Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di Balik Tirai
Ciuman di bawah langit malam itu berlangsung lama dan memabukkan, seolah mengukir sebuah kesepakatan tak tertulis yang jauh lebih mengikat daripada selembar kertas kontrak pernikahan mereka. Ketika Xavier akhirnya melepaskan pagutan bibirnya, dia tidak langsung menjauh. Pria itu menyandarkan dahinya pada dahi Eli, membiarkan deru napas mereka yang memburu saling berkejaran di udara malam yang dingin.
"Kita pulang sekarang," bisik Xavier, suaranya terdengar lebih serak dan berat daripada biasanya. Ada kilatan gairah yang belum padam di sepasang mata elangnya, sebuah isyarat yang membuat pipi Eli kembali merona merah tanpa bisa dicegah.
Eli hanya bisa mengangguk pelan, jemarinya masih mencengkeram erat kerah tuksedo mewah Xavier untuk menopang kakinya yang mendadak terasa lemas.
Xavier berbalik, memberikan kode singkat kepada Daniel yang berdiri siaga di dekat pintu kaca balkon. Asisten pribadi yang sangat efisien itu langsung mengangguk paham dan bergerak cepat menggunakan walkie-talkie miliknya untuk menyiapkan iring-iringan mobil di lobi bawah.
Pesta tahunan Arisatya masih berlangsung meriah di lantai dasar, namun bagi sang penguasa tertinggi, tujuannya malam ini telah terpenuhi. Dia telah memamerkan ratunya, menginjak para penentangnya, dan kini saatnya membawa wanitanya kembali ke dalam sangkar mereka.
Namun, tepat saat mereka melangkah keluar dari koridor privat lantai atas menuju lift khusus, langkah kaki Xavier mendadak terhenti. Indra pendengarannya yang tajam menangkap suara perdebatan yang samar dari balik tirai beludru tebal yang membatasi koridor dengan ruang istirahat pelayan.
"Kamu gila, ya?! Kamu tahu siapa yang baru saja kamu bicarakan? Itu Nyonya Arisatya!" sebuah suara wanita paruh baya berbisik dengan nada panik yang tertahan.
"Tapi aku tidak salah lihat, Bi! Enam tahun lalu, akulah pelayan yang membersihkan Kamar 909 setelah Tuan Xavier pergi pagi-pagi sekali," sahut sebuah suara gadis muda, terdengar bergetar namun bersikeras. "Wanita yang mendampingi Tuan Xavier di bawah tadi... dia adalah wanita yang sama dengan yang keluar dari kamar itu dengan pakaian berantakan dan menangis! Dan anehnya, seprai di kamar itu..."
Sret.
Belum sempat gadis muda itu menyelesaikan kalimatnya, tirai beludru tebal tersebut sudah disingkap secara kasar oleh tangan kekar salah satu pengawal Xavier. Dua orang pelayan wanita yang berada di balik tirai seketika membelalak horor, wajah mereka mendadak pucat pasi hingga tak menyisakan warna sedikit pun begitu melihat sosok tinggi tegap Xavier Arisatya sedang berdiri tegak di hadapan mereka.
Aura membunuh yang sangat pekat dan dingin seketika memenuhi koridor sempit itu. Eli yang berdiri di samping Xavier merasa napasnya kembali tercekat. Ketakutan lama yang baru saja dia kubur seolah mencoba merangkak naik kembali ke permukaan.
Xavier melangkah maju satu kali, postur jangkungnya memberikan tekanan psikologis yang luar biasa hingga kedua pelayan itu langsung menjatuhkan diri berlutut di atas lantai marmer dengan tubuh yang gemetar hebat.
"T-Tuan Besar... mohon ampun, Tuan Besar... kami tidak bermaksud..." tangis pelayan paruh baya itu pecah, sementara pelayan muda di sampingnya sudah menangis tersedu-sedu karena ketakutan yang teramat sangat.
Xavier menatap mereka dari atas dengan pandangan mata elang yang sangat dingin, seolah sedang melihat dua ekor serangga yang menjijikkan. "Daniel," panggil Xavier tanpa mengalihkan pandangannya.
"Iya, Tuan Xavier," Daniel maju dengan ekspresi wajah yang mengeras.
"Pecat mereka berdua detik ini juga. Pastikan seluruh pesangon mereka dibatalkan, dan masukkan nama mereka ke dalam daftar hitam seluruh industri perhotelan dan jasa di negeri ini.
Jika aku mendengar satu kata pun tentang malam enam tahun lalu keluar dari mulut mereka di luar sana... pastikan mereka menghabiskan sisa hidup mereka di balik jeruji besi atas tuntutan pencemaran nama baik keluarga Arisatya," perintah Xavier dengan nada datar tanpa riak emosi, namun kata-katanya membawa kepastian yang mutlak.
"Baik, Tuan. Akan segera saya eksekusi," jawab Daniel tegas. Dia langsung memberi isyarat kepada dua pengawal bertubuh kekar untuk menyeret kedua pelayan yang terus menangis histeris memohon ampunan itu menjauh dari koridor.
Setelah koridor kembali sunyi, Xavier memalingkan wajahnya menatap Eli. Dia bisa merasakan tangan Eli yang berada di lengannya kembali dingin dan sedikit gemetar. Kejadian barusan adalah sebuah tamparan realitas bahwa meski Adrian dan Valencia sudah hancur, sisa-sisa dari rahasia malam kelam itu masih mengintai di sudut-sudut tak terduga.
Xavier meraih kedua tangan Eli, menggenggamnya erat lalu membawa jemari istrinya ke depan bibirnya untuk memberikan sebuah kecupan hangat. "Aku sudah mengatakannya, Eli. Aku adalah hukum di sini. Tidak akan ada satu pun rumor yang bisa berkembang jika aku tidak mengizinkannya. Jangan biarkan tikus-tikus kecil ini merusak malam kita."
Eli menatap sepasang mata elang suaminya yang memancarkan keyakinan dan perlindungan yang begitu kokoh. Perlahan, rasa cemas di dadanya kembali mereda. Dia menarik napas dalam-dalam dan memaksakan sebuah senyuman. "Aku tahu, Xavier. Aku mempercayaimu."
Xavier tersenyum tipis, kepuasan kembali merayapi wajah tampannya. Dia merangkul pundak Eli dengan protektif, menuntunnya masuk ke dalam lift privat yang terbuka. Pintu besi berlapis emas itu tertutup rapat, mengunci mereka berdua dari dunia luar yang penuh dengan intrik dan rahasia, membawa mereka kembali menuju tempat teraman di mana hanya ada Xavier, Eli, dan masa depan baru yang sedang mereka bangun bersama.