NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 PERASAAN TAK NYAMAN

Pada akhirnya, tetap ku laksanakan semua pekerjaan yang masih tersisa, setelah selesai membuat laporan tadi.

Dan Pak Jihan juga tak kembali datang ke ruanganku. Sampai menjelang jam pulang kerjaku.

Aku biasa pulang jam 5 sore setiap hari kerja, dari hari senin sampai sabtu.

.....

.....

Ketika aku sedang merapikan barang-barangku ke dalam tas saat hendak pulang, tiba-tiba saja Bu Gina masuk ke ruanganku.

"Nisa..." panggil Bu Gina.

"Eh, iya Bu? Ada apa?" tanyaku.

"Pak Jihan barusan titip pesan pribadi buat kamu Nis."

Aku kembali merasa heran mendengar ucapan Bu Gina itu.

"Pesan pribadi apa ya Bu?" tanyaku.

"Katanya, dia mau ajak kamu ngobrol dulu sebentar di dekat parkiran." jawab Bu Gina, tapi kali ini ekspresinya sedikit agak ketus padaku.

"Apa Bu? Ngobrol sama saya? Di dekat parkiran?" tanyaku semakin heran, sambil ku sadari perubahan ekspresi di wajah sekretaris Pak Jihan itu.

"Iya." jawabnya sangat singkat.

"Em, ada apa ya Bu?" tanyaku lagi.

"Ya mana saya tau... Ya udah, saya pulang duluan ya. Kamu temui aja Pak Jihan sana."

Akhirnya Bu Gina segera pergi dari ruanganku, dengan masih ekspresi dan gesturnya yang membuatku agak tak nyaman.

Aku memasukkan barang terakhir ke dalam tas, sambil terus menatap ke Bu Gina yang berjalan menjauh.

"Ada apa ya? Kenapa Pak Jihan mau ajak aku ngobrol di parkiran? Aneh..." gumamku.

Aku pun melihat sebentar ke jam tangan, waktu sudah jam 5 sore, lewat sedikit. Sudah waktunya aku untuk pulang.

Aku pun berjalan keluar ruanganku, dan segera menuruni anak tangga. Karena ruangan kerjaku ada di lantai 3 di bangunan pabrik ini.

Aku sempat menyapa karyawan lain yang sudah cukup akrab denganku selama dua tahun ini. Dan hampir semuanya juga pulang di jam yang sama.

Hanya karyawan di beberapa bagian unit produksi saja yang masih harus bekerja sampai jam 8 malam.

Ketika aku sudah ada di dekat area parkiran, ternyata benar saja, di sana sudah ada Pak Jihan menungguku. Dia berdiri sambil bersandar di mobil miliknya.

Aku pun mendekatinya.

Saat ia melihatku, langsung mengembang lagi senyuman di bibirnya itu.

"Eh, Nisa... Saya kira kamu udah pulang duluan." ucapnya, entah berbasa-basi atau apa.

"Ini saya mau pulang Pak." jawabku.

"Oh gitu..."

"Iya Pak. Em, ada apa ya Pak?" tanyaku tanpa basa-basi lagi.

"Emmm, gak ada apa-apa sih Nisa. Cuma, saya mau tanya sesuatu aja." katanya.

Aku diam sejenak, menatap wajahnya.

"Tanya apa ya Pak?"

"Em, kamu pulang sendirian?"

"Iya Pak, kenapa?"

"Mau saya antar gak?"

Aku langsung merasa terkejut mendengar tawarannya itu.

Dan, tanpa pikir panjang, aku menolaknya dengan sopan saja.

"Enggak usah Pak, saya naik angkot saja. Lagian, kan memang setiap pulang kerja, saya selalu naik angkot Pak."

"Em, bener nih?" tanyanya lagi.

Tapi, ada sedikit perbedaan di wajah Pak Jihan menanyakan itu.

Seperti...

Ada sebuah ketertarikan padaku.

Atau...

Itu hanya prasangka ku saja?

"Iya Pak, bener. Saya juga gak mau ngerepotin Bapak kok. Lagian, Bapak juga kan biasa pulang selalu belakangan." jawabku.

"Ah, sekarang kayaknya saya juga mau pulang duluan aja Nis. Makanya saya mau sekalian anterin kamu pulang."

"Enggak usah Pak, enggak apa-apa kok. Saya pulang sendiri aja. Maaf ya Pak. Saya duluan."

Aku menjawab seperti itu, karena jujur saja, ada perasaan tak nyaman dalam hatiku.

"Izin Pak, saya duluan. Assalamu'alaikum."

"Em, ya udah deh. Wa'alaikumsalam."

Memang terlihat sedikit agak kecewa ekspresi wajah Pak Jihan itu, saat aku dengan tegas namun sopan menolak tawarannya.

Tapi, aku tak terlalu memikirkannya.

Aku langsung berjalan, melewati pos satpam di dekat gerbang pabrik.

