NovelToon NovelToon
Pria Kedua

Pria Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Patahhati / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Janda / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.


"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.

"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Itu kamu

Yeri yang memang pada dasarnya adalah orang ceria, selalu bisa membuat suasana gembira. Tanpa sungkan dan canggung, dia berbicara dengan dua pria itu. Berbeda dengan Aira yang sedikit bicara. Dia menyuap pelan-pelan makanannya.

"Makan yang banyak, Ai," ujar Ibrar pelan. Aira mendongak. Sedikit terkejut. Namun kemudian mengangguk.

"Kalian ini ... Seperti di jodohkan saja. Bicara dengan riang gembira, dong. Masa suasana pengantin baru muram begini," celetuk Yuta tidak tahu diri. Itu wajar karena pria ini tidak tahu menahu soal mereka berdua. Ibrar dan Yeri langsung menoleh pada Yuta bersamaan. Sementara Aira yang menyendok makanan, menoleh sebentar dan tersenyum samar.

"Hei, aku kan bercanda. Kenapa suasana berubah jadi tegang, sih." Yuta tertawa canggung melihat semuanya diam. Yeri pun akhirnya ikut tertawa demi menyembunyikan fakta di balik pernikahan pak Ibrar dengan Aira. Sementara Aira diam.

"Bercandamu lumayan," kata Ibrar berusaha menanggapi.

"Pak Yuta ini memang jagonya bercanda. Iya, kan Aira?" Yeri berusaha menetralkan suasana. Aira tersenyum.

"Sudah di beritahu oleh Arden?" tanya Yuta sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

Ibrar yang sejak tadi melihat ke arah Aira segera menolehkan kepala ke Yuta. "Soal apa?"

"Perubahan manajer di market."

"Lagi?"

"Ini pertama kalinya." Yuta menyeruput jus di depannya.

"Yang kedua setelah aku."

"Ya, ya, ya ... Kamu benar. Ini yang kedua setelah ada manajer MB baru, yaitu kamu." Yuta menunjuk Ibrar dengan sendoknya. "Namun kali ini berbeda dengan adanya kamu."

"Apanya yang berbeda?"

"Manajer lama melakukan pencurangan. Jadi citra pergantian ini jelas berbeda." Yuta menjelaskan. Ibrar sempat mendengar soal kecurangan manajer market dari Arden selaku pemilik mall. Namun dia belum mendengar soal penggantinya. "Sepertinya kali ini juga bukan orang sembarangan," imbuh Yuta dengan mulut masih penuh makanan.

"Pilihan Arden seringkali tepat." Ibrar berpendapat.

"Kamu sedang memuji dirimu sendiri, Brar?" ejek Yuta.

"Oh, ya?" sahut Ibrar tidak peduli.

"Jelas saja Aira terpikat padamu. Mungkin bukan karena wajah dan tubuhmu, tapi lidahmu yang pandai memuji diri sendiri. Aku tahu kali ini trikmu." Yuta mengatakan ini sambil menunjuk ke arah Ibrar. Hanya bercanda. Namun Ibrar perlu pembelaan juga.

"Aku tidak seperti itu," bantah Ibrar dengan wajah datar. Khas pria dingin.

"Jangan terlalu percaya dengan kata-katanya Ai. Suamimu ini belum tentu benar perkataannya," ujar pak Yuta lagi. Yeri seperti sedang menggerutu karena Yuta selalu menyebutkan nama Aira di dalam perbincangannya. Ibrar menoleh pada Aira dengan cepat.

"Benar. Aku tidak harus percaya pada kata-kata Ibrar," ujar Aira yang di tanggapi Pak Yuta dengan tertawa karena merasa dia punya sekutu untuk menjatuhkan Ibrar. Namun bagi Yeri dan Ibrar ini adalah hal serius. Saat ini Aira masih belum percaya dengan Ibrar. Wanita ini masih terbelenggu dengan pernikahan pertama yang melukainya. Mereka hanya mampu menghela napas.

Aira keluar dari kamar dan mendapati Ibrar duduk di depan tv. Kaki Aira melangkah menuju dapur. Mencari sesuatu. Dia kelaparan. Cuaca di luar tidak mendukung. Hujan lebat dan angin. Dia mendapatkan mie instan di salah satu rak. Hanya satu. Ada banyak bahan masakan di lemari pendingin, tapi dia enggan memasak.

Tangan Aira mengambil panci berwarna hijau mint. Warna yang sungguh feminim bagi Ibrar. Namun Aira tidak perlu bertanya darimana Ibrar mendapat ide punya perabot yang identik dengan wanita itu. Menyalakan kompor untuk memasak air. Suara ini membuat Ibrar menoleh ke arahnya.

"Kamu lapar?" tanya Ibrar.

"Hanya ingin makan mie saja," sahut Aira kemudian duduk dan menunggu air mendidih. Wanita ini tidak tahu bahwa Ibrar tengah memperhatikannya. Hingga saat Aira menuangkan air ke dalam mangkuk, bibir panci terantuk pinggiran mangkuk dan menyebabkan riak di dalam panci. Air itu menciprat dan mengenai punggung tangan Aira.

"Aw!!" rintih Aira.

"Ai!" teriak Ibrar yang hampir bersamaan dengan rintihan Aira. Ibrar langsung melesat menuju tempat wanita itu berdiri. Aira bisa mengendalikan keterkejutannya karena cipratan air panas yang mengenai punggung tangannya. Untung saja dia tidak melepas panci itu hingga membuat lukanya parah. Kini panci itu sudah tenang di atas meja. Namun Aira masih mendesis kesakitan.

