Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.
Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,
Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Setahun telah berlalu dari hari itu, Fadil berhasil mendapatkan gadis kaya yang merupakan anak dari pemilik perusahaan.
Dia baru saja menyadari jika bersama dengan anak pemilik perusahaan bukannya membuatnya sejahtera malah membuatnya sengsara
Yasmin yang kini menjadi kekasih Fadil membuatnya kewalahan dengan banyaknya permintaan mewah yang begitu menguras rekening pribadi Fadil .
Niat hati ingin memanfaatkan gadis itu untuk kesenangannya malah berakhir merugikannya seperti ini.
"Kamu kenapa lagi Fadil, perasaan wajahmu selama beberapa bulan ini begitu terlihat menyeramkan?".
Evan yang kini berdiri didepan sahabatnya itu melipat tangannya dan bertanya dengan sangat penasaran.
"Perempuan yang kamu berikan kepadaku itu perempuan matre Van, dia gadis gila yang selalu menyuruh aku membayar semua kebutuhannya, dia seakan tahu tehnik yang aku gunakan jika ingin memanfaatkan uangnya".
Fadil mengacak rambutnya kasar, tabungannya semakin menipis karena gaya Hedon gadis itu.
"Bersabar sajalah bro, wajar dia membeli barang branded, dia kan anak orang kaya yang terbiasa hidup enak, nanti kalau kalian sudah menikah pasti kamu akan hidup enak, yang kamu lakukan itu investasi agar dia percaya sama kamu bro".
Evan menepuk pundak sahabatnya itu untuk memberi dukungan karena menurutnya Yasmin bukan orang yang mudah ditaklukkan jadi harus lebih sabar dan berhati-hati.
"Tapi ini sudah keterlaluan Van, aku sudah menguras tabunganku dengan lumayan, bisa bangkrut aku kalau begini terus".
Dia kesal setengah mati, setiap kali dia pergi berbelanja dan juga jalan bersama Yasmin, dia menjadi pihak yang selalu membayar tanpa bisa di kompromi, padahal dia pikir jika dia berpacaran Dnegan Yasmin maka uangnya bisa semakin banyak karena Yasmin orang kaya tapi kenyataannya membuatnya menepuk jidatnya.
Evan menghela nafas melihat sahabatnya itu sudah tidak sabar dan frustasi padahal dia dan Yasmin berpacaran baru beberapa bulan, sejak awal dia sudah memperingatkan sahabatnya jika Yasmin bukan orang yang mudah untuk ditaklukkan
"Jadi sekarang mau kamu apa bro?, kamu mau putusin Yasmin?". Tanyanya dengan penasaran
"Aku juga bingung Van, aku tidak bisa melepaskan Yasmin karena aku masih berusaha untuk memanfaatkannya, seperti yang kamu katakan gadis itu tidak mudah ditaklukkan".
Fadil mengusap wajah dengan frustasi, dia harus secepatnya mendapatkan donatur baru karena tabungannya sudah menipis.
"Masalahnya tabunganku sudah menipis kalau terus begini aku bisa bangkrut".
Evan langsung duduk disebelah sahabatnya itu Dnegan kasar, jika Fadil berkata seperti artinya Yasmin memang sangat parah dalam menguras uang Fadil selama ini.
"Apa aku cari selingan aja yah?, sapatau Dnegan begitu bisa aku manfaatkan untuk menunjang kepura-puraan ku didepan Yasmin". Ucapnya dengan senyum mengambang.
Dia seakan memiliki ide yang dia rasa sangat brilian dan memuaskan nantinya.
"Kamu yakin bro?, Yasmin bukan orang yang mudah kamu tipu bro, jangan sampai karena rasa tidak sabarmu itu, malah menghancurkan semua yang sudah kita susun selama ini dan juga semua yang kamu korbankan". Ucapnya khawatir.
Dia jelas mendengar kekasihnya itu mengatakan jika Yasmin bukan orang yang mudah apalagi dia akan melakukan apa saja jika orang itu membuatnya jengkel atau memanfaatkan dirinya walau Fadil melakukan hal itu tapi dia belum mendapatkan hasilnya.
"Terus gimana bro?, tabunganku sudah mulai menipis, gajiku bahkan tidak bisa digunakan seperti dulu karena banyaknya keinginan Yasmin selama ini".
