Namaku Tamara umur dua puluh satu tahun,aku tidak pernah menyangka jika kebaikan ku malam itu menolong seorang pria menjadi petaka dalam hidupku,dimana pria itu mengambil kehormatan ku secara paksa dan yang mengakibatkan aku hamil,dan inilah awal dari penderitaan yang aku alami.
Ikuti cerita ini dan jangan lupa memberi dukungan terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustina Pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 ~ Aku tidak mencintainya ~
Mereka terlihat menikmati sarapan yang sudah di hidangkan oleh Sinta,robi awalnya menolak untuk makan tapi melihat hidangan yang menggugah selera akhirnya Robi ikutan sarapan.
"Bagaimana enak tidak? Sinta memang sangat hebat dalam memasak dan dia juga sangat baik kepada ibu,seandainya dia tidak menjaga ibu dengan baik,ibu yakin sudah lama ibu sakit-sakitan,ibu sangat berharap kalian bisa menikah secepatnya. " Ucap ibu Linda kepada Robi saat sinta sudah pergi kebelakang,menyimpan semua piring bekas makanan mereka.
"Bu,aku tidak mencintai Sinta,aku sudah menganggapnya sebagai adik,tolonglah bu jangan memaksaku." Ucap Robi.Seketika Linda menoleh ke belakang dia takut Sinta mendengar ucapan Robi.Dia sangat menyukai Sinta wanita yang sangat baik hati,tulus dan tampa pamrih,bahkan dia sangat dekat dengan Sinta saat dia masih sekolah.
"Robi,ibu sangat kecewa jika kamu memilih wanita lain untukmu,aku tidak berniat memaksamu tapi aku hannya melihat Sinta wanita yang sangat baik." Ucap Linda lirih,dia kembali menoleh kebelakang,dia sangat menjaga perasaan Sinta,karena sudah sangat banyak utang budinya kepada Sinta.
"Tante...Kita jalan sekarang,nanti keburu panas." Ucap Sinta saat dia sudah kembali dari dapur Robi dan ibunya Linda langsung menghentikan obrolan mereka,karena Linda takut Sinta mendengarnya obrolannya dengan Robi.
"Aahh_ iya..Kita berangkat." Ucap Linda gugup.Dia tidak bisa membayangkan jika Robi benar-benar menolak untuk menikah dengan sinta,dia tidak membayangkan betapa sakit hatinya Sinta nantinya.
" Robi kamu mau kan mengantar kami,sudah lama ibu tidak jalan-jalan di kota ini," Ucap Linda.Robi segera menyiapkan mobil,lalu mengantar ibu dan sinta ke pusat perbelanjaan.
*****
Riski kembali pulang ke rumahnya,tadinya dia sudah berangkat ke sekolah tapi gurunya menyuruhnya pulang karena sudah lima bulan ini dia tidak membayar uang sekolah dan uang pembangunan.
"Loh...kamu kok pulang Ki,ada apa?" Tanya mamanya,wajah Riski terlihat lesu karena teman-temannya menghinanya karena orang yang selalu telat membayar uang sekolah.
"Ma,guru menyuruhku pulang!! Sudah lima bulan ini aku tidak membayar uang sekolah,kenapa ya ma..Kaka Tamara tidak pernah menghubungi kita bahkan sudah dua bulan ini dia tidak mengirim bulanan untuk kita,kadang aku merasa malu ma kepada kakak Tamara,dia seorang wanita tapi dia harus banting tulang dengan kita." Ucap Riski sambil menghela napas berat.
Ibunya yang mendengar keluhan Riski hannya bisa diam,dia duduk di samping Riski,dia juga merasa tidak enak jika harus terus meminta kepada anaknya sementara dia sendiri belum di ijinkan untuk bekerja setelah operasi satu bulan yang lalu.
"Mama Riski,aku ada berita untukmu,kamu jangan kaget iya,kamu tau kan aku baru saja pulang dari Jakarta Tampa sengaja satu minggu yang lalu aku melihat Tamara di Jakarta." Ucap dewi tetangganya.Rosa mama nya Riski memang tau kalau Dewi baru saja kembali dari Jakarta mengunjungi anaknya yang sudah menikah dan tinggal di sana karena anaknya menikah dengan orang Jakarta asli.
Dewi adalah wanita bermulut ember,Rosa terkadang tidak suka berteman dengan dengan Dewi karena omongan hari ini bisa saja sampai ke seluruh desa.
