Seorang gadis cantik yang hidup dengan ayah dan ibu tirinya beserta kakak tiri perempuan yang selalu iri pada kecantikannya.
Gadis itu menutupi kecantikan dirinya dengan memakai kacamata super tebal sehingga terlihat seperti gadis kutu buku.
Aku Melati Putri Hadi.
***************
Pria yang mapan,tampan dan juga seorang idola papan atas.
Pria ini di gilai kaum wanita,banyak film yang ia bintangi namun hanya satu wanita yang ingin dinikahinya,wanita yang juga berasal dari industri perfilman yang tak lain adalah pacarnya sejak duduk di bangku kuliah.
Aku Arnon Marvion Gafin.
*************
Hal tak terduga mengganggu kehidupan mereka yang sangat berbeda kasta.
Ibu keduanya bersahabat dan sepakat menikahkan mereka, apakah mereka akan menerima pernikahan itu?
Silahkan follow,klik favorit dan baca novel author ya readers
Happy reading 😘😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arifia Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Mobil Arnon sudah sampai terlebih dulu di tempat parkir,pria itu mencari keberadaan Melati.
"Melati kemana"sambil mengedarkan penglihatannya ke segala arah.
Mata Arnon menangkap bayangan sang istri yang keluar dari mobil Edward, seketika rahang pria itu mengeras.
"Kenapa aku bisa lupa jika dia pasti ikut dengan mobil Edward,astaga.........karena keasikan membayangkan wajahnya yang kesal, sekarang jadi aku yang kesal sendiri"menatap tajam kearah mobil dokter tampan itu.
"Harry kau pesan perahu saja dulu untuk membawa kita ber-enam ke tengah laut"pinta Arnon.
"Oke,ayo Clara kita ke pantai dulu"ajak Harry.
Sebenarnya Clara ingin pergi bersama Arnon,namun saat ia melihat pantai, keinginan lebih kuat menginjakkan kaki di pasir hitam itu.
"Honey,aku tunggu disana ya"berjalan mengekori Harry.
"Kau masih ingin menunggu istrimu?"tanya Hamish yang juga menatap kearah Edward dan Melati.
"Tentu saja dia kan is.........."Arnon terdiam dengan ucapannya sendiri.
"Is apa,istri maksudmu? apa kau sudah menganggap gadis itu istrimu?"ledek Hamish yang melihat wajah Arnon sudah nampak kebingungan.
"Bukan begitu,maksudku dia itu kan bagian dari keluarga Gafin dan juga temanku,karena kami memang sudah berteman,jadi aku harus menunggunya"mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Hahahaha......benarkah begitu?"tanya Hamish lagi memastikan jawaban Arnon.
"Tentu saja benar, sudahlah kau jangan terus bertanya seperti wartawan yang tak ada kerjaan,lebih baik kau bawa Edward,ada yang ingin aku bicarakan dengan Melati"pinta Arnon pada Hamish.
"Apa yang ingin kau bicarakan berduaan dengannya, jangan-jangan.......".
"Diam kau Ham,kau ingin Selena melihat tampangmu yang penuh ingus itu"ancam Arnon pada sahabatnya.
"Sial kau,selalu saja mengancamku dengan foto itu,awas saja kau jika aku sudah tahu kelemahanmu ya......krek........"sambil mengarahkan tangannya kearah lehernya sendiri dengan gerakan seakan menggorok sesuatu.
"Coba saja cari kalau kau bisa"tersenyum menang.
Saat melihat kearah Melati,gadis itu sedang berjalan bersama Edward sambil tertawa,entah apa yang mereka bicarakan sampai Melati terlihat begitu bahagia.
Dada Arnon seakan terbakar,ia tak suka melihat Melati tertawa dengan pria lain.
Saat gadis itu sudah sampai di hadapan suaminya, tawanya terhenti seketika.
"Huh.........saat melihat wajahku saja kau langsung berhenti tertawa,dari tadi asik tertawa bersama Edward,kau harus bersiap menerima hukumanku Melati"menyeringai kearah sang istri.
Bulu kuduk Melati sudah mulai berdiri,gadis itu merasakan hawa tak enak di sekitarnya, terlebih lagi saat Arnon menyeringai seperti tadi.
"Semoga saja hari ini tak ada kejadian aneh dalam hidupku"doa Melati sambil memejamkan kedua matanya.
Arnon memberi kode pada Hamish agar membawa Edward menjauh.
Hamish yang mengerti maksud sahabatnya,ia langsung menarik tangan Edward membawa pria itu ke tepi pantai.
Melati membuka matanya,ia mengedarkan pandangannya mencari dua sahabat Arnon namun tak ia temukan.
"Kau sedang mencari siapa nona?"tanya Arnon perlahan mendekat kearah istrinya.
Kaki Melati mundur sedikit demi sedikit sampai kaki gadis itu terbentur ban mobil yang ada di belakangnya.
"Aduh......."rintihnya sambil melihat kakinya yang terasa sakit.
"Kenapa kau mundur kebelakang,apa aku begitu menakutkan untukmu.........oh aku tahu,mungkin wajahku sangat menyeramkan ya sampai kau ketakutan,atau kau lebih nyaman bersama Pak Dokter itu"sindir Arnon yang semakin dekat dengan istrinya.
