NovelToon NovelToon
Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah

Status: tamat
Genre:Komedi / Janda / Cinta Seiring Waktu / Berondong / Tamat
Popularitas:191.2k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Bingung memutuskan, itulah sebutan yang tepat untuk Abu Miftah. Pemuda 26 tahun itu diminta sang ayah agar menikahi Aslihah, wanita yang sudah mempunyai satu putri. Yakni suaminya meninggal satu tahun yang lalu. Tentu maksud pak Ramli menolong anak yatim.

Di lubuk hati kecil Abu, sebenarnya ingin menerima Aslihah demi anak kecil yang lucu itu. Tetapi Abu juga tidak tega mengecewakan gadis tomboy bernama Sumidah yang sudah mencintai Abu sejak dua tahun yang lalu.

Apakah Abu akan menerima Aslihah? Atau memilih Sumidah? Kita ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setengah hari lima juta.

"Maaf Non, tadi saya kena musibah makanya pulang terlambat" Sumidah menuturkan apa yang terjadi di jalan tadi, tetapi tidak menceritakan jika dia melamun. Setelah memberi obat Rangga kemudian bobo, Bulan mengajak Midah ngobrol diluar kamar agar tidak mengganggu tidur putranya.

"Makanya Sum, sudah berapa kali saya menasehati kamu, jangan lagi mengusik ketenangan rumah tangga Abu," tegas Bulan. "Kamu kan tahu Sum, jika Abu itu sudah menikah dan hidup bahagia memang kamu mau dijuluki wanita pelakor"

Midah tidak memotong nasehat Bulan justeru menunduk merasa tertampar mendangar kata pelakor.

"Saya tidak akan melarang kamu punya pacar Sum, tetapi jangan mencintai pria yang sudah menikah. Yang ada pekerjaan kamu jadi tidak benar, karena kamu sibuk memikirkan dirimu sendiri, seolah diselingkuhi Abu, padahal kamu yang ngebet!" Bulan kesal juga, obat yang ia suruh beli tadi menyangkut nyawa putranya. Terlambat sedikit lagi akan fatal akibatnya, tetapi Midah rupanya tidak berpikir sampai kesitu.

"Saya mengerti Non" Sumidah merasa malu, mengapa Bulan sampai mengetahui bahwa ia tadi kesal kepada Abu dan Liha. Sumidah tidak tahu jika Aslihah menceritakan tentang Sumidah saat Bulan menanyakan keberadaannya, mengapa tidak pulang-pulang.

"Sumidah, kita ini perempuan, serahkan jodoh kita kepada Allah" Kali ini Bulan berkata lembut.

"Mulai sekarang... kamu harus belajar ikhlas, jika jodoh kamu Bukan Abu tetapi InsyaAllah, kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari Abu."

"Iya Non, saya mengerti, saya memang salah, saya minta maaf" Midah mengakui kehilapanya.

"Ya sudah... karena saya tidak bisa ke kantor, tolong kamu saja yang mengantar bekal Mas Tara, tapi sebaiknya berangkat bareng Nanta saja" Bulan mengalihkan pembicaraan.

"Baik Non" Midah tidak mau membantah lagi, walaupun sebenarnya malas jalan bersama tengil. Ia langkahnya kaki ke dapur sambil berpikir, benar apa yang dikatakan non Bulan. Sumidah harus terima kenyataan bahwa Abu bukan jodohnya. Midah tidak mau disebut pelakor.

"Bi... bekal untuk Tuan Tara mana?" Tanya Sumidah ketika tiba di dapur.

"Di atas meja Sum, ambil saja," Bibi menjawab dari kejauhan.

Sumidah ambil bekal kemudian menemui Nanta yang sudah menunggunya di ruang tamu. Nanta ke rumah Tara hanya mengambil berkas miliknya yang tertinggal. Namun karena kebetulan melewati kantor Tara, Bulan minta tolong.

Tak tak tak

Suara langkah kaki Sumidah berjalan mendekati Nanta. Seketika Nanta menatap asal suara. Namun Sum melewatinya begitu saja, berjalan ke arah dimana motor Nanta diparkir.

"Hai tomboy... loe nggak mau nunggu gue? Berarti loe mau jalan kaki" gertak Nanta mengejar Sumidah. Sumidah kemudian berhenti di dekat motor milik pria itu.

"Loe nggak punya mulut ya?!" Ketus Nanta menatap Midah tajam.

"Ya sudah ayo, jangan melotot gitu ih! Mani serem amat, kayak vampir" sungut Sum.

"Sini kunci motor nya biar saya yang bawa" Sum menengadahkan telapak tangan.

