WARNING!
INI NOVEL DEWASA!
~banyak kata umpatan
~banyak adegan kekerasan (menyebabkan ngilu, serangan panik, pingsan dan kepikiran author tidak bertanggungjawab)
~banyak adegan percintaan
~harap menanggapi kisah ini dengan bijak
***
Seorang wanita yang lupa ingatan. Lupa akan masa lalunya. Terperangkap dan terjerumus dalam kehidupan barunya sebagai seorang mafia kelas dunia.
Dilatih oleh para orang-orang buangan yang menaruh dendam kepada Pemerintah. Siapa sangka dirinya akan menjadi Ratu di Kerajaan Mafia.
Penyiksaan, penghianatan dan dendam praktis mengubah Lily yang dulunya ceria dan lemah lembut berubah menjadi wanita berdarah dingin yang kejam tanpa belas kasih.
Menyamar menjadi seorang bodyguard boyband terkenal asal Korea Selatan. Lily menemukan jalan ke masa lalunya.
Diburu Polisi dan Pemerintah seluruh dunia serta dianggap sebagai penjahat perang karena aksinya yang selalu melibatkan pihak militer.
Orang-orang dari masa lalunya datang mencoba mengembalikan Lily ke kehidupan lamanya setelah mengetahui dirinya menjadi seorang mafia.
Akankah Lily kembali ke kehidupan masa lalunya ataukah tetap memilih menjadi seorang mafia?
~Dan.. jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada penulis ya.
Karena ini masih novel pertama, maafkan jika ceritanya sedikit naif seperti penulisnya, hehe😁
Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komen postif agar penulis makin semangat dalam berkarya. Terima kasih😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lelevil Lelesan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan 13 Demon Heads*
Matahari mulai menyingsing. Sinarnya perlahan masuk menembus sela-sela dinding gudang penyimpanan ganja yang berada di kawasan mansion Tuan Ho.
Terlihat tumpukan ganja-ganja kering yang sudah dikemas dan beberapa sudah diolah menjadi rokok kemasan tersusun rapi di dalam gudang itu.
Lily masih tertidur di salah satu tumpukan kemasan ganja yang belum diikat. Perlahan Lily menggerakkan tubuhnya dia merasakan tangan kanannya agak sedikit kaku.
Dia mengangkat tinggi tangannya agar terlihat dari matanya yang masih sayup-sayup menahan ngantuk.
"Ini ... ini darah Remon," ucap Lily lirih.
Darah itu sudah mengering ditangannya. Lily merasa ada yang memperhatikannya sedari tadi. Lily menoleh dan dilihatnya Tuan Ho duduk di kursi kayu menatapnya dengan sendu.
Lily terkejut dan segera bangun dari tumpukan ganja yang menjadi ranjang tidurnya semalam. Dia duduk dengan lesu. Tuan Ho menatapnya. Mereka berbicara dalam bahasa Inggris.
"Why do you sleep here?" tanya Tuan Ho pelan.
"Aku tak mau kembali ke kamar itu," ucap Lily dengan kepala tertunduk. Dia harus menjawab semua pertanyaan Tuan Ho karena begitu yang ditulis dalam kontrak.
"Tapi, sudah tak ada kamar lagi disini," ucap Tuan Ho jujur.
"Aku bisa tidur dimana saja. Tak usah khawatir," ucap Lily mulai berdiri dan menggosok matanya. Tuan Ho masih terdiam dan berfikir.
"Ikut aku. Masih ada 1 kamar yang bisa kau tempati," pinta Tuan Ho seraya berdiri dan berjalan menuju pintu keluar gudang. Lily pun mengikutinya.
Mereka pergi memasuki mansion menuju ke arah kolam renang. Terlihat sebuah anak tangga di samping kolam renang itu. Tuan Ho berjalan menaiki anak tangga itu secara perlahan.
Terlihat sebuah ruangan yang cukup besar dengan balkon di depannya. Pemandangan laut terlihat dari teras balkon. Ada kursi ayun dari anyaman dan sebuah meja kecil disudut teras. Tuan Ho membuka pintu tersebut. Dia mengajak Lily masuk.
