Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.
Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."
Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:
*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*
Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.
Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.
*Setiap. Kata.*
Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."
Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.
Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.
Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.
Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Tiga Tahun
Di antara dua hitungan mundur itu, kami bahkan belum tahu apa nama perasaan yang mulai tumbuh.
Aku benci angka.
Dulu, angka hanya berarti tanggal gajian, diskon Shopee, atau sisa saldo e-wallet sebelum akhir bulan. Sekarang angka berarti dua tahun hidup Reynard dan tiga tahun sebelum jiwaku mungkin menghilang.
Malam itu, aku tidak bisa tidur.
Boba sudah tidur di keranjang kecil dekat sofa kamarku. Ia mendengkur halus, perutnya naik turun. Aku duduk di lantai, memegang botol kecil wine yang entah siapa taruh di mini bar kamar.
"Sedikit saja," kataku pada Boba.
Boba membuka satu mata, lalu tidur lagi.
Teman curhat yang sangat tidak menghakimi.
Seteguk pertama pahit.
Seteguk kedua membuat tenggorokanku panas.
Seteguk ketiga membuat dinding kamar terasa lebih lembut.
[Peringatan: toleransi alkohol Host rendah.]
"Diam, Kepo. Aku sedang sedih secara elegan."
[Host sedang duduk di lantai memakai piyama dan bicara pada anjing.]
"Tetap elegan."
Boba menguap.
Aku mengusap kepalanya pelan. "Kau tahu, Bob? Aku cuma punya tiga tahun."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Begitu keluar, ia tidak bisa kembali.
"Tiga tahun. Kalau misi gagal, aku hilang. Kalau berhasil pun aku tidak tahu apakah aku boleh tetap tinggal. Dan Reynard..." Tenggorokanku tercekat. "Leo bilang dia mungkin cuma punya dua tahun."
Boba menjilat jariku.
Aku tertawa kecil, lalu air mata jatuh.
"Dia menyebalkan. Dingin. Terlalu banyak rahasia. Tapi dia baik. Dia beliin aku baju. Dia terima kamu walau takut. Dia menciumku dan tabrakan gigi."
Aku menutup wajah.
"Aku tidak mau dia mati."
Lalu, karena alkohol membuat mulutku lebih cepat daripada otakku, aku mulai menghitung dengan jari.
"Satu, cari tujuh bahan. Dua, buat dia suka padaku. Tiga, jangan sampai Veronica membunuh suasana rumah. Empat, cari tahu dia gay atau bukan. Lima, jangan mati."
Aku menatap Boba dengan serius. "Bob, menurutmu urutannya salah?"
Boba menjilat hidungku.
"Setuju. Nomor lima harusnya nomor satu."
[Host akhirnya menunjukkan prioritas dasar.]
"Kau jangan sok bijak. Kau yang memberi misi seperti paket cicilan."
Aku menunduk dan memeluk Boba lebih erat. "Tapi kalau aku tidak lucu, aku takut sekali."
Suara itu keluar kecil.
Kecil sekali sampai aku sendiri hampir tidak mengenalinya.
Di luar pintu kamar, Reynard berdiri tanpa suara.
Ia awalnya hanya ingin memastikan lampu kamarku padam. Tapi suaraku, suara hati dan suara mulut yang bercampur alkohol, menahannya di lorong.
Tiga tahun.
Misi gagal.
Hilang.
Dua tahun.
Tidak mau dia mati.
Untuk pertama kalinya, penyakitnya sendiri tidak terasa menakutkan.
Yang menakutkan adalah membayangkan suatu pagi kamar ini kosong, Boba menggonggong, dan suara ribut di kepala Keira menghilang selamanya.
Di dalam kamar, aku terus bicara.
"Aku harus cari obatnya. Si Kepo bilang ada penawar. Tujuh bahan. Tapi kenapa harus bertahap? Kenapa hidup orang selalu dibuat seperti game level susah?"
[Karena Host suka mengeluh.]
"Aku tidak mengeluh. Aku memberi kritik konstruktif."
Aku menenggak lagi, lalu batuk.
"Kalau aku hilang, siapa yang kasih dia makan bakso? Siapa yang bilang dia harus berhenti minum kopi? Siapa yang jelasin kalau dia mungkin bukan gay?"
Di lorong, Reynard menutup mata.