"Aku lihat," ujar Ibrar segera meraih tangan Aira. Wanita ini terkejut dan ingin menarik tangannya. Namun tangan Ibrar lebih kuat. "Ku mohon diamlah. Ini akan menjadi luka serius jika kamu tidak segera menanganinya," pinta Ibrar tanpa menoleh pada Aira.

"Mendekatlah. Aku akan membasuh punggung tanganmu." Aira hanya diam mengikuti permintaan laki-laki ini. Mereka berdua melangkah dan menuju kran air. Meletakkan punggung tangan Aira di bawah kran. Lalu menyalakan kran dan mendinginkan area yang kena air panas di bawah air mengalir. "Untung saja ini tidak parah."

"Sudah aku katakan aku tidak apa-apa, Brar."

"Kamu akan tetap baik-baik saja meskipun punggung tanganmu meleleh. Itu kamu Ai." Untuk kalimat terakhir, Ibrar mengatakannya seraya menoleh. Memandang Aira dari jarak dekat karena tangan mereka merapat. Aira diam. "Kamu tidak akan mengeluh pada orang lain seberapa sakitnya kamu karena itu memang dirimu." Aira menundukkan pandangan ke arah tangannya yang terus saja tersiram oleh air yang mengalir.

"Sampai kapan tanganku akan di basuh?" tanya Aira.

"Tidak lama. Sebentar lagi selesai." Setelah mendapat jawaban dari Ibrar, Aira diam dan hanya memperhatikan tangannya yang di pegang Ibrar.

...----------------...

...----------------...

"Duduklah. Aku akan menuangkan kuah ke dalam mie." Ibrar menggantikan posisi Aira melakukan lanjutan membuat mie instan tadi. Setelah selesai, Ibrar menunjukkan mie instan kuah yang sudah siap untuk di sajikan. "Ini mungkin sedikit dingin. Apa sebaiknya ganti dengan makanan lain? Aku bisa memesankannya untukmu."

"Tidak apa-apa. Itu masih bisa di makan." Ibrar membawa mangkuk mie ke tempat di mana Aira duduk. "Terima kasih." Setelah meletakkan mangkuk mie, Ibrar tidak segera pergi sana. Dia justru duduk di kursi meja makan. "Kamu tidak pergi?" tanya Aira yang hendak mengangkat sendok jadi gagal.

"Makanlah. Biarkan aku di sini."

"Itu sedikit mengganggu, tapi terserah kamu," ucap Aira tidak peduli. Lalu dia melanjutkan makan mie yang tertunda.

"Benar. Semuanya terserah padaku. Kamu tidak perlu mempedulikanku jika tidak ingin." Ibrar menyahut.

"Sampai kapan kamu akan tetap menerima sikapku yang tidak peduli?" tanya Aira yang sedang mengaduk mie. Kebiasaan Aira jika makan mie. Dia akan terus saja mengaduk hingga mie itu habis.

"Sampai kamu benar-benar membuka hatimu padaku," jawab Ibrar tegas.

"Jangan berharap banyak. Itu akan menyakitimu." Untuk Ibrar kalimat Aira ini terdengar sangat hangat. Padahal Aira sendiri mengatakannya dengan dingin.

"Kamu takut aku sakit hati?" tanya Ibrar pelan. Namun karena duduk mereka berdekatan, pertanyaan itu jelas terdengar di gendang telinga Aira. Kepala wanita ini mendongak. Lalu memandang Ibrar yang juga sedang memandangnya.

"Bukan. Aku hanya memberimu gambaran bagaimana kelak jika kamu tetap bertahan denganku."

"Aku baik-baik saja, Ai. Kamu tidak perlu khawatir," ujar Ibrar membuat Aira menghela napas. Ibrar seperti tidak mendengarkan apa yang di katakannya. Pria itu tetap berpendirian teguh.

1
ione
/Smile//Smile/
Inah Ilham
sudah baca 30 episode baru nyadar klo ini karya lady_ Ve, pantes mc nya wanita muda yg tangguh
Lienda nasution
alah....ceritanya bertele tele thor
Tri Lestari Endah
Dari awal sampai disini ceritanya buat greget
banyak pelajaran yang di dapat

berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Latifah Latifah: setujuuu
total 1 replies
Ririnyulianti Yulianti
Luar biasa
Bang Juky
umur 16 si aira dah kerja ya
Anik kartin
banyak pesan moral yg disampaikan pada tiap tokohnya..semoga kita bisa belajar dr tiap kejadian dan mengambil hikmahnya...semangat kak untuk karya selanjutnya..
Anik kartin
bukan cinta....tapi DOSA
Yomita Hervina
agak aneh ibrar jg ngomong wanitaku saat di dpn yuta n wira jg jk ga salah.kl sdh sprti itu kesannya dia mmg pny affair dgn prmpuan tsb,kecuali kl itu dia lakukan di dpn org asing/bukan kenalan.
Sri Widjiastuti
tegas mu telat eros
Sri Widjiastuti
oalah nduk2 sdh tau rasanya jd pencuri. sekarang parno kecurian
Sri Widjiastuti
adakah sosok ibrar beneran, hari gini😇😇
Tiadayanglain
Betul tu nara
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Tiadayanglain
Kok aneh perempuan ni udah di sakitin tapi kok susah move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Tiadayanglain
Aneh kakak kok hri tu ibrar ngaku wanitaku
Tiadayanglain
Nah pelihara anak haram MU eros
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
seru_seruan
aku ngulang baca entah keberapa kalinya.
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?
Nurazmi Azmi
Kok nggak di cerita in Aira itu masih hamil apa keguguran ya, YG jelas dong Thor jangan bikin bingung
Adelia ZahrotusShifa
terus semangat berkarya thoooor
Sriza Juniarti
lanjut kk🥰💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!