Tompi kalau suruh cari sudah tidak ada waktu, Mah. Kalau yang di depan Mamah saja bagaimana?" tanyaku dengan rasa takut jika mamah menolak lagi.
Suasana hening dan mencekam. Hanya terdengar suara detikan jam dinding. Hal yang baru saja kukatakan sungguh di kuar kendaliku. Hanya saja, aku tahu ini adalah sebuah peluang. Semoga saja peluang kali ini berpihak padaku.
"Maksud kamu Widya, Tom?" tanya Mamah.
Aku mengangguk. Berharap ada jawaban yang memang kuinginkan dari mulut mamah.
"Kamu cinta sekali sama anak saya? Memangnya kamu betah punya mertua cerewet seperti saya? Apa kamu sanggup mendampingi Tompi?" Pertanyaan itu tertuju untuk Widya.
Widya memberikan buah melon yang selesai dikupasnya. "Sangat cinta, Tante juga dari dulu tahu bagaimana perasaan saya. Bukan cerewet, Tante itu terlalu sayang sama anak Tante, sampai semua harus sempurna di mata Tante. Widya hanya bisa menjadi diri sendiri, kalau dipaksa harus seperti almarhumah istri mas Tompi, atau seperti kak Tisha, saya tidak bisa."
Widya mengambil tisu untuk membersihkan tangannya. "Satu hal yang bisa saya janjikan untuk Tante. Saya akan mendampinginya sampai akhir. Memberikan apapun yang terbaik untuk anak Tante. Untuk rasa cinta, dibagi dua. Untuknya dan Gandi."
"Widya juga hanya bisa memberikan Tante sebuah bakti. Mengurus Tante sebaik mungkin. Semua keputusan ada di Tante, kalau Tante setuju, kami akan lanjut. Kalau tidak, ya sudah. Mau diapakan lagi?"
Anak ini ingin kujewer. Gampang sekali dia bilang kalau tidak ya sudah. Mamah harus merestui kami. Tidak bisa tidak!
"Mamah merestui kalian," ucap Mamah sambil tertunduk.
Aku dan Widya saling membelalak. Kami tidak salah dengar bukan? Aku meminta mamah mengulangi ucapannya. Hal itu benar adanya. Kami berdua terharu, sama-sama memeluk mamah dan mengucapkan terima kasih.
Widya pamit pulang karena sudah menjelang maghrib. Aku merengek memintanya tidak usah pulang. Menunjukkannya kamarku.
"Halangan kita masih satu, Sayang. Sabar ya? Nanti kalau sudah terlewati, tidak usah kamu tunjukkan jalan menuju kamarmu, aku akan masuk sendiri," balasnya
Aku kembali terkekeh. "Lalu bagaimana caraku dekat dengan abah? Aku takut jika kupaksakan kesana, abah terkena serangan lagi."
"Itulah yang sedang kupikirkan. Biar Gandi mencoba mengubah cara pikir akungnya dulu. Aku juga akan meminta bantuan mas Han."
Aku tidak suka jika Widya menyebut nama lelaki itu.
"Aku cuma minta tolong lho, Yang. Jangan meragukanku!"
Widya menyalamiku, persis seperti seorang istri yang hendak pamit pada suaminya.
"Oke, hati-hati. Suruh Gandi mampir kesini pas pulang les. Aku mau mengenalkannya pada mamah," pintaku.
"WA sendiri, bukannya kamu dekat sekali dengan calon anakmu, Pah?" Widya sudah mulai berani memanggilku seperti Gandi. Aku sampai tidak percaya dengan panggilannya untukku.
"Kamu itu tidak mendekatiku, tapi mengambil hati anakku. Bagaimana bisa move on kalau ceritanya begitu?" protesnya sembari memakai helm. Aku tidak hanya jatuh cinta padanya. Aku sudah terlanjur sayang dengan Gandi.
Aku membuka gerbang, tepat saat dia akan mundur, mobil mas Tugas menghalangi jalannya.
"Woi, bapak Kapolres, mobilnya maju dikit. Nggak bisa lewat nih, ah!" Berani sekali bibirnya itu. Ah, momen pembalasan. Jika dulu mas Tugas marah karena sepeda Widya menghalangi jalannya, kini bergantian.
Aku tertawa mendengarnya. Sedangkan mas Tugas berkedip beberapa kali tidak percaya dengan perkataannya. Mas Tugas memarkirkan mobilnya mundur ke belakang.
"Nah, gitu dong!" Suara Widya sedikit naik intonasinya. Mas Tugas masih saja terheran-heran. Bertanya apakah aku kemasukan jin atau apa? Kenapa bisa menjadi galak sekali?
"Hati-hati di jalan ya, Mah? Kabari Papah kalau sudah sampai!" Sengaja kupanggil Widya seperti itu, sampai membuat mas Tugas melongo.
alhamdulillah...
pinus kaliiikkkkk
wkwkwk
ini mmg abangnya yg gimanaaaa gituh
bikes!!
bikin kesel!!!
fighting!!!!!
wkwkwk
kereeeen!!!!?