NovelToon NovelToon
Kakakku Ternyata Suamiku

Kakakku Ternyata Suamiku

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Chicklit / Tamat
Popularitas:269.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kim O

Ingatan akan hidup seorang wanita muda di masa lalu tiba-tiba menerpa Elena. Kisah cintanya dengan sang suami, kematian tragis mereka, hingga seucap janji yang diikrarkan sang wanita di detik-detik terakhir kematiannya, semua terekam jelas di memori gadis berusia 18 tahun itu.

Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa wanita itu? Dan, apa yang akan Elena lakukan saat mengetahui, bahwa suami dari wanita yang ada dalam ingatannya tersebut, adalah kakaknya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 : Nyaris Celaka.

Jalanan yang kian lengang tidak mampu meredam langkah Elena yang terus berjalan sendirian menuju halte bus. Sambil menangis terisak, ia tak henti-hentinya mengutuki Iris yang kini bersemayam di dalam dirinya.

Wajar saja. Sebab sebelumnya, Elena mencintai Albern dengan segenap hati. Angan sederhana untuk hidup bersama pria itu selepas masa kuliah runtuh seketika, seiring dengan datangnya Iris dan kenangan kehidupan masa lalu mereka yang menyayat itu.

Namun, di sisi lain, ia tak kuasa merelakan perpisahan dengan sang suami di awal kehidupan sebelumnya, dan tiga kehidupan reinkarnasi sebelum saat ini.

Kehidupan pahit mereka di masa lampau, hingga kematian tragis yang merenggut dirinya dan Evans, membuat Elena bersumpah akan mengubah takdir mereka, apa pun yang terjadi.

Iris pernah berkata, bahwa ini adalah reinkarnasi ketiga mereka. Dua kehidupan sebelumnya gagal menyelamatkan takdir mereka dan berujung dengan kehancuran yang nyaris serupa.

Elena tidak sudi membiarkan sejarah kelam itu terulang.

Iris telah berhasil membangkitkan semua ingatannya di masa ini. Itu artinya, janji yang pernah ia ikrarkan di antara kegetiran langit dan bumi, telah merestui mereka.

Kini, hatinya bertarung dengan waktu. Ia harus menemukan cara agar Evans kembali mengingat segalanya.

Ia menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan bus terakhir akan segera datang. Semoga saja ia belum terlambat.

Dengan cepat, Elena menyeka terlebih dahulu sisa air mata dari pipinya lalu mempercepat langkah.

Sesekali, Elena menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada satu pun orang yang membuntuti. Jalanan ini terlalu sepi, terlalu senyap, dan terlalu jauh dari hiruk pikuk kota. Elena jadi sedikit merasa takut.

Wajar saja, sebab kawasan ini adalah area konstruksi yang sudah dua tahun terbengkalai, entah karena kekurangan dana, atau hal lainnya.

Bus hanya berhenti tiga kali dalam sehari, yaitu pukul setengah tujuh pagi, empat sore, dan sepuluh malam. Bahkan tak jarang, saking sepinya tempat ini, bus malam pun melewati area ini.

Dulu, tempat ini sebenarnya sering ia singgahi, ketika masih duduk di bangku SMP untuk berangkat sekolah bersama teman-temannya menggunakan bus. Masa-masa yang cukup menggelitik, mengingat ia bisa menikmati suasana sederhana yang menyenangkan di bus.

Saat sedang asyik-asyiknya mengingat masa sekolah, Elena dikejutkan oleh suara gesekan benda yang terdengar persis di belakang gadis itu.

Elena sontak berhenti dan menoleh cepat. Tak ada siapa pun di belakangnya. Hanya kesunyian dan angin malam yang menggigit. Berusaha mengabaikan suara tersebut, ia melanjutkan langkah dengan tempo yang lebih cepat, meski hatinya kini mulai ciut.

Namun, suara itu lagi-lagi terdengar. Lebih dekat. Lebih nyata.

Kali ini, tanpa pikir panjang, Elena mulai berlari. Jarak ke halte bus masih kurang dari seratus meter lagi. Ia harus sampai. Di sana ada CCTV dan juga tombol darurat yang dapat membantunya menghubungi polisi.

Elena menggenggam erat tasnya, merogoh ponsel dari dalam, bersiap menghubungi seseorang. Satu-satunya nama yang muncul di benak gadis itu hanya satu, Evans.

Namun, nasib berkata lain.

Saat gadis itu hampir saja tiba di halte, seseorang tiba-tiba muncul dan langsung membekap mulutnya. Elena diseret masuk ke dalam gang sempit yang sepi dan temaram tanpa sempat berteriak.

Elena memberontak. Memukuli orang itu dengan tasnya sekuat tenaga.

Beruntung, ia berhasil lepas dan berlari menuju mulut gang. Dengan tangan gemetar, Elena mengeluarkan ponsel dan bersiap menekan tombol "panggil".

Evans.

Namun, belum sempat jari-jari gadis itu menyentuh layar, rambutnya sudah ditarik paksa dari belakang. Tubuhnya lagi-lagi terseret ke kegelapan yang mencekam.

Lelaki asing yang tampak berusia tiga puluhan itu membanting tubuhnya ke aspal. Napasnya memburu. Ia cengkeram erat tangan Elena lalu merampas dompet, ponsel, dan juga jam tangan yang dikenakannya.

