Dendam dan Cinta gila yang membuatnya buta.
Arya Bimo Lee, seorang CEO blasteran Indonesia-Korea, kembali dari perjalanan bisnisnya dan menemukan calon istrinya sudah menikah dengan pria lain.
Ia tidak terima dan berniat merebut kembali perempuan yang sudah bersuami itu.
Memutuskan menikahi Miyu Kara Santana, adik perempuan dari pria yang telah memperistri kekasihnya. Niatnya tak lain dan tak bukan adalah untuk bisa lebih dekat dengan sang mantan dan merebutnya.
Akankah usahanya berhasil membuat pernikahannya sendiri dan kakak iparnya hancur?
Dan bagaimana reaksi Miyu Kara Santana ketika tahu bahwa pernikahannya hanyalah pernikahan dusta?
Mampukah ia bertahan atau malah meninggalkan hubungan yang tidak sehat itu?
Pantengin kisahnya hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Telepon Tersambung
Miyu keluar dari kamarnya setelah menghubungi suaminya berkali-kali tetapi tidak bisa tersambung. Ia pun mencari Tami di kamar tamu untuk mengajaknya makan malam bersama.
Kehamilannya yang sudah menginjak bulan ke lima membuatnya sering merasa lapar. Apalagi sekarang memang waktunya makan malam. Bayinya pasti sudah merengek ingin makan.
Mereka berdua pun memasuki ruang makan untuk mengisi perut mereka. Sesampainya di tempat itu, Miyu merasa heran sendiri karena biasanya di waktu seperti itu, meja makan pasti sudah penuh dengan makanan yang tertata rapih.
"Mbok Siti!" panggilnya pada Asisten Rumah Tangga yang paling senior di Rumah itu. Ia ingin meminta makanan karena ia dan Tami ingin makan saat itu juga.
Perempuan tua yang biasa mengatur ini dan itu di Rumah itu selain Mbak Rina datang dengan tergopoh-gopoh. Ia menunduk takut pada istri majikannya itu.
"Apa mbok gak masak malam ini? kok gak ada makanan sih?" tanya Miyu dengan nada sopan meskipun ada campuran nada kesal didalamnya.
Mbok Siti semakin menundukkan kepalanya takut. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena telah diperintahkan diam oleh Perempuan yang mengaku sebagai Tante dari Tuan Arya Bimo Lee itu.
"Mbok, Kok gak dijawab sih? jawab aja masak atau tidak?" tanya Miyu lagi karena perempuan itu tidak menjawab pertanyaannya dan hanya diam menunduk.
"Tidak Nyonya. Maafkan kami." akhirnya suara perempuan itu keluar juga untuk menjawab pertanyaan Miyu. Istri dari Arya Bimo Lee itu berdiri dari duduknya dengan perasaan kesal dan malu secara bersamaan pada sahabatnya.
"Kita masak sendiri aja gimana? Aku bisa masak kok," tawar Tami dengan wajah ceria. Ia ingin menutupi perasaan kesal Miyu dengan mengajaknya untuk memasak. Miyu terdiam. Ia menyetujui ide dari sahabatnya itu. Perempuan itu pun mengangguk dan segera melangkahkan kakinya ke arah dapur diikuti oleh Tami.
"Kalian tidak boleh menginjak dapur! kalau mau makan cari makan di luar. Malam ini dapur harus bersih dan steril dari orang-orang yang cuma numpang di sini!" Langkah Miyu dan Tami berhenti karena sebuah perintah dari arah belakang mereka.
"Apa?" tanya Miyu dengan wajah tak percaya dengan pendengarannya. Ia menatap perempuan yang bernama Fortune Lee itu dengan tatapan tajam.
"Apa maksud Tante? ini rumahku dengan Mas Arya. Aku berhak melakukan apa saja di Rumah ini. Dan Anda tidak berhak memerintah aku seperti itu!" balas Miyu tidak suka dengan cara perempuan itu bersikap seperti itu di Rumahnya sendiri.
"Heh, tidak sopan kamu ya? Aku ini lebih tua daripada kamu. Bahkan suamimu yang bodoh itu pun bisa Aku perintah apalagi kamu yang hanya perempuan tak berguna yang mungkin hanya memberikan tipuan pada Arya hingga bisa jatuh tak berdaya di hadapanmu!"
Miyu membuka mulutnya untuk membalas tetapi Tami segera menyentuh tangannya agar tidak perlu melawan.
"Kita makan di luar saja. Aku punya tempat makan yang sangat enak. Gimana? adek bayi pasti sudah tidak sabar makan ya?" Tami segera menarik tangan Miyu untuk keluar dari dapur itu dan menuju garasi untuk membawa perempuan hamil itu untuk mencari makanan.