Sebuah kamar yang sangat besar dan mewah. Kamar itu terlihat bersih karena tak ada debu yang menempel pada perabotan di dalamnya tapi seperti sudah lama tidak digunakan. Ada nuansa feminim disini.
Sebuah meja rias, ruangan ganti dengan almari berisi baju-baju bermerek yang digantung rapi beserta aksesoris dan produk fashion lainnya.
Sebuah kamar mandi dalam yang mewah dengan bathtub. Terdapat ruangan kecil dengan sebuah sofa panjang, meja kecil dan rak berisi buku tersusun rapi. Ruangan itu menghadap ke arah laut dengan kaca transparant menghadangnya.
"Kau bisa menggunakan kamar ini jika kau mau," ucap Tuan Ho lirih.
"Kamar siapa ini? Salah satu wanitamu?" tanya Lily ketus.
"Bukan. Kamar mantan isteriku," ucap Tuan Ho dengan tatapan sendu terlihat di wajahnya. Lily hanya diam saja.
"Tapi jika kau tidak mau ...," ucapan Tuan Ho terpotong.
"Aku mau. Aku akan tinggal di kamar ini," sahut Lily cepat.
Tuan Ho tak mengira bahwa Lily mau memakai kamar bekas mantan isterinya.
"Akan kusuruh bodyguard membawa perlengkapanmu kemari," ucap Tuan Ho sambil menoleh ke arah Lily.
"Ya, terima kasih," jawab Lily singkat sembari berjalan dan melepaskan sepatu boots-nya. Dia berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan berlumuran darah yang sudah mengering.
Lily menggosoknya berulang kali dengan keras tapi bekas itu masih ada. Lily mulai terlihat kesal dan berlinang air mata. Tuan Ho menghampirinya.
Dia menyalakan air hangat, menutup lubang air dan membiarkan air menggenang. Dia mencelupkan tangan Lily dalam rendaman air hangat itu.
Tuan Ho meneteskan cairan sabun ke tangannya dan menggosoknya hingga berbusa. Dia meraih tangan Lily dan membantunya membersihkan. Lily hanya terdiam.
Hatinya sudah terlalu lelah untuk melawan. Darah ditangan Lily sudah menghilang. Tuan Ho membilasnya dan memberikan handuk kering ditangan Lily.
Lily hanya diam saja dan tertunduk tak mau melihat wajah Tuan Ho. Tuan Ho menatap Lily dengan syahdu.
"Lily. Apa benar kau membenciku?" tanya Tuan Ho ingin tahu.
Lily menganggukan kepalanya. Tuan Ho tak menyangka jika Lily akan mengakuinya. Tuan Ho terlihat sedih. Dia berpaling dari Lily menuju pintu keluar.
"Kau bersihkan diri dulu. Setelah itu temui aku di kantor. Ada yang ingin ku bicarakan," ucap Tuan Ho datar.
"Aku mengerti," jawab Lily singkat. Tuan Ho pun segera menutup pintu dan pergi.
Tuan Ho sudah berada di ruangannya bersama Martin. Dia sedang mengurus banyak dokumen karena peningkatan jumlah produksi yang mengakibatkan banyak permintaan tambahan untuk pengiriman dalam jumlah banyak ke pemasok ilegal pembeli ganjanya.
Seseorang mengetuk pintu. Terlihat Lily sudah datang dengan stelan putihnya seperti biasa. Martin menyambutnya dengan tersenyum, Lily pun membalasnya. Tuan Ho mempersilakan Lily duduk di sofa dan Martin di sebelahnya.
Mereka berbicara dalam bahasa Spanyol.
"Lily aku ucapkan terima kasih. Metodemu dan kerja kerasmu membuahkan hasil yang menguntungkan. Aku kagum," ucap Tuan Ho dengan tersenyum.
Lily duduk menyilang dengan tangan berada di lututnya. Dia terlihat anggun. Lily tersenyum tipis.
"Jadi apa bonusku?" ucap Lily terang-terangan. Martin hanya tersenyum kecut.
Lily sangat blak-blakan, tapi wanita ini memang sangat berbakat dalam segala hal. Pantas dijadikan tangan kanan Tuan Ho, ucap Martin dalam hati.
