NovelToon NovelToon
Mutant : Katana Holder

Mutant : Katana Holder

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:185.4k
Nilai: 5
Nama Author: Swag131

Eric Pratama, seorang remaja berusia tujuh belas tahun, mengungkap jati dirinya sebagai seorang mutan. Eric dibesarkan oleh ibunya tanpa sosok seorang ayah karena suatu alasan yang belum boleh diketahui Eric.

Dirinya memiliki dendam pribadi terhadap pemimpin mafia yakuza yang bernama Tatsumi Shojo, karena kematian keluarga ibunya di Rusia sejak tujuh belas tahun silam akibat tragedi pembunuhan yang dilakukan para Yakuza.

Namun saat ini Yakuza sudah sangat jauh berkembang pesat dari segi bertempur di medan perang. Hal itu sangat jauh tak sebanding bagi orang biasa seperti Eric, apalagi dengan pemimpin mereka Shojo yang mempunyai kekuatan iblis di dalam dirinya, hingga Eric berniat untuk membentuk kumpulan gangsternya sendiri dengan sang kekasihnya Yuri dan adiknya Ardhias.

Dengan sebilah pedang katana, bersama sang kekasih, adik, dan teman-temannya memerangi mafia yakuza dengan saling bahu membahu, akankah Eric berhasil membalaskan dendamnya di masa depan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Swag131, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 : Cerita Ibu-nya Bayu

Di kapal besar (Crowship) milik Mafia Yakuza yang sebesar pulau ukurannya, kesembilan kapal besar yang lain juga berlayar mengarungi lautan mengikuti kapal besar (Crowship) di depannya.

Di tiap-tiap kapal, berbagai perlengkapan mulai dari persenjataan, persediaan makanan, kendaraan darat, kendaraan udara dan berbagai kendaraan air jika di jumlahkan seluruhnya berjumlah jutaan.

Setiap kesepuluh kapal juga memiliki awak kapalnya masing-masing, tim samurai elit KenTakeda (3.000 orang), Bridge Kuga (450 orang), dan anggota Yakuza biasa (10.000.000 orang) seluruhnya berada di kapal Crowship bersama atasan mereka Itsuki dan Kuga, juga beserta pemimpin besar mereka Shojo.

Sedangkan para anggota yakuza lain yang (15.000.000 orang) lebih jumlahnya berada di kesembilan kapal besar lainnya.

Nakhoda kapal Crowship berjumlah tujuh orang di ruangan kokpit, begitu juga di kesembilan kapal yang lain.

Saat ini di kapal Crowship Shojo tengah berdiri tegap melihat keluar kaca tembus pandang arah jendela kabin kapal, bersikap dengan tangan dilipat kebelakang. Dalam kabin tampak sebesar ruangan lapangan tennis.

Sedangkan Itsuki dan Kuga tengah berduduk santai di bangku malas luar kabin, mereka berdua menikmati jauhnya pemandangan lautan lepas dengan diguyur angin lumayan kencang menerpa rambut mereka.

Kuga ingin sedikit mengajak Itsuki berbincang, "Itsuki, apa sebenarnya yang paling Shojo inginkan itu?"

Sejenak Itsuki menarik nafas dan mendenguskan nafasnya pelan, "Tuan Shojo sangat menginginkan serum yang pernah Profesor Enmo ciptakan."

"Aku masih tak mengerti, serum itu sekuat apa, dan dari mana asalnya ...."

"Serum itu awalnya hanya batu Asteroid belaka yang dapat membuat kulit manusia melepuh jika menyentuh kulit batunya. Namun tidak ada yang tau jika zat berkekuatan besar ada di dalamnya, Kau tau? darimana sebenarnya batu asteroid itu berasal?" tanya Itsuki pada Kuga.

Kuga menggelengkan kepalanya tak tahu, Itsuki melanjutkan ceritanya,

"Tuan Shojo pernah berkata sesuatu kepadaku, bahwa serum itu adalah bagian dari dirinya yang hilang, aku tak mengerti pasti apa maksudnya itu, ia hanya melanjutkan perkataannya bahwa batu asteroid itu berasal dari bulan, setelah itu ia tak menjelaskan apapun lagi kepadaku. Sejauh ini hanya itu yang tuan Shojo katakan padaku." Jelas Itsuki.

