Perusahaan keluarga nyaris bangkrut, keuangan menipis lantaran terbiasa hidup mewah.Nabila harus menerima takdir Siska menolak dijodohkan dengan pak tua mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. Demi keluarga dia rela berkorban, dia rela di gadaikan, dinikahkan dengan pak tua mesum ituh yang terkenal kaya raya. Namun ituh tidak menujukan dirinya, sebelum hari penikahan mereka tiba. Sosoknya yang misterius dan selali sembunyi di balik kamera,akhirnya terungkap saat ia menikahi Nabila dengan cara hormat. " Kk-kamu.... masih muda? " tanya Nabila dengan polosnya. " kamu kira saya sudah tua gituh? " Nabila menggeleng panik. " tapi kata kaka siska, kamu orang tua yang mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. "Ituh hanya rumor palsu tentang saya, kamu jangan percaya rumor sebelum kamu liat langsung sendiri buktinya. "Apakah Nabila yang selalu menderita bisa hidup bahagia setelah menikah dengan suaminya Devan? Ataukah Siska akan menjadi duri dalam penikahan Nabila dan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
NABILA menahan napas saat Devan mendekatkan wajah dan lantas mencium bibirnya. Perempuan itu membatu dalam beberapa waktu, sampai Devan melepaskan ciuman mereka dan menatapnya dengan senyuman tipis.
Nabila menoleh ke sana-kemari. Sedang mencari, apakah ada orang lain yang melihat ciumannya dengan Devan tadi, saat ia merasakan tangan Devan berada di dagunya, menarik wajahnya untuk menghadap wajah suami tampannya itu.
"Sedang mencari sesuatu?" tanya Devan dengan senyuman yang tak kunjung pudar.
"Hm," Nabila menatapnya murung, "aku berharap tidak ada yang melihat kita melakukannya. Kakak nggak malu kalau sampai kelihatan orang lain, ya? Ini halaman parkir, tempat Umum-—-"
"Tidak ada orang." Devan menoleh ke belakang, dia tidak melihat siapa pun mengikuti langkah mereka ke sana.
"Kelihatannya tidak ada yang melihat kita."
Nabila menghela napas lega. "Syukurlah! Aku tidak mau mengajarkan anak-anak panti ini dengan sesuatu yang belum seharusnya mereka lihat."
Devan menaruh telapak tangan besarnya di kepala Nabila. "Aku juga tidak akan melakukan hal sebodoh itu, Nabila. Jadi tenanglah, tidak ada yang melihat kita."
Devan kemudian membuka pintu, menyuruh Nabila masuk dan menutup kembali pintunya saat ia menatap sebuah pohon besar yang tidak begitu sanggup menutupi sosok di baliknya. Devan tahu di sana ada orang dan dia tahu siapa orang itu, tapi dia tidak berencana memberitahukannya pada Nabila.
Jika sampai orang itu membuka mulut dan mengatakan sesuatu yang tidak-tidak tentang istrinya. Siap-siap saja, Devan akan menagih sesuatu darinya.
*******
Mereka berhenti di sebuah restoran bintang lima yang tidak terlalu jauh dari hotel. Devan mengambil buku menu, menyodorkannya pada Nabila, sebelum bertanya, "Mau pesan apa?"
Nabila menatap isi buku menu itu dengan penuh minat. Nama-nama asing disertai gambar yang terlihat cantik plus lezat membuatnya khilaf dan menunjuk-nunjuk hampir semua nama yang ada di buku menu.
"Apa kamu yakin bisa menghabiskan semua itu?" tanya Devan, setelah ia selesai mengatakan semua pesanannya pada pelayan.
Nabila mengangguk antusias. "Aku pasti bisa menghabiskannya," tekad Nabila penuh semangat.
Devan mengangkat bahunya tak acuh. "Baiklah."
Keduanya hanya diam setelahnya. Devan menatap interior restoran yang didesain sedemikian rupa bak sebuah ballroom hotel yang biasa dipakai pesta. Tempat ini luar biasa, luasnya pun menakjubkan. Devan bisa membayangkan sedang menggelar acara pernikahan di tempat itu jikalau Nabila memang menginginkan pesta pernikahan satu tahun lagi.
Sedang Nabila sibuk menatap suaminya. Tatapan Devan yang tampak takjub memandangi tempat ini sangat mirip dengan tatapannya saat ia masuk kemari tadi.
"Kakak jarang ke restoran, ya?" Pertanyaan Nabila membuat Devan kembali menatapnya.
"Ya, lumayan."Devan tertawa pelan.
"Dari mana kamu tahu? Aku belum pernah menceritakan apa pun padamu?"
"Ekspresi Kakak terlihat seperti ekspresiku saat masuk kemari tadi." Nabila tersenyum tipis.
Devan tersenyum masam, lalu membuang pandangan ke samping, karena merasa sedikit malu. "Oh, begitu?"
Nabila mengangguk antusias.
"Tapi, kenapa Kakak bisa jarang ke restoran, ya? Bukannya Kakak anak orang kaya, harusnya datang ke restoran seperti ini sudah biasa untukmu, kan?"
Devan menghela napas kasar, dia kembali menatap Nabila sebelum mulai menceritakan, "Sekarang, aku terlalu malas keluar rumah. Dari dulu juga, Mommy lebih suka memasakkan semua yang kami ingin makan, daripada mengajak kami ke restoran jika ingin makan sesuatu. Apa yang aku inginkan, aku hanya tinggal mengatakannya dan Mommy akan membuatkannya untukku. Cukup menyenangkan, bukan, memiliki ibu seorang koki yang begitu peduli pada kesehatan keluarganya sendiri?" tanya Devan yang kini tersenyum penuh makna pada istrinya
Nabila berdecak kagum. "Jadi,Mommy bisa masak apa pun?"
