Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi
Savira mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan. Ini kali kedua ia berada di ruangan eksklusif milik Devan. Suasananya menenangkan. Bersih. Rapi. Semua tertata di tempatnya dengan sempurna.
Nggak ada kertas berserakan. Nggak ada cangkir kopi bekas. Bahkan stetoskop yang tadi dipake Devan udah balik lagi ke tempatnya, sejajar sama kotak P3K.
Savira jadi ngerasa bersalah. Karena dia sendiri yang bikin "ketidaksempurnaan" pertama di ruangan itu malam ini. Tubuhnya yang lemas, napasnya yang berantakan, sama cokelat yang masih nempel dikit di bibirnya.
"Maaf..." suaranya serak. "Ruangan dokter jadi kotor gara-gara saya."
Devan yang lagi nutup laci P3K langsung noleh. Alisnya nyatu.
"Kotor?" Ia jalan pelan ke sofa bed. "Ra, ini ruang kerja. Kalau kotor itu wajar. Tapi..." Devan melihat seluruh ruangannya masih rapi, yang bahkan debu enggan menempel.
Pandangan jatuh pada Savira yang menunduk sambil meremas ujung baju scrub nya. "...keberadaan mu membuat ruangan ini sempurna."
Ia duduk lagi di pinggir. Jaraknya sedeket tadi. Mata cokelatnya ngelirik ke meja kerja yang bener-bener kosong melompong.
"Karena itu saya membawamu ke sini sayang."
Savira langsung diem. Jantungnya berisik banget denger kata sayang keluar dari mulut Devan... walau nggak jelas ditujukan ke siapa. Tapi tidak ada orang lain selain dirinya dan Devan.
Savira menurunkan kakinya dari sofa. Bersiap untuk pergi. Ia tidak mau menjadi bahan gosip jika salah satu staf rumah sakit tahu ia berada di ruangan dokter Devan.
"Mau kemana?" Devan menahan lututnya. "Kamu perlu istirahat, Ra. Jangan memaksakan diri." Katanya lembut, ia bahkan ngusap pipi Savira pelan.
Savira menatap Devan dengan penuh tanda tanya. Bibirnya bergetar. Ingin memastikan sesuatu.
"Kenapa, Dok?" suaranya pelan. "Kenapa dokter membawa saya ke sini? Kenapa dokter bersikap seperti ini?" matanya menggenang.
Tangannya menepis tangan Devan dari pipinya. "Tolong jangan seperti ini, Dok. Saya....saya bisa salah paham." sambungnya menunduk.
Hening. Hanya detak jam dinding yang berani bersuara.
Devan mengulurkan tangannya. Menarik dagu Savira agar melihatnya. "Apa yang kamu pikirkan?" wajah gadis itu sudah memerah. Antara marah dan malu.
"Saya...." suaranya tertahan. Savira menggigit bibir bawahnya, ia tidak menemukan kata-kata tepat. Atau lebih tepatnya, terlalu malu untuk jujur.
Devan tidak melepaskan tangannya. Matanya menatap Savira intens. Jantungnya berdesir melihat apa yang di lakukan Savira. Membuatnya tidak bisa menahan diri lagi.
Cup....
Mata Savira membuat sempurna saat bibir lembut dan hangat Devan menempel di bibirnya. Belum hilang rasa terkejutnya, ia merasakan sebuah lumatan lembut yang begitu memabukkan.
Perlahan, matanya lebar itu tertutup. Menikmati sensasi nikmat yang baru pertama kali ia rasakan. Otaknya seakan kosong. Ia lupa jika pria yang sedang menciumnya, tadi siang adalah bintang utama gosip karena rencana pertunangan.
Dua menit ciuman itu berlangsung. Devan menyatukan kening mereka. Napas keduanya ngos-ngosan seperti atlet lari. Mata Devan menatap dalam mata Savira. Ia bisa merasakan sisa coklat dari mulut Savira saat ciuman tadi.
"Dokter." Bisik Savira. Serak. Nyaris tak terdengar.
"Kamu berhak marah. Cemburu. Itu bukan salah paham." Kata Devan.
Tanpa nunggu jawaban, Devan kembali mengecup bibir Savira.
Kali ini lebih lembut. Lebih sabar. Seperti orang yang sudah menunggu 3 tahun untuk momen ini.
Tidak terburu-buru.
Mereka saling menyesuaikan napas. Dua menit terasa seperti selamanya.
Tangan Devan turun ke pinggang Savira, menariknya lebih dekat sampai nggak ada jarak sama sekali.
Ciumannya dalam tapi hati-hati, seolah takut Savira pecah kalo disentuh kasar.