Kuga hanya mengangguk paham sekaligus bertambah penasaran. Bagian Shojo yang hilang? apa ini? hal itu menjadi misteri tersendiri di benak Kuga, begitu juga Itsuki.

Tak lama kemudian, tiba-tiba saja seorang mata-mata informer datang, pakaiannya berjas rapi dan berkacamata hitam. Dia adalah bawahan Itsuki.

Ia menunduk hormat kepada Kuga dan Itsuki, "Lapor tuan. Ada informasi baru mengenai Enmo."

Sejenak Itsuki memasang raut wajah segera ingin tahu, "Katakan saja langsung di sini." Titah Itsuki pada spy informer yakuza itu.

"Akhir-akhir ini kami mendapatkan informasi bahwa istri Enmo, Maria Deslova masih hidup. Ini adalah gambar visual Maria saat berada di bangkai bangunan rumah besar Deslova ..." ucapnya sembari memberikan foto pada Itsuki.

Itsuki melihatnya, tampak di foto itu seorang youtuber mengarahkan kamera vloggernya hingga di belakang terlihat sileut seorang wanita berpakaian dress merah gelap masuk di dalam gambar. Tak salah lagi wajah wanita itu sangat jelas mirip dengan Maria Deslova.

"Apa ada informasi lain mengenai ini?" tanya Itsuki kembali kepada spy informer Yakuza itu.

"Salah satu anggota spy-ku yang berada di Tanah Air memberitahu padaku bahwa ada seorang wanita bernama Maria Deslova yang tinggal di Kota Axel," jelasnya.

Itsuki menjadi sangat heran, apa itu benar? Maria masih hidup, langsung ia menyuruh spy informer itu pergi, kemudian Itsuki masuk ke dalam kabin dengan diikuti oleh kuga di belakang, mereka sama-sama membungkuk hormat kepada Shojo yang masih berdiri membelakangi mereka.

"Tuan Shojo, ada informasi baru." Ucapnya tertunduk sopan sembari menyodorkan foto yang ada di tangannya kepada Shojo.

Shojo sejenak melihat foto itu mengambilnya, "Maria ..." ucapnya lirih sedikit terkejut. Selama ini dia berpikir, Maria istri Enmo sudah mati, dugaannya salah.

"Maaf tuan, sepertinya istri Enmo masih hidup, kami baru mendapatkan informasi jika ada seorang wanita yang bernama Maria Deslova tinggal di Tanah Air, tepatnya berada di kota Axel."

Shojo langsung menyunggingkan sudut bibir ke wajahnya yang berbekas luka bakar itu, langsung dirinya memerintahkan Itsuki untuk menyuruh tim pesawat tempur Yakuza memborbardir kota Axel, serta menyuruh para yakuza mendarat terjun payung dari pesawat untuk menangkap Maria di kota Axel.

Saat itu juga seluruh anggota Yakuza yang berdiri di geladak kapal, menaiki pesawat masing-masing, tiap-tiap pesawat besar dinaiki oleh 250 orang ke 50 pesawat tempur besar dari kapal Crowship dan juga dari kapal-kapal yang lain melepas landaskan roda pesawat tempur besar mereka secara berangsur-angsur dari runaway atas kapal besar Crowship.

Langit-langit lintas timur laut dipenuhi dengan berbagai kapal terbang yang membuat gempar orang-orang.

Orang-orang melihat dari pulau-pulau yang dilintasi oleh semua pesawat tempur itu. Mereka mendongakkan kepala mereka ke atas, seluruh pesawat tempur itu terlihat dan terdengar bagaikan serangga raksasa yang siap menghancurkan mereka kapan saja. Namun tidak untuk saat ini, sepertinya seluruh pesawat itu pergi menuju ke Negeri Tanah Air.

Sedangkan kini Shojo, Itsuki, dan Kuga menaiki helikopter mengangkasa ke arah semua pesawat tempur itu menuju. Ya, tak salah lagi mereka akan menuju ke Negeri Tanah Air.

