Notes : Bukan untuk bocil.
"Buka!"
Suara lantang seorang pria yang memerintahkan Ruby melepaskan pakaiannya membuat sekujur tubuh Ruby bergetar dengan hebat.
"Nggak!" protes Ruby tak kalah lantang.
"Ck! Kau membuatku kesal!" umpat Noah dengan wajah yang bengis. Sosok wajah tampannya terlihat begitu jelas di kamar yang gelap saat dentuman petir menyambar sekilas dari luar rumah.
Tanpa sepatah katapun, Noah memanjat ranjang yang di tempati oleh Ruby.
"Aku harus memastikan kesucianmu agar aku tau bahwa kau bernilai atau tidak untukku jadikan jaminan!"
"Salahkan orangtuamu!" bentak Noah. "Siapa suruh minjam uang setelah itu kabur?!"
Tak mampu melawan kuatnya tenaga kasar dari pria yang ada di depan matanya, Ruby hanya pasrah sembari menangis terisak akibat pelecehan yang pria itu berikan padanya.
"Okay! Kamu cukup bernilai untuk menjadi jaminan!"
💸💸💸
Hai ges, yuk ikuti novel baru author. Tentang cowo tsundere yang membucin. Jangan lupa supportnya ya dengan like, komen, vote dan gifts! Makasi 😎
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Menjadi Suka
..."Aku suka bercinta dengan Kak Noah. Ku pikir, bercinta itu sakit. Tapi, melakukannya dengan Kak Noah, aku menjadi suka." - Ruby...
...💸💸💸...
Siang hari, Bi Sumi, Bryan dan Dante sudah meninggalkan penthouse. Kini tinggal Noah dan Ruby.
Saat ini, Ruby sedang berada di kamar. Gadis itu sedang girang karena menghitung waktu ia di penthouse hanya tersisa beberapa hari lagi.
"Cukup bercinta dengan Kak Noah enam kali lagi, setelah itu aku bisa bebas," girang Ruby sambil melihat pemandangan kota metropolitan dari balkon lantai 37.
"Hal pertama yang harus aku lakukan? Hmm ... apa aku ke hotel dulu sehari sambil cari-cari tempat tinggal?" pikirnya saat itu.
Di saat yang sama, saat di mana Ruby sedang memikirkan langkah yang akan ia ambil setelah meninggalkan penthouse, Noah terlihat sedang berdiri di depan pintu kamar Ruby. Pria itu sedang berdebat dengan perasaannya sendiri.
"Ketuk pintu? Atau langsung masuk?" lirihnya pelan. Ia mondar mandir di depan pintu sambil bertolak pinggang.
Ceklek!
"Loh ... Kak Noah ngapain?" tanya Ruby kaget. Gadis itu membuka pintu kamar karena berniat ingin masak untuk makan siang.
"Oh ... ada yang ingin ku katakan," ucap Noah dengan wajah yang pucat. Ini merupakan pertama kali di hidupnya mengutarakan perasaannya pada seseorang. Pasalnya, dulu Lyodra yang lebih dulu mengungkan perasaan suka pada Noah.
"Okay," jawab Ruby santai.
Noah berputar badan menuju ruang tamu.
"Kak?" panggil Ruby yang menunggu Noah berbicara. Tapi pria itu malah meninggalkannya.
"Oh ... eum ... i-itu, kita sambil duduk di sofa," seorang Noah menjadi kikuk di depan gadis kecil.
"Baiklah." Ruby mengikuti pria itu dan bergegas menuju ruang tamu. Lalu, ia duduk berhadapanan dengan Noah.
"Kenapa kamu lakukan itu?" tanya Noah penasaran.
"Lakukan apa, Kak?"
Noah menghela nafasnya pelan. Rasanya malu ingin mengakui bahwa tingkah gilanya yang tak terkontrol selama ini. Apalagi saat ia terkena serangan panik, ia selalu bertindak di luar kendali. Selama ini, tak ada yang berani menahannya. Lyodra hanya bisa menenangkannya saat ia telah selesai mengamuk. Sedangkan Ruby? Gadis itu datang langsung untuk menghentikan amukan tak terkendali tersebut!
"Kayak dini hari tadi," ucap Noah sambil melihat ke arah kepala Ruby yang di plaster menutupi luka. "Sampai-sampai kepalamu terluka."
"Apa kamu ada niat lain? Atau karna kamu ingin aku menarik rasa simpatiku dan kamu kubebaskan." Imbuhnya menerka-nerka.
"Kak Noah nggak boleh nuduh gitu," tutur Ruby sambil tersenyum. "Semua orang punya titik terlemahnya sendiri."
"Aku melakukan itu ikhlas karna aku nggak bisa liat Kakak tersiksa. A-aku ... aku cuma nggak tega. Sepertinya Kakak udah melewati masa sulit sampai menjadi trauma."
Noah tersentak dan terdiam saat mendengarkan ucapan gadis itu. Pasalnya, selama ini tak ada yang berani berbicara seperti itu padanya.
"Aku nggak tau apa yang udah Kakak lewatin di masa lalu, tapi aku berharap Kakak bisa terlepas dari rasa sakit itu dan berbahagia," timpal Ruby sambil tersenyum ke arah Noah.
Seketika mata Noah mendadak berkaca-kaca. Hatinya yang selama ini beku mendadak hangat dan mencair. Entah karena selama ini ia selalu diperlakukan kasar tanpa belas kasih, atau karena memang ia sudah menaruh rasa pada gadis ini?
