NovelToon NovelToon
Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:81k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Minwa

Nayla Prasetio Andini adalah gadis baik lembut, Allah mentakdirkan seorang pria yang baik untuk dirinya. Akan tetapi dibalik semua itu Allah menguji kebahagiaan rumah tangganya, dengan memberinya kesulitan dalam mendapatkan keturunan.
Setelah sekian tahun membina mahligai rumah tangga, ujian untuk dirinya dan suaminya pun berakhir. Ternyata Allah berkehendak lain, Nayla pun hamil dan mendapatkan keturunan.
Disaat kebahagian sedang menghiasi rumah tangga mereka, sang suami tercinta mendapat tugas kemanusiaan, yang pada akhirnya Nayla harus berjuang sendiri untuk melahirkan bayinya.
Namun, disaat kesulitan sedang melanda Nayla sewaktu hendak melahirkan, malaikat penyelamat pun datang untuk mengulurkan bantuan. siapa sangka, hati yang terpilih itu berubah secara perlahan untuk mengkhianati pasangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Minwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 35 kembali pulang ke rumah

Hingga keesokan harinya, ketika Mutia terbangun dari tidurnya, dia mendapati handphone Yoga sudah tak berada di kantongnya lagi, Mutia berusaha untuk mencarinya, namun tak ketemu.

Marbot masjid itu melihat Mutia hilir mudik dihalaman Mesjid, diapun merasa heran dan mencoba untuk bertanya.

“Lagi mencari apa Neng?”

“Handphone teman ku, Pak!”

“Kenapa dengan handphone temannya Neng, apa hilang?”

“Iya, pak! semalam handphone itu aku masukan kedalam kantong celana, mungkin terjatuh, tapi aku nggak menemukannya lagi saat ini.

“Apa sampai Neng masuk kedalam handphonenya masih nggak ingat.”

“iya, Pak. Aku lupa.”

“kalau begitu, mungkin ada Jema’ah Bapak yang menemukannya, waktu solat subuh tadi.”

“Ooo, gitu ya Pak,” jawab Mutia seraya duduk di teras Mesjid.

“Nanti biar Bapak tanyakan pada mereka, siapa tau ada yang menemukannya.

“Baik pak," jawab Mutia dengan suara lembut.

“Nah kalau begitu, gimana kalau kita sarapan dulu, nanti sehabis makan, baru Bapak antar Neng pulang.”

“Baik Pak,” jawab Mutia sembari membuka bungkusan nasi yang dibelikan marbot itu untuknya.

Karena lapar, Mutia menikmati makanan itu dengan lahap sekali. Tanpa menoleh ke kanan dan kiri.

“Neng, mau nambah lagi?” kata marbot itu menawarkan nasi tambahan pada Mutia.

“Oh, nggak Pak, aku udah kenyang,” jawab Mutia seraya mengutipi nasi yang berserakan didepannya.

“Udah! nggak usah dikutip, biar Bapak aja yang menyapunya nanti.”

“Oh, nggak apa-apa, pak. Cuma dikit kok,”

jawab Mutia sembari terus mengutip nasi yang berserakan itu.

Selesai makan, sesuai dengan janjinya, Bapak itu langsung berkemas-kemas, untuk berangkat mengantarkan Mutia kerumahnya.

“Maaf, Pak. Sebenarnya aku bisa pulang sendiri kok,” jawab Mutia sembari tersenyum malu.

“Nggak usah, biar Bapak aja yang ngantar.”

“Tapi aku udah sering kok, pulang dan pergi sendirian, tampa ada yang ngantar,” kata Mutia berbohong.

“Bagus itu, tapi untuk kali ini, biar Bapak yang ngantar kamu sampai kerumah. Bapak harus pastikan kamu sampai kerumah dalam keadaan selamat.”

“Baiklah,” jawab Mutia singkat.

Disaat bersamaan, tiba-tiba saja seorang pria datang menghampiri marbot Mesjid itu.

“Maaf, ini handphone kamu ya?” tanya pria itu seraya menyodorkan telfon genggam milik Yoga pada Mutia.