Elena mengira semuanya telah berakhir. Namun, nyatanya tidak demikian. Pria itu mulai mengoyak blouse-nya dan menggunakan potongan benda itu untuk menyumpal mulut Elena.

"Jarang-jarang ada gadis secantik ini lewat sini sendirian. Sayang kalau disia-siakan!" gumam lelaki itu penuh nafsu. Tangannya mengelus wajah Elena dengan tatapan liar yang menjijikan.

Elena mencoba menjerit, tapi tak ada suara yang keluar dari sana karena mulutnya sedang tersumpal.

"Berhasil teriak pun, tidak akan ada yang mendengarmu, Manis," ucap pria menjijikan itu. Ia bersiap menyerang Elena yang sudah memejamkan mata sembari menangis sesenggukan.

Namun tiba-tiba, tubuh pria itu terhempas keras hingga membentur dinding gang. Teriakan kesakitan menggema. Elena membuka mata.

Evans rupanya sudah berada di ujung gang. Wajahnya gelap, penuh amarah.

Tanpa ragu, ia menendang lelaki itu berkali-kali hingga terpelanting, dan setelah memastikan si bajingan tak berdaya, Evans bergegas menghampiri Elena yang kini sudah terduduk sambil menutupi bagian dadanya yang terbuka.

Tanpa bicara, Evans segera melepas jaketnya dan menyelimutkan tubuh menggigil sang adik.

"El, kamu baik-baik saja?" tanya Evans pada Elena.

Elena tidak menjawab. Ia hanya menggenggam lengan Evans erat, seolah itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap waras.

Evans lantas memeluk tubuh ringkih itu dan menenangkannya. “Kamu aman sekarang.”

Tak ingin berlama-lama, Evans pun menggendong Elena agar mereka bisa segera keluar dari tempat tersebut. Dalam gendongan penuh perlindungan Evans, Elena melingkarkan tangannya dan menyembunyikan wajah kacaunya di lekuk leher pria itu.

Namun, ketika mereka hampir sampai di ujung gang, tubuh Evans mendadak tersentak. Mereka hampir terjatuh.

“Kak? Kakak kenapa?” tanya Elena panik.

Evans menggeleng, menahan nyeri pada punggungnya. Perlahan ia pun menurunkan Elena dari gendongan.

Mata Elena membelalak. Sebuah belati rupanya tertancap di punggung sang kakak. Pria bejat tadi ternyata berhasil bangkit kembali, lalu menyerang mereka dari belakang sebelum kabur.

Seolah tak terjadi apa-apa, Evans mencabut belati tersebut dan mulai membidik si pria bajingan dengan wajah dingin. Kilat matanya menajam, seolah ia telah terbiasa memegang benda itu.

Hanya dalam hitungan detik, belati pun melesat cepat dan menancap tepat di leher si penjahat.

Jeritan kesakitan pun terdengar, sebelum sunyi kembali datang diiringi suara jatuh dari tubuh itu.

"Leon!" seru Elena dengan suara tertahan. Gerakan Evans saat menggunakan belati tadi persis sama dengan Leon.

Evans jatuh terduduk, mengerang pelan. Elena yang panik segera memeluknya dan kembali menangis. "Jangan mati!" ucap Elena sesenggukkan. Ia tak peduli pada tubuhnya yang masih menggigil dalam ketakutan.

Evans tertawa kecil sambil meringis. "Dasar bodoh! Telepon polisi, sekarang!”

1
MamDeyh
Gk paham knp Elena dibenci Evan
Nayla Nazafarin
bukannya tidak mendukung El..tp bca smpai sini dominan El yg gigih memperjuangkan janjinya di masa lalu..
Nayla Nazafarin
Evans..penakut sekali kau..
Thia Alyfia
cerita yg bagus bgt thor beneran menguras emosi&air mata bgt😭😭😭, moga adza ada cerita lanjutan season 2 ttg elena&leon
Darna Syukaira
Luar biasa
Nor Rahma Setyawan
bagus sekali
Hiatus: trmksh kk sdh mampir😍🤗😘❤️❤️
total 1 replies
Sinta Safira
mantaaaappp....
Hiatus: trmksh kk sdh bersedia mampir😭😍😘❤️❤️❤️
total 1 replies
Hiatus
❤️❤️❤️
ZhieLaa
kisah Elena dimasa lampau
ZhieLaa
aaah jadi kangen pariwisata jaman sekolah 😄
ZhieLaa
ooohhh terjawab sudah mereka bukan saudara kandung.
Hiatus: xixixi iya ka
total 1 replies
ZhieLaa
hahaha
ZhieLaa
mereka ini saudara Kandung bukan sih 😌
ZhieLaa
dikejauhan ada seseorang melihat mereka tanpa ekspresi 😂😂
ZhieLaa
kabuuuurr 😁
ZhieLaa
hobinya ketiduran 😂
ZhieLaa
masa lalu kah ini ??? ato di dunia berbeda ??
ZhieLaa: waAaah makin penasaran,,,suka kalo ada unsur fantasi2 nya 😍
total 2 replies
ZhieLaa
hibernasinya kurang jauh sekalian ke kutub utara 😂
Hiatus: 😂😂😂😂😂
total 1 replies
ZhieLaa
wkwkwkwkw tertidur dlm kelas
Hiatus: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
ZhieLaa
baru mampir di karya ini 😍
ZhieLaa: 😍 siaaap
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!