Tria Handayani Marzuki adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama dengan kedua orang tua angkatnya, atas ke inginkan dari ayahnya sebelum beliau meninggal.
Awalnya Tria mengira ia akan hidup bahagia bersama mereka, namun dengan seiring berjalannya waktu yang di dapat Tria hanyalah kesedihan dan kesengsaraan.
Tria di perlakukan seperti seorang pembantu di rumahnya sendiri, Tria mencoba untuk tetap menjalani kehidupannya dengan rasa ikhlas. Keberadaan sahabatnya membuat Tria bertahan untuk hidup, hanya bersama dengan mereka Tria bisa tertawa lepas.
Tria mencintai salah satu dari sahabatnya, Satrio Nugraha yang ternyata ia juga diam diam mencintai Tria. Hingga suatu saat Rio memberanikan dirinya untuk mengutarakan perasaannya kepada Tria, dan Tria menyambutnya dengan bahagia.
Kisah cinta yang baru saja di mulai, harus kandas begitu saja karena Tria di jodohkan dengan pria lain oleh Karmila, mamah angkatnya.
"Aku memilih dia." ucap Tria.
Rio yang mendengarnya sungguh tidak menyangka dengan keputusan yang diambil Tria, Tria mengorbankan kebahagiaannya. Hanya untuk menuruti keinginan Karmila, mamah angkatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta hijau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps34
Di rumah sakit, ruang rawat Mina.
Setelah mengantar Tria pulang ke rumahnya. Rio lanjut pergi ke rumah sakit, menengok mamanya. Samar-samar ia mendengar suara mamanya yang sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
Ia penasaran, siapakah yang sedang mengajak mamanya berbincang-bincang itu? Ia membuka pintu kamar inap mamanya.
Ia terkejut melihat kehadiran Karmila, Yuli, dan Rahma di ruangan itu. Ia terlihat murung dan tidak senang, jelas terlihat di raut wajahnya.
Apa yang mereka lakukan di sini? benaknya.
”Sayang, kamu baru datang, Nak? Mari sini, duduk di samping Mama.”
Rio berjalan mendekati mamanya. Ia duduk di pinggir ranjang. Mina melihat dengan jelas wajah kusut Rio.
”Kamu tidak menyapa mereka, Nak? Mereka datang untuk menjenguk Mama. Mereka adalah ibu dan saudara Tria.”
”Mama, Mama hanya sendiri? Di mana papa?” Rio mengacuhkan ucapan mamanya. Ia balik bertanya pada Mina.
”Papa keluar sebentar, ada urusan mendadak. Kamu belum menyapa mereka, ayo di sapa.” ucap Mina lagi.
”Selamat siang Tante, terima kasih Tante sudah berkenan datang menjenguk mama ku.” ucap Rio dengan enggan tanpa melihat Karmila.
Karmila tersenyum dengan keengganan Rio.
”Siang juga Nak Rio, Tante baru mendengar kabar tentang Mama mu. Jadi, Tante, Yuli dan Rahma baru menjenguk Mama mu.” sahut Karmila.
Rio tersenyum.
”Kamu kenapa Nak? Mama perhatikan semenjak kamu masuk kesini, wajah mu murung terus. Apa kamu ada masalah?” tanya Mina pada Rio.
”Rio tidak apa-apa, Mah. Mama jangan terlalu banyak berfikir.”
”Sejak kapan kamu bisa membohongi Mamamu ini? Hum? Katakan, hal apa yang sudah membuat mu seperti ini!”
”Rio tidak apa-apa, Mah. Rio hanya sedikit kecewa saja sama Tria.” akhirnya Rio berkata jujur pada mamanya.
Mina tersenyum, ”Oh, masalah anak muda ternyata, kirain ada masalah serius. Hum, Mama bisa mengerti.”
Karmila, Yuli, dan Rahma sebagai pendengar setia yang mendengarkan pembicaraan antara Rio dan Mina.
Yuli tersenyum licik mendengar tuturan Rio.
Bagus kalau Rio kecewa dengan Tria, aku punya kesempatan untuk mendekati Rio. Sekalian aja kamu benci dia, Rio.
Karmila juga tersenyum licik.
Ini kesempatan bagus. Aku akan lebih membuat Rio semakin kecewa pada Tria. Bukan hanya kecewa lebih bagusnya lagi kamu membencinya Rio.
”Hemp, Tria memang seperti itu orangnya, suka membuat orang kecewa. Jangan terlalu percaya dengan semua ucapan dan perkataan nya, itu semua hanya bualannya saja.” ucap Karmila menjelekan Tria.
Rio terdiam. Ia sengaja tidak menanggapi. Ia ingin melihat bagaimana tanggapan mamanya tentang ini? Apakah Mina akan mempercayai ucapan Karmila?
”Tidak, Tria bukan orang seperti itu. Tria adalah orang yang baik, saya sangat mengenal Tria. Kalian jangan bicara yang tidak-tidak tentang Tria.” ucap Karmila dengan tegas membela Tria.
Rio tersenyum senang di dalam hatinya. Ternyata, mamanya membela calon mantunya.
”Tapi kenyataannya memang seperti itu Tante! Tria itu bukan orang yang baik. Kelihatannya saja ramah, sopan, tapi sebenarnya adalah kebalikan dari itu semua, Tante!” kini Yuli yang berucap menjelekan Tria. Ia berbicara dengan sangat meyakinkan.
”Berhenti menjelekan Tria di hadapan ku dan ibuku! Kalian memang tinggal serumah dengan Tria, tapi, sepertinya kalian tidak mengenal Tria dengan baik! Jangan bicara sembarangan mengenai Tria!” ucap Rio dengan tegas dan marah menatap Karmila dan Yuli dengan tajam.
Rahma terdiam. Ia tahu, apa yang di ucapkan mama dan kakaknya tentang Tria itu tidak benar. Tapi, ia malas untuk berbicara membela Tria, karena itu tidak menguntungkan untuk nya.
Mina melihat Rio sudah tersulut emosi. Ia takut jika pembicaraan ini semakin di teruskan, Rio akan lepas kendali.
”Sudah, sudah! Jangan di bahas lagi! Bu Karmila, terima kasih, sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk saya. Saya ingin beristirahat, sekarang.” ucap Mina.
”Baiklah, Bu Mina. Bu Mina beristirahatlah! Maaf, jika bicaraku tentang Tria tidak sopan. Tapi, apa yang kami ucapkan tidak mengada-ada. Ucapan ku jangan di ambil hati ya Bu Mina.” sahut Karmila.
Mina mengangguk.
”Oh, iya, Bu Mina. Saya hampir lupa, tujuan saya datang kesini selain menjenguk mu, saya ingin mengundang Bu Mina dan sekeluarga untuk menghadiri pertunangan anak angkat saya, Tria dan Ismail.” ucap Karmila lagi.
Deg! Jantung Rio berdetak cepat. Ia terdiam menatap Karmila dengan tajam. Bagaimana mungkin Tria akan bertunangan dengan pria lain? Aku adalah pacarnya! Ismail? Siapa itu Ismail? Pikir Rio.
Mina pun terdiam. Ia melihat anaknya yang sedang menatap Karmila. Mina tahu, anaknya itu pasti terluka.
Karmila tersenyum melihat Rio dan Mina yang saling terdiam.
”Bu Mina, beristirahat lah dengan baik, agar bisa menghadiri acara pertunangan Tria dengan Ismail. Kami pulang dulu Bu Mina.” ucap Karmila lagi.
Tanpa menunggu sahutan Mina, Karmila melenggang pergi dari ruangan Mina dengan kedua anaknya.
”Kamu kenapa, Nak? Kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Mina.
”Rio sangat sakit mendengarnya, Mah.” jawab Rio dengan sedih.
”Kalian berdua berteman, kan? Kamu tidak tau jika temanmu mau tunangan? Apa dia tidak cerita padamu?”
” Tria dan Rio berpacaran, Mah. Bagaimana Tria akan bertunangan dengan pria lain? Rio tidak percaya dengan ucapan Karmila!”
”Sebaiknya kamu temui Tria dan tanyakan kebenaran ini padanya, jangan sampai hal ini mengganggu pikiran mu.” ucap Mina, mengusulkan.
”Iya, Mah. Rio pergi dulu.” sahut Rio, berpamitan. Ia pergi dari kamar Mina setelah mendengar sahutnya.
.. ..
Di dalam restoran.