Tuan Ho mengeluarkan sebuah koper kecil hitam dan menaruhnya di atas meja. Dia membukanya dan memperlihatkan kepada Lily. $50.000 dollar Amerika isi dalam koper itu sekitar 700 jutaan jika dirupiahkan.
"Ambilah ini untukmu. Kau pantas mendapatkanya," ucap Tuan Ho dengan tersenyum dan menyenderkan punggungnya.
Lily berdiri dan mendekati koper itu. Dia meraba tumpukan uang-uang itu. Dia tersenyum miring dan menutupnya. Dia menatap Tuan Ho dan mengucapkan terima kasih. Tuan Ho mengangguk dengan tersenyum.
"Ternyata Nona Lily juga suka uang," ucap Martin meledek.
"Wanita juga butuh makan, Bung," jawab Lily dengan senyum sinis. Martin hanya menggelengkan kepala. Tuan Ho berbicara padanya
"Lily. Minggu depan ambilah cuti. Pergilah berlibur kemanapun yang kau mau selama 3 hari. Setelah itu kembalilah kesini," ucap Tuan Ho tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Lily heran.
Tumben-tumbennya si Ho nyuruh gue pergi. Ada yang gak beres, batin Lily.
"Sebagai bonus tambahan karena kau sudah bekerja keras," ucap Ho santai.
Yesss! Meskipun gue akuin benci banget sama dia tapi okelah. Gue emang butuh liburan, ucap Lily dalam hati.
"Bagaimana jika aku kembali ke The Grey House?" tanya Lily.
"Tidak bisa. Jika kau kesana kau tak akan kembali kesini lagi. Aku tak izinkan!" jawab Ho marah.
Grey House? Bukankah itu kediaman Komandan Zeno? batin Martin.
"Baiklah. Akan aku pikirkan akan pergi ke mana," ucap Lily dengan wajah sebal.
Tuan Ho memperhatikan perubahan pada wajah Lily.
"Dia masih sama. Belum berubah seutuhnya. Syukurlah," ucap Tuan Ho dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu. Bodyguard Tuan Ho masuk.
"Tuan Ho. Ada tamu. Nyonya Evelyn," ucap bodyguard itu. Tiba-tiba, Tuan Ho dan Martin langsung berdiri.
Nyonya Evelyn masuk ke dalam ruangan. Seorang wanita yang kira-kira seumuran dengan Nyonya Rose. Berambut pirang panjang, berhidung mancung, berbadan ramping seperti seorang supermodel senior, bermata tajam dengan bibir tebal dengan lipstik nude yang selaras dengan make up-nya.
Dia terlihat elegan dan cantik untuk wanita berusia 50 tahunan. Memakai stelan jas seperti Lily tapi berwarna keemasan dengan high heels berwarna cokelat.
Dia tersenyum melihat Tuan Ho. Pria tampan itupun segera menghampirinya dan bersalaman dengannya. Terlihat Ho begitu senang bertemu wanita itu. Mereka berbicara dalam bahasa Inggris.
"Hallo Ho. How are you?" ucap Nyonya Evelyn dengan mengelus pipi kanan Tuan Ho sambil tersenyum.
"I am fine, Aunty. How are you?" tanya Ho dengan senyum merekah di wajahnya.
Aunty? Jangan-jangan.. wanita ini. Isteri Tuan Charles? batin Lily.
Terlihat Tuan Ho asyik mengobrol dengan bibinya. Lily hanya memandangnya dari kejauhan.
Tiba-tiba, Nyonya Evelyn melirik ke arah Lily. Dia mendekatinya perlahan dan memutarinya. Lily hanya diam saja mengamati Nyonya Evelyn.
"Ho. Aku tidak tahu kau memiliki wanita seperti dia. Dia berbeda dengan yang lainnya," ucap Nyonya Evelyn heran.
"Saya pernah mendengar hal itu sebelumnya, tapi saya bukan wanitanya Tuan Ho. Saya salah satu agen yang bertugas disini. Nama saya Lily," ucap Lily menjelaskan dengan perlahan.