"Berhenti..........apa yang akan kau lakukan"dengan wajah sedikit takut.
"Kau masih bertanya apa yang ingin aku lakukan,ya jelas menghukummu nona"mengapit Melati dengan kedua tangannya yang dengan mobil sebagai penyangga kedua tangan kokohnya.
Gadis itu tepat berada di tengah-tengah antara kedua tangan suaminya yang terlihat kokoh dengan otot-ototnya.
Melati menelan ludahnya dengan susah payah.
"Jika kedua tangan ini menghimpit badanku,aku berani bertaruh pasti tulangku remuk semua"menangis namun tak terdengar.
"A-apa tanganmu ini tak bisa menjauh"tunjuk Melati menggunakan arah tatapan matanya.
"Jadi kau ingin tangan ini menjauh darimu?"tanya Arnon memastikan.
Melati hanya mengangguk dengan sorot mata penuh harap.
"Kau jangan berekspresi seperti itu,aku jadi tidak tega menghukummu"menatap kedua manik mata istrinya,namun sesaat kemudian turun ke hidung dan yang terakhir kearah bibir.
"Aku harus menghukummu,jika tidak kau akan merasa perjanjian kita ini hanya sebuah perjanjian saja tanpa ada tindakan yang sesungguhnya"terus menatap bibir istrinya.
Melati mengikuti arah tatapan Arnon,nafas gadis itu langsung naik turun tak terkendali.
"Apa dia sungguh akan menciumku,ini kan di tempat parkir".
"Aku harus menghukumnya dengan cara lembut, karena dia baru pertama kali berhubungan dengan pria,huh.......aku harus mengajarinya agar tak kaku dalam berciuman"pikiran gila Arnon mulai muncul.
Wajah Arnon mulai mendekat kearah Melati,namun tangan gadis itu menahan dada bidangnyanya.
"Apa yang ingin kau lakukan,ini tempat umum Arnon"tolak Melati halus.
"Tempat ini sudah aku booking satu hari penuh,jadi kau tak usah cemas,hanya ada kita berdua disini"jelas Arnon pada istrinya.
"Menjauhlah dariku,tanganmu......."gadis itu menghentikan ucapannya.
"Kenapa tanganku?"tanya Arnon sambil membuka kacamata tebal Melati.
"Iiihhhhh......kau mau apa sih,kenapa harus melepas kacamataku,tanganmu itu selain terlihat menakutkan,ternyata juga suka julid ya,bukan hanya netizen yang julid,tapi tanganmu juga"ucap Melati yang mengeluarkan unek-uneknya.
"Hahahaha........tanganku memang julid nona,tapi hanya padamu saja"menarik pinggang istrinya membuat jarak diantara keduanya terkikis habis.
Mata mereka saling tatap, Arnon bisa melihat langsung mata Melati yang berwarna coklat,bulu mata lentik dengan kelopak mata yang indah.
Melati juga menelusuri tiap inci wajah suaminya dengan kedua mata indahnya itu.
"Kenapa kau tampan sekali"terus menatap wajah Arnon.
Pria itu mendekatkan wajahnya kearah Melati, perlahan bibirnya mulai akan menyentuh benda kenyal milik istri dan pada akhirnya saling menempel satu sama lain.
Melati melebarkan kedua matanya, badannya seakan bergetar saat bibir Arnon menyentuh benda kenyal miliknya.
"Dingin,lembut dan kenyal"Melati perlahan menutup kedua matanya,entah mengapa kelopak matanya begitu saja ingin tertutup dengan sendirinya.
Hati gadis itu boleh berontak,namun raganya berpihak pada Arnon.
Pria itu tak mendapat perlawanan dari istrinya menganggap itu semua lampu hijau,tanpa pikir panjang ia menggerakkan bibirnya keatas dan kebawah,namun Melati masih belum juga membalas ciuman suaminya.
Arnon melepaskan pangutan keduanya.
"Balas ciumanku,jika kau tetap diam,aku seperti sedang mencium patung hidup"ucap Arnon sambil mendekatkan wajahnya kembali.
"Tapi.......aku tidak tahu"sambil menundukkan kepalanya malu.
"Huh......."sambil mengalihkan pandangannya kearah pantai.
"Baiklah jangan sekarang,hukuman hari ini kita lakukan nanti saja di Villa,aku akan mengajarimu dan kau harus membuat aku puas,karena hari ini aku sudah mentoleransi hukuman satu hari penuh"jelas Arnon sambil mengecup bibir Melati.
Cup cup cup
"Ayo kita ke pantai sekarang,apa kau tak ingin melihat lumba-lumba"sambil berjalan menuju pantai dengan senyum tampannya.
Melati dibuat kesal dengan kelakuan suaminya.
"Dasar pria aneh,gila,tidak waras"umpatnya dengan penuh emosi.
Gadis itu berlari kecil mengejar Arnon.
"Hei......tunggu aku....."teriak Melati pada suaminya,namun pria itu masih tetap berjalan tanpa menghiraukan panggilannya.
"Awas saja kau ya"dengan nafas ngos-ngosan mengejar Arnon.
tapi ya nggak 2 tahun juga