"Sebaiknya, aku urungkan saja niat untuk mengungkapkan apa yang ku rasa. Belum saatnya," lirih Noah dalam hati.
"Makasih," ucap Noah setulus hatinya pada Ruby. Ia mengatakan kalimat tersebut dengan wajah yang datar. Padahal, sebenarnya ia ingin tersenyum. Tapi entah kenapa rasanya sulit mengekspresikan diri di depan orang.
Ruby hanya mengangguk pelan saat mendapatkan ucapan terima kasih dari Noah.
"Kak, aku masak dulu, ya?" ucap Ruby sambil bangkit dari duduknya.
"Nggak mau pesen aja?" tanya Noah sambil menatap Ruby. "Aku yang bayar."
"Nggak usah, Kak. Kan aku udah janji buat masakin Kak Noah sampai hari terakhir aku di penthouse," girang Ruby sambil tersenyum.
Lagi-lagi hati Noah mendadak sakit saat mendengarkan gadis itu mengatakan bahwa ia akan memasak sampai hari terakhir. Tekad gadis itu sudah bulat. Ia juga tak bisa menahannya.
"Yaudah," jawab Noah singkat.
Ruby menuju dapur dan Noah pun ikut karena ia ingin mengambil minum.
Saat Noah ingin mengambil minum, ia melihat Ruby yang kesulitan mengambil tepung di lemari dapur atas yang tinggi itu. Tanpa ragu, Noah mengambilkan tepung tersebut.
Noah yang saat itu berdiri tepat di belakang Ruby, ia tak sadar dengan apa yang ia lakukan. Ruby tanpa sengaja menoleh ke belakang.
Tanpa sengaja, bibir mereka bertemu.
"M-maaf, Kak." Ruby langsung menjauhkan wajahnya ke belakang memisahkan bibir mereka.
Noah meletakkan tepung yang tadi ia ambil ke atas meja di mana Ruby sekarang sedang terpojokkan, lalu ia meraih tengkuk gadis itu dan mendorong maju ke arahnya.
Kali ini, pria itu melu.mat bibir Ruby dengan penuh penghayatan. Matanya terpejam. Ia mencium bibir gadis itu dengan perasaan cinta dan sayang yang tulus. Ciuman yang sangat mendebarkan.
Deg deg deg!
Tanpa sadar, jantung Ruby berdetak dengan kencang. Meskipun selama ini sudah beberapa kali ia dan pria itu bercinta serta bercum.bu, tetap saja semua itu terasa biasa-biasa saja. Tapi entah kenapa kali ini ciuman yang ia terima terasa berbeda. Seperti ada sesuatu yang menggelitik dan membuat wajahnya merona.
Noah menekan tubuhnya ke tubuh Ruby sambil satu tangan melingkar ke pinggul gadis itu. Ia benar-benar menikmati bibir gadis itu.
"Aneh. Tapi aku menyukai perasaan yang aneh seperti ini. Karena sebentar lagi aku nggak di sini, aku akan menikmatinya," lirih Ruby dalam hati.
Kedua tangan gadis itu tanpa sengaja mengalung ke leher Noah. Ia membalas ciuman Noah dengan menghi.sap balik bibir Noah sambil sesekali ia menggigit pelan bibir Noah.
Noah langsung membuka matanya dan terbelalak kaget. Apakah perasaannya terbalas? Apa gadis itu tahu bahwa ia menyukai gadis itu? Karena, selama ini gadis itu tak pernah membalas ciumannya.
Tak ingin membuang-buang waktu, Noah langsung menggendong tubuh gadis itu menghadap ke arahnya tanpa melepaskan pautan bibir mereka. Ia membawa gadis itu ke kamar.
Saat di kamar, Noah merebahkan tubuh Ruby ke atas ranjang dan ia menindih tubuh gadis itu. Pria itu mencum.bui mesra gadis yang ada di bawahnya saat ini.
Perlahan, tangan Noah mulai meraba paha mulus milik Ruby. Keduanya melepaskan ciuman mereka dengan nafas yang terengah-engah karena kekuarangan oksigen.
Ruby menatap pria tampan itu. Matanya sayu namun pupil matanya membesar. Ia tak sadar bahwa perlahan ia mulai menaruh rasa pada pria itu. Ia mengalungkan kedua tangannya dengan erat ke leher Noah.
"Kak Noah," bisiknya lirih dan pelan. "Aku suka bercinta dengan Kak Noah."
Noah terperangah mendengarkan tutur kata Ruby yang blak-blakan itu. Pasalnya, kalimat itu merupakan kalimat berbahaya dan bisa saja membuat gadis itu tak bisa berjalan lagi karena sakit pinggang.
"Ku pikir, bercinta itu sakit. Tapi, melakukannya dengan Kak Noah, aku menjadi suka," lirih gadis itu pelan.
Gadis itu mengatakan apa yang ada di hatinya. Bukan ia mengungkapkan perasaan bahwa ia menyukai pria itu. Tapi ia mengungkapkan bahwa ia menikmati setiap detik saat bercinta dengan pria itu. Entah kenapa, sekarang ia menjadi terobsesi dengan kenikmatan sesaat itu. Apa karena Noah orang yang menggagahinya?
...****************...
BERSAMBUNG...
ayo Ruby tetap semangat masih ada Arthur sahabat baikmu😀💪💪