Shojo meraut senyuman sinis terpatri di wajahnya, "Enmo, mau sampai kapan kau tidak segera keluar dari persembunyian-mu?" Batinnya dalam bahasa Jepang.

Shojo sudah mengubah strateginya, berencana menculik Maria. Apabila berhasil, Shojo yakin Enmo akan datang dengan sendirinya. Tentu pastinya Enmo akan meyelamatkan istri tercintanya, Maria Deslova.

.....

Kota Axel

Bayu sedang berjalan kaki selepas bel pulang sekolah berbunyi, ia kini tengah berjalan sendiri menuju pulang ke arah rumahnya.

Sambil berjalan ia mengingat perkataan Eric saat berada di atas rooftop gedung kelas 12 di sekolah tadi, hal itu terus terngiang di pikirannya.

.........

"Mengapa kau tiba-tiba bertanya tentang Shojo padaku? apa kau tau sesuatu tentang Shojo?" tanya Eric pada Bayu

Bayu mendenguskan nafasnya kasar, "Hanya satu hal yang aku tau, dia adalah ayahku ..." jawab Bayu.

"A-apa ...?" mulut Eric ternganga. "Jika kau berada di pihak Shojo, aku tidak akan segan-segan membunuhmu." Ucap Eric lantang.

Membuat Mika dan Yuri terkejut mendengar perkataan Eric barusan, begitu juga Bayu.

Namun Bayu tidak takut dengan ancaman itu, pasalnya ia tak peduli dan tak berada di pihak manapun, selagi kekasihnya Mika aman, ia tak akan ikut campur. Namun yang membuat pikirannya terngiang adalah kejahatan ayahnya, dirinya merasa selalu dihantui dengan perkataan Eric bahwa ayah Bayu, Shojo. Banyak melakukan kejahatan di masa lalu.

Tak lama saat setelah Eric melontarkan perkataan ancaman pada Bayu, Eric langsung menarik lengan kekasihnya Yuri, untuk keluar dari gedung kelas 12.

.........

Bayu yang berjalan masih memikirkan tentang ayahnya, tanpa sadar dia sudah sampai di depan rumah ibunya, Ninda Anista Purbawingga.

Rumah yang cukup sederhana namun tetap terkesan mewah. Bayu sejenak menoleh ke garasi, ada sebuah mobil terparkir di dalam garasi rumah.

"Sepertinya ibu baru saja pulang dari kantor, tak seperti biasanya, mungkin hari ini ibu pulang lebih awal." Batin Bayu.

Lalu ia memasuki rumah yang pintunya tak dikunci, "Aku pulang." Tuturnya.

Ibunya kini tengah duduk membaca koran di sofa ruang tamu sembari ia melipat satu kaki kanannya bersimpuh di kaki kiri.

"Bayu, udah pulang ..." jawab Ibunya masih fokus membaca koran, pakaian kerjanya belum diganti, Ibunya Ninda masih mengenakan jas hitam rapi berdasi dengan rok pendek dan legging hitam sampai ujung bawah mata kakinya.

"Iya, Bu ..." jawab Bayu sembari ia meletakkan tas punggungnya di sembarang tempat, langsung ia duduk di sofa sebelah Ibunya.

"Ibu ..., apakah ada waktu menceritakan sesuatu padaku?" tanya Bayu lirih, namun terdengar jelas oleh Ibunya.

"Tanya saja ..., Ibu pasti cerita kok." Ucap Ninda yang masih fokus membaca koran.

"Ini tentang ayah ...."

Ibunya sontak menghentikan bacaan korannya, ia meletakkan newspaper itu di atas meja sofa, ini pertama kalinya Ninda mendengar anaknya baru saja menyebut "Ayah," dalam kamus hidupnya.

"K-kenapa kamu tiba-tiba tanya begitu?" ucap Ibunya heran.

Bayu mendenguskan nafasnya halus, "Aku sudah besar Ibu. Aku berhak tau siapa ayahku? dan kenapa ibu harus berpisah dengannya, kenapa dia tidak pernah menemui-ku sama sekali? bahkan wajahnya saja aku tak ingat, apalagi namanya." Perkataan Bayu meledak begitu saja kepada Ibunya, sudah sekian lama seumur hidup Bayu. Ini pertama kali Bayu bertanya tentang ayahnya kepada sang Ibu, Ninda Anista.