Savira awalnya masih menahan. Tangannya di dada Devan, ragu.
Tapi saat Devan berhenti sejenak, keningnya ditempelkan ke kening Savira...
Devan berbisik. "Shhh... aku di sini, Ra."
Suaranya serak, hangat, cuma buat Savira yang denger.
Kalimat itu yang bikin pertahanan Savira runtuh.
Tangannya yang tadinya mau mendorong, malah melingkar ke leher Devan.
Mencengkeram jas dokter itu erat, seakan bilang: jangan pergi.
Ciuman kedua jadi lebih jujur.
Nggak ada lagi "Konsulen" dan "Residen".
Yang ada cuma Devan dan Savira. Laki-laki dan perempuan yang sama-sama takut, tapi akhirnya berani.
Saat mereka terpisah, napas keduanya kacau.
Dahi ke dahi. Mata ke mata.
Devan mengusap bibir basah Savira yang terlihat sedikit bengkak. Wajah yang tadinya pucat kini memerah dan tidak bisa lagi disembunyikan.
Namun sesat kemudian, dada Savira terasa sesak mengingat pertunangan Devan sudah di tetapkan.
"Dokter..." Katanya pelan. "...ini salah." lanjutnya hampir tak terdengar.
Dahi Devan berkerut, ia menangkup kedua pipi Savira. "Salah?" Ulangnya, ia melihat mata Savira berkaca-kaca. "Ini tidak salah, Ra. Saya membuktikan jika kamu tidak salah paham."
Savira menggeleng pelan. "Tidak, Dok. Dokter seharusnya tidak melakukan ini. Saya..." Air matanya kembali mengalir.
Devan menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. "Saya melakukan apa yang seharusnya." katanya lembut.
"Secara verbal, saya memang belum mengatakan apa-apa. Hubungan kita hanya sebatas Konsulen dan residen. Tapi, sejak saya membawa kamu masuk ke ruangan ini, sejak saya memeluk kamu yang menangis. Masuk mobil saya. Makan malam bersama." tangannya masih setia menghapus air mata Savira.
"Dan sejak saya meminta kamu percaya pada saya. Sejak saat itu, kamu adalah orang terpenting dalam hidup saya. Satu-satunya orang yang saya izinkan memasuki hidup saya yang membosankan ini." jelas Devan.
"Saya bukan tipe pria romantis yang pandai berkata-kata. Apalagi untuk pertama kalinya saya menginginkan seseorang dalam hidup saya. Kamu adalah wanita pertama yang membuat saya ingin memiliki, Ra. Satu-satunya wanita yang bisa menarik fokus saya dari rutinitas pisau bedah."
Savira menggigit bibirnya lagi. Dadanya semakin sesak. Kata-kata Devan terlalu jujur. Terlalu telanjang untuk dia terima sekaligus. Hatinya melambung tinggi, bersamaan jatuh ketika kenyataan memberikan sebuah fakta.
"Tidak, Dok. Ini tidak benar." tolak Savira menangis.
"Kenapa? Kenapa tidak benar? Saya mencintai kamu Savira." kata Devan menegaskan. Suaranya rendah. Gemetar. Menyatakan perasaan yang sudah ia pendam selama 3 tahun.
Savira menutup telinganya. Berharap jika ia tidak mendengar apa yang Devan katakan. "Ra, jawab." Devan mengguncang pelan bahu Savira. Napa hangatnya terasa di kening Savira.
Mata basah Savira memandang Devan. "Ini tidak benar, Dok. Dokter akan bertunangan." kata terakhir itu semakin pelan dimakan isakan.
Devan menghembuskan napas lega. Setidaknya penolakan Savira bukan karena gadis itu tidak menginginkannya. Tapi karena kabar yang bagus Devan sangat tidak penting.
Lampu redup. Hanya lampu meja yang nyala, sorotnya jatuh tepat di wajah Savira.
Devan menyingkirkan tangan Savira dari telinganya, perlahan. "Shh... Lihat aku, Ra."
Jari telunjuknya mengangkat dagu Savira. Paksa mata mereka bertemu di bawah cahaya temaram.
"Bertunangan? Dengan siapa? Dengan bayangan yang nggak pernah aku sentuh?"
Jempolnya mengusap bibir bawah Savira yang masih gemetar.
"Saya belum pernah melamar gadis mana pun. Saya tidak pernah memberi cincin Pada siapapun. Dan jika saya melamar, menyematkan cincin di jari wanita...wanita itu kamu. Saya tidak menginginkan wanita lain selain kamu." sambung Devan meyakinkan Savira
*
*
*
*
*
To be continued