Info novel 👉🏻 ig @syifa_sifana
Bertemu sebagai musuh berakhir di pelaminan.
Kisah perjodohan untuk mempererat hubungan kedua keluarga.
Janganlah terlalu mencintai, siapa tau menjadi musuh.
Jangan terlalu membenci, mana tau jadi cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
*Kediaman Shofi
Semua orang sedang menunggu Shofi di ruang makan. Tapi Shofi tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya.
"Kemana Shofi? Kenapa gak turun-turun dari tadi?" tanya Yanti melihat keseluruh arah.
"Biar Sinta panggil, Ma" ucap Sinta menatap Yanti yang direspon dengan anggukan oleh Yanti. Kemudian ia beranjak pergi ke kamar Shofi.
Sampai di depan pintu Sinta langsung mengetuk pintu kamar Shofi.
"Shofi! Ayo turun kita makan!" ucap Sinta lembut di depan pintu kamar Shofi.
Ketukan pintu oleh Sinta merasa terabaikan karena tidak terdengar suara apa apa dari kamar Shofi, kemudian ia mengetuk pintunya lagi, namun tidak juga direspon.
"Kemana anak ini?" bathin Sinta khawatir.
"Shofi..! Shofi..!" Sinta memanggil Shofi dengan lembut sembari membuka pintu kamarnya dan berjalan masuk.
Sinta mengernyit keningnya melihat Shofi tertidur di meja belajarnya dengan laptop yang masih menyala.
Sinta menghampiri Shofi dan melihat Shofi sedang mendesain sebuah gedung, Sinta sontak tersenyum melihat Shofi begitu rajin.
"Shofi..! Bangun!" ucap Sinta lembut sembari menepuk lembut lengan Shofi.
Shofi membuka matanya perlahan lahan dan melihat Sinta berdiri di sampingnya.
"Mbak..!" lirih Shofi serak sambil mengucek kedua matanya.
"Ayo kita makan!" ucap Sinta lembut dengan senyuman di bibirnya.
"Jam berapa sekarang, Mbak?" tanya Shofi yang masih menguap.
"Jam 8 malam, semuanya udah pada nungguin kamu di bawah"
"Hah! Kenapa gak langsung makan aja? ngapain coba nungguin gue" pekik Shofi kaget.
"Bukannya biasanya kami juga nungguin kamu" ujar Sinta menyungging bibirnya.
"Iya juga sih, kalau gitu Mbak duluan aja, gue mau ke kamar mandi dulu" ucap Shofi tersenyum dan langsung pergi ke kamar mandi.
Sinta mengangguk kepalanya dan pergi meninggalkan kamar Shofi, kemudian ia kembali ke ruang makan.
"Gimana?" tanya Yanti melihat Sinta berjalan menghampirinya.
"Bentar lagi juga turun" ucap Sinta sembari duduk.
Setelah Shofi mencuci wajahnya dan menghapus belek di matanya, ia langsung turun ke bawah dan berjalan ke ruang makan.
"Maaf ya udah bikin kalian tunggu" ucap Shofi sembari duduk.
"Iya gak apa-apa, yuk kita makan! Papa udah lapar ni" ucap Bram langsung membalikkan piringnya dan menyerahkan ke Yanti. Yanti menuangkan nasi dan lauk lalu meletakkannya di depan Bram.
"Sini, Nak! Biar mama tuangkan nasi dan lauknya" ucap Yanti meminta piring nasi Shofi.
Shif tersenyum seraya memberikan piringnya ke Yanti. Yanti dengan segera menuangkan nasi dan lauknya.
"Pa! Besok-besok kalau mau makan jangan tungguin Shofi lagi ya! Kasihan Papa dan semuanya kelaparan" ucap Shofi melas menatap mereka semua.
"Gak apa-apa kok, kamu kan anak papa jadi sudah sepatutnya papa menunggu kamu" jelas Bram lembut sembari menatap Shofi penuh pengertian.
"Terima kasih, Pa! Tapi untuk selanjutnya kayaknya kita gak bisa selalu makan bareng deh pa" ucap Shofi melas.
"Nah ini, sayang" ucap Yanti menyerahkan piring yang sudah terisi nasi dan lauk kepada Shofi.
"Terima kasih, Ma" ucap Shofi tersenyum mantap Yanti sembari mengambil makanannya.
"Sama-sama sayang" ucap Yanti tersenyum.
"Loh kenapa? Kenapa kamu bisa bilang seperti itu?" tanya Bram bingung masih pada pernyataan Shofi yang tadi.
"Shofi sibuk, Pa. Ini aja tadi Shofi ketiduran karena ngerjain tugas" ucap Shofi sembari makan.
"Sesibuk apapun kamu, kamu tetap harus jaga pola makanmu" ucap Bram penuh pengertian.
"Baik, Pa" ucap Shofi menganggukan kepalanya.
"Memangnya kamu ngerjain tugas apa sih sampai ketiduran di meja belajar?" tanya Sinta bingung.
"Hari ini Shofi magang di perusahaan Adit, dia ngasih tugas dan besok harus siap" jelas Shofi melas.
