NovelToon NovelToon
Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ammi Pooja

Dalam hidupku tak pernah menyangka bahwa dalam pernikahanku akan mengalami hal semacam ini.

Seandainya godaan itu datang dari wanita lain, mungkin saja aku tak akan segila ini. Tapi justru godaan itu datang dari wanita yang seharusnya aku hormati sebagai ibu dari istriku.

Aku hanyalah lelaki normal, lelaki biasa yang bisa saja khilaf dalam bertindak. Apalagi jika dihadapkan dengan godaan nyata setiap hari, godaan yang mampu mengikis kesetiaanku, godaan yang mampu menjegal keimananku.

Aku, Adarga Handanu ... lelaki biasa yang sedang berjuang keluar dari jeratan nafsu sang ibu mertua. Berhasilkan aku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34 Para Mantan

POV Hera

Terik matahari tepat di atas kepala begitu menyengat. Peluh mulai membasahi pakaian yang aku benci ini. Gamis dan hijab lebar mengurung lekuk indah tubuh yang aduhai, gerah menjalar ke seluruh badan.

Kuseka bulir bening yang membasahi dahi dengan ujung hijab hitam lebar, berhenti sejenak untuk mengatur napas yang mulai tersengal. Aku harus bergegas pulang sebelum es krim yang kutenteng mencair.

Rahman ternyata masih gila. Dia menyuruhku berjalan ke swalayan dan warung makan Mak Bawon, sedangkan letaknya saling berlawanan arah. Mana jauh lagi!

Untuk saat ini tak ada pilihan selain mengikuti kemauan pria depresi itu. Ada sesal menyusup dalam hati, kenapa aku harus menerima perjanjian sepihak itu.

Kuayunkan langkah lebih panjang agar cepat sampai, meski napas makin tersengal dan oksigen seolah sulit masuk. Tepat tiba di depan pagar, dari arah berlawanan terlihat mesin beroda empat menepi.

"Bukannya itu mobil Bobby?" gumamku sambil menghentikan langkah.

Mobil itu memasuki halaman rumah Niko yang memang cukup luas. Tak selang berapa lama muncul Bobby dari balik pintu, turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.

"Duh, kenapa Bobby datang. Bakalan menghambat rencanaku saja, tuh, orang!" gerutuku dengan kesal.

Kugigit kuku jari kelingking, otakku mulai berpikir. Peluh yang membasahi tubuh tak lagi kuhiraukan, bahkan aku lupa bahwa es krim yang kutenteng perlahan mulai mencair.

"Bu, lagi ngapain berdiri di situ?" Suara yang sangat aku kenal itu tiba-tiba sudah ada di sampingku.

Ya, Niko dengan mobilnya telah berada persis di samping aku berdiri mematung karena memeras otak. Sekarang aku mati kutu, tak bisa menghindar dari pertemuan keduaku dengan Bobby. Aku tak akan bisa menolak permintaan Niko yang sudah pasti akan memintaku pulang.

"Eh, ini, Nak. Apa itu? Ah, Ibu lupa." Entah apa yang akan kujadikan alasan.

"Itu Ibu bawa apa?" Niko memandang bungkusan plastik yang kutenteng.

"Ini, ayah kamu minta dibelikan es krim dan nasi rawon."

"Kok beli nasi? Emang Ibu nggak masak?"

"Sudah. Tapi ayahmu maunya dibelikan nasi rawon tempatnya Mak Bawon."

"Ooh ... ya, sudah. Buruan pulang, Bu. Es krimnya keburu mencair nanti."

Dengan terpaksa aku mengiyakan permintaan Niko. Belum juga ketemu dengan alasan untuk membela diri karena sudah membentak pria gila itu, eh malah ini muncul masalah baru.

Kenapa juga Bobby harus datang ke rumah Niko, hanya bikin aku hilang muka. Masa Hera yang cantik bahenol begini mau kembali dengan Rahman yang punya penyakit gangguan jiwa? Sungguh menurunkan harga diriku sebagai wanita penuh pesona.

