Di hari pernikahannya, seharusnya Leticia menikahi pria yang dicintainya, bukan pria yang terkenal memiliki sifat begitu kejam dan menyeramkan.
Dan Leticia baru menyadari, kalau semua ini permainan dari Ibu dan adik kembarnya yang sejak awal sudah memaksanya untuk memakai penutup mata saat pernikahan berlangsung.
Leticia harus menikahi calon suami sang adik kembar, dan adiknya… Leila menikahi pria yang sangat dicintai oleh Leticia.
Awalnya Letcia ingin mengajukan surat perceraian kepada Maximillan, tetapi pria itu tidak mau dan memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang dari awal sudah salah.
Dan Leticia baru tahu kalau suaminya adalah seorang mafia kejam yang sangat posesif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Max baru sampai di Mansion dan sekitar satu jam lagi, matahari akan menampakkan diri. Jadi, pria itu bergegas naik ke lantai empat… sebelum istrinya terbangun.
“Tuan!” Suara Mabel menghentikan pergerakan tangan Max yang hendak menekan tombol lift.
“Ada apa? Aku harus segara naik ke atas!” Kata pria itu dengan nada kesalnya.
“Nona Leticia sempat terbangun dan menanyakan keberadaan Anda, jadi saya mengatakan kalau Anda pergi ke kantor untuk mengambil dokumen yang tertinggal di sana,” jelas Mabel.
“Lalu, bagaimana reaksi dia?” Tanya Max yang masih belum siap mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya kepada sang istri.
“Nona percaya dan setelahnya Nona melanjutkan tidurnya,” jawab Mabel yang membuat pria itu merasa sedikit lega.
“Bagus! Sekarang kau bisa kembali!” Titah Max yang kini menekan tombol lift untuk naik ke lantai empat.
Masalah tidur, Max pernah tidak tidur sampai tiga hari. Jadi nanti dirinya bisa berpura-pura ketiduran di kantor kalau Leticia ternyata sudah bangun.
Ting!
Max keluar dari lift dengan langkah lebarnya, dengan cepat ia membuka pintu kamar utama dan ternyata Leticia masih terlelap di dalam selimut.
Pria itu menutup pintu dengan pelan, agar tidak membangunkan istrinya. Kakinya juga melangkah pelan menuju kamar mandi, ia akan mandi untuk menghilangkan aroma anyir dari pakaiannya yang memang terkena cipratan darah.
Leticia tiba-tiba membuka mata, perempuan itu tidak tidur setelah berbicara dengan Mabel. Perasaannya menjadi tidak tenang, sehingga ia memutuskan untuk tidak tidur dan menunggu Max pulang.
“Jam empat pagi, dan Kak Max baru kembali dari kantor?” Heran Leticia yang tadi tidak sempat melihat pakaian suaminya, karena ia takut Max tahu kalau dirinya berpura-pura tidur.
Perempuan itu menggigit bibir bawahnya, entah mengapa ia merasa semakin gelisah… saat tahu suaminya pulang sepagi ini.
Apa benar Max pergi ke kantor? Atau sebenarnya pria itu tidak pergi ke kantor dan malah pergi ke tempat lain?
Pikiran Leticia benar-benar tidak bisa tenang. Jadinya, ia malah mencurigai suaminya sendiri.
Pintu kamar mandi terbuka, memuat Leticia kembali menutup matanya dengan rapat. Suara langkah kaki mendekat, membuatnya sempat menahan napas.
“Maaf sudah membuatmu tidur sendirian tanpa pelukan dariku,” kekeh Max yang hendak menyentuh pipi istrinya.
Namun pria itu tidak ingin membangunkan Leticia, jadi ia kembali menarik tangannya dan berbalik menuju ke walk-in closet untuk kembali berganti pakaian tadi malam yang disiapkan oleh istrinya.
“Baru saja aku merasa senang, karena merasa beruntung memiliki suami seperti Kak Max. Tapi sekarang, aku malah berpikir kalau Kak Max memiliki wanita lain di belakangku,” Leticia kembali menggigit bibir bawahnya.
Kenapa perempuan itu sampai berpikir sangat jauh begitu?
Alasan pertama, Leticia masih belum berani mengatakan dengan jujur tentang perasaannya.
Kedua, ia masih belum memberikan hak suami kepada Max.
Dan yang ketiga, Max itu sangat tampan dan memiliki banyak uang. Jadi, wanita mana yang tidak mau mendekati Max?
“Kau sudah bangun?” Suara itu mengejutkan Leticia yang lupa menutup matanya lagi.
“Iya. Kak Max kapan pulang?” Tanya Leticia yang berpura-pura menguap.
