NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AIR MATA DI ATAS DEBU

​Di bawah hamparan langit yang luas, terbentang sebuah wilayah yang dikenal sebagai Daratan Bawah, atau bagi para penghuni langit, disebut sebagai "Tanah Pembuangan". Daratan ini terbagi menjadi tiga kekaisaran besar yang terus bersaing memperebutkan energi alam yang kian menipis. Di pinggiran Kekaisaran Awan Biru, berdirilah Sekte Pedang Langit, sebuah sekte kelas tiga yang menjadi penguasa regional atas belasan kota kecil di sekitarnya.

​Dunia ini tidak mengenal belas kasihan. Di sini, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Mereka yang memiliki bakat kultivasi disebut sebagai "Manusia Setengah Dewa", sementara mereka yang tidak memiliki bakat hanyalah "Debu Daratan"—makhluk yang keberadaannya hanya untuk diinjak.

​Dan di antara ribuan debu yang bertebaran di Sekte Pedang Langit, terdapat satu pemuda yang nasibnya jauh lebih rendah dari itu.

​"Lihat si sampah itu! Beraninya dia menunjukkan wajahnya di jalur utama!"

​Sebuah tendangan keras mendarat tepat di perut Han Feng. Tubuhnya yang kurus terpental, menghantam pilar batu sebelum akhirnya jatuh ke kubangan lumpur sisa hujan semalam. Han Feng tidak berteriak. Dia hanya meringkuk, berusaha melindungi organ vitalnya, sebuah gerakan defensif yang sudah dia pelajari dengan sangat baik selama tiga tahun terakhir.

​"Wajah yang memuakkan," ludah seorang pemuda berpakaian sutra biru—pakaian resmi murid luar Sekte Pedang Langit. Namanya adalah Li Wei, seorang pemuda dari keluarga kaya yang merasa terhina setiap kali melihat Han Feng.

​Mengapa? Karena Han Feng terlalu tampan.

​Bahkan dalam kondisi babak belur, kotor, dan mengenakan pakaian pelayan yang compang-camping, garis wajah Han Feng tampak seperti diukir oleh pengrajin surgawi. Alisnya yang tegas, hidungnya yang mancung sempurna, dan mata yang—jika tidak redup karena penderitaan—pasti akan mampu memikat siapa pun. Di dunia di mana para kultivator berusaha memperbaiki fisik mereka melalui energi Qi, Han Feng memiliki ketampanan yang alami tanpa setetes pun bakat kultivasi di tubuhnya.

​Bagi Li Wei dan murid-murid lainnya, ketampanan Han Feng adalah sebuah "kesalahan alam". Bagaimana mungkin seorang pelayan tanpa bakat, yang nadinya tersumbat total, memiliki wajah yang lebih menawan daripada mereka yang terlahir mulia?

​"Tuan Muda Li... mohon ampuni saya... saya hanya ingin mengambil air..." suara Han Feng terdengar serak dan bergetar. Dia tidak berani menatap mata lawan bicaranya. Ketakutan telah menjadi kulit keduanya.

​"Mengambil air dengan wajah seperti itu? Kau membuat para murid perempuan terganggu konsentrasinya!" Li Wei menginjak tangan Han Feng ke dalam lumpur, menekannya hingga terdengar suara tulang yang retak.

​Han Feng meringis, air mata mulai mengalir, namun dia tetap diam. Di kejauhan, di atas balkon paviliun, seorang pria paruh baya dengan jubah abu-abu panjang berdiri memperhatikan. Dia adalah Tetua Mo, penanggung jawab disiplin murid luar. Matanya yang dingin hanya melirik sekilas ke arah penyiksaan itu sebelum dia menyesap tehnya kembali. Bagi Tetua Mo, Han Feng bukanlah manusia. Dia hanyalah seekor serangga yang keberadaannya tidak lebih berharga daripada semut di bawah kakinya. Keadilan? Itu hanya berlaku bagi mereka yang bisa mencapai Ranah Pengumpulan Qi. Untuk seorang pelayan tanpa bakat, keadilan adalah dongeng sebelum tidur.

​Penderitaan Han Feng tidak berhenti di sana. Sore itu, Li Wei dan kawan-kawannya menyeret Han Feng menuju Hutan Kematian, sebuah wilayah hutan biasa di pinggiran sekte yang jarang dilewati orang karena banyaknya binatang buas.

​"Mereka bilang kau sangat mencintai wajahmu, bukan?" Li Wei menarik rambut Han Feng, memaksa pemuda itu menengadah. "Bagaimana kalau kita lihat, apakah binatang buas di dalam sana juga menyukai wajahmu?"

​Dengan satu dorongan kasar, Han Feng dilemparkan ke dalam jurang dangkal yang dipenuhi semak berduri di tengah hutan. Tubuhnya menghantam batu tajam, mematahkan beberapa tulang rusuknya. Darah segar merembes dari pakaian pelayannya yang abu-abu.

​"Jangan pernah kembali ke sekte. Jika aku melihat wajahmu lagi, aku akan mengulitinya inci demi inci," ancam Li Wei sebelum pergi dengan tawa meremehkan bersama pengikutnya.

...***...

​Han Feng terbaring diam. Langit mulai menggelap, dan suhu hutan turun drastis. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Dia membenci dunia ini. Dia membenci para kultivator. Tapi yang paling dia benci adalah dirinya sendiri—dirinya yang lemah, yang penakut, dan yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis.

​"Mengapa... mengapa aku harus lahir?" bisiknya dengan napas yang makin memendek. "Jika hidup hanya untuk diinjak, lebih baik aku menjadi tanah saja."

