Cinta seperti angin. Datang tiba-tiba tanpa permisi. Cinta bagaikan penyihir yang memiliki kekuatan dahsyat. Menarik dua hati yang berbeda menjadi satu.
Ellery Anka (Anka), seorang gadis remaja yang baru mengenal cinta. Beruntungnya, cinta yang ingin dia raih menyambut cintanya dengan ramah. Harvin Nolan (Harvin), seorang CEO yang terkenal dingin dengan siapa pun. Kehangatannya hanya untuk Anka.
Namun, kebahagiaan Anka tidak berlangsung lama. Tanpa disengaja, Anka mengetahui rahasia kekasihnya yang membuat perasaan Anka perih dan hancur.
Disaat Anka dirundung kesedihan, masa lalu Harvin hadir. Menyusup dan meretakkan kehidupan asmara mereka.
Mengapa dulu Harvin melabuhkan cintanya pada Anka yang merupakan gadis biasa saja?
Apakah Harvin akan kembali pada masa lalunya?
Berhasilkah Anka meraih kembali cinta CEO dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triple.1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Ala Bridal
Harvin turun dari mobil dengan segera. Dia tidak ingin Anka keluar dari mobil sendiri tanpa dipapah olehnya. Pria itu juga menolak mengenakan kursi roda untuk istri tercintanya. Awalnya Anka bingung melihat tingkah suaminya yang terburu-buru keluar dari mobil. Mungkin saja suami tampannya itu kebelet ingin ke kamar kecil tapi dugaan Anka salah total. Harvin membukakan pintu mobil untuk Anka.
Ih, so sweet banget sih laki gue! puji Anka dalam hati. Anka bergeser perlahan ke dekat pintu mobil. Harvin mengulurkan kedua tangannya untuk dijadikan penopang Anka. Tentu saja, gadis itu dengan senang hati menyambut uluran tangan suaminya. Setelah tubuhnya keluar dari mobil dan berdiri sempurna, Anka merasakan tubuhnya langsung melayang di udara dan berhenti dalam gendongan Harvin. "Eh, ngapain?" ketus Anka.
"Tentu saja menggendong mu, sayang."
"Hah!" teriak Anka. "Harvin turunkan aku sekarang!" pinta Anka. Dia menggoyangkan kedua kakinya agar Harvin segera menurunkannya.
"Sayang, berhenti bergerak sembarangan! Kita berdua bisa jatuh."
"Makanya, turunkan aku sekarang!" tegas Anka menahan rasa malu. Meski dia sudah berbaikan dengan Harvin, bukan berarti harus menampakkan keromantisan mereka pada orang lain. Apalagi jika terlihat Liza. Bisa-bisa dia mengamuk dengan mengatasnamakan para jomblo.
"Eh, eh, eh! Enak banget gendong-gendongan," ketus Liza yang baru saja keluar dari pintu mansion. Sebelah tangannya memegang mangkuk yang berisi beras kuning.
Mam pus! Baru aja di ucapin dalam hati, udah nongol aja nih bocah. Anka berkata dalam hati. Dia langsung menyusupkan kepalanya ke da da Harvin. Berharap dapat bersembunyi sementara dari Liza. Namun, sesuatu mengenai tubuhnya. Meski kecil tetap terasa.
"Apaan nih Liz?" tanya Anka saat mengambil sesuatu berwarna kuning.
"Beras kuning," jawab Liza sambil melempar beras kuning lagi.
"Buat?"
"Yaa, nyambut kedatangan elu lah!"
Rasa malu yang sempat hinggap di hati Anka langsung hilang karena ulah Liza. Harvin memanfaatkan kesempatan itu dengan membawa Anka langsung masuk ke dalam mansion.
* * *
"Lepaskan aku!" teriak Claudia.
Teriakan Claudia tidak dianggap sama sekali oleh pria-pria yang menyekapnya. Mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Tubuh Claudia yang kecil tidak akan mungkin bisa lolos dari markas.
"Kalian tidak tahu berhadapan dengan siapa! Lepaskan aku! Aku akan membuat kalian menyesal," gertak Claudia. Detik berikutnya, suara gebrakan meja membuat Claudia tersentak.
* * *
Happy new year 2023 untuk pembaca setia Triple.1
Semoga di tahun depan semua yang dicita-citakan terwujud dan terlaksana dengan lancar. Amin yarabbal alamin.
* * *
Mampir dulu yuks kakak2 ke karya thor yang satu ini...
"Selamat atas keberhasilan misi keseratus mu," ucap Michael sebagai kepala divisi sambil menyalami Juan.
"Terima kasih, sir."
"Jadi, selamat menikmati waktu liburanmu," Michael menepuk pelan pindah kiri Juan sebelum pergi meninggalkannya.
"Yes, wooahhh yea!" Juan meninju ke udara dan menari ala hula-hula.
"Senang sekali kau," ucap Ron yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.
"Ah, kau merusak kesenanganku saja," oceh Juan.