"Tolong Ibu, ceritakan padaku ..." ucap Bayu memelas pada ibunya.

Ninda benar-benar menarik nafasnya dalam-dalam, ia tak bisa menolak permintaan anak semata wayangnya itu, selama ini dia bersyukur jika anaknya tak pernah menanyakan tentang ayahnya, namun kini malah sebaliknya.

"Baiklah, Ibu akan ceritakan." Ujar Ibunya, Ninda. Pada Bayu.

Bayu memberi senyuman ramah pada Ibunya sontak tiba-tiba raut wajah Bayu mengernyit tak suka setelah mendengar perkataan, "Dengan satu syarat." Dari Ibunya.

"Apa syaratnya?" ucap Bayu tertunduk.

Sejenak Ibunya mendenguskan nafas halus, "Jangan pernah bertemu dengan ayahmu!" pinta Ibunya sebagai syarat untuk Bayu.

"Baik, Ibu." Ujar Bayu antusias.

Ibunya mulai bercerita, "Dua puluh empat tahun yang lalu saat Ibu pertama kali bertemu dengan ayahmu. Di sebuah stasiun angkutan cepat bawah tanah pada waktu tengah malam, Ibu baru saja pulang dari kuliah jam malam, Ibu menunggu kereta untuk pulang ke rumah. Saat kereta tiba, Ibu langsung masuk dengan diikuti beberapa pria dewasa. Di dalam ruangan kereta sangat sepi, hanya ada para pria yang mengikuti Ibu tadi, mereka mengenakan jaket kulit coklat berdiri di ujung ruangan sudut kereta yang Ibu tempati. Ketika kereta mulai berjalan, tiba-tiba para pria itu menodongkan pistol pada Ibu, sepertinya mereka ingin menculik Ibu saat itu atau mungkin mereka ingin melakukan sesuatu. Ibu berteriak histeris namun mereka malah semakin berbuat yang aneh-aneh, tiba-tiba ada seseorang keluar dari lorong pintu ruangan kereta yang lain, ia masuk begitu saja dengan memegang sebilah pedang berukiran tulisan "A," di sarung pedangnya. Gerakannya sangat cepat, Ibu hanya mengedipkan mata sekali saja, pun para pria jahat itu sudah terkapar bersimbah darah. Pria yang memegang pedang menghampiri Ibu, saat itu Ibu menangis karena saking takutnya dengan semua pria jahat itu, namun pria yang baik itu bertanya, "Kamu tidak apa-apa?" Ibu menjawab, "Hiks ... ya, aku tidak apa-apa. Terimakasih," ucap Ibu. Tak lama kemudian kereta sudah sampai di lokasi tujuan, Ibu langsung berlari keluar kereta, namun pria itu terus mengikuti Ibu sampai ke rumah. Ibu malah menjadi takut dengan pria itu. Esok malamnya Ibu keluar lagi untuk berkuliah malam, tapi Ibu merasa seperti ada yang mengikuti Ibu dari belakang, saat Ibu menoleh tak ada siapa-siapa. Kemudian Ibu terus melanjutkan perjalanan menuju ke kampus Ibu. Kamu bisa menebak siapa Pria yang menolong Ibu?" tanya Ibunya pada Bayu. Bayu hanya menggeleng.

Ibunya melanjutkan Cerita, "Itulah ayah kamu, namanya Shojo. Setiap kali Ibu pulang kuliah tengah malam, dia selalu mengikuti Ibu.

"Tunggu, kenapa Ibu mengambil jam kuliah malam?" tanya Bayu memotong cerita Ibunya.