"Hera? Kamu di sini?" tanya Bobby saat melihatku melintasi ruang tamu. Ia tengah duduk bersama mantan suami keduaku, Rahman.

"Ini, kan, rumah Niko. Jadi, aku berhak tinggal di sini." Aku mencoba membela diri.

"Kalau begitu, bisa aku lapor ke polisi sekarang karena kasus percobaan pembunuhan terhadap Danu."

Perkataan Bobby membuat nyaliku menciut. Kenapa semua orang sekarang menekanku? Mereka memanfaatkan kondisiku yang tengah  terjepit oleh keadaan. Begitu jahatnya mereka, tak menaruh belas kasihan.

"Niko, tolong bilang ke Bobby untuk tidak melaporkan aku ke polisi. Ibu nggak mau hidup di balik jeruji besi, Nak." Kuraih tangan Niko dan memohon perlindungan padanya.

"Tenanglah, Bu. Selama Ibu menaati perjanjian kemarin, Ibu akan aman di sini."

"I-iya, Nak. Ibu janji tidak akan melanggar perjanjian itu."

"Niko, coba lihat rekaman CCTV. Kamu akan lihat apa yang telah ibumu lakukan padaku hari ini." Mas Rahman turut mengompori keadaan.

Bisa mati aku kalau sampai Niko melihat rekaman itu. Niko kini tengah menatapku tajam, seolah ingin meminta penjelasan.

"Itu, Nak. Ibu tadi keceplosan. Habisnya kesal banget, dia mintanya macam-macam." Meski ada rasa khawatir aku berusaha untuk menutupi kegugupanku.

"Jadi, benar kata Ayah? Memangnya Ayah Rahman minta apa?"

"Es krim dan nasi rawon ini." Aku tunjukkan tas plastik yang masih menggantung di lengan.

"Hanya itu?"

"Iya."

"Kalau hanya itu kenapa Ibu sampai marah-marah?" Niko mulai mengintimidasi. Benar-benar menjengkelkan, apalagi saat aku lihat pria gila itu justru meledekku dengan menjulurkan lidah.

Rahman, awas kamu. Lihat saja nanti kalau aku ada kesempatan, akan aku habisi kamu. Dongkol, geram, dan letupan emosi bercampur menjadi satu membuat dada ini semakin sesak.

"Maafkan Ibu, Nak. Ibu tadi hanya lelah, ingin istirahat tidur siang sejenak tapi ayahmu malah mengganggu." Suaraku melunak, tepatnya menghiba agar Niko tak terus-terusan memarahiku.

"Ibu sekarang minta maaf ke Ayah Rahman."

Netraku membelalak tak percaya. Niko, anak yang aku sayangi justru membela mantan ayah tirinya. Apa yang salah denganku? Aku ini ibunya, wanita yang wajib ia bela.

"Kenapa? Ibu keberatan?"

"Tidak, Nak. Iya, Ibu minta maaf." Perlahan aku mendekati pria gila yang merasa menang itu, kuulurkan tangan dan mengucap kata maaf.

"Minta maafnya yang tulus. Percuma juga minta maaf tapi besok diulang lagi." Rahman justru mencibirku, membuat aku kehilangan muka di depan Bobby.

"Lho, Mas Rahman ini ayah kamu, Nik?" tanya Bobby yang membuatku gelagapan karena tak siap dengan pertanyaan itu.

"Bu-bukan. Dia bukan Ayah Niko. Dia hanya mantan suamiku, dan bukan siapa-siapa lagi sekarang." Dengan cepat aku menyahut.

"Niko, jelaskan padaku. Siapa pria yang kamu panggil Ayah Rahman ini?" Bobby berdiri dengan tatapan amarah. Pasti dia cemburu, secara dia masih cinta mati denganku.

"Iya, dia Ayah tiriku juga." Niko justru membongkar siapa Rahman.

"Oh, jadi ini Ayah Arini? Selama ini aku hanya mendengar cerita tentang Mas Rahman dari mulut Arini, dan sekarang bisa bertatap muka langsung."