"Aku ke sini ingin segera menyeret mu ke pesta agar aku bisa segera pulang ke rumah," Ron tak kalah ketus.
"Jam berapa sekarang?"
"Bukannya di tanganmu ada jam tangan."
Juan melirik pergelangan tangan kirinya. Benar saja, sebuah jam digital berwarna hitam tanpa merek melingkar sempurna di pergelangan tangannya. "Aku lupa jika aku memiliki jam tangan," elaknya sambil terkekeh.
"Kau memang paling pandai membuat alasan."
"Ah, Aku lupa sudah memesan beberapa wanita di salah satu klub terelit di sini dua satu jam yang lalu!" Sudah menjadi kebiasaan Juan selalu menepuk keningnya jika melupakan sesuatu.
"Sudah ku batalkan," jawab Ron.
"What (apa)?"
"Aku juga sudah membayar uang ganti rugi mereka," Ron menjawab dengan santai.
"Ok," Juan berkacak pinggang. Ingin kesal dengan rekan sekaligus sahabatnya itu ke depannya dia sendiri yang akan susah. Dia hanya bisa menghela napas panjang dan menerima kenyataan dengan berat hati. "Jadi, apa aku harus berterima kasih padamu?"
"Untuk apa?" Ron masih betah menyandarkan tubuhnya di muka pintu. Alasannya karena jika Juan mengejarnya nanti, dia dapat menghindar dengan leluasa.
"Kau sudah membatalkan mereka dan .." Juan melangkahkan kaki mendekati Ron. Menekan pelan bahu kiri rekannya. "Sudah membayar ganti rugi mereka," ucap Juan tulus sambil memainkan matanya.
Ron langsung tertawa setelah mendengar ucapan tulus dari sahabatnya itu. Bukan tanpa alasan dia tertawa. Dia menertawai kebodohan Juan.
"Oh, kau tertawa bahagia atas ucapan terima kasih ku ya!" Juan melangkah mundur. Posisi Ron cukup aman untuk melarikan diri. Pria itu masih bisa bergaya narsis. Jika saja dia tahu sesuatu yang hendak Ron utarakan, dia pasti akan menjadi patung saking terkejutnya.
Ron mengatur napas agar bisa mengontrol dirinya karena setelah ini bisa dipastikan dia akan kehabisan banyak tenaga. "Kau ingin tahu seberapa banyak yang aku habiskan untuk membayar ganti rugi mereka?" tanya Juan sambil tersenyum.
"Memangnya seberapa banyak yang kau habiskan?" tanya Juan sedikit penasaran.
"Tidak banyak. Sekitar seperempat dari bonus yang kau dapat."
"Wow! Cukup fantastis."
"Kau tahu sendiri ini adalah New York bukan kampung halaman mu,"
"Ya, kau benar. Aku berterima kasih banyak padamu, bro." Juan melangkahkan kaki berniat untuk memeluk sahabat baiknya itu. Namun, dihentikan langsung oleh Ron.
"Stop (berhenti)! Jangan maju selangkah lagi!" Ron mengambil ancang-ancang bersiap untuk menyelamatkan diri.
"Why (mengapa)?" Juan bingung saat aksinya dihentikan oleh sahabatnya.
"Well, Aku menerima ucapan terima kasih darimu untuk membatalkan para gadis." Ron melangkah mundur perlahan. "Tapi aku tidak bisa menerima ucapan terima kasih darimu atas biaya pembatalan."
"Why?" Juan merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Karena aku memotong uang bonusmu untuk membayar ganti rugi!" teriak Ron sambil berlari.
Juan sempat terdiam melihat Ron berlari. Menit berikutnya, agen rahasia itu baru sadar jika bonusnya berkurang cukup banyak bagi orang pelit seperti dirinya.
"RON!" Juan berlari mengejar Ron yang sudah menghilang entah kemana. Lebih tepatnya bersembunyi. Dia berteriak di sepanjang koridor kantor agen rahasia. Semua orang yang berada di sana sudah paham dengan tabiat Juan dan Ron jika salah satu di antara mereka membuat kesal. Jadi, mereka tidak memusingkan tingkah laku mereka yang terkadang seperti anak-anak.
* * *
Suasana New York malam ini sangat bersahabat. Cuaca malam yang cerah ditambah cahaya lampu warna warni yang menyala terang menambah keceriaan malam. Juan duduk di antara dua teman kantornya yang lain. Wajah pria itu kusut dan masam.
Alasannya hanya dua yaitu, pertama dia gagal bermain dengan tiga orang wanita cantik dan bonusnya berkurang banyak sehingga membuatnya tidak bersemangat mengikuti pesta yang diadakan khusus untuknya.
Juan menatap kesal ke arah pria paruh baya yang setengah asyik mengobrol dengan ditemani seorang wanita yang bisa ditebak oleh Juan adalah seorang wanita panggilan. Gara-gara kau, aku tidak jadi kencan dan bonusku terpotong. Ucap Juan dalam hati. Bibir pria itu terlihat komat-kamit seperti sedang mengucap sesuatu tanpa suara.
