Jatuh cinta memanglah hal yang membahagiakan. Tapi, jika jatuh cinta tanpa dicintai, apakah masih dikatakan hal yang membahagiakan?
Itulah yang dirasakan oleh seorang wanita yang bernama Mita Yuriko. Jatuh cinta kepada seorang dokter bedah nan tampan yang banyak disukai oleh wanita cantik, merupakan tantangan bagi dirinya.
Ia terus menunjukan rasa sukanya kepada pria itu, namun pria tersebut tak pernah menanggapinya. Sampai pada akhirnya sebuah insiden yang seharusnya tak terjadi kepada mereka berdua, membuat keduanya menjadi terikat. Dan membuat mereka menyandang sebagai suami istri yang dirahasiakan dari orang-orang sekitar.
Apakah Mita masih memperjuangkan rasa cintanya itu? Apakah ia memilih menyerah saat mengetahui jika pria itu masih belum menyukainya?
——————
Info dulu. Cerita ini kelanjutan dari 'Perjuangan Cinta Si Gadis Desa' jadi, jika kalian penasaran awalan cerita mereka bisa baca dulu karya Author yang itu✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wndanaomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 0035. Tinggal Bersama
🍄🍄🍄
-
-
-
Hari ini Mita memutuskan untuk tinggal dirumahnya sendiri, sekaligus membereskan sebagian barang-barangnya yang akan ia bawa kerumah milik Fadli nanti. Entah bagaimana rumah dan lingkungan rumah itu, sebab kata Fadli rumah itu hampir tak pernah ditinggali. Dan sepertinya harus dibersihkan dulu ketika akan tinggal dirumah baru itu.
Mita membawa Fadli untuk masuk kekamarnya. Bukan kamar khusu untuk tamu ya, sebab Mita tak enak juga jika membiarkan Fadli untuk tidur diruang tamu. Mana tega ia melakukan itu jika status mereka sudah sepasang suami istri. Jika saja mereka tak ada status seperti itu, maka dengan senang hati Mita menempatkan Fadli dikamar tamu.
Namun tak bisa dipungkiri, jika saat ini Mita tengah dilanda rasa malu. Sebab, ia baru pertama kali membawa seorang pria untuk masuk kedalam kamarnya. Salah satu tempat ternyaman dan tersuci bagi dirinya. Bahkan adiknya saja hampir tak masuk kekamarnya. Sebab ia selalu mengunci kamarnya itu. Takut jika barang-barangnya dicuri.
Selain itu juga, Mita tak bisa membayangkan lagi jika akan sekasur dengan pria pujaanya itu.
“Ehem! Ini kamar saya dokter Fadli, silahkan masuk...” ucap Mita, lantas membuka kamar itu dengan lebar-lebar.
“Permisi...” Fadli masuk kekamar itu dengan sopan. Membuat Mita yang melihatnya kembali terpana kepada pria itu. Inilah sosok yang disukai oleh Mita sejak dulu, sosok ramah dan sopan kepada semua orang. Membuat wanita mana pun pasti menyukainya.
“Letakan saja pakaian dokter Fadli dilemari, saya akan menyisihkan sebagian baju saya ketempat lain.” Ucap Mita langsung berlari kearah lemari, dan mengambil sebagian bajunya yang ada dilemari.
Wanita itu pun langsung meletakkan bajunya didalam sebuah keranjang, khusus untuk baju.
“Padahal baju saya bisa diletakkan dikoper saja, dokter Mita.” Ucap Fadli sambil tersenyum tipis, sangking tipisnya tak terlihat oleh Mita.
“Hahaha, tidak apa dokter Fadli, biar anda merasa nyaman saja saat tinggal disini.”
Fadli mengangguk, “Baiklah dokter Mita, terimakasih atas perhatiannya.” Kemudian Fadli berjalan kearah lemari itu, dan mulai menyusun bajunya dengan sangat rapi. Ia membawa baju hanya sebagian saja dan tak banyak. Itu pun hanya baju-baju yang menurutnya penting baginya.
