NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 29

Yang pertama Hanan lakukan adalah membenahi penampilannya, memungut semua pakaiannya dan mencari keberadaan sang pemilik kamar. Dia akhirnya menemukan Amelia berada di dapur, tampak termenung dalam keadaan wastafel yang menyala. Wadah di bawahnya sudah terisi penuh oleh air hingga tumpah-tumpah.

Hanan meneguk ludah kasar. Entah kenapa dia kehilangan semua kemampuan bicaranya. Pikirannya berkelana kebingungan tentang apa yang harus dia katakan lebih dulu.

“Airmu terbuang.”

Amelia tersentak menyadari dia telah termenung entah sejak kapan. Dia buru-buru mematikan keran dan menoleh pada Hanan yang berdiri di pintu dapur. Perempuan itu sama kebingungannya. Dia segera membereskan pekerjaannya dan berjalan menuju meja makan.

“Sarapan sudah disiapkan oleh Bibi.” Hanya itu yang Amelia katakan. Dia kemudian terburu-buru keluar dari dapur.

“Yang terjadi tadi malam ... kuharap kau bisa melupakannya. Anggap tidak terjadi apa pun.”

Langkah Amelia terhenti oleh kalimat pria yang baru saja mengambil satu-satunya hal paling berharga dari hidupnya tadi malam.

“Jangan khawatir, tanpa kamu mengatakannya pun aku akan melakukannya.” Amelia melanjutkan langkahnya.

Hanan memperhatikan sosok Amelia yang berjalan perlahan—tampak tak selincah biasanya. Pria itu mengerang frustasi, betapa bodohnya dia tadi malam.

“Mas?”

Rosa muncul dengan wajah pucatnya membuat perhatian Hanan langsung teralih.

“Sa. Kenapa wajahmu pucat sekali? Haruskah kita ke rumah sakit?” Hanan meneliti keadaan istrinya itu yang tampak lemas.

“Tidak perlu, aku hanya sedikit pusing. Kenapa Mas tidak kembali ke kamar malam tadi?” Pertanyaan inilah yang pertama Rosa pikirkan sejak terbangun.

“Maaf, Mas tanpa sadar tertidur di ruang kerja.”

“Bagaimana bisa hanya tertidur? Apa dosisnya kurang banyak?”

Rosa benar-benar tak bisa berhenti memikirkannya.

Untuk mengalihkan perhatian Rosa, Hanan membawa istrinya itu untuk sarapan.

“Ke mana Amelia? Dia tidak ikut sarapan?” Rosa menoleh ke sana ke mari.

“Kata Bibi dia tidak enak badan. Kita bisa sarapan lebih dulu.” Hanan mengarang jawaban secepat yang dia bisa.

“Baiklah, aku akan ke kamarnya nanti.”

Dalam kamar Amelia, gadis itu tengah kebingungan. Pagi-pagi buta saat dia sadar telah menghabiskan malam dengan pria yang selalu menatap penuh kebencian padanya, dia langsung membersihkan diri kemudian keluar dari rumah  di tengah kegelapan hanya untuk membeli pil kontrasepsi. Dia tak tahu kejadian malam itu akan menghasilkan hal yang lebih rumit atau tidak, tapi instingnya meminta untuk mencegah hal itu terjadi. Dia tak ingin terjebak. Kontrak mereka hanya enam bulan dan tak lama lagi akan berakhir. Setelahnya Amelia akan terbebas.

Amelia meminumnya dengan tergesa. Tangannya tampak gemetar, tapi tubuhnya perlahan tenang setelah obat itu tertelan.

Tak lama kemudian pintu kamar Amelia kembali diketuk. Sang pemilik kamar berjengit kaget, tapi setelah mendengar suara kakaknya, dia membukanya perlahan.

“Bibi bilang kamu tidak enak badan, sudah sarapan? Apa mau ke rumah sakit saja?” Rosa meneliti penampilan adiknya itu yang lebih tertutup dari biasanya.

“Aku sudah merasa lebih baik, Mbak. Tidak perlu ke rumah sakit. Sebentar lagi juga sembuh, hanya sedikit masuk angin.” Amelia sedikit gugup, dia khawatir jika kakaknya itu akan menyadari ada yang aneh dari penampilannya.

“Baiklah, katakan jika kamu merasa tidak nyaman. Jangan diam saja.”

“Iya, terima kasih, Mbak.”

Tak lama kemudian Rosa pergi dan mendatangi Hanan yang muncul dari ruang tamu. Amelia segera menutup pintu kamarnya, enggan bersitatap dengan pria itu.

Setelah pintu kamar tertutup dan Amelia menyadari hanya dirinya di sana. Tubuhnya merosot pelan di balik pintu. Matanya terpejam seolah rasa lelah telah terakumulasi saat ini membuat seluruh persendiannya melunak. Bahkan untuk menopang dirinya saja dia sudah tak sanggup.

Amelia melirik ponselnya yang menampilkan layar kunci dengan notifikasi pesan dari Kanaya. Sekarang dia bingung bagaimana mengatakan semua ini pada sahabatnya itu. Tentang hal-hal terlarang yang harusnya tak terjadi antara dia dan Hanan.

Naynay🤍

Mel, kamu sudah bangun?