Aku berdiri di pinggir jalan, menunggu angkot yang memang biasa menjadi tumpanganku pulang.

Akhirnya, tak butuh waktu lama, angkot yang jalurnya mengarahkanku pulang, datang.

Segera aku memberhentikannya, dan langsung saja naik.

Ketika roda mobil angkot mulai kembali berjalan, sejenak aku bisa melihat Pak Jihan masih berdiri di dekat mobilnya.

Ia masih saja menatapku dari kejauhan.

Semakin tak nyaman aku dibuatnya, namun dengan cepat aku acuhkan saja.

.....

.....

Ketika angkot yang ku naiki sudah sampai di depan gang menuju rumahku, aku segera meminta supirnya untuk berhenti.

"Kiri Bang..." ucapku.

"Iya Neng..." jawab sang supir.

Aku turun, dan membayar dengan uang pas.

Sebentar, aku lihat jam tanganku. Sudah hampir pukul 6 sore.

Aku berjalan dengan agak cepat. Karena memang, jarak antara gang pinggir jalan raya ini, menuju ke rumahku, butuh waktu sekitar 15 menit.

Dan tak ada tukang ojek di sana.

Ketika aku sedang berjalan, ku lihat ada seorang pedagang bakso yang sedang mangkal di pinggir jalan. Bakso Bang Misar yang sudah jadi langgananku sebenarnya.

"Wah, si Bang Misar tumben masih ada. Beli bakso dulu ah..." gumamku dalam hati.

Segera aku mendekat.

"Abang..." sapaku dengan senyuman.

"Eeeh... Neng Nisa... Baru pulang Neng?" tanyanya.

"Iya Bang Misar. Baru pulang nih saya." jawabku.

"Em, Bang, baksonya masih ada? Saya mau dong..." tambahku.

"Masih ada dong Neng, hehehe... Mau berapa bungkus?"

"Tiga bungkus ya Bang. Kayak biasa aja, dua bakso urat, satu lagi bakso telor ya Bang." jawabku.

"Okeee... Siaaap..."

Bang Misar langsung membuka panci besar, langsung mengepul uap kuah baksonya yang gurih, amat menggugah seleraku.

Dengan cekatan ia menyiapkan tiga bungkus bakso yang ku pesan itu.

"Bang Misar, tumben baksonya masih ada jam segini? Biasanya udah abis." tanyaku, sambil memperhatikan.

"Iya nih Neng Nisa, hari ini lagi gak terlalu banyak yang beli." jawabnya dengan santai.

"Oh gitu..."

"Iya Neng."

Aku kembali terdiam. Masih terus melihat tiga bungkus bakso yang sekarang mulai di masukkan kuah olehnya.

"Neng..."

"Iya Bang?"

"Pakek sambel gak?"

"Kaya biasa aja Bang, sambelnya dipisah aja ya, jangan dicampur."

"Okeee..."

Sambil Bang Misar itu menyiapkan sambelnya, dia kembali mengajakku mengobrol sebentar.

"Neng, anak Neng namanya siapa ya? Saya lupa..."

"Namanya Harum Bang." jawabku.

"Oooh... Iya-iya, Harum."

"Kenapa emangnya Bang?"

"Gak apa-apa Neng. Cuma Abang agak penasaran aja."

"Penasaran kenapa Bang?"

"Ya penasaran aja sama sejarahnya anak si Neng. Soalnya kan orang sini tau, kalo Neng Nisa ini belom nikah, terus dua tahun ke belakang, tiba-tiba punya anak aja. Mana udah gede lagi. Hehehe..." jelasnya.

"Oooh gituuu... Sejarahnya panjang Bang kalo saya ceritain, hehehe..." responku.

Akhirnya, tiga bungkus bakso yang ku pesan sudah siap.

Aku langsung membuka tas, mengeluarkan dompet, langsung memberikan uang padanya.

Sambil Bang Misar itu menghitung kembalianku, ia kembali memancingku dengan bertanya.

"Emang si Harum itu beneran anak yatim piatu ya Neng? Neng ketemu sama dia dimana sih sebenernya?"

"Emmm, iya Bang. Dia anak yatim piatu. Saya ketemu pertama kali pas waktu dulu itu, pas saya masih kerja di Kediri Bang." jelasku.

Bang Misar pun mengangguk, sambil menyerahkan uang kembalian padaku.

"Makasih ya Neng." katanya.

"Iya Bang, makasih juga. Mari Bang, saya pulang ya..."

"Iya Neng..."

Akhirnya aku kembali melanjutkan perjalanan menuju rumahku.

Sambil langkah kaki ini diiringi dengan suara-suara orang yang membaca sholawat di musholla dan masjid, yang sudah menjadi kebiasaan di desaku ini setiap menjelang Maghrib.

Dan aku semakin mempercepat langkah, saat sudah terdengar suara lantunan adzan dari segala penjuru desaku.

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!