NovelToon NovelToon
Cincin Kedua

Cincin Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cerai / Single Mom / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:300.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: IkeFrenhas

Novel romance pernikahan

Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.

Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.

Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.

Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Lima

"Anakku ... anakku ... anakku ...." Olivia memanggil - manggil gadis kecil itu berulang kali. Tangannya menggapai - gapai.

Olivia bisa melihat bagaimana gadis kecil nan cantik tersebut terbang tinggi. Seberkas cahaya menyilaukan mata. Namun, ia tetap bisa melihatnya.

Olivia menangis sesenggukan. Rasanya, dadanya begitu sesak. Ia ingin menjerit, tetapi suaranya tiada mampu keluar dari tenggorokan.

Seperti ada sebuah tangan besar tak kasat mata yang meremas hati nya. Tercabik, nyeri sekaligus putus asa. Ia belum pernah merasakan sakit yang lebih sakit dari pada ini.

"Olivia ... Olivia ... bangun, Sayang ...." Vino panik begitu sampai, ia mendapati istrinya itu tengah menangis terisak-isak.

Vino meraih tangan Olivia, mengangkat kepala wanita itu ke atas pangkuannya lalu menepuk - nepuk wajah Olivia. agar wanitanya itu cepat bangun.

"Olivia ... Olivia," panggil Vino berulang kali. Sampai pada panggilan yang entah ke berapa kali barulah Olivia terbangun.

Vino meneteskan air mata melihat keadaan istrinya itu. Tidak menyangka jika Olivia berada dalam kesakitan. Padahal beberapa bulan lalu saat Olivia kehilangan, wanita itu tampak tegar dan tabah. Namun, hari ini, Vino melihat bagian lain yang sangat tidak ingin dilihat olehnya.

"Kak Vino," desis Olivia.

Vino mengangguk lalu mengecup kening istrinya. Mencondongkan tubuh ke samping untuk mengambil botol mineral. Kemudian memberikannya kepada Olivia. Vino mengangkat tubuh Olivia dari belakang agar istrinya itu bangun dan minum.

"Minum dulu, Sayang." Vino berujar pelan.

Memang, Vino bis merasakan banyak perubahan yang terjadi pada istrinya itu. Dulu, Olivia adalah wanita yang ceria dan suka berdebat hal hal kecil dengannya. Wanita itu juga sering mengomel hal hal yang terkesan sepele, bahkan tidak penting sama sekali. Akan tetapi, itulah sisi yang paling menarik dari diri Olivia.

Vino merasa dibutuhkan dengan sifat manja istrinya itu. Ia juga akan menjadi lelaki yang sangat beruntung karena sikap peduli dan kecerewetan Olivia kepadanya. Omelan Olivia akan dijadikan sebagai nyanyian di waktu paginya. Namun sekarang, semuanya seakan tak lagi sama.

Olivia lebih banyak diam, melamun dan tidak berbicara jika tidak terlalu penting. Vino hanya khawatir jika efek kehilangan itu masih melekat di diri istrinya itu sehingga menciptakan tekanan batin yang membuat Olivia depresi.

"Sayang, ada apa?" tanya Vino hati hati setelah Oliva minum.

Olivia diam. Ditunggu hingga beberapa menit, tidak ada jawaban yang keluar dari lisan wanitanya itu.

Vino mulai frustrasi. Namun, ia tetap berusaha menekan perasaannya agar Tidak menambah beban bagi Olivia.

Vino membelai kepala Olivia dengan sayang. lalu kembali mengulang pertanyaannya, "Sayang, kamu mimpi ya?"

Vino tersenyum saat melihat Olivia yang mengangguk. Setidaknya wanita itu telah memberikan respons terhadap pertanyaannya itu.

Lantas tangan Vino pun beralih ke pipi wanitanya, memberikan elusan ringan di sana dengan ibu jarinya.

Vino tersentak kaget saat Olivia menoleh ke arahnya membalas tatapan dirinya dengan sorot terluka. Tanpa ingin bertanya lebih lanjut, Vino merapat, mendekap erat tubuh di hadapannya yang kini tengah bergetar hebat menumpahkan tangis di sana.

Olivia terus menangis sampai baju yang dikenakan Vino basah oleh air matanya. Namun tampaknya lelaki itu tidak peduli, malah semakin mengeratkan pelukan diiringi ciuman di kepala dan elusan lembut di punggungnya.

Setidaknya untuk sesaat Olivia bisa menumpahkan segala beban di dadanya. menumpahkan tangis atas sesak yang terus menyiksanya. Saat tangisannya reda, Olivia mengurai pelukan mereka lalu menghapus wajah yang telah bersimbah air mata.

"Baju Kak Vino basah," ujar Olivia dengan suara serak.

"Tidak apa apa sayang," balas Vino dengan suara lembut.

Lantas kedua tangan Vino memegang pundak Olivia, mata lelaki itu menatap lekat wanita di hadapannya.

"Sekarang, katakan kepada suami kamu ini ada apa sampai kamu menangis begini? Mimpi buruk?" tanya Vino dengan suara lembut penuh penegasan.

Olivia mengangguk. "Kak, boleh nanya enggak?" tanyanya kemudian.

"Tanya apa?" Vino menurunkan tangan dari pundak Olivia berpindah ke kedua tangan wanita itu lalu menggenggamnya.

"Kakak pernah bermimpi tentang bayi enggak? atau semacamnya gitulah?" tanya Olivia dengan mata yang kembali berkaca kaca.

