Nayla Kei seorang gadis cantik dan manis memiliki sifat periang terpaksa dia menerima perjodohan dengan salah satu sahabatnya yang merupakan anak dari teman dekat ibunya.
Atas dasar balas budi Nayla menerima pernikahannya dengan terpaksa. Namun siapa sangka dalam perjalanan pernikahan itu Nayla mulai merasa hal lain pada suaminya.
Akankah suami Nayla menerimanya sebagai seorang istri?
Akankah Nayla mendapat perlakuan semestinya sebagai seorang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Tepat pukul 04.30 waktu setempat Nayla mengerjapkan mata, berusaha melepaskan tangan kekar yang semalaman melingkar di atas perutnya memeluk dengan posesif seakan wanita itu akan pergi kabur saja. Berhasil menyimpan tangan di atas ranjang, Nayla duduk untuk mengumpulkan kesadarannya. Ketika akan berdiri, tangannya ditarik dari belakang, dengan sekali hentakkan Rayden berhasil membuat sang istri dalam dekapannya kembali.
“Mau kemana?”, suara serak Rayden berbisik di telinga Nayla terdengar sangat menggoda.
“Aku mau mandi, rasanya lengket,lepas Rayden”, pinta Nayla salah tingkah.
“Masih terlalu pagi, sebentar saja ya”
“Bukankah kita mau jalan-jalan hari ini?”, tanya Nayla kembali mengingatkan, karena ia tak mau jauh-jauh datang ke Raja Ampat hanya untuk terkurung di kamar dan berbaring di kasur. Tentu harus menikmati keindahan alam yang ditawarkan juga membeli oleh-oleh sebanyak mungkin.
“Iya, tentu”, jawab Rayden, kembali menghirup aroma tubuh wanitanya dan mulai menciumi leher Nayla sehingga membuat sang pemilik tubuh merasa geli. Menyesap kulit mulus itu memberi tanda merah disana, Nayla kembali melenguh. “Kita bermain dulu sebelum bangun, oke!”.
“Hah, APA? Ngga mau, bisa-bisa aku ngga bisa keluar dari kamar”. Nayla merajuk, tapi apa daya semua sentuhan yang diberikan sang suami membuatnya terlena dalam kenikmatan dan menginginkan lebih. Mereka pun kembali mengulang kegiatan olahraga.
.
.
“Ayo sarapan dulu”, Rayden melihat istrinya cemberut dan mengabaikan makanan di depannya.
“Lihat jam berapa sekarang?, katanya berangkat pagi, ini, huh”, tunjuk Nayla pada jam tangan yang bertengger di pergelangan tangan kirinya.
“Oke maaf aku kebablasan”, mengacak rambut Nayla seperti anak kecil.
“Huh, nyebelin”, semakin cemberut
“Kalau bibirnya tetap begitu, mau tak mau aku bawa kembali ke kamar, ayo!”, Rayden segera berdiri dan mengangkat tubuh Nayla.
“Eh iya iya aku makan, janji ya hari ini jalan-jalan”, mulai menyantap makanannya dengan mulut penuh dan bibir belepotan. Rayden yang melihat pun hanya tertawa dalam hati, membersihkan sisa makanan di bibir sang istri dengan tissue.
Setelah satu jam perjalanan pasangan pengantin itu tiba di salah satu destinasi wisata yaitu Bukit Pianemo yang terletak di Groot Fam Saukabu ya, di mm Kepulauan Waigeo Barat. Dalam kapal cepat mereka melihat gugusan bukit karst (Bentukan alam yang terbentuk akibat adanya pelarutan air pada batu kapur, bisa berbentuk kerucut, bulat, menara atau seperti meja).
Tidak mudah mencapai puncak bukit, perlu menapaki ratusan anak tangga, apalagi mereka berangkat saat waktu sudah siang membuat tubuh yang seharusnya lelah karena berjalan tapi juga lelah dengan keringat bercucuran karena panas sinar matahari.
“Huh, huh, huh”, hembusan napas Nayla begitu terdengar, sudah tiga kali mereka beristirahat. Sudah tentu karena ini daerah wisata banyak spot atau titik untuk para wisatawan beristirahat sejenak. Rayden yang mengalungkan kamera, langsung mengabadikan momen saat sang istri lelah, banyak gambar Nayla yang membuat Rayden gemas melihatnya.