Jerry yang duduk di samping Juan bingung melihat gelagat pria di sampingnya. "Kau sedang mengutuk pak Michael ya?" Jerry tak ingin berasumsi, tapi setelah melihat arah pandang Juan mengarah ke ketua mereka sudah pasti pria itu sedang kesal dengan pria paruh baya itu.
"Gara-gara dia, aku tidak mengalami kerugian besar hari ini," geram Juan.
"Memangnya apa yang dia lakukan?" tanya Jerry penasaran.
Juan menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menghela napas. Kedua tangannya dilipat ke belakang sebagai alas kepala. "Gara-gara dia aku harus menunggu selama satu jam karena keterlambatan. Sekalinya bertemu hanya mengucap selamat saja." Juan berkata sambil menatap langit-langit klub. "Yang membuatku kesal, dia terlambat karena habis 'bermain' dengan seorang wanita simpanannya di sini."
Juan berusaha mengikhlaskan seperempat bonusnya yang menghilang. Jika saja dia bisa 'bermain' dengan para wanita yang telah dipesannya, mungkin dia tidak sekesal.ini. Bermain bermasa mereka jauh lebih murah daripada mengganti biaya ganti rugi.
"Sudahlah! Lebih baik kita bersenang-senang," Jerry menepuk paha kiri pria itu. "Bukannya waktu mu sangat panjang. Semua agent di sini sangat iri padamu bisa menyelesaikan seratus misi dalam waktu enam bulan. Belum satu tahun kau bergabung menjadi agent perlindungan saksi, kau sudah menikmati hasil yang luar biasa." Jerry berusaha menghibur pria berwajah masam itu.
"Kau benar," ucap Juan. "Baiklah, ayo kita bersenang-senang!" Juan bangkit dari sofa empuknya dan mengajak Jerry untuk menikmati malam terakhir di New York.
Juan dan teman-teman kantornya berpesta hingga dini hari. Berbagai makanan dan minuman alkohol mereka minum sebagai teman pesta. Alhasil, pria itu mabuk berat. Jerry yang tidak kuat minum minuman beralkohol hanya berani minum soft drink. Dia tidak ingin membuat dirinya kacau.
Melihat kondisi Juan yang tidak mungkin untuk pulang sendiri ke hotel, Jerry segera menghubungi Ron untuk menjemputnya. Sangat berbahaya jika pria itu pulang sendiri dalam keadaan mabuk berat. Dia sendiri tidak bisa mengantar Juan pulang ke hotel karena harus ke Moscow untuk tugas selanjutnya. Pesawat dengan penerbangan pagi membuat Jerry sedikit repot.
* * *
Sudah satu Minggu Juan kembali ke tanah air. Pria itu benar-benar memanfaatkan waktu liburnya dengan bermalas-malasan ditambah lagi hari ini adalah akhir pekan. Pria setengah bule itu masih berada di atas kasurnya yang empuk. Begitulah nasib seorang pria yang tidak menjalin hubungan dekat dengan seorang wanita. Bahkan, seorang teman wanita pun tidak ada.
Bel apartemen Juan berbunyi entah yang ke berapa kalinya. Awalnya Juan tidak menghiraukan suara bel yang sedikit mengusik kedua indra pendengarnya. Namun, lama-kelamaan suara merdu bel itu membuat kedua telinganya sakit. Akhirnya, dengan berat hati Juan turun dari keempukan kasurnya dan berjalan malas menuju pintu utama apartemen.
Juan membuka pengait pintu. Dia ingin menyemprot orang yang sudah mengusik waktu liburnya yang sangat berharga. "Apa mau .." ucapan Juan menggantung di udara saat dia sadar tidak ada seorang pun di depan pintu apartemennya.
Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada seorang pun yang dia lihat di sana. Dengan malasnya Juan membalikkan tubuh dan menutup pintu. Namun, saat pintu akan tertutup dia segera menahannya dengan sebelah kaki.
Juan berdiri diam mematung saat mendengar suara yang sangat tidak disukainya. Setelah diam cukup lama, suara itu menghilang. Juan melepaskan kaki yang menahan pintu secara perlahan. Tapi, dia kembali menghentikannya saat mendengar suara itu lagi.
Dia langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke muka pintu. Juan menoleh ke kanan dan ke kiri. Hasilnya masih sama tidak ada seorang pun di sana. Kalaupun ada makhluk kecil itu, Juan pasti bisa menangkapnya karena geraknya yang lambat.
Suara tawa itu kembali terdengar. Kali ini dari arah bawah kakinya. Juan langsung menundukkan kepala. Pria itu diam. Pandangan mata mereka saling beradu. Yang satu dengan tatapan tidak percaya, satunya lagi dengan tatapan mengganggu.
"Aaah!" Juan akhirnya berteriak. Dia terkejut melihat seorang makhluk hidup kecil berambut tipis di dalam sebuah keranjang dan saat ini sedang menertawainya.
banget nie evan, tapi seru si ceritany lanjut terus thour....!!!
Semangat ✊