Tias tidak pernah menyangka kalau ternyata pilihannya untuk tinggal bersama neneknya malah membuatnya bertemu dengan orang paling menyebalkan yang pernah ditemuinya.
Tias kira dengan jabatan yang cukup disegani di kampung membuat orang itu punya rasa malu untuk sekedar menggodanya di depan umum. Tapi bukannya merasa malu orang itu malah terang terangan berkata ingin menikahinya meskipun banyak warga yang melihatnya.
" Dek Tias mau nggak jadi calon ibu Kades di sini ? Enggak perlu daftar langsung saya terima."
" Nggak."
" Kalau nggak mau daftar langsung saya nikahi aja ya. Gimana ?"
" Ih ! Aku nggak mau punya suami Kepala Desa."
" Jadi dek Tias maunya dapat suami yang kayak mana ?"
" Kayak pemulung."
" Kalau gitu besok saya turun jabatan jadi pemulung. Biar bisa nikahi dek Tias terus kita mungut sampah bareng bareng. Bagus juga keinginannya dek Tias."
" Astaga !" Tias berteriak kencang merasa frustasi menghadapi sikap Kades muda yang sangat menyebalkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maysar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginan Tias
" Jadi saya datang ke sini karena mau ngasih tahu kalau sawit di kebun sudah bisa kita panen. Kebetulan mobil saya di rumah masih belum dipinjam siapa siapa. Takutnya nanti kalau kita nggak duluan, mobil saya bakalan disewa sama warga lain." ucap Risam yang akhirnya menjelaskan maksud dari kedatangannya.
Mendengar itu rasa kesal Tias berkurang sedikit demi sedikit. Biarlah rasa kesalnya ini ia simpan dulu untuk nanti. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana cara agar ia bisa mengolah lahan sawitnya itu. " Saya terserah pak Kades aja. Untuk yang kali ini saya ngikut aja."
" Nggak nyesel ngikuti saya ?" tanya Risam.
Tias menggelengkan kepalanya dan itu membuat Risam ingin kembali menjahili gadis itu. Mumpung lagi mode kalem dan penurut, tidak ada salahnya kalau Risam tindas sekali saja.
" Ya udah besok saya bawa dek Tias ke KUA, harus ngikut ya." ujar Risam.
" Pak Kades jangan mulai ya ! Ini saya udah mulai sabar loh. Jangan sampai gara gara kesel saya usir pak Kades dari sini." wajah Tias kembali keruh dengan hati yang menahan kesal. Bisa cepat keriput wajahnya kalau teru menerus seperti ini.
Risam terkekeh kemudian menaik turunkan alisnya menggoda Tias. " Memangnya dek Tias berani ? Nggak takut kalau nenek Ruwi marah ?"
Tias terdiam tidak bisa menjawab lagi. Bagaimanapun kalahnya hanya berada di neneknya saja. Kalau neneknya itu sudah berkata maka Tias tidak memiliki kesempatan lagi untuk bergerak. " Pak kades mainnya ngadu."
" Kalau bisa buat kamu sama saya terus, kenapa nggak ?" Risam bertanya jahil.
Tias berdecak kesal dan memutar mata malas. Selain sok akrab ternyata Kades itu termasuk orang yang menyebalkan juga. " Terserahlah, biar cepat selesai ini pembahasan. Jadi kapan kita ini mau panen ?"
" Kalau besok kamu keberatan ?" ucap Risam yang balik bertanya.
Tias berpikir tentang jadwalnya besok. " Nanti malam kan malam minggu pak. Saya kalau minggu harus ngelihat Cafe sama buat tugas kuliah. Kayaknya senin baru saya bisa."
" Aduh, gimana ya. Saya senin juga mau ada rapat antar desa ini." ucap Risam yang kali ini serius dengan wajahnya yang sedikit kebingungan.
" Kalau nunggu dua hari lagi bisa nggak ya pak Kades ?" tanya Tias.
" Ya nggak bisa dek, udah susah itu dipanennya."
" Jadi gimana dong ?" untuk pertama kalinya Tias berbicara biasa dengan wajah kebingungan. Rasa kesalnya tersimpan dalam di dalam hatinya. Karena Risam berbicara serius maka Tias akan berusaha untuk ikut serius juga.
" Hm..., gimana kalau saya suruh beberapa orang saya buat ngurus. Itupun kalau dek Tias percaya sama saya." usul Risam.
" Ya nggak apa apa pak Kades. Tapi apa nggak ngerepotin ?"
" Ya nggaklah, saya malah seneng kalau yang ngerepotin itu dek Tias."
Tias mengangguk sekilas dan berusaha tersenyum. Setidaknya ia harus ramah kepada si Kades itu karena sudah mau menolongnya kali ini. Lagi pula kalau seandainya Tias merepotkan itu wajar, anggap saja ini sebagai tanggung jawab karena kesalahan ayahnya itu.