Fortune Lee menyeringai senang karena perempuan itu berhasil ia usir dari dapur. Dan itu berarti rencana berikutnya untuk mengusirnya dari Rumah mewah ini pun akan segera berhasil.
Karena sangat kesal dan juga lapar, akhirnya perempuan cantik itu mengikuti saja kemana Tami mengajaknya. Ia berjanji dalam hati bahwa setelah energinya terkumpul, ia akan membalas perempuan jadi-jadian itu. Ia akan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya yang tidak ingin ditindas oleh orang lain di Rumahnya sendiri.
"Tam. Gimana kalau kamu saja yang keluar cari makanan. Aku tunggu kamu disini saja," ujar Miyu saat mereka berdua sudah berada di Garasi.
"Kenapa? katanya lapar?" tanya Tami bingung. Ia menatap wajah sahabatnya itu dengan perasaan kasihan. Ia tidak menyangka kalau Miyu yang terkenal kaya dan sangat disayang oleh suaminya itu ternyata diperlakukan buruk oleh keluarga suaminya.
"Aku khawatir perempuan jahat itu mempunyai rencana lain lagi."
"Maksud kamu apa?"
"Kamu lihat sendiri kan bagaimana bahagianya ia telah berhasil mengusirku dari dapur Rumahku sendiri. Bagaimana kalau kita kembali dan ia sudah tidak membiarkan kita masuk ke Rumah ini atau bahkan ke dalam kamarku sendiri." jelas Miyu dengan segala persangkaan di dalam hatinya.
"Oh iya kamu benar sekali. Kamu tinggal saja di sini. Aku yang akan membeli makanan, okey?" Miyu mengangguk setujui dan melepaskan kepergian Tami dengan mengendarai motornya sendiri.
Perempuan cantik itu pun masuk kembali ke dalam Rumah dan segera memasuki kamarnya. Ia mengunci dirinya di dalam kamar itu jangan sampai perempuan jadi-jadian itu datang mengganggunya.
Kembali ia menghubungi suaminya untuk melaporkan apa yang sedang terjadi di Rumah ini ketika calon ayah dari bayinya itu sedang tidak berada bersamanya.
Miyu tersenyum lebar karena nomor handphone suaminya bisa terhubung. Ia pun mengganti panggilan itu dengan panggilan Video.
"Miyu? Assalamualaikum sayang." sapa Arya dengan senyum diwajahnya. Nampak sekali kalau ia sedang sangat bahagia melihat wajah istrinya yang sudah belasan jam berpisah dengannya.
"Waalaikumussalam Mas Arya hiks." Miyu memandang wajah suaminya yang tampak masih rapih dengan setelan jas lengkap ditubuhnya. Ia menangis tersedu-sedu dan tak sanggup untuk bicara.
Hatinya sangat sakit diperlakukan kasar seperti itu oleh perempuan yang bernama Fortune Lee itu. Ia ingin bicara tetapi rasanya ia tak sanggup. Akhirnya ia hanya menangis di depan kamera di bawah tatapan penuh cinta suaminya.
Arya tersenyum samar dan segera membuka dasinya. Ia yakin istrinya itu kesal dan berakhir menangis hanya karena ia masih menggunakan dasi yang sangat dibenci oleh istrinya itu.
Setelah tangis Miyu sudah agak reda, Ia pun mulai menyapa istrinya dengan suara lembut. Ia rasanya ingin memeluk istrinya yang sedang menangis itu.
"Miyu gimana dedeknya? gak nangis kan kayak mamanya?"
"Huaaaaa.." Miyu merasakan hatinya semakin menghangat dengan perhatian suaminya. Ia kembali menangis histeris.
"Miyu sayangku. Aku kangen sekali sayangku. Udah makan belum?"
"Huaaaaa Mas Arya..." Miyu semakin menangis tiada henti apalagi suaminya menyinggung kata makan. Ia sangat sensitif sekali dengan kata itu. Seumur hidupnya ia tidak pernah diperlakukan dengan kasar seperti itu hanya karena ia ingin makan.
"Miyu? kamu kenapa sayang? kamu baik-baik saja 'kan?" perasaan Arya sudah mulai tidak nyaman. Meskipun ia tahu perasaan sensitif istrinya itu karena pengaruh hormon kehamilan tetapi ia mencurigai ada hal buruk sedang terjadi di Rumahnya sampai istrinya tidak berhenti menangis seperti itu.
"Tante Fortune Lee, apakah dia Tantemu Mas?"
Deg
🍀
*Bersambung.
Bagi Vote nya dong para readers😍
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
dia,