NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 32 Mencari Hana

Setelah perkelahian singkat yang berat sebelah itu berakhir, gudang tua yang pengap itu mendadak sunyi. Sepuluh orang pria berbadan kekar kini terkapar di lantai beton, mengerang kesakitan.

Kael berdiri di tengah ruangan, mengembuskan napas panjang sembari merapikan lengan jaket hitamnya yang sedikit bergeser. Tidak ada satu pun luka di tubuhnya.

"Kita harus segera kembali ke area parkir sekarang, Ketua," ujar Teri memecah keheningan. Ia menendang pelan kaki salah satu musuh yang pingsan. "Saya pastikan tidak ada lagi yang bisa mengejar kita."

Kael mengangguk pelan. "Benar. Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Kita harus memastikan kondisi Hana terlebih dahulu."

"Ah, tunggu sebentar, Ketua!" Teri tiba-tiba membungkuk, memungut beberapa kantong plastik yang berantakan di lantai. "Untung saja saya tidak melupakan kantong yang ini. Hadiah titipan dari Rani bisa gawat kalau tertinggal."

Kael ikut berjongkok di sebelah Teri. Matanya menangkap sebuah boneka kelinci berbulu putih yang tergeletak di dekat tumpukan kayu yang hancur. Ia mengambil boneka itu dan menepuk-nepuknya dengan telapak tangannya yang besar untuk membersihkan debu.

"Jangan sampai ada satu barang pun yang tertinggal," ujar Kael dengan nada suara yang sedikit melunak. "Jika mainan kelinci ini sampai kotor atau hilang, bocah itu pasti akan menangis semalaman di dermaga saat kita pulang nanti. Aku tidak mau mendengarnya merengek."

Teri terkekeh pelan sembari mengikat kantong jinjingnya. "Anda benar, Ketua. Rani kalau sudah menangis bisa membuat satu desa ikut pusing. Baiklah, semua barang belanjaan warga desa sudah aman di tangan saya. Tidak ada yang kurang."

"Bagus. Kalau begitu, ayo cepat jalan," sahut Kael seraya bangkit berdiri.

Kedua pria itu segera berlari cepat membelah gang-gang sempit kota menuju area parkir tempat mobil *pick-up* desa ditinggalkan sejak siang tadi. Namun, begitu langkah kaki mereka menginjak pembatas aspal parkiran, Kael dan Teri mendadak berhenti serentak. Tubuh mereka menegang secara otomatis.

Mobil pick-up tua berwarna biru pudar milik desa masih terparkir di posisinya. Kardus-kardus besar berisi obat-obatan di bak belakang pun masih tersusun utuh. Tetapi, bangku di dalam kabin depan itu kosong melongpong. Pintu kabin sebelah kiri sedikit renggang. Hana tidak ada di sana.

"Dokter Hana tidak ada di tempatnya, Ketua," bisik Teri dengan nada suara yang mendadak berubah serius. Tatapannya langsung menyapu sekitar. "Kuncinya masih menggantung di dasbor, tapi dia tidak ada."

Kael tidak memberikan jawaban verbal. Matanya menyipi tajam, mencari sekecil apa pun jejak kaki atau tanda pergulatan di sekitar mobil. Hasilnya nihil.

"Kita berpencar," perintah Kael pendek, nadanya dingin dan tidak menerima bantahan.

"Berapa lama waktu batas pencariannya, Ketua?" tanya Teri sigap, tubuhnya sudah condong bersiap mengambil langkah. "Apakah saya perlu memeriksa jalur CCTV kota di sekitar sini?"

"Satu jam dari sekarang," sahut Kael tegas. "Jika dalam waktu satu jam belum ada tanda-tanda atau petunjuk yang jelas, kembali berkumpul di posisi ini. Aku yang akan menentukan langkah selanjutnya."

"Dimengerti, Ketua! Saya akan menyusuri blok sebelah barat," ujar Teri sebelum tubuhnya bergerak cepat berbalik arah dan menghilang di balik tembok pembatas.

Kael tidak membuang waktu. Tubuhnya bergerak membelah kerumunan pejalan kaki di atas trotoar kota yang mulai padat oleh orang-orang yang baru pulang kerja. Pikirannya berputar cepat pada kemungkinan-kemungkinan terburuk. Apakah musuh dari masa lalunya telah mengendus keberadaannya? Ataukah ada pihak lain yang sengaja mengincar Hana?

Tepat di ujung persimpangan jalan besar yang mengarah ke distrik komersial, langkah kaki Kael mendadak terhenti secara instan. Matanya menangkap sebuah benda kecil yang tampak asing berkilau di atas permukaan aspal yang kotor, tepat di dekat sebuah belokan gang sepi yang diapit oleh deretan pertokoan mewah.