Devan menggeleng. "Walaupun memang benar dia bisa memasak apa pun untuk kami, tapi rasanya tetap berbeda dengan rasa masakan di restoran. Mommyy tidak sehebat itu, itu mengapa restorannya hanya menyajikan beberapa menu makanan rumahan, bukan makanan mewah berkelas seperti di restoran bintang lima lainnya."
"Ah, begitu, tapi aku tetap bisa belajar banyak dari Mommyy setelah ini. Supaya aku bisa masak makanan sendiri di rumah," kata Nabila tiba-tiba.
"Itu ide yang bagus." Devan mengangguk, lalu berdeham pelan. "Atau kamu mau kuliah dengan mengambil jurusan memasak?"
Nabila menggelengkan kepalanya. "Aku belum memikirkannya." Kepalanya menunduk, tangannya saling bertaut di bawah meja, dan saling menggenggam erat.
"Aku bahkan tidak tahu, apakah aku sanggup melanjutkan atau tidak, karena nilaiku yang terbilang biasa saja."
Devan bisa melihat kesedihan itu terpancar dari seluruh bagian tubuh istrinya. Dia pun menarik napas panjang, sebelum mengatakan, "Mulai dari sekarang, kamu harus mulai memikirkan ke mana kamu akan melangkah. Ke mana kamu akan kuliah, menuntut ilmu lagi sampai kamu benar-benar lelah. Aku akan berada di sisimu, menemanimu, jangan pernah menyerah sebelum kamu mencobanya."
"Hm, t-tapi ...."
Pesanan mereka datang, Nabila tidak jadi melanjutkan omongannya, karena kini mulutnya menganga lebar menatap setiap piring yang dihidangkan di meja mereka.
"Kenapa banyak sekali?" tanyanya dengan nada terkejut bukan main.
"Kamu yang memesan semuanya,kan?" Devan tersenyum miring melihat istrinya menelan ludah susah payah.
"Kamu yang memesan, itu berarti kamu yang harus menghabiskan."
"Kakak akan membantuku berguling-guling di atas kasur dan membuat Devan gemas melihatnya.
Devan melirik jam dinding di kamar itu. Pukul tiga sore, masih cukup lama untuk memroses semua makanan yang tadi mereka telan, tapi Nabila tetap memerlukan makanan untuk makan malam. Mungkin, dia bisa memesan sesuatu untuk dibawa ke kamar nanti.
"Ya sudah, kamu tiduran aja dulu. Aku mau menghubungi Rangga sebentar," pamit Devan sebelum berdiri.
"Apa ada masalah lagi soal Kak Siska?" tanya Nabila yang kini menatap suaminya dengan ekspresi penasaran. Devan kembali duduk di pinggiran ranjang.
"Tidak, kasus Siska untuk sementara masih dalam proses penyelidikan para polisi. Aku tadi siang menyuruh Rangga melakukan sesuatu yang lainnya lagi."
"Apa itu?" Devan menjelaskan semua isi percakapannya dengan Dewa, Celine, lalu Rangga siang tadi. Rangga langsung menatapnya tidak percaya.
"Kenapa Kakak mau melakukannya?"
Devan tersenyum tipis. "Entahlah, aku tidak suka melihat atau mendengar kabar seperti itu."
Devan bisa melihat Nabila memejamkan mata saat berkata, "Padahal orang-orang tidak begitu peduli dengan kami, mereka lebih memilih mengabaikan daripada mencari gara-gara dengan para preman yang bisa mengancam nyawa seseorang, tapi kenapa Kakak bisa begitu baik dengan orang-orang terlantar seperti kami? Kami ... bukan siapa-siapamu."
Devan meletakkan sebelah tangannya di wajah Nabila, membelai pelan wajah cantik istrinya itu dengan sebuah senyuman tipis.
"Anggap saja, sisi manusiawiku lebih tinggi dari orang lain. Aku juga ... meminta seseorang menyelidiki tentang latar belakang keluargamu."
Nabila menatap suaminya terkejut."Keluargaku? Aku yatim piatu--"
"Kemungkinannya tidak begitu." Devan menatap Dea yang kini bangun dari tidurannya dan mulai menatap Devan serius.
"Apa Ibu Panti mengatakan sesuatu, Kak?"
Devan mengangguk. "Dia menceritakan tentang ibu kandungmu," jelas Devan yang tak ingin menyembunyikan apa pun dari istrinya.
"Dia memang sudah meninggal saat melahirkanmu,tapi keluarganya kemungkinan besar masih hidup. Aku akan mencoba menemukan mereka, lalu mempertemukan kalian."
Nabila membuang pandangannya. "Kalau hal itu memang benar, apa kehadiranku ... akan diterima oleh mereka?"
Dwvan menepuk puncak kepala istrinya dengan perlahan-lahan. "Kita bisa memikirkannya belakangan, Nabila. Apa kamu tidak punya keinginan untuk bertemu mereka?"
Devan tidak menduga Nabila akan menggelengkan kepala. "Aku lebih suka tinggal denganmu, bukan dengan mereka."
Devan tak bisa menyembunyikan senyuman lebar yang kini menghiasi bibirnya. Dia mendekatkan wajahnya ke hadapan Nabila, lalu mengecup bibir istrinya dengan singkat.
"Kalaupun mereka memintamu dariku, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, sekalipun kamu berniat untuk meninggalkanku, aku bersumpah takkan pernah melepasmu, Nabila. Ke mana pun kamu pergi, aku akan mencarimu sampai kita bertemu lagi," sumpahnya.
bersambung.....