Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mogok di Tengah Sunyi
Senin malam itu, suasana di area parkir mess karyawan tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa unit mobil operasional perusahaan jenis kabin ganda sudah berderet rapi dengan mesin yang menyala.
Malam ini adalah acara perpisahan untuk Pak Hendra, Superintendent Divisi Oil and Fuel sekaligus atasan langsung Rana, yang mendapatkan surat keputusan mutasi untuk dipindahkan ke salah satu site tambang baru di pulau Sumatra.
Rana berdiri di dekat tangga mess dengan raut wajah ragu. Ia mengenakan kemeja kasual bermotif garis dan celana kain hitam, pakaian terbaik yang ia miliki di dalam lemarinya. Sejujurnya, Rana sangat tidak terbiasa berkumpul dalam keramaian sosial seperti ini. Baginya, menghabiskan malam libur atau waktu luang di dalam kamar dengan membaca atau sekadar mengistirahatkan pikiran jauh lebih menenangkan daripada harus berbasa-basi di depan banyak orang.
"Ayo, Na! Malah melamun di situ. Keburu ditinggal rombongan depan nanti," seru Budi yang baru saja keluar dari ruang admin sambil membawa sekotak kado kenang-kenangan.
"Mas Budi, apa aku tidak usah ikut saja, ya? Kurang enak badan rasanya," kilah Rana, mencoba mencari alasan aman.
Dino yang berjalan di belakang Budi langsung memotong sambil tertawa.
"Jangan begitu, Na. Ini kan acara perpisahan Pak Hendra. Beliau itu selalu memuji kerjamu yang rapi selama ini. Kalau kamu tidak datang, nanti beliau malah mengira kamu ada dendam pribadi. Lagipula, sekali-kali ikut makan enak di kota, jangan mendekam di mess terus."
Bujukan Budi dan kawan-kawan divisinya akhirnya meruntuhkan pertahanan Rana. Dengan helaan napas pasrah, ia mengangguk setuju. Rana berjalan mengekor di belakang mereka dan naik ke salah satu mobil operasional perusahaan bersama Budi, Dino, dan dua rekan lainnya.
Perjalanan dari area mess karyawan menuju kota tempat rumah makan seafood yang telah dipesan khusus itu memakan waktu sekitar dua jam. Medan jalan yang dilalui bukanlah aspal mulus perkotaan, melainkan jalanan tanah berbatu yang membelah perbukitan, perkebunan sawit dan karet, juga area konsesi tambang, sebelum akhirnya masuk ke jalan poros provinsi yang sepi.
Guncangan mobil yang konsisten berpadu dengan kegelapan di luar jendela lambat laun membuat Rana terkantuk-kantuk. Rombongan mereka baru tiba di lokasi sekitar pukul sembilan malam.
Rumah makan seafood itu terletak di pinggiran kota, memiliki halaman parkir yang luas dan arsitektur semi-terbuka yang langsung menghadap ke arah tepian rawa. Suasana di dalam sudah sangat riuh. Ternyata, tidak hanya karyawan dari divisi Oil and Fuel yang datang, melainkan juga perwakilan dari berbagai divisi lain seperti Logistik, HRD, Planning, Operation, hingga beberapa subcon.
Begitu masuk, Rana sempat merasa asing karena pandangannya langsung membentur puluhan wajah yang tidak terlalu ia kenal. Beruntung, matanya menangkap lambaian tangan dari sudut ruangan.
"Rana! Sini, gabung di sini saja!" panggil Risa, salah seorang staf dari divisi Accounting.
Rana tersenyum lega. Ia segera melangkah menuju meja panjang di sudut kanan, memilih duduk di antara Risa dan Mbak Siska dari divisi Planning yang sudah lebih dulu sampai. Duduk di lingkungan sesama karyawan perempuan membuat ketegangan di pundak Rana sedikit mengendur.
"Aku pikir kamu tidak ikut, Na." kata Mbak Siska sambil menggeser segelas es jeruk manis ke depan Rana.
"Awalnya memang tidak ingin ikut, Mbak. Tapi karena ini acara perpisahan Pak Hendra, rasanya tidak enak kalau absen," jawab Rana sopan.
Acara makan malam itu berjalan dengan sangat lancar dan penuh kehangatan. Pak Hendra memberikan pidato perpisahan yang cukup emosional, berterima kasih atas kerja keras seluruh tim yang selama ini membantunya mencapai target produksi tanpa ada insiden fatal.
Hidangan seafood beraneka ragam terus keluar dari dapur, memenuhi meja dan memuaskan perut para pekerja tambang yang terbiasa makan dengan porsi besar. Rana menikmati makanannya dalam diam, sesekali ikut tersenyum mendengar seloroh dan cerita lucu dari rekan-rekan kerjanya.
Tanpa Rana sadari, di meja seberang yang berjarak beberapa meter darinya, sepasang mata tajam milik Pradika beberapa kali terarah kepadanya. Pradika datang bersama tim mekaniknya. Ia memperhatikan bagaimana Rana tersenyum tipis saat mengobrol dengan teman-temannya: sebuah senyuman yang sangat jarang ia lihat di area kerja kontainer yang penuh debu.
Di sisi lain, Sapo yang duduk di meja divisi Electricity juga beberapa kali melirik ke arah meja perempuan dengan pandangan yang membuat bulu kuduk orang yang menyadarinya meremang. Namun, Pradika sengaja memposisikan duduknya sedemikian rupa sehingga menghalangi garis pandang langsung Sapo ke arah Rana.
Jam digital di dinding rumah makan sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika acara akhirnya resmi ditutup dengan sesi foto bersama. Rombongan mulai bersiap untuk kembali ke mess karena besok pagi mereka harus kembali berhadapan dengan shift kerja yang melelahkan.