Jadi, selama ini Arini yang cerita ke Bobby tentang Rahman? Pantas saja waktu itu dia bilang ia tahu tentang Rahman. Dasar anak durhaka! Sudah tepat aku meninggalkanmu karena aku sudah tahu kamu bukan anak yang baik, Arini.

"Tapi aku tidak rujuk dengannya, Beb. Karena kita masih suami istri." Aku mencoba merayu Bobby, berharap ia masih mau memaafkan aku.

"Dengan tinggal seatap, itu sama saja kamu sudah menghianati aku. Lagipula, bukannya kamu menolakku waktu itu? Kenapa sekarang panggil 'Beb' lagi?"

"Maafkan aku, Beb. Aku dulu khilaf. Tapi, setelah aku merenung dan berpikir ... aku memutuskan untuk kembali padamu."

"Bu!" ucap Niko dengan nada agak tinggi.

"Maaf, Niko. Ibu ingin kembali ke Bobby. Ibu tidak ingin menikah lagi apalagi harus rujuk dengan Mas Rahman. Biarkan pernikahanku dengan Bobby menjadi yang terakhir." Kupasang muka memelas penuh kesedihan, berharap mereka tersentuh hatinya.

"Maaf, Hera. Aku memang sangat tergila-gila denganmu hingga rela meninggalkan masa depan dan orang tuaku. Aku terlalu bodoh menyerahkan hati ini kepadamu. Dan sekarang, maaf aku nggak bisa lagi menerimamu."

Kata-kata Bobby serasa petir di siang hari. Menyambar tepat di hati, membuat rasa yang tak karuan dalam batin. Ketakutanku akan kehilangan kesempatan mendapatkan hartanya membuatku nyaris tak mampu berpikir.

"Bobby, tolong jangan seperti itu. Jujur aku masih mencintaimu." Kuraih tangan kekarnya, namun ia tepis. Sungguh penolakan yang menyakitkan.

"Sejak kapan kamu mencintaiku? Bukankah kamu menikah denganku karena harta orang tuaku?"

"Itu dulu, Beb."

"Bagiku sama saja." Bobby berdiri dan hendak pergi. "Niko, urus Ibu kamu! Jangan biarkan ia menginjakkan kaki di rumahku lagi!"

"Iya, Yah," ucap Niko mengiyakan.

Semua terdiam saat Bobby melenggang keluar rumah, hanya aku yang berusaha merayunya kembali. Beberapa kali aku memohon hingga memeluk kaki pria muda dan tampan itu, namun ia tak menghiraukan aku lagi.

"Ini semua karena Rahman!" Tanganku mengepal menahan geram. Aku gagal menahan Bobby dan sekarang nasibku benar-benar diujung tanduk.

"Jadi, dia suami baru kamu?" Tiba-tiba pria gila itu sudah ada disampingku, berdiri sembari melipat kedua tangan ke dada. Dengan santai ia bertanya, tanpa ada rasa bersalah.

Aku membalikkan badan, menatapnya penuh kebencian. "Iya, dia suamiku! Kenapa? Iri karena melihat dia lebih muda dan tampan?" Amarahku akhirnya meledak, berkacak pinggang sembari berkata ketus dengan emosi meletup-letup.

"Ganteng, ya? Tapi kasihan dia, jatuh ke pelukan wanita buaya. Jadi santapan empuk predator pemburu harta." Kembali sindirannya membuatku semakin muak terhadap lelaki satu ini.

"Apa maksud kamu? Apa? Kamu itu hanya pria gila, kere, dekil, hitam, hidup lagi. Sungguh menjijikkan dekat dengan kamu!"

"Cukup, Bu!" Niko berteriak menghentikanku yang sudah hampir kalap.

"Niko, dia bukan ayahmu! Aku ini yang harusnya kamu bela, aku ini ibumu, Niko!" Rasanya aku mulai gila.

"Ibu lihat ini." Niko menyerahkan sebuah map berwarna biru. Kuperhatikan map yang kini beralih dalam genggamanku. "Salinan sertifikat tanah? Apa maksudnya ini, Nik?"

"Rumah ini bukan rumahku, tapi rumah Ayah Rahman."

