NovelToon NovelToon
Warisan Kitab Inti Jagat

Warisan Kitab Inti Jagat

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:109.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Batuk Darah Nenek

Matahari baru saja tenggelam sepenuhnya di balik deretan gedung pencakar langit Jakarta ketika Mahesa menapakkan kakinya di gang sempit pemukiman padat penduduk. Bau air got yang menggenang dan aroma tumisan masakan dari rumah-rumah tetangga menyambut kepulangannya malam itu. Setelah seharian penuh menundukkan kepala dan mengayunkan kain pel di lantai dasar Graha Subroto, tubuh Mahesa terasa amat rontok. Namun, senyum tulus yang sempat hilang kini sengaja ia pasang kembali di wajahnya yang letih. Ia tidak ingin membawa aura kesedihan dari tempat kerja ke dalam rumah petak berukuran tiga kali empat meter yang disewanya.

Saat tangannya baru saja menyentuh selot pintu kayu yang sudah lapuk, sebuah suara batuk yang berat, kering, dan tertahan terdengar dari dalam. Dada Mahesa seketika berdesir linu. Ia mempercepat gerakannya, mendorong pintu hingga terbuka dengan derit pelan.

"Nenek? Mahesa pulang, Nek," sapa Mahesa dengan nada suara yang sengaja diceriakan, melangkah tergesa menuju satu-satunya ranjang kasur busa tipis yang ada di sudut ruangan.

Di atas kasur yang seprainya sudah memudar itu, seorang wanita tua bertubuh ringkih tampak sedang berusaha mendudukkan diri. Nenek rona wajahnya sangat pucat, dengan gurat-gurat keriput yang semakin tegas mengitari matanya yang sayu. Tangan tuanya yang gemetar memegang selembar kain jarik usang, menutupi mulutnya yang kembali bergetar karena serangan batuk berikutnya.

"Uhuk! Uhuk... Sa, kamu sudah pulang, Le?" tanya Nenek dengan suara yang teramat serak dan lemah, mencoba menyembunyikan rasa sakitnya di balik senyuman seorang nenek.

Mahesa segera berlutut di samping ranjang, mengambil alih kain jarik dari tangan sang nenek. Jantung pemuda itu rasanya seperti berhenti berdetak sesaat ketika melihat noda merah pekat yang membasahi kain tersebut. Batuk darahnya semakin parah dari hari kemarin.

"Nek, darahnya makin banyak ini. Kita ke puskesmas ya, Nek? Biar diperiksa sama dokter lagi," bujuk Mahesa dengan gurat kecemasan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan dari raut wajahnya.

Nenek perlahan menggelengkan kepala, menarik napasnya dengan sisa-sisa tenaga yang ada hingga dadanya tampak kembang kempis dengan berat. "Enggak usah, Sa. Nenek nggak apa-apa, cuma kecapekan aja sedikit. Lagian... obat yang kemarin kamu beli juga masih ada satu biji," tolak Nenek dengan lembut, mencoba menenangkan cucu semata wayangnya itu.

"Tapi obat yang itu cuma pereda nyeri, Nek. Bukan obat utama yang diresepin dokter spesialis bulan lalu," potong Mahesa dengan suara yang mulai bergetar, menatap nanar botol plastik kecil yang tergeletak kosong di atas meja kayu di sebelah kasur.

Nenek mengelus punggung tangan Mahesa yang kasar dengan jemarinya yang dingin. "Uangmu disimpan saja buat bayar kontrakan besok, Le. Nenek sudah tua, wajar kalau penyakitan begini. Jangan dipikirkan terus," bisik Nenek dengan nada pasrah yang justru membuat hati Mahesa semakin teriris-iris.

Mahesa membuang muka sejenak, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar air matanya tidak tumpah di hadapan sang nenek. Ia teringat kejadian sore tadi di kantor sebelum jam pulang. Kepala HRD memanggilnya ke ruangan hanya untuk memberitahukan bahwa gajinya bulan ini dipotong tiga puluh persen karena laporan fitnah dari supervisor, yang menuduh Mahesa telah menghilangkan satu set alat vakum premium. Padahal, Mahesa tahu betul alat itu dipinjam dan dirusak oleh karyawan lain, namun dirinya yang culun dan miskin selalu menjadi sasaran empuk untuk dijadikan kambing hitam.

"Nek, Mahesa sebenarnya... bulan ini gajinya nggak penuh," aku Mahesa akhirnya dengan suara yang teramat pelan, nyaris menyerupai bisikan di tengah keheningan malam.

Nenek terdiam sejenak, menatap cucunya dengan pandangan mata yang penuh rasa bersalah. "Dipotong lagi, Sa? Kok bisa, Le? Kamu ada salah kerjaan kah?" tanya Nenek dengan nada khawatir, mengusap kepala Mahesa yang tertunduk.

"Ada salah paham sedikit di kantor, Nek. Katanya ada alat yang rusak waktu jadwal piket Mahesa. Mahesa udah jelasin, tapi... tetap Mahesa yang harus tanggung jawab," jawab Mahesa tanpa berniat menceritakan detail bagaimana ia dimaki dan difitnah secara keji oleh atasannya sendiri. Ia tidak ingin menambah beban pikiran sang nenek.

Nenek menghela napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca menatap langit-langit rumah petak mereka yang bocor di beberapa sudut. "Gusti Allah... maafkan Nenek ya, Sa. Harusnya di umurmu yang sekarang, kamu bisa main, bisa kuliah, atau beli baju bagus kayak anak-anak lain. Tapi gara-gara Nenek yang sakitan begini, uangmu habis terus buat berobat," ratap Nenek dengan suara yang tersendat oleh isak tangis yang mulai pecah.

