Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Batal Penuntutan.
...~•Happy Reading•~...
Setelah Mathias meninggalkan kantor Polisi, Kepala Polisi memanggil anggotanya yang membuat surat panggilan kepada Ambar untuk menghadapnya.
"Apa yang sedang kau lakukan? Belum ada dua alat bukti yang sah, kau sudah membuat surat panggilan dan jadikan dia tersangka? Kau bersyukur, tadi Pak Mathias tidak menyinggung penuntutan kepada kita, hanya kepada keluarga itu." kepala polisi meluapkan amarahnya.
Polisi yang membantu keluarga Rulof hanya diam dan merasa bersalah. Tadinya dia membantu Richo untuk menahan Ambar beberapa waktu, agar Richo bisa masuk ke dalam rumah Ambar. 'Ada yang disembunyikan iparnya.' Kata Richo kepadanya.
"Sekarang bereskan perkara ini, atau saya pindahkan kau ke hutan untuk menghitung pohon dan hewan." Kepala Polisi marah dengan tindakan anggotanya. "Siap, Pak!" Anggota polisi sigap dan hormat.
~**
Di sisi lain ; Mathias telah sampai di kantor. Dia langsung duduk terhenyak di kursi kerjanya. Sepanjang jalan, dia berusaha mengendalikan diri. Karena tidak menyangka, lelaki yang ditemukan bersama Angel adalah suami Ambar.
Dia mulai mendapat benang merah, mengapa Ambar waktu itu mau bekerja di restoran Sari. Bukan karena dia tidak mau berlaku seperti ibu pejabat lain yang suka shoping. Tetapi dia membutuhkan uang, karena suaminya sudah menghabiskan gaji untuk wanita lain.
Mengingat itu, Mathias makin geram kepada Angel. 'Wanita itu benar-benar parasit, sampai suami orang juga dimakan.' Mathias berkata sambil memukul mejanya dengan marah.
Bagas yang mendengar bunyi dari ruangan bossnya, langsung berlari masuk ruang kerja Mathias tanpa mengetuk pintu. Melihat tidak terjadi sesuatu dengan bossnya, Bagas mengurut dadanya pelan.
"Pak, ada sesuatu yang jatuh di ruangan ini? Tadi saya dengar bunyi dari ruangan bapak." Tanya Bagas, sambil melihat sekeliling ruangan bossnya.
"Tidak apa-apa, saya sedang marah. Kau duduk, ada yang mau saya bicarakan denganmu." Mathias menurunkan level marah. Bagas segera duduk di kursi depan meja bossnya.
"Kau tahu, saya dari mana?" Tanya Mathias. Bagas menggeleng, karena tadi bossnya tiba-tiba pergi tanpa memberitahukan apa-apa padanya.
"Saya baru dari kantor polisi X untuk membela Bu Ambar. Beliau dituduh, membunuh suaminya." Ucapan Mathias membuat Bagas melongo. Dia terkejut mendengar yang dikatakan bossnya.
"Kau tau, siapa yang menuntutnya selain keluarga Alm. suaminya? Wanita itu..." Mathias kembali geram mengingat yang dilakukan Angel.
"Maksudnya, Mba' Angel yang mantan bapak itu?" Tanya Bagas, seakan tidak percaya.
"Iyaa, ternyata lelaki yang ada bersamanya di apartemen itu adalah suami Bu Ambar. Saat polisi bilang dia istri muda Alm. saya teringat peristiwa waktu itu, dan minta foto suami Bu Ambar. Ternyata benar dugaan saya, lelaki itu suami Bu Ambar." Mathias masih sangat geram.
"Benar-benar keterlaluan wanita itu, suami orang juga di'embat. Kalau Bu Ambar kakak saya, wanita itu sudah saya botakin dan gantung di pohon jadi lampion." Ucap Bagas serius, dan geram sambil mengepalkan tangannya.
Melihat kemarahan Bagas, Mathias jadi tertawa sebab Bagas tidak pernah menunjukan emosinya.
"Hahahaha... Melihat kau seperti ini, saya malah berharap kau menjadi kakaknya Bu Ambar." Ucap Mathias sambil tertawa.
"Bapak malah tertawa, padahal saya sedang marah." Bagas Protes.
"Sudaaa, cukup saya yang marah saja. Nanti siapa yang ngurus saya, jika kau sakit." Mathias jadi tersenyum. Bagas juga ikut tersenyum mendengar ucapan bossnya.
"Ooh iya, Pak. Bagaimana kondisi Bu Ambar? Apakah beliau ditahan?" Tanya Bagas, berubah khawatir.
"Tidak. Beliau sudah pulang. Mereka hanya menuduh tanpa ada bukti. Sekarang malah saya yang mengkhawatirkan Bu Ambar. Keluarga suaminya akan berusaha berbagai cara untuk mendapatkan bagian harta peninggalan suaminya." Mathias jadi memikirkan Ambar.