"Terus kalau ibu Dewi melihat anak saya kenapa? Dia baik-baik saja kan,kami sering kok mengobrol lewat ponsel,dan dia selalu mengirim uang dengan lancar." Ucap Rosa dengan sedikit tidak suka,dia berbohong kepada Dewi karena dia tidak ingin anaknya menjadi bahan celaan Dewi si mulut ember.
Dewi tersenyum kecil mendengar ucapan Rosa,sementara dia melihat Tamara dengan perut buncitnya,dia sengaja tidak mau menyapa Tamara karena dia ingin membuat berita heboh di kampungnya.
"Bu Rosa tau tidak,aku melihat Tamara perutnya sudah besar,sepertinya dia sedang hamil,apa dia sudah menikah,kok orang-orang kampung ini tidak tau,kalau tidak salah hamil sudah lewat dari lima bulan." Ucap dewi Tampa memikirkan perasan Rosa dan Riski yang ada disana.Rosa langsung berdiri,dia begitu emosi dengan Fitnah yang di beritakan oleh dewi kepada keluarganya.
"Ibu Dewi...kamu jangan bicara sembarangan ya,tidak mungkin anakku hamil,kamu jangan berbicara tanpa adanya bukti,aku bisa menuntut mu." Ucap Rosa.Wajahnya terlihat emosi,dada naik turun menahan rasa benci di hatinya.
"lah...Ibu Rosa kok emosi begitu,memang kenyataanya apa yang aku katakan benar adanya kalau nga percaya suruh dia pulang,kalian semua akan melihatnya,atau jangan-jangan dia jual diri untuk membiayai hidup kalian di desa ini,makanya Bu Rosa kalau punya anak itu jangan di jadikan ATM berjalan dong,kasihan kan anaknya,di rantau menjadi budak nafsu pria hidung belang.
"Plak....Keluar kamu dari rumah ku,semua orang desa ini tau kalau kamu wanita bermulut ember,pergi..."Rosa melayangkan tamparan keras ke wajah Dewi yang menghina Tamara sedemikan rendah.
"Brangggg....." Suara gelas jatuh di dalam rumah membuat Rosa berlari meninggalkan Dewi yang masih berdiri di luar,belum puas rasanya dia ingin menghina Keluarga Tamara.
Satu Minggu yang lalu dewi melihat Tamara dan abian berjalan berdampingan melihat mobil yang tumpangi Tamara membuatnya iri,saat itu dia yakin kalau Tamara menikah dengan pria kaya raya.Dewi berfikir kalau Tamara malu mengenalkan orang tuanya yang begitu miskin kepada pria yang ada di sampingnya.Hal itu membuat Dewi iri kepada Tamara dan akhirnya dia mengarang cerita sedemikian rupa.
"Ayah......" Riski berlari menghampiri ayahnya yang sudah tergeletak di lantai,mungkin dia mendengar pembicaraan antara Dewi dan Rosa sehingga membuatnya jantungnya kambuh.Melihat keributan yang ada di dalam rumah Dewi yang belum pergi mengintip dari celah pintu,dia cukup kaget melihat kejadian di dalam rumah.Dewi segera pergi meninggalkan rumah orang tua Tamara dengan perasan takut.
Dewi takut sesuatu terjadi kepada ayah Tamara, karena dia sudah mengarang cerita yang berlebihan.
Riski langsung mengangkat tubuh ayahnya, lalu membawa ke jalan umum,dan saat itu kebetulan sebuah mobil lewat mereka langsung menumpang untuk membawa ayahnya ke rumah sakit.
Sepanjang jalan Rosa terus menangis,dia tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi kepada suaminya.Rosa memeluk anaknya Riski,dia sangat ketakutan jika semua ucapan dewi memang benar adanya.
Setelah sampai di rumah sakit,Riski kembali menggendong papanya dan membawa ke IGD,beberapa perawat dan dokter segera melakukan pertolongan pertama.
Riski dan Rosa saling menguatkan,bahkan Rosa sesekali berdoa,dia belum siap jika harus kehilangan suaminya yang sudah lama sakit.
Seorang dokter keluar dari ruang IGD,lalu mendekati Rosa dan juga Riski yang sudah terlihat tegang.
"Ibu maafkan kami,suami ibu tidak tertolong,kami sudah berusaha semaksimal mungkin."
**** Bersambung***
sejauh ini alurnya bagus 👍 semangatttt