“Saya akan mandi lebih dulu ya dokter Fadli. Dokter Fadli bisa bersantai-santai dulu disini...” ucap Mita berlari masuk kekamar mandi, dan tak lupa membawa baju gantinya. Sebab ia tak ingin berganti baju dikamar dan dihadapan Fadli. Itu semua karena dirinya masih merasa malu kepada Fadli.
Fadli tersenyum tipis saat melihat pintu kamar mandi itu terkunci. Lantas pria itu mulai beranjak dari tempatnya dan melihat-lihat isi ruangan itu.
Nuansa kamar itu sangat elegan dan klasik, Fadli akui selera Mita sangat bagus dan hampir mirip dengan seleranya. Warna kamar itu didominasi dengan warna biru laut dan hitam. Memperlihatkan kamar itu yang terlihat indah dan terang.
Kemudian pria itu beralih, menatap sebuah poto yang berjajar diatas nakas. Ia tersenyum saat melihat Foto masa kecil Mita dan Miko. Yang kala itu mereka berdua sama-sama memiliki gigi ompong. Yang tengah tersenyum lebar difoto itu.
Lantas ada juga foto bersama keluarga mereka, yang Fadli dapat lihat jika kedua orang tua Mita sangat menyayangi anak-anaknya. Terlihat sekali jika difoto itu Mita tengah tersenyum cerah dengan digendong oleh sang papa. Juga Miko yang saat itu digendong oleh mamanya yang masih sangat kecil.
“Dokter Mita mirip dengan mamanya, tak heran jika dokter Mita terlihat cantik...” gumam Fadli sambil mengusap foto itu.
Ada satu foto yang tiba-tiba menarik perhatian Fadli, lelaki itu melihat foto masa sekolah Mita dengan teman-temannya. Disana Mita mengenakan baju seragam SMA. Sangat cantik dan manis difoto itu.
Namun Fadli mengerutkan keningnya saat melihat satu foto Mita yang tengah bersama seorang laki-laki. Laki-laki itu bukan Miko, bukan juga ayah Mita. Lelaki itu tampak asing dan juga tak asing dimata Fadli. Entah dimana ia melihat wajah pria itu. Yang pasti dapat Fadli rasakan jika Mita dan pria itu sangatlah dekat.
Seperti seorang sepasang kekasih.
“Apa dokter Mita ada orang yang disukai? Dokter Mita sudah memiliki pacar?” gumam Fadli, yang langsung menganggu pikirannya. “Sebaiknya nanti kutanyakan saja pada dokter Mita,” Fadli lantas meletakkan foto itu ketempat semula.
“Dokter Fadli.” Panggil Mita.
“Ya?” Fadli menoleh dan melihat Mita yang sudah selesai mandi. Terlihat dengan pakaian wanita itu yang telah berganti.
“Saya sudah mandi dokter Fadli, anda bisa menggunakan kamar mandinya sekarang,” ucap Mita yang dianguki oleh Fadli.
Pria itu lantas beranjak dari tempatnya dan menuju kamar mandi. Namun beberapa menit kemudian pria itu keluar dengan bertelanjang dada dibalik pintu.
“Dokter Mita, saya lupa bawa handuk. Tolong bawakan handuk saya yang ada dikoper,” pinta Fadli sedikit berteriak.
“Oh iya,” kala itu Mita sedang mengeringkan rambutnya dan langsung berlari mengambil handuk Fadli.
“Ini dokter–” Mita ternganga saat melihat tubuh kekar milik Fadli. Ia langsung mengalihkan pandangannya karena merasa malu.
“Terimakasih dokter Mita.” Fadli hanya bisa mengerutkan keningnya saat melihat tingkah aneh Mita.
“Iya, kalau begitu saya akan siapkan makanan dulu. Nanti dokter Fadli bisa langsung kedapur ya?”
“Ah, iya...”
Kemudian Mita langsung berlari kecil, keluar dari kamar itu. Meninggalkan Fadli yang terbengong.
“Nanti saja aku tanyanya...” gumamnya.
-
-
-
🍄🍄🍄
untung aja lo selamat dri rayuan si dikta bejat filda
yg lain juga dilanjut donk 😆😆😆
semangat author 💪💪💪