Terlihat Nyonya Evelyn terkejut mendengar ucapan Lily.
"Benarkah? Kau wanita pertama yang menjadi agen Ho selama bertahun-tahun dia bekerja dalam bisnis ini. Apakah ... Charles yang memilihmu?" tanya Nyonya Evelyn memastikan.
"Benar Nyonya," jawab Lily sambil mengangguk.
Terlihat ekspresi Nyonya Evelyn kagum.
"Luar biasa. Ini jarang terjadi. Pasti kau melakukan hal hebat diluar sana hingga Charles bisa memilihmu," ucap Nyonya Evelyn memuji.
"Ya bibi. Dia barusaja menaikkan pendapatanku 10% dalam 3 bulan. Tahun ini sepertinya akan menjadi tahun keberuntungan untukku," ucap Ho menambahkan.
Nyonya Evelyn melihat Lily dengan kagum.
Menarik ... sungguh menarik, batinnya. Nyonya Evelyn terdiam sejenak. Dia memikirkan sesuatu.
"Ho. Aku ada pameran peragaan busana di Paris seminggu lagi. Beny mengundangku. Kebetulan asistenku sedang tak bisa menemaniku. Apakah Lily bisa ikut denganku, menggantikannya?" tanya Nyonya Evelyn meminta.
"Tentu saja. Kau datang di saat yang tepat. Lily memang butuh liburan. Pergilah bersamanya. Dia sangat bisa diandalkan," ucap Tuan Ho memuji.
Asiikkk!! Paris!! Oh my god. Aku memang udah lama banget pengen kesana! Kesampaian juga! batin Lily dengan senang.
"Jadi bagaimana, Lily? Kau mau ikut denganku?" tanya Nyonya Evelyn memastikan.
"Sure." Lily menjawabnya dengan senyum yang lebar.
Lily terlihat sangat senang. Tuan Ho dan Martin hanya saling memandang. Sudah lama Lily tidak memperlihatkan wajah cerianya seperti ini.
"Jika tak ada lagi yang dibicarakan saya mohon diri dulu," Lily pamit meninggalkankan ruangan dengan membawa tas berisi uang dari Tuan Ho.
Nyonya Evelyn memperhatikan cara berjalan Lily dengan seksama.
"Ho. Sepertinya Lily lebih cocok menjadi supermodel ketimbang agenmu," ucap Nyonya Evelyn serius.
Sontak Tuan Ho dan Martin terkejut.
"Apa maksudmu, Bibi?" tanya Ho bingung.
"Kau lihat cara dia berjalan? Cara dia membawa tas itu? Cara dia bersikap? Hanya seorang supermodel yang berperilaku seperti itu. Aku penasaran, bagaimana aksinya jika dia memakai gaun," ucap Nyonya Evelyn dengan senyum licik muncul di wajahnya. Tuan Ho dan Martin hanya saling memandang.
Tak terasa sudah hampir seminggu. Nyonya Evelyn pun pergi bersama Lily ke Paris untuk menghadiri pagelaran Fashion Show disana.
Setelah kepergian Lily. Tuan Ho segera mengumpulkan 9 agen dan Martin di kantornya. Mereka berbicara dalam bahasa Spanyol.
"Kalian sudah tahu kan. 2 hari lagi akan diadakan Jamuan 13 Demon Heads di Mansion ini?" tanya Tuan Ho serius. Para agen pun mengangguk.
"Aku sudah mengamankan Lily. Dia bersama bibiku Nyonya Evelyn, seharusnya dia akan baik-baik saja." ucap Ho menambahkan.
Martin terlihat bingung.
Apa hubungannya Lily dengan 13 Demon Heads? batin Martin.
Karena sampai sekarang, Martin tidak tahu bahwa Lily anak dari Komandan Zeno. Dia hanya berfikir Lily hanya seorang agen biasa sama seperti yang lain.
"Jadi apa perintah Anda, Tuan Ho?" tanya Agen S.
