NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ongkos Dinas ke Dasar Laut dan Koper Isi Sesajen

Kabar kalau Dika didekati sama Sari, CEO super kaya dari PT Pesugihan Pantai Selatan Tbk, langsung menyebar di kantor cabang Tomang lebih cepat daripada gosip perselingkuhan artis di TikTok. Baru jam sembilan pagi di hari Selasa, meja kubikal Dika sudah dikerumuni sama Pak Bambang, Lina, dan Dika senior. Mereka bertiga menatap kartu nama logam hitam di atas meja Dika seolah-olah benda itu adalah peninggalan purbakala yang bisa meledak kapan saja.

"Asli, Dik. Ini kartu namanya dari bahan titanium bukan sih?" Dika senior mencoba menyentuh ujung kartu nama itu pakai pulpennya, tapi langsung ditarik lagi karena takut kualat. "Gila ya, seumur-umur gue kerja jadi akuntan, baru kali ini ada klien yang ngasih kartu nama tapi hawanya kayak ubin masjid pas subuh—adem bener tapi bikin merinding."

Lina mencibir sambil melipat tangan di dada. "Bukan adem itu, Mas. Itu hawa-hawa mistis lautan. Lu gak lihat kemarin pas si Mbak Sari itu datang? Satpam depan sampai pingsan berdiri. Gue yang cuma numpang lewat nganter teh aja berasa kayak lagi kelelep di Dufan."

Pak Bambang yang hari ini kemejanya rapi jali langsung berdeham, mencoba mengambil alih obrolan sebagai kepala cabang yang bijak. "Sudah, sudah. Jangan digosipin terus. Yang jelas, ini peluang besar buat cabang Tomang. Kalau kita berhasil megang audit forensiknya PT Pesugihan Pantai Selatan, target profit tahunan kita bakal langsung tembus dalam waktu sebulan. Direksi pusat gak bakal bisa macam-macam lagi sama anggaran kita."

Pak Bambang lalu menepuk pundak Dika pelan. "Jadi gimana, Dik? Kamu beneran mau berangkat dinas minggu depan? Itu alamat kantor pusatnya di kartu nama tertulis di mana emangnya?"

Dika yang dari tadi cuma diam sambil mengunyah risoles dingin sisa rapat kemarin, akhirnya mendongak. Dia membetulkan kacamata minusnya yang melorot. "Kalau ditulisannya sih... Palung Jawa Blok M-12, Pak. Koordinatnya di tengah Samudra Hindia, sekitar dua ratus kilometer dari bibir Pantai Parangtritis."

Ruangan langsung hening seketika. Dika senior yang lagi minum kopi langsung tersedak sampai keluar dari hidung. "Batuk... uhuk! Lu bilang apa, Dik? Palung Jawa? Itu mah bukan dinas, itu namanya lu mau tumbalin diri secara sukarela!"

"Iya, Dik! Lu jangan gila dong," timpal Lina, mukanya bener-bener cemas. "Secantik-cantiknya si Mbak Sari itu, dia tetap aja CEO korporasi gaib. Lu bayangin, kalau lu ke sana terus rumusnya salah input dikit, lu gak bakal dipecat lewat surat HRD, tapi langsung dikasih makan ke hiu siluman!"

Dika tetep lempeng. Wajahnya gak menunjukkan ketakutan sama sekali, khas anak magang yang jiwanya sudah mati karena terlalu sering lembur. "Gak apa-apa, Lin. Pembukuan mereka semalam sudah saya kunci pake jurnal penyesuaian langit. Posisi hukum kita kuat. Lagipula, Mbak Sari sudah bayar uang muka jasa auditnya tadi subuh lewat transfer sistem."

Pak Bambang langsung melek. "Hah? Sudah transfer? Masuk ke rekening cabang berapa, Dik?"

Dika memutar layar laptop Asus bututnya ke arah Pak Bambang. Di sana, ada notifikasi mutasi rekening koran kantor cabang Tomang yang angkanya bikin mata Pak Bambang hampir copot dari kelopaknya. Di kolom nominal tertulis angka lima ratus juta rupiah, tapi yang bikin aneh adalah keterangan transisinya: 'Uang Muka Audit Forensik Tahap 1 - Konversi 50.000 Soul Units Terbuka'.