"Jangan ah! Nanti loe ugal-ugalan terus di tangkap polisi, barusan saja loe nyerempet orang kan?! Memang gw nggak tahu!" tandas Nanta saat merogoh kunci motor.

"Di tangkap polisi nggak apa-apa, paling kamu yang ditahan!" Jawab Midah enteng, tanpa menatap lawan bicara. Ia letakkan bekal di sangkutan depan.

"Enak saja!" Ananta menoyor kening Midah, sebelum akhirnya naik ke atas motor starter kemudian berangkat.

Di atas motor saling diam hingga akhirnya tiba di kantor properti Bumantara.

"Loe antar dulu bekalnya, gw tunggu disini" kata Nanta, ambil bekal yang menyangkut di depannya memberikan kepada Midah.

"Kamu nggak mampir?" Tanya Midah tidak menyangka. Pria itu bisa berkata lembut kepadanya.

"Nggak, nyingkat waktu gw antar loe pulang, terus gw mau langsung kantor" pungkas Nanta.

Tidak bicara lagi, Sumidah kemudian mengantar bekal ke ruangan Tara.

Tok tok tok.

"Masuk" perintah pria di dalam sana.

Midah kemudian mendorong handle pintu tampak pria tampan yang tak lain Bumantara sedang bergijabu di depan komputer.

"Tuan... saya mau mengantar bekal" Midah berdiri di depan Tara menunggu perintah pria dingin jika bukan dengan istri sendiri itu.

"Simpan di meja, terus kamu boleh pulang" titah Tara.

"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi" Midah keluar ruangan kembali ke depan kantor.

"Naik" perintah Nanta, Sum segera naik ke atas motor. Masih seperti saat berangkat, keduanya kali ini saling diam. Hingga akhirnya Nanta membelokkan motornya ke arah lain, bukan jalan yang menuju kediaman Bulan.

"Eh kamu mau membawa saya kemana?!" Midah kembali ngegas suaranya.

"Gw ada bisnis sama loe" jawab Nanta kencang.

"Bisnis? Bisnis apa?! Nanti saya dimarahi Non Bulan!" Midah ketakukan. Belum lama ia akan menaati peraturan Non Bulan. Masa iya, harus membuat pelanggaran lagi.

"Nggak lama kok, tenang saja" entah mau dibawa kemana hanya Nanta yang tahu. Midah akhirnya menurut saja, jika pria tengil itu mau macam-macam toh ia punya ilmu bela diri. Pikir Sumidah.

Dan pada akhirnya tiba di ruko yang berjajar. Nanta menghentikan disalah satu bangunan tersebut.

Ruko lantai dua, memang tidak terlalu besar, seperti milik Bumantara. Namun, kantor pemasaran properti ini milik Ananta yang ia bangun dari keringatnya sendiri. Paska kecelakan dua tahun yang lalu Ananta bangkit merangkak dari nol menjalin kerjasama dengan sahabatnya Bumantara. Nanta tidak mau terus menerus merepotkan sang Mama sebagai pemilik usaha butik. Alhasil usaha Nanta mulai berkembang.

"Mau ngapain kesini?" Midah mengedarkan pandangan di bagian depan hanya ada 4 orang pria dan wanita. Di kubikel masing-masing.

"Ya mau kesini lah, kok nanya" jawab Nanta melirik Midah di sampingnya mengulas senyum. Hingga menjadi perhatian keempat karyawan yang sedang sibuk bekerja mengalihkan pandanganya dari komputer masing-masing. Mereka menatap Nanta mengeryitkan kening kala bos datang bersama wanita tomboy.

"Selamat siang Tuan" sapa keempat orang itu.

Selamat siang" jawab Ananta mengait lengan Sumidah menapaki anak tangga mengajak nya ke lantai dua. Midah memindai sekeliling ruangan, jika di bawah tadi disekat menjadi dua bagian, di lantai atas hanya Nanta pakai sendiri.

"Kamu ngapain mengajak saya kesini?" Tanya Midah pada intinya saja, karena ia tidak ingin belama-lama meninggalkan Rangga.

"Duduk sebentar gw mau bicara" Nanta menunjuk kursi di depanya. Menatap wajah Midah yang enggan menatapnya kemudian menepuk punggung tangan Midah.

Midah menjatuhkan bokongnya dengan kasar namun tetap menghadap tembok.

"Kalau diajak bicara itu menatap lawan bicara Midah, jika kamu menatap tembok begitu, kesanya tidak sopan!" hardik Nanta. Mau bersikap sabar tetapi rupanya Midah sulit diajak kompromi.

"Apa... cepat bicara!" Midah merubah posisi duduk berhadapan dengan Nanta dengan kedua tangan di atas meja seperti anak sekolah.