"Karena Ibu mengambil pekerjaan paruh waktu di sebuah restoran, kamu tau gak? kalau Ibu dulu itu susah, Ibu yang usahakan biaya kuliah Ibu sendiri." Ujar Ibunya lalu kembali melanjutkan ceritanya, "Saat Ibu pulang kuliah tengah malam, dia selalu mengikuti Ibu, awalnya Ibu takut. Tapi dia sama sekali tak pernah berbuat jahat pada Ibu. Di setiap malam tak pernah sekalipun dirinya tak ada, dia terus mengikuti Ibu setiap Ibu hendak pergi kuliah maupun pulang, seiring berjalannya waktu. Ibu memberanikan diri menghampirinya, dan bertanya, "Mengapa kau selalu mengikutiku?" tanya Ibu. Dia tak menjawab sepatah kata pun. Sejenak Ibu menatap wajahnya, dia lumayan tampan, rambutnya panjang diikat menjadi gaya rambut man bun. Ibu mulai sedikit canggung saat bertatapan dengannya, hingga Ibu memutuskan beranjak pergi pulang ke rumah meninggalkannya. Tiba-tiba dia menarik tangan Ibu dan membawa Ibu ke sebuah tempat, tempat itu adalah daratan tinggi, cukup jauh untuk pergi ke sana. Dia menunjukkan Ibu betapa cerahnya sinar bulan menyinari seluruh kota yang juga memiliki cahaya lampunya sendiri. Ibu sangat terkesima melihat betapa indahnya melihat pemandangan kota Tokyo dari daratan tinggi itu, sejenak Ibu menolehkan pandangan Ibu ke wajah ayah-mu. Entah mengapa saat itu juga Ibu langsung jatuh Cinta dengannya, tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang sudah terbuka, isinya adalah cincin berlian yang cantik. Dia langsung berkata pada Ibu, "Aku Tatsumi Shojo, malam ini aku ingin mengungkapkan perasaan hatiku padamu, sejak pertama bertemu denganmu aku sudah jatuh cinta padamu, Ninda ..." ucap Shojo yang masih muda, tampan wajahnya. Ibu tertegun heran sesaat, "B-bagaimana kau mengetahui namaku?" tanya Ibu penuh tanda tanya. "Selama ini aku selalu mencari tau sendiri tentang kehidupanmu, semakin lama aku banyak mengetahui tentang-mu, semakin dalam perasaanku padamu, aku sangat ingin selalu melindungi dirimu, Ninda Anista." Lagi-lagi perkataan ayahmu Shojo membuat Ibu terheran. "Maukah kamu menikah denganku, Ninda Anista?" tanya Shojo dengan raut wajah meyakinkan. Entah mengapa Ibu langsung saja menerima lamaran itu, Ibu mengangguk mau dengan mata berkaca-kaca, itu pertama kalinya Ibu jatuh cinta dengan seorang lelaki. Ayahmu Shojo memakaikan cincin itu pada Ibu, kami berdua pun pergi bersama ke suatu tempat, dia membawa Ibu ke sebuah gedung yang besar, Ibu tidak tau itu gedung apa. Di dalamnya terdapat banyak sekali pria berpakaian jas rapi dengan pedang disingkap-kan di pinggul mereka, terlihat juga banyak wanita yang mengenakan pakaian maid lolita, para wanita itu mengucapkan selamat datang dengan sopan. Ayahmu Shojo membawa Ibu ke sebuah ruangan yang ada seorang pria paruh baya di dalamnya, Shojo menunduk hormat kepada pria itu, begitu juga Ibu." Jelas Ninda pada anaknya.

Bayu semakin menyimak cerita Ibunya.

.........

"Ayah, jika kau tak mengabulkan keinginanku seperti kau mengabulkan keinginan saudara-saudaraku, setidaknya kau mengizinkan hal ini." Tutur Shojo pada Ayahnya sedikit lancang.

Ayahnya mendenguskan nafasnya kasar, "Hm, ucapkanlah apa keinginanmu itu."

"Aku ingin menikahi gadis yang ada di sebelahku ini." Ucap Shojo membuat Hiro termangu sesaat.

Natsumi Hiro menolehkan pandangannya ke gadis itu, "Dia cantik, tapi aku tidak tau sifat-" ucapan Hiro dipotong oleh anaknya, "Ayah, dia gadis yang baik, aku sudah lama mengenalnya." Ucap Shojo.

Memang benar, setiap hari maupun malam Shojo selalu mengikuti Ninda ke mana saja, Ninda selalu tampak seperti gadis tangguh yang hidup sendiri, kerja di sebuah restoran, sejauh Shojo memerhatikan gadis ini, memang benar gadis ini adalah gadis yang baik, ramah pada semua orang, sopan dan santun.