"Iyaa, ya, Pak. Keluarga suaminya sangat keterlaluan. Pantas waktu mau bawa mobil itu, kita seperti main kucing-kucingan." Bagas jadi ingat kejadian mau bawa mobil Ambar.
"Ooh, iya. Uang hasil penjualan mobil itu masih sama saya. Bu Ambar belum bersedia bertemu denganmu, karna keluarga suaminya terus mengawasi. Beliau tidak mau keluarga suaminya tahu, kalau kau yang bantu jual mobil." Ucap Mathias.
"Kalau surat-suratnya, tadi sudah saya bawakan. Karna akan dibutuhkan saat di kantor polisi." Mathias menjelaskan lagi.
"Apakah kita tidak bisa balik menuntut wanita itu, Pak? Dibiarkan ko' jadi ngelunjak dan tidak karuan." Bagas jadi kesal mengingat Angel.
"Kita lihat nanti, kalau mereka meneruskan perkara ini, yaa, perang sekalian. Biar mereka semua saling makan di balik jeruji." Mathias kembali geram mengingat kejadian di kantor polisi.
"Saya sedang mengkhawatirkan Bu Ambar, karna suami kakak iparnya tidak baik dan sangat licik. Sepertinya dia yang mengatur semua konspirasi untuk menuntut Bu Ambar." Mathias mengingat tatapan Richo kepadanya dari balik helm.
"Sambil menunggu perkembangan kasus Bu Ambar, kita kerjakan kasus yang ada dulu, supaya bisa fokus."
"Iya, Pak." Bagas mengiyakan, lalu segera keluar dari ruangan bossnya.
Siang menjelang sore, Bagas kembali masuk ke ruang kerja Mathias untuk menyerahkan surat dari kepolisian yang menyatakan kasus Ambar telah dihentikan. Mathias merasa lega, kemudian menghubungi Ambar.
"Bu Ambar, sudah terima surat dari Kepolisian? Tanya Mathias, saat Ambar merespon panggilannya.
"Sudah, Pak. Saya baru mau menghubungi Pak Mathias untuk kasih tahu." Hati Ambar jadi lega.
"Ok, tapi Ibu tetap hati-hati dan waspada. Mungkin saja, mereka belum berhenti berusaha untuk mengganggu anda sampai dapat yang mereka inginkan." Mathias serius mengingatkan.
"Iyaa, Pak. T'rima kasih. Ooh iya, Pak. Boleh saya tanya sesuatu?" Tanya Ambar, ragu-ragu.
"Boleh, mau tanya apa? Silahkan..." Mathias lebih santai.
"Apakah Pak Mathias mengenal wanita tadi yang mengaku istri muda Alm?" Tanya Ambar pelan dan makin ragu-ragu.
Dia masih mengingat kemarahan Mathias saat berbicara dengan Angel. Pelukan Mathias untuk menghindarinya dari Angel, tidak bisa hilang dari ingatan Ambar. 'Mathias seperti sangat jijik dengan wanita itu.' Itu yang ada dalam pikiran Ambar.
"Iyaa, saya mengenalnya. Nanti suatu waktu saya akan bicarakan dengan anda." Mathias berkata pelan dan menarik nafas panjang. 'Apakah aku bisa cerita kejadian Angel bersama suaminya?' Mathias membatin.
"Iyaa, Pak. T'rima kasih." Ucap Ambar.
Setelah mengakhiri pembicaraan, Mathias kembali menarik nafas panjang dan berat, mengingat kondisi Ambar jika mengetahui apa yang dilakukan suaminya.
~**
Di sisi lain ; Setelah pulang dari kantor polisi, Angel langsung pulang ke tempat kostnya dengan hati yang cemas. Dia tidak menyangka, Mathias yang menjadi pengacara istri Rulof.
'Kalau tahu begini jadinya, aku tidak akan setuju dengan rencana Richo.' Angel membatin, sepanjang perjalanan pulang. Padahal selama ini dia sudah berusaha menghindari Mathias. Sekarang justru dia sendiri yang menemui, hanya karena sedang membutuhkan uang. Jadi dia menerima rencana Richo untuk bisa dapat uang dari istri Rulof.
Semua itu karena ucapan Richo sangat meyakinkan, bahwa dia sudah bekerja sama dengan polisi. Mereka akan mudah menjebak istri Rulof, sebab tidak punya keluarga di Jakarta.
'Mungkin dia tidak memiliki keluarga di Jakarta, tetapi memiliki pengacara yang akan membelanya dan sekarang akan menuntutku.' Ucap Angel dalam hati dan mulai, khawatir. Tanpa Angel sadari, ada yang sedang mengawasinya.
...~●○♡○●~...