Aisyah, seorang gadis cantik dari keluarga yang sederhana. Diumurnya yang ke 17 tahun, ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya harus bercerai, dan itu sangat melukai hatinya. Sangat sulit baginya untuk mencerna apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya.
Diumur Aisyah yang terbilang masih remaja kecil, Aisyah harus memikul beban yang sangat berat. Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Bagaimanakah nasib seorang anak seumuran dia harus memikul tanggung jawab seberat ini?
Simak terus kisahnya hanya di Noveltoon.
Follow ig author ya
@rafizqi0202
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Merestui
Bu Hesti keluar dari ruangan rawat itu dengan wajah yang terlihat marah. Aisyah yang melihat itupun segera bertanya, "Bu! Ayah bicara apa?" tanya Asiyah.
Bu Hesti menatap anaknya dengan wajah yang tertekuk, "Tidak ada Aiysah. Hanya pembicaraan yang tidak penting" Jawab ibunya malas.
"Yuk anak-anak kita pulang!" Ajak Bu Hesti. Terlihat ketiga adiknya itu menatap Aisyah dengan penuh tanya.
"Kalian pergilah dulu bersama ibu, kakak akan menyusul nanti sore" Ujar Asiyah yang di balas dengan anggukan oleh ketiga adiknya.
Setelah kepergian Ibu dan Adik-adik nya, Aisyah kembali masuk ke dalam ruangan rawat ayahnya.
Aisyah duduk di bibir ranjang sang ayah dengan senyuman manisnya.
"Gimana perasaan Ayah setelah bertemu Ibu dan anak-anak ayah?" tanya Aisyah dengan lembut.
"Ayah merasa sedikit lega Aisyah. Setidaknya, walaupun ibumu masih marah kepada ayah, dia masih mau memaafkan ayah dan bersedia menjenguk ayah kesini. Terimakasih nak" Ujar Pak Wawan.
Aisyah kembali menarik tangan ayahnya dan menggenggamnya dengan lembut.
"Ayah harus sehat kembali. Sekarang fokus sama kesehatan ayah dulu" Ucap Aisyah.
"Baik nak!" Jawab ayahnya dengan lembut.
"Oh ya Yah. Aisyah mau memberikan kabar bahagia sama ayah!"
Pak Wawan nampak menautkan kedua alisnya, "Apa itu nak?" tanyanya dengan penasaran.
"Aisyah akan menikah sebentar lagi" Ujar Aisyah.
"Oh ya? Ya Allah, ternyata anakku akan menikah dan sebentar lagi aku akan mendapatkan menantu" Ujar Pak Wawan senang.
"Yang terpenting, ayah harus sembuh dulu, Aisyah mau ayah menjadi Wali nikah Aisyah nanti" Ucap Aisyah lagi.
"Iya nak, ayah begitu senang dan bahagia hari ini. Apalagi ada kamu bersama ayah" Ucap Pak Wawan.
Aisyah tersenyum simpul, "Jika saja dulu ada ayah di sampingku, aku juga akan merasa bahagia ayah. Sayangnya, aku sendirian mengarungi kehidupan yang aku jalani hingga saat ini" Batin Aisyah.
"Kalau begitu Aisyah mau pulang ya yah. Nanti Aiysah akan bawa calon menantu ayah kesini" Ujar Aisyah kemudian. Yang hanya di balas anggukan oleh ayahnya.
******
Beberapa hari kemudian, seperti janji Aiysah kepada ayahnya. Kini ia pergi menjenguk ayahnya bersama kekasihnya Rangga.
"Sayang! Kenapa baru sekarang kau cerita bahwa ayahmu ada disini?" tanya Rangga yang memang tidak tau menahu perihal ayah Aisyah yang sedang sakit dan di rawat di rumah sakit tempat Aisyah bekerja.
"Maaf ya! Aku belum cerita apapun sebelum. Karena aku ingin situasi membaik terlebih dahulu. Aku awalnya juga syok pas melihat ayahku terbaring sakit, tapi sekarang sudah jauh lebih baik dan dia juga sudah menyadari kesalahannya selama ini kepada kami dan ibu" Jelas Aiysah.
Rangga hanya mengangguk pelan, "Baiklah, aku senang mendengarnya" Ucap Rangga kemudian.
Sesampainya disana. Aisyah masuk lalu disusul Rangga dari belakangnya.
Terlihat Pak Wawan tersenyum senang melihat kedua orang itu. Sudah dapat di pastikan bahwa yang bersama anaknya itu adalah menantunya.
"Siang Pak. Gimana kabarnya?" Rangga bertanya sembari menyalami tangan mertuanya itu dengan ramah.
"Sudah semakin baik nak. Terimakasih sudah mau menjenguk" Jawab Pak Wawan.
"Yah, ini nama Rangga calon menantu ayah" Ujar Aisyah memperkenalkan.
"Pilihanmu memang sangat sempurna Aisyah. Ayah berharap, kalian bisa membangun rumah tangga yang harmonis dan bahagia. Jangan seperti ayah yang bodoh ini. Kalian harus saling menyayangi satu sama lainnya" Ujar Pak Wawan menasehati.
"Baik pak. Saya janji akan menyayangi anak Bapak melebihi diri saya sendiri. Saya akan menjaganya sampai maut yang memisahkan kita" Ucap Rangga dengan penuh kasih.
Terlihat mata Aisyah berkaca-kaca mendengar ucapan Rangga, di genggamnya tangan Rangga dengan penuh kasih.
"Terimakasih nak. Saya mempercayai kamu. Aisyah adalah anak yang hebat, jangan sia-sia dia" Ucap Pak Wawan lagi yang di balas anggukan kepala oleh Rangga.
.
.
.
.
.
Bersambung.
aku di tinggal ayah dan ibu semenjak berpisah aku dan sodara" ku di rawat nenek kakek dari ibu singkat cerita aku sudah berumah tangga dan punya anak dua lalu ayah ku datang sudah sakit keras gagal ginjal aku rawat di bawa ke rumah sakit bergantian sama sodara" ku yg sekota kadang adik ku yg bawa ke rumah sakit untuk cuci darah seminggu dua kali kalou pulang bapak tetap mau ke rumah ku ga mau tinggal di anak yg lain terus yg 2 lagi kakak dan adik laki" ku tinggal nya di Kalimantan
kakak dan adik ku ngirim uang buat keperluan bapak kita gotong royong saling menjaga bapak..
aku suka kesel kalou ingat ibu tiri dan anak dari bapak mereka semua membuang bapak ku ketika bapak sakit keras😭 ko ada yah perempuan sekejam ibu tiri ku kirain di novel saja😂 sebelum bapak menghembuskan napas terakhir nya beliou mengaku bahwa menyesal karna telah menelantarkan kami anak" nya kalou inget bapak sekarang saya cuman bisa berdoa
bapak belum lama pergi belum ada 100 hari Al-Fatihah buat bapak ku🤲😭🙏