Jangan dikira karena hal ini ia bisa luluh begitu saja. Tidak akan, Tias selalu ingat tujuan awal Risam mendekatinya. Bukan ketulusan tapi karena rasa bersalah dan juga janjinya. Atau mungkin juga karena rasa kasihan kepadanya yang membuat Tias muak memikirkan itu. Ia tidak mau ada orang yang mendekatinya hanya karena maksud tertentu apalagi rasa kasihan.
" Pak Kades..., em... mau minum ?" Tias bertanya ragu. Kasihan juga lama lama melihat Risam yang datang dengan niat baik tetapi ia malah berbuat buruk.
Risam tersenyum seraya mengetuk jari telunjuknya ke dagu. Tingkahnya seakan ia tengah berpikir keras seperti sedang memilih minuman apa yang ia inginkan. " Kalau kopi ada ?"
" Ada."
" Itu aja."
" Oke, tunggu sebentar saya buatkan dulu." Tias beranjak berdiri dan berjalan kearah dapur.
Risam bersorak tanpa suara karena merasa sangat senang. Semoga setelah ini Tias bisa didekati olehnya lagi. Risam berdehem pelan dan kembali duduk bersandar di sofa dengan wajah yang berusaha menyembunyikan rasa senangnya. Kalau ia terus terusan bertingkah aneh dan dilihat nenek Ruwi apalagi Tias, maka habislah imagenya ini.
" Ini kopinya pak." Tias meletakkan segelas kopi di atas meja.
Risam langsung mengambilnya dan meniupnya perlahan sebelum meminumnya sedikit. Matanya menikmati rasa kopi yang mengalir melalui tenggorokannya. Sungguh enak sekali kopi buatan gadis itu.
" Enak." pujinya.
Tias mengangkat alisnya sebelah kemudian diam diam tersenyum sinis. " Namanya juga kopi dikasih gula. Ya rasanya pasti enaklah pak Kades."
Risam menggeleng pelan dan meletakkan lagi gelas kopinya. " Nggak semuanya, ini kopinya enak karena yang buatinnya ikhlas. Ditambah cantik lagi, seandainya nggak dikasih gula pun kopinya pasti tetap enak."
" Jangan mulai ya pak Kades. Saya lagi diem ini loh, lagian pak Kades udah punya calon kok masih ngomong gitu sama saya." ucap Tias.
Risam menatap Tias bingung. " Calon ? Siapa ?"
" Dokter Silla." jawab Tias.
Risam mengulum bibirnya menahan senyum. " Cemburu ?"
" Jangan aneh pak Kades." Tias menjawab tak perduli.
" Saya sama dia cuma temanan aja. Bisa dibilang teman dekat tapi kami nggak punya hubungan lebih dari itu." ujar Risam menjelaskan.
Tias mengangkat bahu acuh. " Pak Kades punya hubungan pun saya nggak masalah. Saya tadi cuma tanya aja, mana tahu ada perempuan yang ngelabrak saya cuma gara gara digombalin sama pak Kades. Kan nggak lucu, mau ditaruh kemana wajah saya nanti."
" Dek." panggil Risam dengan mata menatap lekat pada manik cokelat Tias.
" Ya ?"
" Bisa nggak, kalau ngomong sama saya jangan terlalu jujur ?"
" Maksudnya ?" Tias bertanya balik kurang mengerti.
Risam menggelengkan kepalanya lalu beranjak berdiri. " Saya pulang dulu, terima kasih kopinya. Untuk masalah panen dek Tias bisa datang ke rumah hari senin atau selasa. Saya pamit, assalamualaikum."
" Wa'alaikum salam." Tias menatap bingung kepergian Risam. Bukannya tadi sudah ia usir tapi pria itu malah tidak mau, sekarang kenapa dia malah pulang tiba tiba dengan raut wajah menahan kesal.
Apa tadi ia sudah salah berbicara ?.
Tias terkekeh sendiri dengan pertanyaannya itu. Apa urusannya kalaupun Kades muda itu benar benar merasa kesal karena ucapannya. Tias tidak perduli sama sekali, malah menurutnya bagus kalau Risam benar benar kesal dan menjauh darinya. Tias tidak memiliki keraguan lagi untuk membalas dendam pada pria itu. Masa bodoh dengan neneknya yang terlalu baik hati itu, ia akan tetap melakukannya.
Teruslah Risam merasa kesal dan marah kepadanya. Memang itu yang Tias inginkan selama ini agar ia bisa bebas melakukan pemikiran buruknya ini." Teruslah lo ngerasa gitu, kalau bisa benci gue sedalam dalamnya Abrisam Bramansyah."
Thanks dah up,Kak..☺️
Lanjuttttt and ttp semangat!!💪
penuh Teka teki....
Semangat,Thor...
Calon adik????🤔
Astaghfirullah
Aq mikirnya apaaaaaa gitu yah Roti sumbu... ternyata ubi kayu...
aaaa Author Somplak!!!
Thanks infonya.....