“Benar, Abang dapat dimana?” tanya Mutia ingin tau.

“Di teras Mesjid, semalam handphone itu terus saja berdering, saya nggak tau mesti mengembalikannya pada siapa, tapi saat saya angkat langsung dimatikan.”

“Ya, ini benar ponsel teman ku. Terimakasih Abang telah menyelamatkannya.”

Setelah mendengar ada yang menelfon, lalu Mutia bergegas membuka handphone itu, tapi handphone itu terkunci, Mutia tak menemukan sandi pembukanya.

“Sial!” gerutunya pelan.

“Gimana Neng?” tanya marbot itu.

“Aku nggak tau membuka kuncinya, Pak.”

“Ooo, kalau begitu biar Neng, Bapak antar pulang.”

“Baiklah,” jawab Mutia seraya mengikuti marbot itu dari belakang.

“Terimakasih, nak. Kamu begitu jujur sekali, semoga Allah membalas semua kebaikanmu itu.”

“Iya sama-sama Pak," jawab Pria itu tersenyum manis.

“Terima kasih, semoga kebaikan Abang untuk semua orang.”

“Amin!” jawab Pria itu seraya meninggalkan Mutia dan marbot itu.

Dengan menaiki angkot, Mutia pun tiba didepan rumahnya, lalu marbot itu langsung mengantarkan Mutia sampai ke depan pintu.

Seraya mengucapkan salam, Bel rumah kemudian ditekan, lalu seorang perempuan paruh baya pun keluar.

“Wa’alaikum salam, Masya Allah! Neng Mutia? ya Allah, Neng! Neng kemana aja? Tuan dan nyonya semalaman nggak bisa tidur karena memikirkan neng.”

“Ya udah, Papa dan Mamanya mana Bi?” tanya Mutia dengan suara lembut.

“Ada, lagi didalam.”

“Tolong Bibi panggilkan sebentar, bilang ada tamu.”

“Baik Neng,” jawab perempuan itu seraya berlarian menghampiri kamar majikannya.

Setibanya dia didepan pintu majikannya, perempuan itu langsung mengetuk pintu.

“Tuan, tuan!” panggil khodijah didepan pintu.

“Ada apa Bi Ijah?” tanya Pak Ramon dari dalam kamar.

“Neng Mutia tuan!”

“Neng Mutia?”

Saat nama Mutia disebut, Pak Ramon dan Sukesih saling bertatap pandang, mereka berdua seakan tak mengerti dengan yang dimaksud Bi Ijah.

“Maksudnya apa Ya, Bi?” tanya Sukesih heran.

“iya nyah, neng Mutia dia sudah kembali.”

“Udah kembali!”

“Iya tuan sekarang berada diluar dengan seorang pria."

Sambil meraba kaca matanya, Pak Ramon langsung keluar dari kamar, menyusul Sukesih mengiringinya dari belakang. Mereka berdua keluar dengan terburu-buru.

“Oh, putriku sayang, Kemana saja kamu Nak? kenapa nggak mengabari Mama.”

Melihat Mamanya datang, Mutia langsung memeluknya dengan erat, air matanya pun jatuh membasahi kedua pipinya.

“Sayang, Bapak ini siapa?” tanya Pak Ramon pada putrinya.

“Bapak ini yang menolong Aku, Pa. seperti yang Papa pesankan, aku langsung pergi ke Mesjid untuk berlindung, dan Bapak ini seorang marbot di Mesjid itu. Bapak ini yang memberi aku tempat tidur semalam,” jelas Mutia pada Papanya.

“Tapi, kenapa Papa nggak melihat Yoga? kemana dia?"

“Itu masalahnya, Pa! semenjak kami berpisah Aku nggak tau keberadaan Bang Yoga dimana.”

“Maksud mu, kalian berpisah?” tanya Pak Ramon tak mengerti.

“Iya,sebenarnya setelah selesai makan, aku jalan-jalan bersama Bang Yoga, tapi karena Bang Yoga sedang menelfon saudara kembarnya terlalu lama, lalu kuputuskan berjalan sendiri, hingga akhirnya aku pun kesasar dan nggak tau jalan pulang.

