Bumi Pranadipta Abadi, diusianya yang baru menginjak 20 tahun ia sudah memiliki seorang bayi. Tak ayal setiap gadis yang dikencaninyapun menjauh.
5 tahun berlalu, takdir mempertemukannya dengan wanita berhijab yang menjadi OB di tempatnya bekerja.
Siapa sangka Khalea Azalea Zuri, 27 tahun. Wanita muda yang telah memiliki putra berusia 7 tahun hasil pelecehan yang menimpanya bertahun silam mampu menggetarkan hatinya.
Apa yang terjadi jika keadaan memaksa 2 insan itu bersatu?
Mampukah mereka membuka hatinya kembali?
Akankah cerita kelam masa lalu akan menjadi penghalang keduanya untuk tetap bersama?
Bagaimana Bumi menyikapi takdir yang mempertemukan Kanaya dengan orang tua kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan
"Jika Naya bosan, tentu kami akan pulang,"
Khallpun mengangguk.
•
•
1 Jam berlalu nyatanya Naya terlihat asik duduk di dekat Saga, membolak-balik buku cerita di tangannya. Naya menerka-nerka sendiri isi cerita dari gambar yang dilihatnya. Dan entah sudah berapa buku yang Naya ambil dan taruh kembali ke rak.
Bumi yang malah terlihat sangat bosan, iapun mengajak Khal berbincang diluar gramedia. Dengan segelas mocachino yang dibelinya di sebuah counter, merekapun berbincang.
"Apa yang kamu lakukan jika tiba-tiba kamu bertemu dengan pria yang menghamilimu Khal?" tanya Bumi dengan sangat hati-hati.
"Saya akan memilih menghindar dan tak bertemu dengannya Pak," ucap Khal datar.
"Kenapa?" tanya Bumi kembali.
"Saya sudah bahagia dengan Saga, saya takut kehadirannya mengusik kami," lirih Khal.
"Kamu takut ia mengambil Saga?" terka Bumi.
"Awas saja kalau dia berani memisahkan kami. Dia tak ada andil dalam hidup kami. Setelah perlakuan bejatnya dan menghilang, ia tak pantas menjadi ayah Saga. Saya akan mengatakan padanya ini bukan anaknya," tukas Khal dengan wajah berkaca.
"Maaf, tak seharusnya saya membahas ini," ujar Bumi.
"Oh ya, ini pembayaranmu atas bantuanmu mencarikan pakaian Naya." Bumi menyodorkan 5 lembar uang merah pada Khal.
"Saya berubah fikiran Pak, nyatanya saya dan Saga menikmati waktu kami bersama kalian, bahkan Bapak juga memberikan pakaian untuk Saga," ucap Khal.
"Ambillah! Saya sudah janji di awal, akan berdosa jika tak menepati janji," ujar Bumi.
"Benar tidak perlu Pak."
"Kau yakin? Uang ini bisa kau gunakan untuk memasakkan makanan kesukaan Saga atau membelikan sesuatu yang disukai Saga, atau mungkin bisa untuk membeli kebutuhan kalian di rumah," ucap Bumi meyakinkan Khal.
Beberapa saat Khal terdiam, hingga kemudian ...
"Jika Bapak memaksa baiklah," Dan Khal mengambil uang dari tangan Bumi akhirnya.
Bumi tampak tersenyum melihat prilaku Khal.
"Boleh saya bertanya Pak?" tatapan Khal mengarah ke Bumi saat ini.
"Silahkan!" ujar Bumi sambil menyeruput minuman di gelasnya.
"Mengapa Bapak terfikir mengadopsi Naya diusia muda?" tanya Khal.
"Sejak pertama melihat Naya di panti aku sudah menyukainya," singkat Bumi.
"Jika ada yang mengaku sebagai orang tua Naya dan ingin mengambilnya?" lirih Khal.
"Seperti dirimu yang tak ingin ada yang mengusik kedekatan kalian, akupun juga seperti itu. Naya seperti nyawaku, ia selalu ada di sisiku tak terbayang jika Naya tiba-tiba harus pergi---- Ahh, saya tidak suka pembahasan ini, maaf saya tidak bisa menjawabnya," ujar Bumi seketika ia terfikir jika kemungkinan itu akan selalu ada, cepat atau lambat. Berbeda dengan Saga yang memang lahir dari rahim Khal tapi tidak dengan Naya, ia bukan milikku seutuhnya.