​Pandangannya mulai kabur. Kesadarannya perlahan menghilang saat dinginnya maut mulai menyelimuti. Namun, tepat saat jantungnya berdenyut lemah untuk terakhir kalinya, sesuatu yang mustahil terjadi.

​KEBANGKITAN SUTRA DEWA

​Tepat di bawah tempat Han Feng terbaring, di balik lapisan tanah dan akar pohon tua, sebuah benda yang telah terkubur selama jutaan tahun bereaksi. Sebuah cahaya keemasan yang redup tiba-tiba meledak menjadi terang benderang.

​Sebuah buku kuno yang tampak seperti terbuat dari giok putih tiba-tiba melesat keluar dari tanah. Buku itu tidak memiliki judul yang terlihat oleh mata manusia biasa, namun auranya membuat seluruh hutan seketika menjadi sunyi. Binatang buas yang tadinya mengintai Han Feng langsung lari ketakutan seolah melihat penguasa langit turun ke bumi.

​Buku itu adalah Sutra Dewa yang Terbuang. Pusaka tertinggi dari dunia dewa yang jatuh ke dunia bawah setelah sebuah pengkhianatan besar di langit tertinggi.

​Buku itu melayang di atas tubuh Han Feng yang sekarat. Halamannya terbuka dengan sendirinya, mengeluarkan suara seperti ribuan dewa yang sedang merapal mantra. Tiba-tiba, buku itu hancur menjadi debu cahaya keemasan yang sangat murni.

​Cahaya itu tidak menghilang, melainkan menyerbu masuk ke dalam tubuh Han Feng melalui setiap pori-pori kulitnya.

​"AAAGHHH!"

​Han Feng yang tadinya hampir mati tiba-tiba melengkungkan punggungnya. Matanya terbuka lebar, namun tidak ada warna hitam dan putih di sana—hanya ada emas murni yang bersinar.

​Di dalam tubuhnya, sebuah revolusi sedang terjadi. Cahaya Sutra Dewa mengalir seperti sungai lava, menghancurkan semua nadi yang tersumbat dan membangunnya kembali dengan material yang lebih kuat dari baja purba. Tulang-tulangnya yang patah menyambung kembali, namun kini warnanya seputih perak dan sekeras berlian.

​Namun, perubahan yang paling mengerikan terjadi di otaknya.

​Ribuan tahun pengetahuan—teknik bela diri yang bisa membelah bintang, rumus alkimia yang bisa menghidupkan orang mati, taktik perang yang telah menghancurkan kerajaan dewa—semuanya dipaksa masuk ke dalam kesadarannya. Ingatannya yang dulu penuh dengan ketakutan dan hinaan kini tertutup oleh kebijakan dan kedinginan seorang penguasa.

​KELAHIRAN KEMBALI

​Hening.

​Cahaya keemasan itu perlahan memudar, menyisakan Han Feng yang berdiri di tengah kegelapan hutan. Pakaiannya masih compang-camping, namun aura yang terpancar darinya sangat berbeda.

​Dia tidak lagi gemetar. Dia tidak lagi menunduk.

​Han Feng mengangkat tangannya, melihat telapak tangannya yang kini bersih dari lumpur dan luka. Dia mengepalkan tinjunya, dan udara di sekitarnya seolah bergetar hebat. Di dalam kepalanya, sebuah suara bergema, suara yang dingin dan berwibawa: “Dunia telah membuangmu, maka kau akan menjadi penguasa dunia.”

​Han Feng perlahan berdiri tegak. Dia melihat ke arah Sekte Pedang Langit yang terlihat di kejauhan. Wajahnya yang tampan kini tidak lagi memancarkan kelemahan, melainkan sebuah kedinginan yang bisa membekukan jiwa siapa pun yang melihatnya.

​"Han Feng yang pengecut sudah mati di hutan ini," suaranya terdengar sangat tenang, namun mengandung nada yang tajam seperti pedang dewa.

​"Li Wei... Tetua Mo... Sekte Pedang Langit..." Dia menyebutkan nama-nama itu satu per satu tanpa emosi, seolah-olah dia sedang menghitung daftar barang yang akan dihancurkan.

​Dia tidak lagi merasakan kemarahan yang meledak-ledak. Yang dia rasakan hanyalah kedinginan yang absolut. Berkat Sutra Dewa, otaknya kini bekerja ribuan kali lebih cepat. Dia bisa melihat setiap kesalahan dalam gerakan kultivasi para murid sekte dalam ingatannya. Dia tahu betapa bodoh dan rendahnya mereka semua.

​"Kalian menganggapku sampah karena aku tidak memiliki bakat?" Han Feng tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat licik dan menakutkan.

​"Maka aku akan menunjukkan pada kalian, apa artinya dibantai oleh sampah."

​Dengan langkah yang ringan namun pasti, Han Feng berjalan meninggalkan hutan. Dia tidak lagi berjalan seperti seorang pelayan yang memohon nyawa. Dia berjalan seperti seorang dewa yang sedang menuju panggung pembalasannya.

​Malam itu, bintang-bintang di atas Daratan Bawah bersinar lebih terang dari biasanya, seolah menyambut kembalinya sang penguasa yang telah lama hilang. Badai besar akan segera datang ke Sekte Pedang Langit, dan badai itu bernama Han Feng.

1
dikoiku
Luar biasa
Danzo28: Terima kasih! Bagian mana yang menurutmu paling luar biasa di bab ini? Saya penasaran dengan sudut pandang pembaca."
total 1 replies
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!