Dia sungguh frustasi dan tidak menemukan cara lain selain mendapatkan gadis lain yang bisa dimanfaatkan.
"Sabar saja dulu bro, biarkan dulu seperti ini, jangan sampai semuanya sia-sia sekarang ".
Evan hanya bisa menepuk pelan pundak sahabatnya untuk memberi dukungan sejujurnya dia juga tidak tahu bagaimana caranya bisa menolong sahabatnya itu.
Aminah kini berdiri didepan rumahnya yang sudah setahun terakhir dia tinggalkan, kini dia sudah memiliki rumah sendiri dari hasil bekerjanya, dia juga sekarang memiliki penghasilan dari beberapa platform menulis online dan juga sosial media.
Gadis yang dulunya tidak terurus kini berubah menjadi gadis cantik bahkan melebihi sang adik Lisa.
Dia datang berkunjung untuk berlebaran, dia masih berharap ada sisa kebahagiaan yang masih bisa dia terima dari keluarganya dan ini adalah pembuktian dan kesempatan terakhir kalinya pada keluarganya agar dirinya bisa pulang kembali.
tok..tok..
Dia mengetuk pintu pelan dan sangat hati-hati, hatinya melukai dilanda rasa khawatir dan juga kasihan.
Dia mendengar kabar dari para sahabatnya jika ibunya jatuh sakit dan tidak ada yang mengurusnya karena ayahnya jarang pulang sedangkan kedua adiknya tidak mau mengurus ibunya dan mencari kebahagiaannya diluar, dia sungguh tidak menyangka jika nasib keluarganya seperti ini.
"Siapa?". Ucap seseorang dari dalam rumah
Terdengar langkah kaki mendekati arah pintu dan dia yakin suara tadi adalah adik bungsunya karena dia sangat hapal suaranya .
Pintu terbuka dan menampakkan sosok gadis berusia 13 tahun yang kini menatapnya dengan mata yang membesar
"Kak Aminah". cicitnya pelan.
Dia menggosok matanya untuk memastikan jika yang dihadapannya ini adalah sang kakak tertua.
"Iya ini aku Mayra, bagaimana kabar orangtua kita?".
Mayra Melihat kakaknya dengan jelas kini, wajahnya yang tadinya terkejut sekaligus kebingungan berubah menjadi kesal.
"Ngapain kakak pulang?, bukannya kakak sudah enak hidup diluar tanpa peduli sama kami". Sungutnya dengan kesal.
Aminah menghela nafas kasar, entah kenapa ketiga adiknya selalu berbicara dengan nada tidak enak didengar dan tidak sopan kepadanya padahal dia kakak tertua mereka.
"Apa kakak akan dibiarkan berdiri terus didepan pintu seperti ini?".
Mayra mendengus sebal tapi kini menyingkir dan membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan sang kakak masuk.
Aminah mengedarkan pandangannya ke segala arah melihat rumahnya yang dulu tampak rapi dan bersih terawat saat dirinya masih tinggal dirumah ini sekarang rumah ini sungguh berantakan
"Berantakan sekali". Ucapnya begitu masuk kedalam rumah.
Mayra mendengus kesal menatap sang kakak dengan emosi mulai terpancing.
"Tentu saja berantakan karena aku sendiri mengerjakan pekerjaan rumah, kedua kakak yang lain menyebalkan, mereka itu seenaknya pergi dari rumah dan ingin kos karena tidak mau mengurusi ibu yang sakit, nyebelin banget".
Aminah berbalik kemudian menatap adiknya dengan sendu.
Andai dia tidak mendapatkan kabar dari temannya jika ibunya sakit mungkin dia tidak akan pulang dan mengetahui kelakuan kedua adiknya yang begitu disayang oleh sang ibu dibandingkan dirinya.
"Sekolahmu gimana?". Tanyanya pelan.
Amarah yang tadi berkobar kini mulai menyusut, kakak pertamanya inilah orang yang selalu memperhatikan dirinya sejak dulu apalagi sejak dia bekerja, walau dia tidak langsung mengatakannya tapi kakaknya ini sangat perhatian.
"Aku berhenti sekolah kak, ayah jarang pulang dan kedua kakak tidak mau tinggal disini lagi, kalau aku sekolah siapa yang mengurus ibu".