"Kamu bekerja di rumah Bulan, digaji berapa?" Nanta bertanya serius.

"Rahasia dapur! Ngapain tanya-tanya!" Ketus Midah. Midah merasa Nanta bersikap tidak sopan menanyakan masalah gaji.

"Okai... gw nggak ingin tahu gaji loe berapa" Nanta berdiri menatap keluar melalui jendela. Tergambar keseriusan di wajah pria itu. "Hari minggu nanti, gw berani membayar loe sebanyak 5 juta, asal loe mau bekerja sama gw, tidak lama kok, paling nggak sampai setengah hari"

"Ogah! Kerja apaan?! Jangan-jangan kamu mau menjual saya" tolak Midah.

"Mau nggak? Lumayan loh, bisa buat dp motor Endar. Gw dengar... Endar kemarin minta di belikan motor kan?" Nanta kembali berhadapan dengan Midah, berdiri menekan meja di depannya.

...BERSAMBUNG....

1
ayu cantik
suka
LENY
CERITA YG SERU SEDIH GEMBIRA DAN SELALU BERAKHIR HAPPY KEREN SEMUA CERITA AUTHOR❤👍👍
LENY
SIIP SELALU HAPPY ENDING CERITA AUTHOR KEREN SEMUA❤
LENY
ALHAMDULILLAH SDH BERKUMPUL LG❤
LENY
ITULAH GAK ADA KOMUNIKASI CEMBURU BUTA DAN GAK ADA RASA SALING PERCAYA 😥😡
LENY
NANTA PAYAH TDK PERCAYA SAMA MIDAH PADAHAL SDH DEKAT NIKAH. MIDAH GAK SENGAJA KETEMU JUNED.
LENY
DASAR WANITA MURAHAN FITNAH LAGI
LENY
RASAIN LU AMELIA BELUM TAHU SIAPA MIDAH😅
LENY
LAGIAN LIHA TERLALU CAPEK KERJA GAK JAGA KESEHATAN SDH GITU MAU KELUAR KOTA LAGI. KOK GAK NGEH YA KL HAMIL KAN TIAP BLN HAID KL GAK DAPAT HAID BERARTI HAMIL. CEROBOH JG 😥
LENY
WAH MERTUA BAIK BANGET ALHAMDULILLAH
LENY
IH AMIT2 MIDAH KETUS BANGET SAMA LIHA DAN ABU LAH SALAH SENDIRI CINTA GAK BISA DIPAKSA MIDAH DARI HATI. JGN JD DENDAM ORANG GAK MAU KOK MARAH.
LENY
KEYERLALUAN SI ABU KL IKIT CARI MIDAH PADAHAL SDH JANJI SAMA AIS. SURUH ORANG AJA ANEH. NNT MIDAH SALAH PERASAAN LAGI. IH GREGETAN LIHAT ABU INI.
LENY
SALAH PAHAM KAN COBA DARI AWAL ABU CERITA BAHWA SDH MENIKAH NOVI UDIN JG GAK TERJADI SEPERTI INI. MIDAH TERLALU BERHARAP ANGAN2 NYA TINGGI JD TERHEMPAS. ABU JG GAK TEGAS SEPERTI MEMBERI HARAPAN. KASIH TAHUNYA PAS ACARA RAME LAGI BUKAN DARI AWAL. COBA REMBULAN DIKASIH TAHU LBH AWAL KAN BISA KASIH TAHU MIDAH. JD MIDAH GAK BER ANGAN2. PAYAH.
LENY
LAGI ABU BUKAN MUHRIM DIPELUK LAGI NOLAK AJA BILANG BAIK2 GAK USAH PAKE PELUK NANGIS MIDAH DI DADA NYA WAJAR LIHA SEDIH DAN BER PRASANGKA JELEK. TAHU AGAMA KOK MAIN PELUK AJA
LENY
LIHA KAMU HRS MELAYANI SUAMI KAMU ABU. BELAJAR MENERIMA ABU KASIGAN SUAMI MU.
LENY
WAH ABU UDIN DUA2NYA CINTA REMBULAN YA. BELUM BACA CERITA REMBULAN HABIS TAMAT INI MAU BACA REMBULAN.
LENY
ABU BUKAN KASIH TAHU ISTRI PULANG TELAT KASIHAN LIHA NUNGGU SDH MASAK 2 KALI LG.
LENY
NAH GITU DONG SAMA SUAMI WALAUPUN BLM CINTA TAPI GAK HRS KETUS. JD SAHABAT DULU.
LENY
AISYAH MASIH BAYI KELIHATANNYA
LENY
DUH GANTENGNYA ABU
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!