Jangan lupa memberi like...
Season 2 Takdir Cinta Millaerin.
Mega dan Eki.
Mega membuat komik tentang perjalanan hidupnya, ia adalah pemain protagonisnya.
Tapi sebuah komik lain muncul dan tenyata komik itu kisah tentangnya, tapi ia malah menjadi pemain antagonisnya?
Bagaimana ini?
Reputasinya jadi tercoreng!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Obat yang mereka produksi menjadi satu-satunya kunci yang akan menjadi alasan sekeluarga Saputra memohon untuk melanjutkan pertunangan itu.
"Besan,, tolong jangan berkata sepeti itu. Gadis itu terakhir bertugas hari ini, setelah Putra kami tiba di rumah Gadis itu tidak akan menemui Putra kami lagi." Kata Astri yang sudah merasa cemas dengan apa yang dikatakan oleh Antariksa.
"Sudah cukup kalian memanggil kami besan! Hari ini juga pertunangan ini dibatalkan!" Kata Antariksa dengan tegas.
"Besan, tolong, jangan lakukan ini. Anak kita saling mencintai mereka hanya perlu waktu saja. Hanya kali,,"
"Baiklah, tapi kalau gadis itu masih ada di rumah kalian besok, maka peetunagan ini akan di batalkan!" Kata Antariksa lalu menyeret Putri dan istrinya ke atas mobil mereka.
Setelah kepergian keluarga Lorenza, Astri langsung menoleh kearah suaminya "Mengapa kau diam saja? Apa yang harus kita lakukan kalau pertunangan itu dibatalkan?"
"Tenanglah," kata Morano.
"Tenang? Bagaimana bisa kau begitu tenang ketika pertunangannya akan dibatalkan?
Saat ini Harusnya menjadi saat yang bahagia karena Putra kita telah sembuh, jadi dia tidak perlu bersama dengan gadis itu lagi.
Putra kita tidak bergantung lagi pada Mega jadi kita sudah bisa menikahkan mereka!"
"Tenanglah, kita bicarakan ini di rumah." Kata Morano merangkul istrinya yang sedang kesal itu lalu keduanya memasuki mobil mereka.
Sementara di dalam mobil keluarga Lorenza, Ellen duduk meringkuk di pinggir.
"Kau tahu kesalahanmu? Kesalahanmu kali ini benar-benar fatal!
Bagaimana bisa Kau membiarkan gadis itu tetap berada di sisi Eki?" Kata Antariksa seraya mengepalkan tangannya dan menggertakan giginya menatap ke arah jalanan yang sedang ramai.
"Tolong jangan membicarakan masalah ini di atas mobil.
Ayo tunggu sampai kita tiba di rumah." Kata Maharani yang sangat takut kalau sampai Antariksa memukul putrinya di atas mobil.
"Apa Kau pikir kalian berdua bisa lolos dari masalah ini?
Benar, tunggu sampai di rumah dan kalian akan mendapatkan bagian kalian!" Kata Antariksa lalu ia mulai diam sampai akhirnya mereka tiba di rumah.
Antariksa keluar dari mobil dengan santai dan berjalan ke ruang tamu menunggu kedua wanita itu menyusulnya.
"Ibu,," kata Ellen pada ibunya ketika Antariksa sudah menghilang dari pandangan mereka.
"Sayang kau tidak usah cemas, Ibu tidak akan membiarkannya melukaimu lagi." Kata Maharani seraya membuka pintu lalu ia turun dari atas mobil.
Ellen juga turun dari atas mobil dan merasakan keringat dingin sudah membasahi punggungnya.
Ia adalah seorang gadis yang sangat kuat di hadapan semua orang, kecuali didepan ayahnya.
Akhirnya setelah lama menahan kegugupannya, keduanya tiba juga Di ruang tamu di mana antariksa telah duduk di sofa menunggu keduanya.
"Cepat berikan alasan yang masuk akal! Atau kali ini kalian berdua tidak akan lolos dari cambuk!" Kata Antariksa dengan suara marahnya.
"Ayah, aku memiliki rencana tapi aku menunggunya sampai Eki pulih.
Tapi aku sudah berbicara dengan ibu Astri dia bilang kalau hari ini adalah hari terakhir Mega berada di samping Eki.
Selama satu minggu ini juga aku tidak bisa mengusir Gadis itu dari sisi Eki karena Ibu Astri dan ayah Morano tidak melarangnya." Kata Ellen menjelaskan situasi yang ia hadapi.
Sayangnya penjelasan Ellen malah memicu kemarahan Antariksa, pria itu segera berdiri dan mendekati putrinya.
Ellen yang tertunduk gemetaran di tempatnya apalagi ketika antariksa mengulurkan tangannya dan mencengkeram dagu Gadis itu memaksanya untuk menatap matanya.