"Mutia pun menjelaskannya dengan segudang kebohongan yang di karangnya sendiri.

“Berarti, Yoga sedang mencari keberadaan mu sekarang dong!” ujar Sukesih pada putrinya.

“Dia itu kan laki-laki, Ma! dia pasti punya seribu akal untuk bisa kembali pulang,” jawab Mutia dengan suara ketus.

“Kenapa jawabanmu jadi berubah?” tanya Sukesih heran.

“Aku capek Ma, aku mau istirahat,” jawab Mutia seraya berlari menaiki anak tangga dirumah mewah itu.

“Aneh, sepertinya ada yang nggak beres ini, Pa!” kata Sukesih sembari mempelajari sikap putrinya yang nggak biasa itu.

“Jadi begini saja Pak, Bu! karena putri Bapak dan Ibu udah selamat sampai kerumah, jadi saya pun mau kembali ke Mesjid lagi.”

“Oh, Terimakasih banyak, karena Bapak telah menyelamatkan putri kami dan mengantarnya sampai kerumah, dan tak kurang satu apapun.

Untuk itu, saya punya sedikit bingkisan untuk Bapak dan untuk masjid tempat Bapak bertugas,” kata Pak Ramon.seraya bergegas menuju kamarnya.

Didalam kamar itu, pak Ramon memasuki sejumlah uang kedalam dua buah amplop dan menyerahkannya kepada marbot itu.

“Isinya tak seberapa, tapi ini hanya sekedar ucapan terimakasih saya pada Bapak,” kata Pak Ramon.

Sebenarnya begitu berat sekali Marbot itu menerima uang yang diberikan Pak Ramon kepadanya, tapi Marbot itu takut tersinggung kalau uang itu ditolaknya. lalu diapun mengambil satu amplop saja.

“Kenapa mengambil satu amplop saja?”

“Saya hanya mengambil yang untuk masjid aja, Pak.”

“Kenapa mesti begitu? inikan uang untuk Bapak dari saya, sebagai ucapan terimakasih saya pada Bapak,” kata Pak Ramon kemudian.

Bersambung...

*Selamat membaca*

1
Putri Minwa
semangat terus thor
Putri Minwa
lanjut
Putri Minwa
semangat
Julia Inp
ini cerita nya aneh banget ya ..kok kyk ngk berbobot ya ?
Rosnany M
Ceritanya bagus... lanjut.
Rizka Novia Ramanda
kasihan banget hidup nya sebatang kara🥲
Putri Minwa: Makasih ya atas masukannya,semoga dapat menambah semangat bagi saya
total 1 replies
Dehan
ditunggu kehadirannya kembali di karya recehku kak.. 😂
Dehan
ya takut dong yoga.. belum juga kenal masak udah ngelendotan aja 🤣
Putri Minwa: Ok say, di tunggu,tapi kapan terbitnya sih
total 1 replies
Dehan
cihuyyy
wahahahahha aku ngakak bacanya 🤣🤣
Dehan
masih geregetan sama nayla 😑
Dehan
mampir lagi aku kak 😊
Lvayn
hai kak maaf nih baru mampir ☺️
samsuryati
hai aku dari "kekasih ku bukan manusia"balas mampir aku kasi bintang lima ya,
Mami AL
Aku mampir 🌹
Dehan
sudah banyak dukungan untuk author..
ampir lagi ke penjahit cantik ya..😊😊😊
Dehan
istri istri siapa, kok malah yudanya nelpon yoga.. hadehhh
nacl di Goodnovel
etdah ini tangan minta digeprek yaaah
nacl di Goodnovel
aku jadi setannya aja deh ya
sikat yog mumpung yuda ga ada nyokkk jangan dianggurin sayang
nacl di Goodnovel
mending pake art pak dokter. leluasa
Dehan
manusia emang gitu, udah dikasih kepercayaan selalu saja gak amanah..
dikasih hati minta jantung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!