Novel ini sekuel dari novel pertamaku yang berjudul Mencintai Kekasih Sahabatku. Jadi alangkah lebih baik membacanya terlebih dulu sebelum membaca Cinta Sang Mantan Cassanova.
"Aku baru sadar kalau cintaku padamu begitu dalam setelah aku kehilanganmu. Mungkinkah janin yang tak sempat berkembang itu membuat ikatan kita semakin kuat? aku berjanji akan membuatmu kembali lagi padaku" Dewangga Surya Wijaya.
Kehilangan 3 orang sekaligus dalam hidup Angga membuat hidupnya terpuruk. Mamanya meninggal karena serangan jantung, Viviane pergi entah kemana setelah keguguran janinnya.
Hal itu membuat seorang Angga kini menjadi pribadi yang sangat dingin. Bahkan gelar cassanova yang melekat pada dirinya sudah ia tanggalkan.
Dapatkah Angga menemukan Viviane?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dee_K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 34
Keesokan paginya, sepasang pengantin baru yang semalam telah melakukan kegiatan panasnya, kini mereka masih bergelung di bawah selimut putih dan tebal tanpa memakai sehelai benang pun.
Enghhh
Viviane melenguh dan menggeliatkan tubuhnya, namun dadanya terasa berat seperti ada sesuatu yang telah menindihnya. Kemudian dia mengerjapkan matanya, melihat benda apa yang berada tepat di atas dadanya itu. Sungguh Viviane sangat terkejut ternyata tangan kekar suaminya lah yang sedang di atas dadanya dengan posisi telapak tangannya memegang salah satu buahnya.
Viviane mengingat kegiatannya semalam. Dia tersenyum tipis saat semalam suaminya menggempurnya habis-habisan. Dan dirinya pun ikut bekerja aktif agar permainan ranjangnya semakin panas dan bergairah.
Perlahan Viviane mengangkat tangan suaminya. Dia sudah tidak tahan lagi menahan diri untuk buang air kecil. Namun bukannya terlepas, justru telapak tangan Edwin semakin meremas buah itu.
Ehhh….
Satu ******* lolos begitu saja dari mulut Viviane. Dan Edwin yang mendengarnya seketika membuka matanya dengan sempurna. Kemudian Edwin mengecup bibir istrinya.
“Pagi sayang… Morning kiss!”
“Pagi juga Mas, tapi tangan ini tolong dikondisikan.” Ucap Viviane sambil melirik tangan suaminya.
“Maksudnya apa sayang?” Tanya Edwin pura-pura tidak tahu dan kembali meremas buah itu lagi.
Aahhhh….
“Mas, tolong aku nggak tahan untuk buang air kecil nih.” Rengek Viviane.
Kemudian Edwin dengan segera menyingkap selimut tebal yang membelit tubuhnya dan Viviane. Edwin dengan cepat menggendong istrinya menuju kamar mandi. bahkan mereka berdua berjalan dalam keadaan telanjang.
Kini Edwin dan Viviane sedang berada di dalam kamar mandi. keduanya mandi bersama, namun sebelum mandi mereka melakukan kegiatan panas lagi. Edwin tidak ada bosan-bosannya menikmati tubuh istrinya. Dia merasa tbuh istrinya layaknya seperti candu.
Dua jam kemudian mereka berdua keluar dari kamar mandi dengan keadaan tubuh yang sudah kembali segar. Meskipun Viviane sedikit cemberut karena kelelahan melayani suaminya. Viviane tidak percaya dengan kekuatan suaminya yang seperti tidak ada habisnya.
Setelah keduanya rapi, mereka segera turun untuk melakukan sarapan pagi, meskipun sudah sangat terlambat. Tapi mereka tetap akan makan, karena tenaga keduanya terkuras habis. Dan di meja makan yang disediakan oleh pihak hotel masih ada kedua orang tua mereka yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
“Ehm, jam berapa ini mau sarapan?” Tanya Mama Edwin menggoda pasangan pengantin baru itu.
Wajah Viviane seperti kepiting rebus karena sangat malu dengan pernyataan Mama mertuanya.
“Biasalah Ma, semalam kita bekerja sangat keras jadi bangunnya terlambat.” Jawab Edwin.
Viviane semakin memerah wajahnya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya. Bahkan dia tidak menyangka akan jawaban suaminya. Bagaimana tidak, Edwin selama ini terkenal pendiam dan sangat sopan pada siapa pu. Justru sekarang bicaranya sangat frontal dan sangat memalukan. Manurut Viviane.
“apa-apaan sih Mas ini?” bisik Viviane sambil mencubit perut suaminya. Dan semua orang tertawa melihat Viviane yang terlihat sangat malu.
Kini kedua orang tua mereka telah meninggalkan meja makan. Dan hanya tersisa Edwin dan Viviane yang sedang menikmati sarapan pagi mereka yang terlambat.