Vino tertegun sejenak. Mungkinkah istrinya itu memimpikan anak mereka yang telah tiada?

Vino menahan napas lalu menggeleng lemah. Ia membuang napasnya secara perlahan mengurai sesak yang tiba tiba mengimpit dada. Sesal itu masih bercokol di sana.

"Oh ...," gumam Olivia pelan. hanya itu. tidak ada cerita lain yang keluar dari lisannya.

"Kamu mimpiin bayi?" tanya Vino pada akhirnya karena menunggu Olivia yang tak kunjung mau berbicara lagi.

"Hm," gumam Olivia seraya mengangguk. "Bukan bayi, sih." Olivia meringis.

Vino masih menatap lekat wanita di hadapannya, mengamati setiap ekspresi wajah yang ditampilkan wanita itu.

"Oh iya, tadi aku denger suara wanita di telepon Kaka. Sia-pa?" tanya Olivia ragu.

Olivia ingin mengalihkan percakapan yang tidak mengenakkan di antara mereka. Namun, otaknya sedang tidak bisa berpikir banyak, tidak bisa diajak kompromi. Alhasil, pertanyaan yang keluar malah hal yang membuat selera makannya tadi hilang dan mengundang mimpi buruknya.

"Suara wanita?" Vino balik bertanya memastikan pertanyaan yang Olivia lontarkan itu tidak salah didengarnya.

"I-ya. Manggil mas," jawab Olivia perih. "Eh, pertanyaan enggak penting. Enggak usah dijawab," lanjut Olivia kemudian. Dia terkekeh pelan dengan mata berkaca kaca.

Olivia akui sekarang ini ia mudah sekali menangis dan bersedih. Entahlah perasaan itu kadang begitu sulit untuk dikendalikan.

Melihat Vino yang tetap diam, Olivia pun memutuskan berdiri. Ia ingin pergi dari situasi yang tidak nyaman ini. Namu , langkahnya tertahan saat Vino menggenggam tangannya menariknya pelan agar menoleh ke arah lelaki itu.

"Hei!" Vino mendongak. Ia tersenyum tipis, "Kamu bisa menanyakan apa pun kepada suamimu ini, Sayang. Jangan dipendam sendiri ...."

"Tapi Kak Vino tampak nya ragu untuk menjawab pertanyaan aku," gerutu Olivia kesal.

Sial. Air matanya benar benar mengalir sekarang. Olivia memalingkan wajah.

Olivia menghapus air matanya itu secara kasar. kemudian menoleh kembali kepada Vino yang masih duduk dengan posisi mendongak dengan tatapan khas lelaki itu.

"Aku bukan enggak mau jawab, tapi kaget karena kamu udah mau tanya tanya lagi," Ujar Vino seraya terkekeh.

"Udah ah," kesal Olivia. Ia menepis tangan Vino tetapi tentu saja tidak berhasil.

"Itu tadi Raisya. Kamu memang belum pernah ketemu sama dia. Kapan kapan aku kenalin." Vino berujar santai.

"Raisya ...," desis Olivia.

"Iya, Raisya. Kamu lupa sama Raisya?" tanya Vino.

"Raisya?" tanya Olivia lagi. Ia mengingat ingat di mana pernah mendengar nama itu. Namun, otaknya sedang buntu sekarang untuk berpikir.

"Iya, Papa pernah mengatakan tentang Raisya. Di adik perempuanku. Dia tadi mendatangiku. Jadi ya gitu ...." Vino menelisik ekspresi Olivia. "Kamu, enggak curiga atau cemburu sama Raisya kan?"

"Ha?"

1
Satria Devi
Luar biasa
Lienda nasution
gak seru akhirnya ..enak saja si veno mudah x diterima olvia gampang x ya dapatkan olivia
Yuliana Tunru
sakit bgt baca x thor ..jika tdk berdosa saat ini lbh baik minta cerai drpd jd mabtu yg tak dianggap dan disalqhkan trs ..vino jd suami tak guna dan mengabaikan istri demi hal yg tak jelas krn sampqi mati alvin jg viona sekalipun.mama x bino tak akan oernah mengagqp x ada ..murisss
Lina aja
terkena jebakan pelakor ni
Lina aja
klw suami kaya gtu emang cape k kita nya....
Lina aja
ahk suami luchnut itu malah nemenin bibit pelakor....istri lagi trauma juga....
Lina aja
mertua gda akhlak itu...suami nya juga lagi jaga anak malah di tinggal"udah celaka j g bisa txnggung jawab
Lina aja
kayanya Raisa tu cuma adik angkat....n vino mulai selingkuh tu m raisa
Lina aja
euleuh itu udah berapa tahun menunggu kehamilan Olivia ni
Lina aja
apakah vino udah punya Wil
Lina aja
keinginan yg harus di ikuti orang adalah keinginan yg egois itu.....
Lina aja
ihk ibu nya vino kayanya blum mau trima menantu nya dengan ikhlas tu
Lina aja
uhk kasian ni mna gda siapa" juga
Lina aja
masih suasana prihatin klw kita memulai semua dari nol.....sabar semoga berkah
Ike Frenhas: aamiiinnn
total 1 replies
Lina aja
klw mertua nya mau menerima menantu y kita juga senang lah
Ike Frenhas: Bener banget
total 1 replies
Lina aja
lanjut
Ike Frenhas
semangat bacanya sampai tamat ya, Kak
Lina aja
lanjut n semangat
Lina aja
lanjut
Lina aja
lucu
Ike Frenhas: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!