"Pak ... Bapak ...."
"Oh, maaf. Ada apa Khal?" Bumi tampak kaget dengan panggilan Khal yang seketika mengaburkan fikirnya tentang Naya sesaat tadi.
"Sudah jam 1:15 Pak, saya belum Sholat," ucap Khal.
"Kamu fikir hanya kamu yang beribadah, sayapun belum sholat, ayo kita hampiri anak-anak dan cari mushola." Khallpun mengangguk dan tersenyum.
•
•
13:40 Saat mereka telah selesai dengan ibadah zuhur mereka. Khal tampak menggandeng Naya keluar dari tempat sholat wanita, sebaliknya Saga bersama Bumi sedang duduk menunggu kedua wanita yang dimaklumi agak lama keluar karena harus merapikan hijabnya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Bumi pada malaikat kecilnya yang masih terus menggandeng Khal.
"Pulangnya sebentar lagi ya Yanda. Inikan masih siang," ucap Naya.
"Memang Naya mau kemana lagi?" tanya Bumi.
"Main diatas." Dan Bumi langsung paham time zone lah yang dimaksud Naya.
"Kami pulang duluan saja Pak," ucap Khal.
"Heii mau kemana?" Bumi spontan menahan lengan Khal.
"Jaga tangan Bapak di depan anak-anak,"lirih Khall, menggoyangkan tangannya agar terlepas dari tangan Bumi.
"Oh, maaf." Bumipun segera melepaskan tangan Khal.
"Mas Saga memang nggak mau main sama Naya di wahana permainan diatas? Seru lo mas, banyak mainannya," celoteh Naya.
"Emang benar banyak mainannya?" tanya Saga.
"Banyak banget," ucap Naya.
"Hmm, gimana ya----
"Ayo Mas, Naya kasih tau ...." Spontan Naya menarik lengan Saga kearah elevator menuju Timezone berada.
"Kamu lihat Khal, Saga ternyata masih ingin bermain bersama Naya, mungkin kamu bisa pulang lebih dulu jika kamu mau, Saga biar pulang dengan kami," goda Bumi.
Akhirnya Khalpun tidak jadi pulang dan tetap mengikuti mereka.
"Ayah dan anak kenapa sangat suka berlari-lari dan menarik tangan," batin Khal.
•
•
Dan di depan Time zone, terlihat berjejer kuliner yang mengingatkan akan hak perut yang belum diisi sejak tadi pagi.
"Naya, Saga, sebelum main ayo makan!" panggil Bumi kearah 2 bocah yang sudah tak sabar masuk ke wahana permainan di hadapan mereka.
Kedua anak yang dipanggilpun mendekat, mereka memesan makanan dan dengan cepat menghabiskannya karena sudah tak sabar ingin bermain.
"Yanda makannya cepat dong!" desak Naya.
"Iya, iya ...," ucap Bumi.
"Sama Manda saja sana, Yanda lihat dari sini saja," tambah Bumi yang kurang suka keramaian sebetulnya.
"Dengan saya? Apa tidak apa-apa Pak?" Khal menatap wajah Bumi.
"Tentu tidak, ambilah ini! Isi saldo kartu ini dulu di kasir." Bumi menyerahkan sebuah kartu dan 2 lembar uang merah pada Khal, Khalpun mengambilnya.
Dikejauhan Bumi memperhatikan Khal yang antusias ikut bermain, ia kini sedang bermain memukul-mukul kepala kodok yang muncul di meja di hadapannya, pemandangan yang berbeda. Khal seperti anak kecil yang sudah lama tak bermain, ia sangat menikmati permainan disana. Saga tak jauh dari sang bunda Saga sedang duduk disebuah kursi dan bermain balap mobil mengarahkan kemudi dengan tatapan fokus ke layar tepat di depan wajahnya, dan Naya terlihat sedang menaiki komedi putar mini.
Bumi menyeruput teh hangat sambil menatap sekelilingnya kini. Hingga tiba-tiba Khal mendekat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🐢Happy reading❤❤