Novel pertama! Harap Bijak dalam membaca.
Maafkan jika author mempunyai banyak kesalahan dalam menulis terutama Typo.
Nathan pria yang sudah lama melajang dan bahkan tidak ingin dekat dengan wanita, kini semuanya berubah, dalam waktu satu hari ia bertemu dengan seorang gadis yang satu kampus dengannya langsung di buat takluk oleh nya, akankah Nathan akan menjadikan nya seorang kekasih? sedangkan derajat dan kehidupan mereka jauh jika di bandingkan.
Jhonatan Fernando keturunan dari keluarga Fernando group serta pewaris tunggal kaya raya, pemilik sekolah yang elit dikotanya ia tidak menerima penolakan jika ia berkehendak.Harus menjadi nomor satu dalam bidang apapun membuat ia bersemangat untuk menyaingi semua musuhnya.
Alya Allexander
Gadis piatu yang hanya tinggal bersama ayahnya di sebuah rumah yang bisa juga di bilang tidak terlalu mewah.Ayahnya terpaksa menyembunyikan identitasnya agar teman teman Alya tidak mengetahui bahwa ia guru kesenian di sekolah.
Yuuukk ikuti kisah nyaa!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _Nataliee💋🌹, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Dorr!!
Dorr!!
Peluru melesat ke dinding hampir mengenai telinga Leon. Nathan berbalik dan memainkan senjata api nya. Nathan menyeringai melihat Leon diam tak berkutik. Ia memainkan senjata api nya di depan wajah.
"Apa alasan mu mendekati Kekasihku? Apakah ada sebuah misi di balik permainan ini?" Tanya Nathan tanpa basa basi, Nathan sudah lama mendiamkan tingkah Leon selama ini. Ia sudah mengetahuinya tanpa pemberitahuan Devan dan Fian.
Leon menoleh dan tersenyum miring, ia menaikkan sebelah alisnya. "Aku mendekatinya karena aku menyukainya,kenapa?Cemburu?" kata Leon terkekeh.
Nathan mengeraskan rahangnya wajahnya memerah menahan amarah, Membunuh secara langsung bukanlah tindakan yang bagus menurutnya,Nathan memasukan senjata api nya ke dalam jaket, kemudian berlari mendekati Leon dan memukul serta menendangnya dengan keras, Terjadilah perkelahian di dalam gudang yang kedap suara itu.
"Aku sudah lama mendiamkan mu, tapi semakin kesini kau semakin jurang ajar saja, mau kubunuh sekarang?" Tanya Nathan sambil mencengkram kerah baju Leon.
Leon terkekeh sambil meringis menahan sakit akibat pukulan yang Nathan berikan. Bagian bibirnya robek dan mengeluarkan banyak darah.
"Mau membunuhku? kenapa tidak dari tadi? bukankah kau sudah memegang senjata api?" kata Leon yang masih berbaring di bawah Nathan.
"Arrgghh"
Nathan berteriak keras kemudian membanting Kerah baju Leon, ia berdiri dan kembali mengeluarkan Senjata api dari balik jaketnya.
"Baiklah, kau sendiri yang memintanya, Apa ada kata kata terakhir yang ingin kau sampaikan?" Nathan berjongkok sambil menodongkan senjata api nya ke dahi Leon.
Leon tergulai lemas di lantai, darah sudah mengalir di sudut bibirnya. Hampir saja dia pingsan tetapi Nathan dengan kuat mencengkram dagu nya sehingga membuat Leon kembali bangun meringis.
"Ckk lemah sekali! baru beberapa pukulan kau sudah seperti ini"
"Huhhfff baiklah tidak ada yang ingin di sampaikan? akan aku lakukan dengan senang hati."
Nathan tersenyum menyeringai seperti iblis, Fian yang melihatnya di balik jendela langsung melangkahkan kakinya ikut masuk kedalam gudang yang kedap suara itu.
"Sepertinya ini bukanlah cara yang tepat kawan" Kata Fian yang baru saja datang ia langsung menghampiri Nathan dan merangkul pundaknya. Membuat Nathan mengerutkan dahi dan menoleh.
"Kenapa kau mengikuti? nanti jika Alya curiga bagaimana?" tanya Nathan dengan nafas yang masih memburu, tatapan matanya sangat tajam seperti elang yang sedang menemukan mangsa.
"Tenang saja, soal itu Devan sudah mengurusnya, dan tadi juga ada Chatrine, sebaiknya kau tenangkan pikiranmu ingat!! jangan gegabah dalam mengambil tindakan!" Nasihat dari Fian, Nathan dengarkan, ia menganggukkan kepala kemudian mengatur nafasnya.
"Untuk sekarang kau selamat, tapi jika sampai aku mengetahuinya lagi siap siap nyawamu akan melayang!!" Ancam Nathan menatap tajam Leon.
Kemudian Fian dan Nathan langsung keluar dari gudang, mereka ke toilet terlebih dahulu untuk menghilangkan bekas darah yang ada di tangan Nathan.
...****...
Di sisi lain saat ini Freya, Alya, Devan dan Chatrine duduk santai di kantin sembari mengunyah cemilan yang mereka beli di kantin. Devan hanya diam tak bersuara untuk saat ini ia hanya mengamati pembicaraan para gadis di depannya sekarang. Pikiran Devan masih beralih ke Fian dan Nathan saat ini yang setahunya masih berada di gudang.
"Kak Devan kau tidak mau ini?" tanya Chatrine menawarkan cemilan, Devan menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Aku alergi memakannya." Kata Devan menolak halus dengan makanan yang di berikan Chatrine.
Sesaat Freya tertawa keras meremehkan Devan ia sudah tau tentang makanan dan minuman yang di sukai Devan bahkan yang tidak di sukainya. Terbesit di pikiran Freya untuk mengerjainya, tetapi ini bukanlah saat yang tepat pikirnya.
"Sama udang saja Alergi, Ckk dasar pria Lemah hahaha" Cibir Freya sambil tertawa ngakak. Tetapi cibiran itu bukan membuat Devan kesal, Devan malah diam dan pokus pada tawa Freya. Devan tidak ingin menunjukkan ekspresinya, ia hanya menampilkan wajah datarnya saja.
"Oh Shitt..dia terlihat begitu manis saat tertawa" Kata Devan dalam hati.
Devan hanya memberi tatapan tajam pada Freya, kemudian menghela nafas dalam. Sampai saatnya ia merasa Bahu nya di tepuk seseorang dari samping, Devan menoleh.
"Kau rupanya" Kata Devan kembali menyandarkan tubuhnya di kursi kantin.
...Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak📍
please please please...... up dong kk thor
lma gak ada britanya, jdi patah hati...😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
sampai jamuran aku nunggunya 😅
buat kk thor jga kshtan, sukses n sehat sllu kk....... 😘😘😘😘
dtunggu klnjutan nathan n alya
hdiah hdiah hdia buat kk..... 🌹
lnjut lnjut lnjut lnjut