Max menaiki tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sisi sang istri, ia menarik Leticia ke dalam pelukannya.
“Sekitar jam setengah dua malam,” jawab Max dengan berbohong.
Tetapi Leticia berpura-pura tidak tahu dan menganggukkan kepalanya. Namun di dalam hati, ia merasa kecewa... karna Max ternyata membohonginya.
“Terus kenapa Kakak keluar dari walk-in closet? Terus Kakak baru mandi ya?” Perempuan itu mencoba memancing jawaba Max.
“Aku hanya merasa gerah dan ingin mandi lagi,” pria itu ternyata kembali membohonginya.
Namun Leticia berpura-pura percaya dan membalas pelukan suaminya, meskipun di dalam hati… ia benar-benar kecewa dengan Max yang terus membohonginya.
Apa perasaan Kak Max juga bohong?
Akhirnya Leticia merasa ragu dengan sikap Max yang selama ini ditunjukkan kepadanya. Padahal ia sudah mulai mempercayai Max, tetapi pria itu malah membohonginya.
Rasanya jauh lebih menyakitkan dari pengkhianatan yang dilakukan oleh Ashvin.
“Masih ada waktu untuk melanjutkan tidur,” bisik Max sambil mengusap pelan punggung istrinya.
Namun tiba-tiba Leticia mendorongnya, membuat pelukannya terlepas.
“Aku sudah tidak mengantuk lagi, aku mau mandi dan turun ke bawah,” ucap perempuan itu tanpa mau melihat wajah Max.
Max menatap punggung istrinya yang kini melangkah ke kamar mandi, entah mengapa ia merasa sikap Leticia sedikit aneh dan tidak seperti biasanya.
“Apa aku melakukan kesalahan?” Bingung Max yang mencoba mengingat kembali tindakan mana yang membuat istrinya marah.
Namun pria itu tidak menemukan jawaban yang tepat, jadi ia akan menunggu Leticia keluar dari kamar mandi dan bertanya langsung kepada istrinya.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Leticia menemukan pakaian serba hitam yang dipakai suaminya pergi ke markas.
“Ini baju milik Kak Max? Kenapa ditaruh di tempat sampah?” Heran Leticia yang hendak menyentuhnya, tetapi tidak jadi… karena ia merasa kalau pakaian tersebut sudah bersentuhan dengan wanita lain.
“Kenapa rasanya aku sangat kecewa? Padahal dari awal, aku tidak menginginkan pernikahan ini?” Leticia merasa heran kepada dirinya sendiri.
“Tapi sikap dan perhatian yang diberikan Kak Max benar-benar membuatku goyah. Ternyata hatiku sangat mudah luluh, aku membenci diriku sendiri yang sangat mudah jatuh cinta!”
Leticia merasa begitu emosional, sehingga perempuan itu langsung tersadar kalau ada yang aneh dengan dirinya sendiri.
“Astaga, pantas saja perasaanku sangat sensitif. Ternyata ini jadwal tamu bulananku?” Leticia bergegas keluar dari kamar mandi untuk mengambil pakaian ganti, juga benda yang sangat dibutuhkan saat datang bulan.
“Cepat sekali mandinya,” Max sedikit heran melihat istrinya yang sudah keluar dari kamar mandi.
Leticia tidak menjawab, bahkan ia melengoskan wajahnya dan membuat Max semakin keheranan.
“Dia benar-benar marah. Seberanya apa yang sudah aku lakukan sampai membuat istri cantikku itu sangat marah?” Max beranjak dari tempat tidur dan berniat untuk mendekati istrinya.
“Sayang…”
“Jauh-jauh dariku! Aku tidak suka melihat wajah menyebalkanmu!” Seru Leticia sebelum Max menyelesaikan ucapannya.
“Hei, apa aku sudah melakukan kesalahan? Apa yang sudah aku perbuat sampai kau semarah ini?” Tanya pria itu sambil menahan bahu istrinya yang hendak menjauh darinya.
Leticia menaikkan pandangannya dan menatap Max dengan mata berkaca-kaca. Membayangkan pria itu tidur dengan wanita lain, membuat perasaannya semakin tidak karuan.
“Sayang, kenapa menangis?” Kaget Max saat melihat cairan bening yang terjatuh dari sudut mata istrinya.
Dengan cepat, Leticia menghempaskan tangan Max yang hendak menyentuhnya. Perempuan itu berlari keluar dari walk-in closet dan menutup pintu kamar mandi dengan kasar.
“Aku harus tanyakan ini kepada Mommy, karena aku tidak paham dengan sifat perempuan yang sangat gampang berubah…”
Bersambung!
🌹🌹🌹☺️
🌹🌹🌹❤️❤️❤️☺️