Bahkan dalam ketakutan, perempuan ini masih bisa membuatnya ingin membenturkan kepala ke dinding.
Aku akhirnya tertidur di karpet, memeluk Boba dengan satu tangan dan botol kosong di sisi lain.
Pintu terbuka pelan.
Reynard masuk, mengambil botol, lalu mengangkatku ke tempat tidur. Aku menggeliat, setengah sadar.
Boba ikut terbangun dan menggeram kecil, seolah mempertahankan majikannya dari pria bertopeng yang sebenarnya pemilik rumah. Reynard berhenti, menatap anjing kecil itu.
"Aku hanya memindahkannya," bisiknya.
Boba mengendus, lalu kembali menjatuhkan kepala.
Reynard hampir tersenyum. Bahkan anjing kecil itu sudah belajar mempercayainya lebih cepat daripada sebagian manusia di rumah ini.
"Rey..."
Itu pertama kalinya aku memanggilnya begitu.
Ia berhenti.
Aku tidak bangun. Hanya bergumam, "Jangan mati."
Reynard berdiri lama di samping tempat tidur.
Lalu ia menarik selimut sampai menutupi bahuku.
"Tidak," bisiknya. "Kau juga tidak boleh menghilang."
Malam itu, ia tidak kembali tidur.
Di ruang kerja, ia menelepon Leo.
Suara Leo serak karena baru bangun. "Jam berapa ini?"
"Cari penawar."
"Aku sudah mencarinya bertahun-tahun."
"Cari lagi."
Leo diam. "Kau akhirnya serius?"
Reynard menatap jendela gelap. Di pantulan kaca, Topeng Perak terlihat seperti garis luka lain.
"Tidak peduli berapa biayanya. Tidak peduli siapa yang harus kuhubungi."
"Rey."
"Aku butuh hidup."
Kalimat itu membuat Leo diam lama.
Selama bertahun-tahun, Reynard hanya bicara tentang mengendalikan risiko, memperpanjang waktu, menyelesaikan urusan sebelum tubuhnya kalah. Tidak pernah tentang hidup. Tidak pernah dengan nada seperti ini.
"Besok aku kirim daftar penelitian lama," kata Leo akhirnya. "Ada beberapa jalur yang dulu kututup karena terlalu sulit. Kita buka lagi."
"Semua."
"Semua," ulang Leo. "Tapi kau juga harus tidur."
Reynard mematikan panggilan tanpa menjanjikan itu.
Pagi harinya, aku bangun dengan kepala berat dan rasa malu yang datang terlambat. Di meja ada air, obat, dan bubur hangat. Tidak ada ceramah. Tidak ada pertanyaan.
Hanya catatan pendek.
Jangan minum sendirian lagi.
Aku menatap tulisan itu, lalu pintu kamar yang tertutup.
Dia tahu.
Entah seberapa banyak, dia tahu aku takut.
Di bawah mangkuk bubur, ada kertas lain. Daftar singkat, ditulis rapi.
Makan.
Minum air.
Jangan baca berita keluarga sebelum siang.
Kalau pusing, panggil Sari.
Aku menatap empat baris itu sampai mataku panas lagi. Ini bukan kalimat cinta. Bukan pengakuan. Bahkan bukan kalimat manis. Tapi untuk seseorang seperti Reynard, daftar instruksi seperti itu mungkin sudah setara dengan memindahkan gunung kecil ke depan pintuku.
Aku membawa bubur ke meja kecil dan makan pelan. Rasanya hambar, tapi perutku tenang.
Boba duduk di depanku, menatap seolah minta jatah.
"Tidak boleh. Ini obat mabuk."
Ia menggonggong kecil.
"Jangan protes. Kita berdua sudah mempermalukan diri semalam."
[Koreksi: hanya Host.]
"Kau diam."
Aku menatap pintu lagi.
Kalau dia tahu aku takut, berarti aku tidak bisa pura-pura semuanya baik.
Tapi anehnya, itu tidak membuatku ingin kabur. Itu membuatku ingin berdiri sedikit lebih tegak.
Leo tidak bercanda kali ini.
"Untuk dia?"
Reynard menutup mata.
Di kepalanya, suara Keira masih bergema. Aku tidak mau dia mati.
"Untuk kami."
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih