Ari yang ingin memliki usaha sendiri mencoba menjalin kerjasama dengan sahabatnya yang bernama Radit. Dimana Radit memiliki usaha yang dikelolanya bersama yang adik (Gita) yang akan membuka cafemart di dekat kampus Radit. Mereka bertiga bekerjasama mengawali sebuah bisnis
Cinta memang tak akan tahu kemana akan berlabuh. Ari yang sebelum kenal Gita membayangkan sifatnya yang kurang baik. Bayangannya Gita itu orangnya jutek, galak, suka mengatur ternyata setelah bertemu justru membuatnya jatuh cinta. Tetapi ternyata kedua orang tua Gita belum mengijinkan anak gadisnya pacaran selama masih sekolah.
Sedangkan Vino sang mantan sekaligus sepupu dari Gita meminta Gita untuk kembali padanya setelah lulus sekolah. Karena dulu Gita pacaran secara diam-diam dengan Vino.
Bagaimana kelanjutan dengan cinta Gita dengan Ari dan Vino, akan kah cintanya mendapat restu ataukah harus putus ditengah jalan dan kembali bersama sang mantan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyah Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 34. Menunggu undangan
Ahmad tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dan mama Aini memeluk Gita.
"Om sama tante tidak merasa direpotkan" kata Ahmad
"Iya sayang, kami tidak merasa di repotkan dan hati-hati di jalan ya. Tante akan tunggu kapan Gita mau main kembali ke rumah tante" kata Aini. Gita hanya tersenyum karena tidak tahu harus menjawab apalagi.
"Iya ma, nanti kalau Gita sudah lulus pasti akan ke sini lagi" sahut Ari yang membuat Gita malu tapi semua yang mendengar menertawakan Ari yang sudah berani terus terang di depan semua temannya.
"Iya Git, nanti kalau sudah lulus pasti kamu dijemput Ari. Kita tinggal menunggu undangan" sahut Toni sambil tertawa. Gita terlihat malu dan menutupi pipi merahnya dengan kedua tangannya.
Ari melihat kekasihnya malu tambah gemas karena di mata Ari, Gita itu lucu.
"Kami duduk disana dulu ya, kalian lanjutkan lagi" kata Ahmad ke Ari dan sahabatnya. Dan semua menggangguk tanda mempersilahkan.
"Gue pulang dulu ya" kata Toni.
"Ri, selamat ya sudah ada lampu hijau dari tante dan om tuh" kata Toni.
"Loe kalau mau pulang ya pulang sana" kata Ari membuat Dina dan Toni tertawa.
"Yuk kita pulang juga Dit" ajak Salsa.
"Okey" jawab Radit.
"Dik kamu mau bareng mas apa sama Ari?" Tanya Radit. Tapi belum juga Gita menjawab Ari sudah lebih dulu menjawab.
"Gita bareng gue saja Dit" sahut Ari.
Ari kemudian menggandeng Gita keluar dari restoran. Ari dan Gita jalan sebentar di mall XY ini. Mereka melewati beberapa toko dan butik.
"Gita masuk dulu sebentar ya mas, mau lihat dulu." Kata Gita karena melihat tas ransel kecil hitam yang sudah lama dia inginkan dan menunggu discount agar harganya bisa turun.
Ari hanya diam melihat Gita membolak balikkan tas ransel kecil itu. Kemudian diletakkan kembali ke tempatnya dan mengambil yang lainnya yang ada di kotak discount 50%. Tapi tidak ada yang membuatnya tertarik walaupun sudah discount. Memang Gita bukan orang yang senang belanja dengan hanya mengejar discount dan kemewahan. Tapi dia memang suka belanja apa yang dia butuhkan saja dan inginkan jika harga sesuai kemampuannya.
"Sudah yuk mas, kita keluar" ajak Gita setelah puas melihat-lihat.
"Loh kamu tadi bukannya sudah pegang tas hitam, sekarang dimana?" Tanya Ari yang tidak melihat Gita membawa tentengan belanjaan. Karena Ari hanya melihat Gita memgang tas tanpa melihat saat Gita mengembalikan ke rak lagi.
"Sudah Gita letakkan kembali dong, ternyata tidak ada discount" kata Gita terkekeh.
"Memang kamu suka yang itu tadi?" Tanya Ari
"Iya, tapi belum discount. Sudah yuk kapan-kapan saja" kata Gita berjalan menjauhi toko tas itu.
"Sebentar kamu tunggu disini dulu" kata Ari kemudian kembali ke toko tas tersebut untuk membeli tas ransel yang disuka Gita.
"Sudah yuk mau kemana lagi?" Tanya Ari setelah keluar dan membeli tas ransel buat Gita.
"Kita pulang saja mas sudah mulai malam" jawab Gita.
"Ada lagi mau kamu butuhkan buat besok?" Tanya Ari
"Tidak sih mas. Kan hanya butuh tiket saja. Sedangkan tiket sudah mas Ari yang pesan. O iya berapa mas tiketnya, biar Gita atau mas Radit bisa transfer ke mas Ari." kata Gita
"Masih mau belanja baju atau sepatu?" Tanya Ari tanpa menjawab pertanyaan Gita.
"Tidak mas, Gita masih ada semua sih" jawab Gita. Akhirnya mereka pulang tapi Ari mengajak Gita mampir untuk makan malam.dulu di cafe bawah apartemennya.
Apartemen
Mereka duduk berhadapan di meja cafe apatemen Ari yang berada di lantai bawah.
"O iya ini Git buat kamu" kata Ari memberikan paperbagnya ke Gita.
"Apa ini mas?" Tanya Gita kemudian membuka paperbagnya kaget.
"Mas Ari beli ini buat Gita?" Tanya Gita.
"Iya sayang buat kamu pake ya" jawab Ari.
"Mas Ari kenapa dibeli buat Gita, ini mahal mas dan belum ada discount lagi" kata Gita, Ari tersenyum melihat kepolosan Gita.
"Kamu suka?" Tanya Ari
"Iya sih suka banget, Gita itu ingin tas ini sudah lama tapi di Jogja tidak ada discount. Makanya tadi Gita tengok waktu lihat, berharap ada discount di sini. Eh ternyata tidak juga hehehe" kata Gita. Ari tertawa melihat Gita bercerita dan terlihat senang.
"Terima kasih banyak ya mas, maaf kalau Gita selama di sini merepotkan mas Ari. Dan jika ada salah, Gita minta maaf ya mas" kata Gita
"Sama-sama sayang dan buat mas tidak merasa kamu repotkan. Justru mas bersyukur dengan kehadiranmu disini membuat mas membuka hati untuk selalu mennyayangimu." kata Ari dengan menggenggam nemari tangan Gita.
Sampai di apartemen, Gita langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan badannya dan berganti piyama. Baru Gita keluar dari kamar untuk menonton tv.
Ari yang duduk di sofa sibuk dengan ponselnya melihat email yang masuk. Gita tahu Ari sibuk dengan ponsel hanya diam saja tanpa mau mwngganggu.
Ari kemudian mengambil laptopnya dan mulai bekerja dengan laptopnya karena mau ditinggal keluar kota. Ari meminta Alex untuk membawa berkas yang harus ditandatangani Ari ke apartemennya malam ini juga.
"Tok tok" Alex mengetuk pintu.
"Ceklek" Gita membuka pintu apartemennya.
"Silahkan masuk" kata Gita melihat Alex yang pernah dikenalnya waktu di kantor Ari.
"Masuk Lex" kata Ari sambil melihat laptopnya.
"Mau minum apa kak Alex?" Tanya Gita yang sudah di dapur.
"Tidak perlu, Terima kasih" kata Alex yang bingung mau memanggil Gita dengan sebutan apa.
"Loe tinggal berdua?" Tanya Alex setengah berbisik dengan Ari pada saat Gita di dapur dan Alex duduk di sebelah Ari.
"Sembarangan, pikiranmu kotor Lex" kata Ari sambil menandatangi berkasnya.