Kael melangkah mendekat, lalu berjongkok rendah. Di sana, tergeletak sebuah bros jepit kecil berbentuk bunga melati yang terbuat dari bahan perak murah bros yang sangat ia kenal karena pagi tadi benda itu masih bertengger dengan rapi di tali tas selempang milik Hana.

Napas Kael mendadak tertahan di dalam tenggorokan. Jemari tangannya memungut bros kecil itu, menggenggamnya dengan sangat erat hingga sudut-sudut besi bros menusuk kulit telapak tangannya. Ia berdiri tegak kembali, menatap tajam ke arah lorong pertokoan yang lengang dan sunyi di hadapannya.

Rahangnya mengeras seketika. Aura membunuh yang sangat pekat, aura dari seorang monster masa lalu yang telah lama ia kubur dalam-dalam di Desa Sekar, kini perlahan-lahan mulai bangkit kembali merayap ke permukaan.

Sementara itu, di sebuah sudut lain di dalam lorong pertokoan mewah yang sedang ditatap oleh Kael.

Suasana kontras yang tenang dan hangat justru tersaji di dalam sebuah restoran bergaya klasik Eropa yang cukup privat. Hana tampak duduk bersandar di kursi beludru empuknya sembari menatap seorang pria paruh baya berpakaian jas rapi yang duduk tepat di hadapannya. Garis wajah Hana menunjukkan sedikit rasa tidak sabar yang tertahan sejak tadi.

"Ayah, sebenarnya ada hal mendesak apa sampai Ayah mengirim orang untuk memintaku datang sendirian ke restoran ini?" tanya Hana, melipat kedua tangannya di depan dada dengan sikap defensif.

Pria paruh baya itu tidak langsung menjawab. Ia menikmati sesapan kopi hitam hangatnya terlebih dahulu dengan gerakan tenang, baru kemudian mendongak untuk menatap wajah putri tunggalnya.

"Kau benar-benar masih sama seperti dulu, Hana. Selalu saja tidak sabaran jika diajak berbicara dengan orang tuamu sendiri," ujar ayahnya dengan nada suara yang berat namun dipenuhi kelembutan.

"Aku sedang memiliki banyak urusan penting di pusat distribusi medis hari ini, Yah," kilah Hana perlahan. "Teman-teman desaku sedang menunggu di area parkir. Kami harus segera pulang sebelum larut."

"Dan kau tetap sekeras kepala biasanya," balas sang ayah, seulas senyum tipis penuh kehangatan mendadak terukir di wajahnya yang kini mulai dihiasi oleh garis kerutan usia. Ia memperhatikan penampilan Hana dari atas sampai bawah. "Tapi, kau terlihat jauh lebih sehat sekarang, Hana. Kulitmu sedikit lebih gelap, tapi matamu tidak seletih dulu saat masih bekerja di rumah sakit kota."

Hana mengernyitkan dahinya. "Apakah Ayah sengaja menyuruh pengawal Ayah memanggilku sejauh ini hanya untuk berkomentar tentang perubahan penampilan fisikku?"

"Tentu saja bukan itu alasan utamanya, Hana," sahut sang ayah lembut.

"Lalu apa? Tolong katakan langsung pada intinya, Yah. Aku tidak punya banyak waktu," kejar Hana dengan tatapan mata yang menuntut kejelasan.

Pria paruh baya itu terdiam sejenak. Ia meletakkan cangkir kopinya ke atas meja, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata putrinya dengan pandangan yang sarat akan rasa rindu yang mendalam.

"Apakah kau benar-benar merasa bahagia hidup di desa nelayan yang terpencil itu, Hana?" tanya ayahnya dengan nada suara yang sangat pelan.

Pertanyaan sederhana yang keluar dari belahan bibir ayahnya itu seketika membuat Hana tertegun diam di tempatnya. Lidahnya mendadak terasa kelu.

Di dalam pikirannya, memori tentang kehidupan barunya di Desa Sekar langsung berputar; senyuman manis Rani, kebaikan tulus Bu Ratih, suara canda tawa anak-anak sekolah, dan... bayangan wajah tegap Kael yang selalu diam-diam melindunginya.

"Aku baik-baik saja di sana, ayah. Sangat baik," jawab Hana akhirnya dengan suara yang melembut. Ia memalingkan wajahnya sedikit ke arah jendela kaca untuk menyembunyikan binar kebahagiaan di matanya.

Bersambung..

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!