"Maksudmu perusahaan Herlambang?" tanya Bram menatap Shofi. Ia tidak mengetahui sama sekali tentang perusahaan Adit yang ia tau hanya perusahaan Herlambang yang sekarang diurus anaknya Rangga.
"Bukan, Pa. Adit punya perusahaan sendiri. Itu loh perusahaan yang dikelola sama Om Boy" jelas Eri mencoba mengingatkan Bram dengan perusahaan milik Boy, karena tidak hanya mereka bahkan semuanya yang mereka tau Sultan Holding itu perusahaan milik Boy bukan milik yang lainnya. Padahal dari namanya saja sudah kehauan itu milik Aditya Sultan Yusuf.
"Maksudmu, Sultan holding?" tanya Bram menatap Eri dengan serius.
"Iya, Pa" ucap Eri sembari mengangguk kepala.
"Kok bisa Papa gak tau itu perusahaan milik Adit." ucap Bram bingung. Ternyata banyak hal menarik yang ia tidak tau dari Adit.
"Wajarlah, Pa! Toh dia balik ke Indonesia setahun sekali" ucap Eri santai sembari melanjutkan makannya.
"Iya juga ya. Papa gak kepikiran sampai kesana" ucap Bram sumringah.
"Sekarang mama senang deh, Shofi bisa magang di kantor calon suaminya" sahut Yanti tersenyum bahagia.
"Mama senang, aku gak" ucap Shofi jutek.
"Loh kenapa sayang? Bukannya dengan kalian satu kantor kalian bakal sering bertemu dan hubungan kalian makin akrab, dan juga gak canggung lagi kalau mama niakahkan kalian berdua" jelas Yanti dengan lembut sembari menatap Shofi. Ia mulai memikirkan hal yang baik baik mengenai keduanya.
"Itu pemikiran mama, tapi nyatanya gak gitu, Ma. Sekarang coba mama bayangin! Aku magang di kantor dia dan aku ditempatkan jadi asisten dia, kami satu ruangan berdua dan yang paling bikin aku ilfeel ni, Ma! dia main semena-mena aja, gila gak sih tu anak. Masa aku baru masuk kesana udah dibebani dengan tugas segitu banyaknya dan besok lagi harus diserahin ke dia. Selain itu juga dia suka kali suruh bikin kopi lah.. ini lah.. itulah, dia kira aku pembantunya apa." jelas Shofi kesal.
"Itu tandanya dia sayang sama kamu. Dia mau ajarin kamu biar pintar dan gak malas lagi. Buktinya dia jadiin kamu sebagai asistennya dan sekarang dikasih tugas lagi. Itu menandakan dia sayang sama kamu, Nak. Dia ingin calon istrinya itu pintar dan rajin bukannya jadi pembantu seperti yang kamu katakan itu." jelas Yanti mencoba memberi pemahaman pada Shofi.
"Benar, Fi. Hitung-hitung lo belajar ngurus suami, toh kalau lo nikah sama dia juga bakal layani dia, bahkan lebih dari itu lagi" sahut Eri.
"Ih.. Mama ini sama aja ya. Yang anak mama siapa sih ? Aku apa Adit sih? Mama asik bela-bela dia terus, gak ada pengertiannya sedikitpun ke aku. Dan lo juga, Kak! belain terus teman lo itu" ucap Shofi kesal sembari memonyongkan bibirnya.
"Shofi yang dikatakan Mama dan Eri itu benar nak. Lagian jika kamu ingin menjadi orang sukses itu gak gampang nak. Coba lihat kakakmu, dia itu lulusan terbaik di kampusnya dan sekarang dia bisa mengelola perusahaan dengan baik, itu semua gak gampang, Nak! Tapi kakakmu berhasil melewati berbagai hal. itu karena kakak kamu sudah terbiasa dengan tugas kampus dan tugas saat dia magang di perusahaan lain sehingga bisa lebih mudah mengaplikasinya dalam perusahaan kita. Dan juga kamu sudah sepatutnya belajar mengelola perusahaan dan melayani calon suamimu dengan baik dan benar, biar nanti suami kamu sayang denganmu" jelas Bram lembut. Ia mencoba memberikan pengertian pada Shofi karena Shofi hanya mendengarkan ucapan Bram.
"Baik, Pa! Shofi gak akan ngeluh lagi" ucap melas. Sebenarnya Shofi sangat tidak rela jika yang menjadi suaminya itu Adit, tapi jika orang lain, pasti dia akan melayaninya dengan suka rela.
"Bagus, itu baru putrinya Papa" ucap Bram tersenyum bahagia.
Semua orang melanjutkan makannya, Shofi sesekali melirik Papa dan Mamanya. Ia sangat kesal karena mereka gak ada yang mendukung dirinya, semuanya membela Adit.
"Kalian bisa bilang seperti itu karena kalian gak tau apa yang dilakukan si rubah licik itu ke gue. Gak..! Gak..! gak..! Gue gak boleh mewek gini! L jangan mau ditindas sama dia, pokoknya lo harus bisa membalas semua perbuatan dia ke lo, apapun itu" bathin Shofi berusaha menguatkan dirinya sendiri.