Karmila dan Yuli sedang tertawa bahagia. Mereka berdua sangat terhibur melihat raut wajah marah dan tak berdaya Rio saat mendengar Tria akan bertunangan dengan pria lain.
”Mama, apakah Mama lihat betapa marahnya Rio mendengar Tria akan bertunangan dengan pria lain? Aku yakin, Rio pasti sangat terluka mendengar Tria akan bertunangan dengan Ismail.” ucap Yuli, sambil tersenyum licik.
”Hahaha, kamu benar sayang! Rio pasti akan membenci Tria bahkan pertemanan di antara mereka akan berantakan. Mama sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba!” sahut Karmila, ia juga tersenyum licik.
”Iya, Mah. Aku yakin jika Rio pasti membenci Tria. Jika itu terjadi, Mini, Nani, dan Risno juga pasti ikut membenci Tria. Persahabatan mereka akan hancur dan hati Rio sakit. Dan, di saat hati Rio sakit, aku akan datang untuk menghibur dan menyembuhkan sakitnya itu. Perlahan Rio pasti akan mulai mencintai ku dan melupakan Tria.” ucap Yuli.
Hal itu telah terbayang di khayalan Yuli, jika persahabatan antara Tria dengan temannya sudah hancur, teman-temannya perlahan-lahan membenci dan meninggalkan Tria. Dan Rio sudah berbalik mencintai nya. Ia tersenyum senang dengan khayalannya itu.
”Mah, kak Yuli, kalian berdua sedang bicara kan apa sih? Sedari tadi Mama dan kakak membahas pertunangan Tria dan tertawa. Mama kenapa tega membohongi tante Mina dan Rio tentang pertunangan Tria? Sebenarnya apa yang Mama dan kak Yuli rencanakan untuk Tria?” ucap Rahma.
”Kamu habiskan saja makanan mu, Rahma! Jangan mengutip pembicaraan Kakak dan Mama! Dan jangan ikut campur urusan kami berdua!” sahut Yuli dengan kasar.
Rahma terdiam dan kesal mendengar sahutan kasar kakaknya. Ia meneruskan makannya. Lagi pula, jika sesuatu terjadi pada Tria, ia juga masa bodoh dan acuh saja.
”Tapi Mah, bagaimana pertunangan Tria dan Ismail akan berlangsung, sedangkan Tria dan Ismail belum saling bertemu? Hari pertunangan juga belum di tentukan, dan hal lainnya adalah papa belum datang juga dari luar kota.” tanya Yuli dengan serius.
”Kamu tenang saja, papamu tidak akan lama lagi akan pulang. Dan untuk pertemuan mereka, setelah kita pulang dari sini, Mama akan menghubungi tante Ani, menanyakan kapan waktu senggang anaknya itu untuk bertemu dengan Tria.” sahut Karmila dengan santai.
”Tapi, bagaimana jika Tria menolak pertunangan ini Mah? Atau mungkin Ismail juga tidak bersedia untuk bertunangan dengan Tria?” tanya Yuli lagi.
”Kamu tenang saja, Tria urusan Mama. Dan Ismail, ia selalu menuruti perkataan mamanya. Tentu saja Ismail tidak akan menolak pertunangan ini!” ucap Karmila, sambil tersenyum licik.
Yuli juga ikut tersenyum licik. Ia menyeruput minumannya.
.. ..
Di dalam Kafetaria, kafe milik Tria.
”Masih ada pesanan lainnya, Mba? Mas?” tanya Tria dengan sopan.
”Gak, ada Mba. Itu saja yang kami pesan.” jawab sang pelanggan.
”Oh, baik. Pesanan akan segera di siapkan.” ucap Tria lagi.
Ia pergi meninggalkan meja pelanggan itu setelah mencatat pesanan mereka. Setelah Rio mengantarnya kembali ke rumah, Tria pergi lagi ke kafenya. Sudah hampir satu bulan, ia tidak datang berkunjung di kafenya itu.
Kafe yang ia dirikan pada tiga tahun yang lalu tanpa sepengetahuan dari orang tua angkat juga saudara angkatnya. Kafe kecil dengan nama ”Kafetaria” yang berdiri tepat di ujung jalan menuju ke kampus tempat kuliah mereka sekarang.