Mendengar ratapan itu, Mahesa langsung menggenggam kedua tangan neneknya dengan erat, menatap lurus ke dalam netra tua yang selalu menyayanginya sejak ia kehilangan kedua orang tuanya belasan tahun lalu. "Nenek jangan ngomong begitu! Mahesa nggak pernah ngerasa terbeban sama sekali. Mahesa kerja keras ya buat Nenek. Nenek itu satu-satunya keluarga yang Mahesa punya di dunia ini," tegas Mahesa dengan nada penuh komitmen, menyeka air mata yang mulai meleleh di pipi keriput neneknya.

Nenek tersenyum tipis, meski dadanya kembali terasa bergemuruh. "Uhuk! Uhuk... uhuk!" Perut wanita tua itu tampak terguncang hebat saat serangan batuk kembali datang dengan lebih bertenaga. Mahesa dengan sigap menggosok punggung neneknya, membantu memberikan rasa hangat. Ketika batuk itu mereda, setitik darah segar kembali keluar dari sudut bibir sang nenek.

"Nek, minum air hangat dulu ya," ujar Mahesa dengan cekatan mengambil segelas air putih dari atas meja, lalu menyuapkannya ke mulut neneknya dengan sangat hati-hati.

Setelah meminum beberapa teguk, napas Nenek mulai agak teratur, meskipun matanya tampak kuyu dan badannya terasa sangat lemas. "Terima kasih ya, Sa. Nenek mau tidur saja, badannya rasanya lelah sekali," pamit Nenek dengan suara yang semakin mengecil, perlahan merebahkan kembali tubuh ringkihnya ke atas bantal yang sudah menipis.

"Iya, Nek. Nenek istirahat ya. Mahesa ada di sebelah Nenek kok," sahut Mahesa sambil menarik selimut kain untuk menutupi tubuh tua tersebut hingga sebatas dada.

Mahesa terus duduk di lantai semen yang dingin, menunggui neneknya hingga terdengar deru napas halus yang menandakan wanita tua itu telah terlelap dalam tidurnya. Di bawah temaram lampu bohlam lima watt yang menguning, Mahesa memandangi wajah tidur neneknya dengan perasaan campur aduk. Rasa bersalah, amarah yang terpendam, serta ketidakberdayaan berbaur menjadi satu, menciptakan sesak yang luar biasa di dalam rongga dadanya.

Biaya obat tebusan untuk bulan depan jumlahnya hampir menyamai sisa gajinya yang sudah dipotong. Belum lagi tagihan pemilik kontrakan yang sudah tiga kali datang menagih dengan wajah ketus. Mahesa memijat pelipisnya yang terasa berdenyut kencang. Di dalam rumah petak yang sunyi itu, ia menyadari betul bahwa esok hari, ia harus kembali berdiri di lantai dasar Graha Subroto dengan kacamata tebalnya, menelan semua hinaan, dan bekerja dua kali lebih keras demi memperpanjang napas kehidupan sang nenek yang kian hari kian meredup.

1
Fatur
kayaknya author seorang profesional jomblo nih...🤣
Fatur
kritik dikit....biasanya kalo orang kaya banyak pelayan nya Thor...Alena kok malah dibiarin ga ada pelayan?
Fatur
thor.. lompatan ceritanya kecepetan, proses Jadi ga alami
Fatur
bagus....👍...susunan kata dalam kalimatnya pas..
Muhamad Hasbi
maklum,, author juga manusia, jadi wajar kalo lupa jalan cerita nya, hehe
pauzi aja
aq l8at judilnya,,JUDUL CERITANYA JADI BODIGAT ,ya sdh malas bacanya sdh ega bagus masah sdh d hina masih aja jadi bodigat,trs tumbuh cinta ,dasar babi anji lu tor babi.
pauzi aja
goblok berhenti aja ,knpa mcnya d bikin goblok sih
Edi Sulaiman
cerita bagus namun dengan mc kita tdk perlu dibuat misterius dan culun, mc harus ter ekspos buat yg ngebaca plong, oke thor semangat..
Attax Hamzah
an... ng tambah parah ini cerita. ini bukan bodyguard tapi babu. thor kayaknya tdk ada harga dirinya👎👎👎
Attax Hamzah
ceri lelet apaan ilmu padi itu harga diri bro. emang MC tdk punya harga diri
Amiera Syaqilla
hi author👋🏻
Gusti Abdul Nasir
memanfaatkan ilmu yang didapat dengan sepenuh hati.
ImaFatima Latief
bukannya nenek sdh d obati pake ilmu adeeehhhh
Teti Masdiana
kamu sangat hebat tthor membuat alur cerita yg sangat bagus sukses srlalu 👍
Roger Lee
banyak kata kata yang di ulang ulang, jadi bosan membacanya.
Ria Gazali Dapson
kocak.nih author nya, bikin penisirin😄😄😄
Abady Ehm
😁🤭😂☺️
Ria Gazali Dapson
koq masih tinggal d rumah reot , gaji 100juta ,masih nyeker ja , ga punya kendaraan , aneh, lagian knpa nenek nya masih sakit² an , kn udh d obatin
Ria Gazali Dapson
kirain mah mo jadi ceo, sultan, milyader, kaya raya, eh ga tau nya jadi bodiguard , jdi tukang pukul doang , sayang sma ilmu yg d dapat , tetep aja d rendahin orang, di hina² terus sama elena
Ria Gazali Dapson
maksudnya, gmn sih cerita nya, koq jdi pura² bodoh terus, culun terus, gmb mo tau, kalo d tutupin terus , yg ada , jdi makin susah hidup nya
Aplogic: kita ikuti saja alur sang sutradara 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!