"Ketigabelas dewan akan datang ke sini dalam waktu 2 hari mulai dari sekarang. Kalian amankan penjemputan. Bawa mereka kemari dengan selamat. Martin yang akan mengurus pestanya. Pesta akan dilaksanakan di ballroom lantai dasar. Perketat keamanan. Suap para polisi koruptor agar bekerjasama dengan kita. Kalian mengerti?" ucap Tuan Ho memberikan instruksi.
Para Agen dan Martin mengangguk.
"Bagus. Dan liburkan para pekerja kebun. Sisakan karyawan utama. Kita akan memamerkan hasil karya kita. Akan kubuat iri si Sutejo itu. Dia selalu membuat gara-gara. Orang tua yang menyebalkan," ucap Tuan Ho dengan kesal.
"M dan X kau bertugas mengamankan penjemputan ketigabelas dewan. S, kau urusi para pekerja yang akan diliburkan dan siapkan materi untuk pameran kita. V dan W, kalian urus para polisi koruptor itu, aku tak mau mereka bikin masalah."
"J dan O perketat keamanan selama acara jamuan, K dan C siapkan menu utama kita, berikan ganja terbaik yang kita punya dan biarkan mereka menikmatinya. Dan Martin. Siapkan pestanya, buat semeriah mungkin." tutup Tuan Ho dengan seringainya.
"Kami mengerti." Tegas para agen.
Segera mereka menyiapkan hal-hal yang diperintahkan oleh Tuan Ho. Martin juga bergegas pergi untuk menyiapkan pestanya. Terlihat Tuan Ho duduk dengan tertunduk memikirkan sesuatu.
"Semoga dia tak bertemu dengannya," ucap Tuan Ho lirih.
Dan acara jamuan yang dinanti-nanti pun telah tiba. Jam 5 sore M dan X sudah siap di hanggar menjemput para dewan yang telah tiba. Mobil-mobil berkelas sudah disipakan.
Para bodyguard dan petugas keamanan sudah berada disana untuk mengamankan para dewan yang akan menuju ke mansion secara bergantian.
Mereka datang dengan jet pribadi masing-masing. Beberapa dari mereka yang sudah datang dikawal menuju mansion. Belum terlihat kedatangan Komandan Zeno ataupun Nyonya Rose.
Di mansion sudah mulai ramai. Tuan Ho menyambut para tamu. Acara jamuan ini diselenggarakan setiap 3 tahun sekali dengan tempat yang berpindah-pindah agar polisi tak bisa melacak mereka.
Acara ini diselenggarakan untuk berdiskusi dan membicarakan langkah-langkah yang harus dihadapi untuk mengantisipasi serangan dari pihak Pemerintah maupun polisi dan tentu saja memamerkan perkembangan bisnis, kekayaan, kekuasaan mereka dengan angkuh dan sombong.
Terlihat, Tuan Ho membawa ketiga wanitanya untuk menyambut para tamu. Bagi Tuan Ho, para wanitanya ini hanya dia manfaatkan sebagai penerima tamu dan bersenang-senang.
Tak ada niatan sama sekali untuk menikahinya tapi para wanita ini tak pernah tahu kalau Tuan Ho hanya memanfaatkan mereka.
Dengan sedikit uang dan perhiasan berkilau dengan mudah para wanita ini ditaklukkan. Bagi Tuan Ho, semua wanita itu sama saja, gila harta dan senang hidup bersosialita.
Terlihat 10 anggota dewan dari 13 Demon Heads sudah datang. Merekapun mulai saling menyapa dan berbincang. Terlihat suasana yang sedikit tegang karena ini perkumpulan mafia kelas dunia.
Mereka terbagi dari beberapa negara. Amerika, Inggris, Rusia, Jerman, China, Korea Utara, Jepang, Brazil, Colombia, Honduras, Mexico, dan Indonesia.
Setiap dewan membawa bodyguard masing-masing dan teman wanitanya. Ketika mereka sedang asyik mengobrol tiba-tiba Nyonya Evelyn datang bersama Lily. Nyonya Evelyn mendampingi Tuan Charles selaku ketua 13 Demon Heads.
Tuan Ho dan ke 9 Agen terkejut. Kenapa Nona Lily harus kembali di saat berbahaya seperti ini??
------------
ILUSTRASI NYONYA EVELYN
SOURCE : PINTEREST