Bahkan, teman Tria juga tidak mengetahui jika Tria memiliki kafe. Terkecuali Nani, Nani mengetahuinya saat Tria memohon pada Nani untuk membujuk Aisyah bekerja padanya.
Ketika Tria pertama melihat Aisyah, ia menyukai gadis itu. Gadis itu terlihat polos dan jujur. Untuk itulah, ia meminta bantuan Nani untuk membujuk Aisyah membantunya mengurus kafe.
Dan Tria mengikat Nani dan Aisyah dengan perjanjian untuk merahasiakan tentang kepemilikan kafe tersebut kepada orang-orang.
Aisyah tersenyum melihat Tria yang sedang fokus menyiapkan pesanan pelanggan, Aisyah mendekatinya.
”Mba, Mba istirahat saja dulu, sudah tiga jam loh Mba berkutat disini! Gak capek, Mba?” tanyanya.
Tria tersenyum, ”Mba sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. Di rumah, Mba mengerjakan pekerjaan rumah sendirian, Mba gak merasa capek dan karena itulah Mba berinisiatif untuk mendirikan kafe ini.” sahutnya, menjelaskan.
”Masya Allah! Senyum Mba Tria manis sekali. Mba juga sangat cantik, dan baik hati, aku jadi iri sama Mba.” ucap Aisyah, memuji Tria.
”Kamu juga gak kalah cantiknya dari Mba, Aisyah! Senyuman mu juga sangat manis, apalagi ada lesung pipit di wajahmu. Jika kamu tersenyum, pasti tidak ada laki-laki yang tidak tergoda oleh mu.” sahut Tria, ia juga memuji Aisyah.
Aisyah tersipu malu. Ia tidak bisa memungkiri perkataan Tria memang benar. Dan Tria adalah orang yang kesekian kalinya yang berbicara itu padanya.
”Mba, Mba gak pulang?”
”Tidak, em maksud Mba saat ini Mba belum ingin pulang. Nanti sebelum Maghrib sebentar baru Mba akan pulang.” jawab Tria, ”Syah, kamu tolong antar kan pesanan ini pada meja itu ya.” ucapnya lagi.
”Oh, iya, Mba.” sahut Aisyah. Ia mengantarkan pesanan pelanggan yang di catat oleh Tria tadi.
Setelah selesai menata pesanan di atas meja pelanggan, Aisyah kembali menghampiri Tria.
”Oh, iya, Mba. Jujur saja resep kopi buatan Mba ini memang enak, apalagi resep kuenya Mba sangat enak. Mba belajar dari mana sih resepnya?” tanya Aisyah, penasaran.
”Mba belajar dari almarhum ibunya Mba. Beliau sangat jago untuk meramu kopi, membuat kue, juga memasak, ini semua resep dari almarhum ibunya Mba.” jawab Tria. Ia teringat kembali saat ibunya mengajarinya cara membuat kopi dan kue di dapur, sewaktu ia kecil.
”Kenapa Mba gak buka restoran saja? Masakan Mba juga enak!”
”Restoran terlalu besar, sedangkan Mba, Mba mau buka usaha yang kecil-kecil saja. Seperti ini, ”Kafetaria” yang Mba bangun.” jawab Tria, menjelaskan. ”Sudah, sekarang kita fokus aja sama pekerjaan, biar cepat selesai.” lanjutnya berucap.
Aisyah mengangguk.
Mereka kembali fokus dengan pekerjaan mereka. Waktu terus berjalan dengan cepat. Tidak terasa waktu kini menunjukan pukul 17 : 25. Sudah waktunya untuk Tria pulang.
”Syah, Mba pulang dulu yah, kamu yang semangat kerjanya.” ucap Tria berpamitan.
Ia berdiri dan menyandang tas.
”Tapi Mba, Mba semenjak tadi belum makan. Sebaiknya Mba makan dulu yah sebelum pulang.” cegah Aisyah, ketika menyadari jika Tria belum makan semenjak ia datang ke kafe.
”Tidak, Syah. Nanti sampai di rumah aja baru Mba makan. Mba pulang dulu ya.” sahut Tria.
”Iya, Mba. Hati-hati di jalan ya Mba.”
Tria mengangguk.
Ia segera meninggalkan kafe. Ia harus cepat sampai di rumah.