Ayo jalan-jalan😀

Aku sangat bosan berada di rumah. Asta si pengganggu itu terus merecoki hari-hariku. Aku sudah muak😐

Kamu ke mana, Mel? Kenapa pesanku tidak dibalas?😒😫

Ameeeel!😭

AMELIA TANESHA!!!🔥🤬

^^^You^^^

^^^Aku tidak bisa ke mana-mana hari ini, Nay. Lusa saja bagaimana?^^^

Pada akhirnya Amelia memilih menyembunyikan kejadian itu dari sahabatnya. Dia akan menganggap kejadian itu tak pernah terjadi layaknya mimpi buruk yang harus dilupakan—seperti kata Hanan.

Naynay🤍

Kenapa? Kamu sakit?

^^^You^^^

^^^Tidak, hanya harus menemani Mbak Rosa di rumah^^^

Naynay🤍

Aku benci kakakmu itu🤬

Amelia tertawa membaca pesan Kanaya, sudah dipastikan raut wajah sahabatnya pasti tak ramah.

Mengingat tentang Asta, Amelia mendadak lega karena kini sahabatnya itu bertemu dengan orang yang tepat. Meski saat ini dia tahu bahwa Kanaya masih sangat tidak setuju dengan pengaturan perjodohan dari keluarganya, tapi Amelia bisa melihat betapa tulusnya sosok Asta. Terbukti dari seberapa keras pun Kanaya memberontak, pria itu selalu memiliki cara menenangkan gadis galak itu.

Amelia jarang bertemu dengan Asta, tapi satu kali dia pernah berbincang dengannya. Pria itu menyapanya lebih dulu dengan sopan. Lalu menanyakan apa saja yang disukai Kanaya. Segala hal tentang Kanaya ditanyakan satu per satu. Tak sampai di situ, Asta juga kerap kali memberi perhatian kecil pada Kanaya yang awalnya akan ditolak, tapi pada akhirnya akan tetap diterima.

Amelia benar-benar puas dengan sosok Asta. Setidaknya dia lebih baik dari pada mantan Kanaya dulu yang sangat-sangat buruk hingga membuat sahabatnya trauma berat dengan hubungan asmara.

Jika diingat-ingat lagi, saat semua kebohongan mantan pacar Kanaya terbongkar benar-benar menghebohkan dan lucu sekaligus.

Kanaya pertama kali menjalin hubungan dengan mahasiswa beda jurusan yang lebih muda darinya, tapi mereka satu angkatan. Dari awal Amelia sudah memperingatkan Kanaya karena dia merasa ada sesuatu yang aneh dari tatapan pria itu, tapi Kanaya menampiknya. Gadis itu tak bisa berbuat apa pun.

Pria itu selalu tampak begitu perhatian pada Kanaya membuat kekasihnya semakin jatuh cinta. Namun, Amelia pernah memergoki pria bernama Rayan itu bergandengan tangan dengan orang lain, tampil begitu mesra. Tapi yang jauh lebih membuatnya syok adalah gender mereka yang sama.

Amelia terus mengingatkan dirinya sendiri bahwa itu mungkin hanya asumsinya pribadi, tapi apa yang keduanya lakukan kemudian membuat Amelia nyaris terjatuh, Rayan melabuhkan kecupan singkat di bibir pria lain itu yang membuat Amelia mual.

Keesokan harinya, Amelia ingin melaporkan kejadian itu pada Kanaya, tapi berita besar itu sudah lebih dulu tersebar di grup-grup chat kampus yang akhirnya mendapat kecaman keras dari berbagai pihak. Mereka menuntut tindak tegas yang harus dilakukan terhadap para pelaku yang telah mencoreng nama baik kampus bahkan melanggar norma hukum.

Rayan pertama kali mendatangi Kanaya diam-diam di rumahnya. Gadis itu benar-benar tak menyangka dengan berita yang beredar. Dia berusaha menyangkalnya, tapi video rekaman CCTV tak bisa berbohong. Dia enggan bertemu bahkan hanya untuk bersitatap dengan pria bajingan itu dan meminta siapa pun untuk mengusirnya.

Mengingat kejadian itu Amelia hanya bisa menggeleng pelan. Masa lalu biarlah berlalu.

“Setidaknya sekarang di antara kami ada yang dicintai dengan tulus oleh pasangannya.”

1
falea sezi
lu emank g cocok ma cwek baik lun cocok ma Rosa apalagi lu bekas si rosokan🤣🤣 najis amat
falea sezi
lanjut donkk😓 baguss q ksih hadiah deh
Yourfaa: Sabar, yah Kakak. Akan kulanjut, tapi setelah menghadapi dunia yang gonjang-ganjing ini. Ngetiknya cuma bisa pas malem doang, soalnya siang kita harus kembali ke realita dunia kerja😭
total 1 replies
falea sezi
rosa ini bner bner playing victim deh
falea sezi
menikahi kaka adek kandung mana boleh kecuali uda mati tuh kakak nya😒
Yourfaa: Terima kasih buat koreksinya yah, Kakak. Karena ini cerita pertama aku, jadi masih banyak salah dan kurangnya informasi. Next bakal aku perbaiki pelan-pelan supaya alurnya lebih masuk akal dan gak bertentangan sama fakta yang terjadi 🙏🏻☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!