Akhirnya dua puluh lima menit menaiki tangga satu persatu keduanya tiba di puncak bukit., angin menerpa keduanya memberi rasa segar di tubuh yang berkeringat itu. “Waaaah, engga sia-sia perjuangannya”, pekik Nayla sembari merentangkan kedua tangan, menghirup udara sebanyak-banyaknya memenuhi paru-paru dalam dadanya. Memejamkan mata sejenak, ah ternyata ini bukan mimpi tapi kenyataan sungguh salah satu surga dunia.
Pemandangan karst memanjakan indra penglihatan ditambah air laut di sekelilingnya berwarna hijau semakin membuat mata yang memandang berdecak kagum.
Cekrek
Kembali Rayden memotret sang istri yang tersenyum senang tiada henti. “Bagaimana suka?”, tanya Rayden.
Nayla hanya menganggukan kepala denga cepat seraya tersenyum, ia pun meraih lengan suaminya dan merangkul , “Ayo kita ambil foto disini, ayo!” ujar Nayla. Ia ingin momen ini diabadikan bersama sang suami. Posisi Rayden saat ini berada di belakang Nayla, memeluk tubuh sang istri dari belakang mengirup aroma harum rambut, mengecup pipi, mengecup bibir, semuanya telah ia dapatkan foto kemesraan mereka dengan latar belakang pemandangan indah.
Tidak lupa menikmati air kelapa muda, sangat alami kesegaran yang menyapukan dahaga pada sepasang suami istri itu.
**
Sementara di mansion mewah milik keluarga Bradley, seorang pria sedang menampakkan wajah kusut dan mengepalkan tangan seperti ingin meninju apa pun yang ada didepannya.
“****, beraninya mereka pergi bulan mau”, umpat seorang Adam Bradley yang merasa cemburu. “Arggh kenapa papa memberi hukuman ini”, mencengkram kuat rambut dengan kedua tangannya. “Tidak, tidak boleh terjadi, aku tak akan membiarkannya, mereka tidak boleh memiliki anak yang akan mengikat keduanya, Nayla hanya boleh mengandung anakku saja”, geram Adam membayangkan wanita yang ia cintai dimesrai oleh sepupunya sendiri.
Adam mengerahui keberangkatan Nayla dan Rayden untuk berbulan madu, tentu saja ia tidak sengaja mendengar perbincangan Mama Anna di telepon dengan Mama Anggi. Tidak hanya itu sang mama pun berniat menjodohkan Adam dengan salah satu anak kolega bisnis Papa Hendrik. Semakin membuat pria tampan itu kacau dan marah.
Tidak bisa keluar dari mansion adalah siksaan baginya, ditambah kehilangan kekuasaan, Papa Hendrik memberi peringatan dan ancaman pada seluruh anak buahnya untuk tidak melakukan apapun yang Adam perintahkan tanpa seizin dari seorang Hendrik Bradley.
“Arggh kenapa sampai saat ini anak buahku masih kesulitan membawa wanita itu kesini”, kesal Adam mengepalkan kedua telapak tangannya. Ah sungguh situasi ini membuatnya kesulitan dalam melakukan hal yang diinginkanya. Terlintas pikiran ekstrem dalam kepalanya “Sebaiknya aku kabur dari sini dan menyeret ****** itu, ia harus bisa berkerja sama dengan ku”, gumam Adam.
Adam kembali mencari ponsel cadangannya yang ia sembunyikan rapat-rapat seperti bangkai. Meenghubungi salah satu anak buah kepercayaannya dan yang paling setia pada Adam.
Adam
“Bagaimana, sudah berhasil?”
Anak buah Adam
“Belum tuan, nona ini sangat berbeda dengan kebanyakan wanita yang tergiur dengan uang”
Adam
“Apa kau sudah mencoba cara lain?”
Anak Buah Adam
“Sudah tuan, dia bilang tuan harus memberikan sesuatu yang lebih dari uang untuknya agar ia kembali ke Jakarta”.
Adam
"Dasar jalan, kau segeralah dia bawa kemari ke hadapanku, ingat tidaklah boleh ada lecet sedikit pun, paham?"
Anak Buah Adam.
Iya tuan saya paham, saya akan selalu setia pada anda"
Tapi tuan,.nona ini s....."
"Hmmm kehidupan manis akan segera datang dan aku pastikan akan menjagamu Nayla" batin nna
Kalimatnya terputus karena sambungan telepon diputus oleh Adam. Padahal anak buah itu sudah mendapatkan sesuatu dan berniat untuk memberi informasi itu pada tuannya
Setelah selesai bercakap-cakap di telepon, Adam turun menuju taman seperti biasa ia harus menemani sang mama membaca buku sembari minum teh bahkan merawat kuku pun Adam temani. Benar-benar kegiatan tidak berguna yang Papa Hendrik tugaskan.