"Apa?" Sumpah, mataku membeliak tak percaya. Permainan apa yang tengah mereka mainkan? "Niko, jangan bercanda kamu!"

"Tidak ada yang bercanda, Bu. Rumah ini adalah salah satu rumah milik Ayah Rahman yang aku tempati."

"Maksud kamu? Bukannya kamu tinggal di rumah Bobby?"

"Ayah Bobby yang membantuku menemukan Ayah Rahman. Ayah Bobby juga yang membantu Ayah Rahman bangkit dari keterpurukan akibat ulah Ibu!"

"Nggak mungkin!"

"Ayah Rahman sebelum kutemukan, ia bekerja di proyek. Berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Namun, dengan bantuan Ayah Bobby akhirnya aku berhasil menemukan Ayah Rahman di kota ini."

"Kerja di proyek dan bisa punya rumah semewah ini? Mustahil, Niko. Kamu jangan coba-coba bohongi Ibu dengan cerita konyolmu."

"Tidak, Bu. Cerita ini nyata. Ayah Bobby yang memberikan modal untuk Ayah Rahman membuka usaha lagi. Hampir enam tahun Ayah menekuni usaha barunya, merintis  dari awal lagi. Hasilnya, Ayah berhasil membeli kembali rumah yang dulu Ibu jual dan juga rumah ini."

"Jadi, Bobby dan Mas Rahman sudah saling kenal?" tanyaku dengan penuh penekanan, aku tahu ini pasti ada konspirasi terselubung.

"Iya. Kami sengaja membuat rencana untuk tahu Ibu benar-benar bisa berubah atau tidak. Tapi nyatanya ...." Niko mengedikkan bahu.

Lututku serasa lemas mendengar penjelasan Niko yang panjang lebar. Ternyata mereka menjebakku. Sekarang, aku merasa putus harapan. Tak ada lagi hidup enak, tak ada lagi kemewahan yang dapat aku nikmati.

Betapa bodohnya aku. Pikiranku buntu, tak tahu lagi apa yang akan aku lakukan. Perlahan pandanganku buram, kepala begitu nyeri dan berat. Dan ... entahlah, yang kutahu tubuhku kini mulai limbung dan kesadaranku perlahan menurun.

Terakhir masih kudengar suara Niko memanggilku beberapa kali dan setelah itu aku tak ingat apapun.

1
Surati
bagus
Cis Siu
yey
Sri Wahyuni
👍👍👍👍🌹🌹🌹💪💪💪😘😘😘
Soraya
kmu hrus jujur sm istri danu klo km gak mau rumah tangga kmu berantakan
Soraya
mampir thor
Ibuk Kumaiyah
Luar biasa
Nur Adam
smgt untuk krya mu thoor
Kistinnisa nisa
Danu kapan terbukanya sama arini kl disimpen sendiri terbuka dong kan jadi bikin sakit hati sendiri kl bener arini selingkuh kl ga bener waduh ngamuk ga tuh arini
Kistinnisa nisa
ngakak aku thor kenapa ga dari kemaren2 aja tuh ibu mertua nyium danu wkwkwkwkwk tersadar karena bibir ibu mertua
Atmita Gajiwi
😁😆😍
linay
ngakak aku. 😂😂🤣
linay
si danu mulut sm otaknya perlu di servis... 😅
rika mayanti
auto sadar lngsung ya nu,,takut disosor...Oalah nek2,,,msh z nyari kesempatan..punya mertua gitu lngsung kena sawan mantu cucu ny..
rika mayanti
Arini kok Yo goblok men to Yo. Danu ayo tegas....
MACA
semoga iman dan iminnya mas danu kuaattt💪
MACA
astogeh...ini ibu kandung rasa pelakor
Halis Imuh
jgn sampai Danu tergoda aplg sielingkah sm wNit aular itu thor aku ga relaaa
Ra_ca
Baru datang, ingin ku baca terus, mak
Ra_ca
Karya kak Ammi. otw maraton baca 😍😍
Vanny Kaunang
lucunya Danu hahahahaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!