Rana pamit ke toilet untuk buang air kecil sebelum menempuh perjalanan jauh. Setelah menyelesaikan urusannya dan mencuci tangan di wastafel, Rana berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Suasana rumah makan sudah mulai sepi, hanya menyisakan pelayan yang masih membereskan meja.
"Rana!"
Rana menoleh dan mendapati Budi sedang berdiri di dekat pintu keluar samping, melambaikan tangan ke arahnya.
"Ayo, Na! Dino dan yang lain sudah nunggu di parkiran."
"Iya, Mas Budi. Maaf membuat menunggu," jawab Rana agak panik sambil mempercepat langkahnya.
Mereka berlima kembali naik ke mobil kabin ganda yang mereka bawa tadi pagi. Dino berada di balik kemudi, Rana duduk di sampingnya, sementara di jok belakang Budi duduk bersama dua rekan, Tinus dan Julay. Mobil bergerak membelah kegelapan malam, meninggalkan gemerlap lampu kota yang perlahan memudar, digantikan oleh jajaran pohon kelapa sawit dan hutan belantara di kanan-kiri jalan poros.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih senyap. Kebanyakan dari mereka sudah kelelahan dan memilih untuk memejamkan mata. Rana menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang dingin, menatap pekatnya malam Kalimantan tanpa penerangan jalan sama sekali. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah lampu sorot depan mobil mereka yang membelah kabut tipis.
Sekitar satu jam perjalanan berjalan normal, hingga mobil mulai memasuki kawasan perkebunan karet yang jalannya terkenal bergelombang dan sepi. Tiba-tiba, suara mesin mobil terdengar tersendat-sendat. Suara menderu yang biasanya stabil berubah menjadi getaran kasar.
Bat... bat... jess.
Mesin mobil tiba-tiba mati total. Setir mobil menjadi berat, dan Dino dengan cekatan menginjak rem sekuat tenaga sebelum mobil kehilangan kendali. Kendaraan roda empat itu akhirnya berhenti sempurna di tepi jalan, tepat di tengah-tengah hamparan pohon karet yang menjulang tinggi, menciptakan siluet menyeramkan di bawah temaram langit malam.
Suasana seketika menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara jangkrik dan desau angin malam yang menembus sela-sela pohon.
"Kenapa, Din? Habis minyak?" tanya Budi yang langsung terbangun dari tidurnya, matanya mengerjap-ngerjap panik.
"Tidak tahu, Mas." jawab Dino sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Apa kehabisan solar?" tanya Tinus.
"Nggak mungkin, Mas. Tadi sebelum berangkat sudah kuisi penuh di mess. Ini indikator akinya menyala, sepertinya ada masalah di kelistrikan atau alternatornya," jawab Dino sambil mencoba memutar kunci kontak berkali-kali.
Namun, mesin hanya mengeluarkan suara klik lemah tanpa ada tanda-tanda mau menyala.
Dino dan Dua rekan yang menghimpit Budi turun dari mobil dan mulai mengumpat pelan. Mereka menyalakan senter ponsel dan bersiap untuk memeriksa kap mesin. Sebelum turun, Budi menoleh ke arah Rana yang duduk diam di depan.
"Rana, kamu tetap di dalam mobil saja ya. Kunci pintunya dari dalam. Di luar udaranya dingin dan banyak nyamuk. Kami turun dulu untuk cek mesin dan cari bantuan atau sinyal telepon," kata Budi dengan nada menenangkan.
Rana mengangguk cepat, tangannya mencengkeram sabuk pengaman dengan erat.
"Iya, Mas. Hati-hati di luar." kata Rana sedikit bergetar karena takut.
Setelah Budi menutup pintu, Rana segera menekan tombol kunci manual. Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat mencekam tanpa adanya aliran listrik dari mesin. Ia meraih ponsel dari dalam tas, mencoba memeriksa sinyal. Nihil. Tanda silang merah tertera di pojok atas layar.
Dari kaca jendela yang buram, Rana bisa melihat bayangan Budi, Dino, dan yang lainnya sedang menyorotkan lampu senter ponsel ke arah mesin mobil yang terbuka. Mereka tampak berdiskusi dengan gestur tubuh yang frustrasi. Suara obrolan mereka terdengar samar-samar dari dalam kabin yang tertutup rapat.
Rana memeluk tasnya erat-erat ke dada. Ketakutannya bukan hanya pada kegelapan hutan di sekelilingnya, melainkan memori-memori buruk tentang ketidakberdayaan yang sering menghantuinya kembali muncul. Di saat seperti ini, ia merasa sangat kecil dan rapuh.
Tiba-tiba, dari kejauhan di jalur belakang yang searah dengan tujuan mereka, muncul berkas cahaya lampu yang cukup terang. Sorot lampu itu membelah kabut malam, bergoyang naik-turun mengikuti kontur jalanan tanah yang tidak rata. Tidak hanya satu, melainkan ada dua pasang lampu sorot yang bergerak mendekat dengan kecepatan sedang.
Jantung Rana berdegup kencang. Antara rasa lega karena ada bantuan yang datang, atau rasa takut jika yang datang adalah orang-orang dengan niat buruk.
Kedua mobil itu perlahan mengurangi kecepatannya saat melihat mobil Dino yang mogok dengan kap terbuka. Dino dan yang lain merasa tenang karena ternyata kedua mobil itu juga merupakan mobil operasional, hanya saja logo yang tercetak adalah logo dealer.
Suara deru mesin dieselnya yang besar memecah keheningan perkebunan karet tersebut. Kedua mobil itu akhirnya berhenti tepat di belakang dan di samping mobil Rana, memancarkan cahaya lampu sorot yang benderang, menerangi seluruh area yang tadinya gelap gulita.