“Makannya yang banyak sayang. Semalam tenaga kamu kan terkuras habis.” Goda Edwin. Dan Viviane hanya memutar bola matanya malas.
“Sayang, nanti kita berangkat bulan madunya dari sini saja ya biar lebih cepat.” Ucap Edwin di sela-sela makannya.
“Iya Mas. Memangnya kita akan bulan madu kemana sih?” Tanya Viviane penasaran.
Karena sejak beberapa hari yang lalu Edwin merahasiakan tempat bulan madu mereka. Namun Viviane semakin penasaran jadi dia ingin tahu sekarang kemana tempat tujuan bulan madu yang sebenarnya.
“Beneran mau tahu?” Tanya Edwin lagi, dan Viviane mengangguk semangat.
“Kita akan ke Madrid.” Jawab Edwin singkat.
“Apa??? Maksud Mas kita bulan madu ke Madrid Spanyol?” Tanya Viviane memastikan.
“Memangnya Madrid ada dimana lagi sih sayang selain di Spanyol?”
Viviane yang tidak menyangka bahwa bulan madunya akan ke Madrid, dengan cepat dia menghampiri suaminya dan memeluknya dengan erat.
“Terima kasih Mas. Aku sangat senang sekali. Kamu tahu aja kalau dari dulu aku ingin pergi kesana.”
“Apa sih yang tidak buat istriku tercinta ini.”
“sekali lagi, terima kasih ya Mas.”
“Masa’ ucapan terima kasih saja sih sayang? Nggak ada bonusnya gitu?”
Kemudian Viviane menghujani wajah Edwin dengan beberapa kecupan. Edwin sangat bahagia sekali melihat senyum merekah dari bibir istrinya.
***
Sementara itu, Alfa kini sedang duduk di kursi kerjanya. Pria itu terlihat sangat kesal. Ponsel yang sejak tadi dia pegangi terus saja diremas dan seakan ingin membantingnya namun masih dia urungkan. Sejak semalam sampai siang ini dia menelepon Laura. Meskipun panggilannya terhubung tapi Laura sama sekali tidak mengangkatnya.
Alfa sudah sangat percaya diri sekali setelah menunjukkan foto Angga sedang memeluk mantan kekasihnya pada Laura, wanita yang sekarang statusnya menjadi mantan kekasih itu akan berterima kasih padanya dan mau kembali dalam pelukannya. Namun sepertinya ekspektasi Alfa terlalu tinggi.
Nyatanya, Laura sama sekali tidak mau mengangkat teleponnya. Laura benar-benar mengacuhkannya.
“Awas saja kamu Ra! Aku berjanji akan merebut hati kamu kembali. Aku akan menyingkirkan siapapun yang akan menghalangiku. Aku tak peduli. Kamu harus menjadi milikku Laura!!” geram Alfa penuh amarah.
***
Sedangkan Angga baru saja terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan matanya. Dan melihat sekelilingnya. Dia sadar bahwa dirinya kini berada dalam kamarnya. Angga mencium bau menyengat bekas muntahannya semalam. Dia melihat baju kemejanya yang sudah terlepas. Dia bingung, seingatnya semalam dia pergi ke club setelah mendapatkan tamparan keras di pipinya dari Laura. Setelah itu dia minum minuman keras beberapa botol hingga tak sadarkan diri. Setelah itu dia tidak ingat sama sekali tentang apa yang terjadi selanjutnya dan siapa yang membawanya hingga kini dia sudah berada di dalam kamarnya.
Setelah itu Angga melangkahkan kakinya ke kamar mandi. dia mengisi bathtub dengan air hangat. Dia ingin berendam untuk mengilangkan rasa pusing yang masih ada di kepalanya. Setelah selesai, dia segera melepas celananya dan masuk ke dalam bathtub.
Sejenak Angga merasa sedikit rileks dengan air hangat dan harum aroma therapy yang kini tengah merendam tubuhnya. Kemudian bayangan Angga teringat pada Viviane yang kini sudah resmi menjadi istri Edwin. Dan bahkan semalam mereka sudah melalui malam pengantin mereka. Angga tersenyum miris dengan kehidupannya. Apakah dia memang tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan. Akankah selama hidupnya akan seperti ini.
“Raihlah kebahagiaan kamu bersama Laura”
Hanya kata itu yang masih terngiang dalam benak Angga. Tidak mungkin dirinya menuruti ucapan Viviane. Karena dia sama sekali tidak pernah menyukai wanita ****** seperti Laura. Sampai kapanpun hanya Viviane yang akan bersemayam dalam hatinya.
“Aku akan terus menunggumu Vi. Aku sangat yakin kalau kau adalah pemilik hati ini. Dan suatu saat kamu akan menerima cintaku kembali.” Ucap Angga dengan penuh keyakinan.
.
.
.
*TBC
udah end yak
semangat terus mama dee-k 💟💟