"Buset... ini duit beneran kan, Dik? Bukan duit daun yang kalau pagi berubah?" tanya Pak Bambang sambil mengucek matanya berkali-kali.

"Duit asli, Pak. Sudah masuk ke sistem BI-FAST," jawab Dika tenang. "Tapi karena ini proyek dinas luar kota—atau lebih tepatnya luar daratan—saya butuh anggaran operasional buat beli perlengkapan. Pengajuan biayanya sudah saya submit di sistem internal kantor, tinggal Bapak approve."

Pak Bambang tanpa pikir panjang langsung merebut tetikus dari tangan Dika. "Jangankan saya approve, kamu mau minta budget beli kapal selam mini juga saya usahain ke pusat sekarang juga! Mana yang harus diklik? Ini ya? Oke, approved!"

Hari-hari berikutnya dihabiskan Dika buat mempersiapkan perjalanan dinas paling nyeleneh dalam sejarah akuntansi modern. Kalau orang kantor biasanya packing baju kerja, laptop, sama minyak angin, Dika justru sibuk ngerapihin barang-barang yang bikin Lina sama Dika senior geleng-geleng kepala di pantri.

"Dik, lu beneran bawa koper ginian?" Dika senior memperhatikan koper kabin warna hitam milik Dika yang sengaja dibuka di atas meja pantri.

Di dalam koper itu, selain ada laptop, charger, dan beberapa potong kemeja kerja standar, ada tiga botol air zam-zam berukuran besar, dua bungkus garam kasar murni, satu ikat bunga kantil yang masih segar, dan sebuah kalkulator ilmiah Citizen yang bagian pinggirannya sudah dililit pakai kain kafan bekas.

"Buat jaga-jaga saja, Mas," jawab Dika sambil menata botol air zam-zam supaya gak tumpah. "Tekanan air di bawah laut itu kuat banget. Bukan cuma tekanan fisika, tapi tekanan mistisnya juga beda tingkat. Garam murni ini fungsinya buat netting kalau ada siluman kelas teri yang iseng mau ngerusak motherboard laptop saya. Kalau kalkulator ini... ya buat nyari akar kuadrat kalau tiba-tiba jaringannya eror."

Lina masuk ke pantri sambil membawa sebuah tas belanja besar dari kain. "Nih, Dik. Pesanan lu yang kemarin gua cariin di pasar induk."

Dika menerima tas itu dan membukanya. Isinya adalah lima belas saset kopi hitam tanpa gula, tiga buah kelapa hijau muda yang ukurannya pas, dan satu kotak cerutu lokal.

"Lu mau dinas apa mau buka lapak pesugihan sih, Dik?" tanya Lina sambil bergidik ngeri. "Gua agak trauma ya pas beli ginian kemarin, abang penjualnya sampai nanya gua mau numbalin siapa."

Dika tersenyum tipis—tipis banget sampai hampir dikira gak senyum. "Ini bukan buat pesugihan, Lin. Ini namanya entertainment cost atau biaya representasi tamu. Di dunia nyata kan kalau kita visit klien besar, biasanya kita ajak makan siang di restoran bintang lima atau dibelikan kopi mahal. Nah, kalau di bawah laut, selera para direksi eksekutifnya ya begini. Kopi pahit sama kelapa muda. Ini taktik negosiasi standar supaya proses auditnya lancar dan mereka gak banyak alasan pas kita minta bukti kuitansi."

Dika senior langsung ngacungin jempolnya tinggi-tinggi. "Gokil. Ilmu manajemen hubungan klien lu udah tembus lintas dimensi, Dik. Gua angkat topi beneran dah."

------------------------------

Hari keberangkatan pun tiba. Senin pagi yang mendung, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam—kali ini lengkap dengan kaca film super gelap yang gak tembus pandang sama sekali—sudah ngetem di depan lobby kantor cabang Tomang. Sopirnya adalah seorang pria berbadan tegap yang memakai kacamata hitam, tapi kalau diperhatikan baik-baik dari dekat, kulit di bagian lehernya agak bersisik halus mirip kulit ikan kakap.