"Kau pikir aku bisa kau bohongi dengan penjelasan tidak masuk akal mu itu?" Ucapan Antariksa ditutup dengan sebuah tamparan keras yang mendarat di pipi mulus Ellen.
"Apa yang kau lakukan pada putriku! Menyingkir darinya!" Teriak Maharani yang sudah menangis.
Maharani langsung mendekat kearah putrinya dan membawa Ellen ke dalam pelukannya.
"Kalian berdua benar-benar tidak ada gunanya! Tunggu di sini dan jangan pernah ke mana-mana!" Kata Antariksa lalu pria itu berjalan ke ruang kerjanya.
"Ibu,, Cepatlah pergi dari sini, biar aku saja yang dicambuk oleh ayah!" Kata Ellen dengan panik ketika ia melihat pria itu menghilang ke ruang kerja.
Ellen jelas tahu kalau pria itu pergi ke sana untuk mengambil cambuk yang selalu digunakan pria itu untuk menyiksa mereka.
"Tidak Nak! Bagaimana bisa Ibu meninggalkanmu bersama dengan orang itu?
Kaulah yang sebaiknya pergi, pergilah dan jangan pernah kembali sampai ai amarah ayahmu menjadi tenang."
"Tidak Bu, aku adalah anak yang durhaka jika aku tidak bisa melindungimu. Bagaimana mungkin aku membiarkan Ibu menanggung semuanya sendiri?"
Keduanya masih terisak ketika antariksa sudah kembali dari ruang kerjanya dan mendekati kedua wanita itu.
"Drama yang sangat menyenangkan antara seorang ibu dan seorang anak!" Kata Antariksa sambil memainkan cambuk di tangannya.
"Ayah ku mohon, kumohon pukul saja aku! Tapi tolong jangan melukai ibu!
Ibu tidak tahu apapun! Akulah yang salah karena masih membiarkan Mega berada di samping Eki.
Akulah yang salah karena lupa memberikan obat yang telah Ayah siapkan untuk wanita itu.
Tapi tolong,,, pukul saja aku dan lepaskanlah ibuku!" Kata Ellen yang kini bersujud di hadapan ayahnya sambil memegang sepatu kulit yang dikenakan ayahnya.
Maharani melihat kejadian itu dan langsung menarik Ellen supaya menjauh dari Antariksa.
Ia kemudian menggantikan posisi Ellen bersujud di bawah kaki Antariksa "Tidak,,, ku mohon jangan sakiti dia!
Kau tidak boleh menyakitinya, atau keluarga Saputra tidak akan mengizinkannya menikah ketika mereka tahu anakmu adalah gadis yang cacat!
Kau masih memerlukan dia untuk pergi ke kediaman Saputra agar ia bisa menikah dengan Eki.
Kumohon pukul saja aku,, tidak ada yang akan mengetahuinya jika aku yang dipukul!" Ishak Maharani sambil terus bersujud di hadapan pria itu.
"Tidak!! Jangan lakukan ini Bu! Akulah yang salah di sini,, Ayah kumohon jangan sakiti ibu dan pukul sajalah aku."
"Anak bodoh! Beraninya kau membantah perkataan ibumu?! Cepat pergi dari sini!" Teriak Maharani pada anaknya.
"Tidak!! Tidak Bu!" Isak Mega berusaha menarik ibunya supaya wanita itu menjauh dari ayahnya.
"Bodoh! Pergilah sekarang!
Kau ini masih muda untuk menyia-nyiakan kulitmu yang mulus itu!
Sementara Ibu sudah sangat tua, waktu ibu tidak lama lagi, jadi tidak apa jika kulit Ibu saja yang rusak oleh cambuk itu!" Bentak Marisa pada Ellen.
"Tidak Bu!!!" Isak Ellen langsung menarik ibunya dengan keras.
"Hentikan sandiwara kalian berdua!" Kata Antariksa membuat keduanya terdiam di tempatnya.
Saat ini ini Maharani telah berada di belakang Ellen, sementara Ellen sedang bersujud di bawah kaki ayahnya.
"Kalian berdua sama-sama salah di sini! Jadi kalian berdua akan mendapat hukuman dari ku!"
Plak plak plak.....
Suara cambukan terdengar di ruangan itu, bukan hanya sekali dua kali, tapi berapa pukulan dari cambuk mendarat mulus di kulit Ellen dan Merisa.
"Ini akan menjadi peringatan untuk kalian berdua!
Siapapun yang berani melanggar perintah ku, akan berhubungan dengan cambuk milikku ini!" Kata antariksa seraya terus melayangkan cambuknya pada kedua wanita dihadapannya.
Beri like atau masukan di kolom komentar ya...