Pak Bambang, Lina, dan Dika senior mengantar Dika sampai ke depan pintu mobil. Suasananya mendadak jadi haru, mirip kayak adegan pelepasan astronot yang mau berangkat ke planet Mars dan gak tahu bakal bisa pulang lagi atau enggak.

"Hati-hati ya, Dik. Kalau kira-kira situasinya udah gak kondusif, lu langsung sign out aja dari Excel-nya. Gak usah dipaksain selesai," kata Dika senior sambil menjabat tangan Dika erat-erat.

Lina matanya agak berkaca-kaca, meskipun dia berusaha tetap kelihatan jutek. "Nih, bawa minyak angin sama tolak angin yang banyak. Jangan sampai lu masuk angin di bawah laut. Gua gak mau ya kehilangan partner kerja yang pinter rumus VLOOKUP kayak lu."

Pak Bambang merangkul pundak Dika dengan penuh wibawa seorang bapak. "Dika, bawa nama baik cabang Tomang. Tunjukkan pada penguasa laut selatan kalau akuntan dari darat itu punya integritas yang gak bisa digoyang sama ombak sedahsyat apa pun. Tapi yang paling penting... pulang dengan selamat, ya."

Dika membungkuk sopan kepada ketiga rekan kerjanya. "Terima kasih banyak, Pak, Mas, Lin. Saya pamit dulu. Laporan bulanan yang kemarin belum selesai sudah saya taruh di folder shared drive, tinggal dicek saja."

Dika kemudian masuk ke dalam mobil sedan mewah itu. Pintu ditutup dengan bunyi jedug yang kedap dan berkelas. Begitu mobil mulai berjalan membelah jalanan Tomang yang macet, Dika melirik ke kursi sebelah kemudi. Di sana, sudah duduk Sari, sang CEO cantik, yang hari ini memakai gaun terusan kasual berwarna biru dongker yang elegan, lengkap dengan kacamata hitam bermerek yang bertengger di hidung mancungnya.

"Barang bawaanmu banyak juga ya, Dika," sapa Sari dengan suara lembutnya yang khas, matanya melirik ke arah koper hitam Dika di kursi belakang melalui spion dalam. "Kamu bawa sesajen juga?"

Dika membetulkan posisi duduknya, menaruh tas laptopnya di pangkuan. "Cuma perlengkapan audit standar, Mbak Sari. Ditambah beberapa konsumsi buat rapat nanti supaya koordinasi dengan tim internal Mbak bisa lebih cair."

Sari tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah tapi tetap menyiratkan wibawa seorang penguasa. "Kamu ini bener-bener unik. Laki-laki lain kalau saya ajak ke istana laut biasanya sudah nangis-nangis minta pulang atau malah sibuk masang jimat pelindung diri. Tapi kamu malah mikirin kopi hitam sama kelapa muda buat rapat."

Sari melepas kacamata hitamnya, lalu menatap Dika dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa penasaran yang besar di sana. "Perjalanan kita ke Parangtritis bakal memakan waktu sekitar tujuh jam lewat tol. Setelah itu, kita bakal langsung turun ke dasar palung menggunakan jalur khusus. Kamu siap melihat bagaimana gurita bisnis kami mengelola takdir jutaan manusia di bawah sana?"

Dika mengeluarkan pulpen dua ribu rupiah dari saku kemejanya, memutarnya dengan lincah di sela-sela jarinya. Di dalam inti pulpen itu, cahaya emas spiritualnya berkedip stabil, siap berhadapan dengan energi samudra yang maha luas.

"Saya selalu siap, Mbak," jawab Dika lempeng, pandangannya lurus menatap jalan tol di depan. "Selama angka-angkanya gak dimanipulasi, mau di darat atau di dalam palung terdalam pun, neracanya pasti bakal ketemu jalan buat balance."

Mobil sedan hitam itu pun melaju semakin cepat, meninggalkan hiruk-pikuk kota Jakarta, membawa sang Akuntan Langit menuju petualangan baru yang jauh lebih dalam, lebih basah, dan pastinya... penuh dengan angka-angka mistis yang belum pernah teraudit oleh manusia biasa.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!