Shojo mengikuti Ninda ke manapun, itu semua Shojo lakukan karena dia sudah menyukai Ninda dari awal.

"Baiklah, aku izinkan kau menikah, Shojo. Tapi dengan satu syarat." Tutur Ayahnya.

"Apa itu Ayah?" tanya Shojo antusias.

"Aku ingin kau mewarisi tahta ketua mafia Yakuza ini, saat waktunya telah tiba." Ucap Hiro pada anak angkatnya.

"Apapun itu, aku akan melaksanakannya Ayah." Ujar Shojo menunduk hormat.

"Baiklah, kita adakan acara besar malam ini." Ucap Ayahnya, dengan raut wajah datar, namun di dalam hatinya ia senang, akhirnya anak angkatnya menikah.

Ninda Anista sangat bahagia, ia benar-benar tak menyangka saat ia jatuh cinta, di saat itu juga dia dilamar oleh seorang lelaki yang dicintainya.

Malam itu juga para Yakuza mengadakan pesta besar di sebuah ruangan, banyak orang penting duduk di kursi bermeja bundar tersusun rapi, semua orang tampak mengenakan pakaian rapi masing-masing.

Para wanita memakai gaun dengan berjalan gemulai, para pria mengenakan jas yang di dada kanannya ber-aksesoris bunga, musik romantis dihidupkan, semua sepasang kekasih berdansa.

Shojo juga tak berdiam diri, ia menyerahkan telapak tangannya pada seorang gadis tunangannya, Ninda. Ninda mengenakan gaun yang sangat cantik berjalan gontai menghampiri Shojo sembari menerima pegangan tangannya.

Mereka berdansa bersama malam itu, saling berpegangan tangan, Shojo meletakkan satu tangannya di pinggul Ninda, sesekali Ninda berputar lalu saling menatap mesra bersama Shojo.

Setelah musik berhenti, Shojo membawa Ninda bersamanya ke atas sebuah tangga lantai yang lebih tinggi dari lantai tamu para undangan.

Saat itu juga Shojo mengumumkan malam itu bahwa dia akan menikah dengan gadis di sebelahnya kepada seluruh tamu undangan yang hadir.

Natsumi Hiro juga menaiki tangga lantai tinggi itu, lantai itu bagaikan balai panggung. Hiro menatap seluruh tamu undangan dari atas situ, dan mulai berbicara menyebutkan kata-kata untuk menikahkan anaknya secara tradisi yakuza yang sudah turun temurun.

Hiro mengangkat pedangnya ke atas, "Tahun ini, bulan ini, minggu ini, hari ini, waktu ini, detik ini. Aku akan menikahkan anakku dengan seorang gadis cantik yang berdiri di sebelahnya." Tuturnya.

"Tatsumi Shojo ..." panggil Ayahnya.

"Iya Ayah," sahutnya menunduk hormat.

"Bersediakah kamu menjadi suami Ninda Anista?"

"Aku bersedia Ayah." Ucap Shojo antusias.

"Ninda Anista ..." panggil Hiro kepada tunangan Shojo.

"Iya ..." ucap Ninda lirih menunduk hormat.

"Bersediakah kamu menjadi istri Tatsumi Shojo?"

"Bersedia ..." sahut Ninda antusias.

Hiro langsung membuka sebilah pedang katana dari sarungnya dan mengacungkan ke atas setinggi-tingginya, "Maka dengan ini Tatsumi Shojo dan Ninda Anista resmi mejadi sepasang suami istri ..." ucap Hiro kegirangan di dalam hati.

Semua para tamu undangan pria juga memiliki pedang katana masing-masing, mereka ikut mengacungkan pedang ke atas sembari berteriak ria atas kebahagiaan sepasang suami istri yang akan menempuh hidup baru.

Raut wajah Shojo tersenyum bahagia, begitu juga Ninda. Kini kedua sileut sepasang suami istri itu saling menatap penuh tatapan tumbuh dengan benih cinta yang subur di hati masing-masing.

Ninda Anista tak memiliki orangtua lagi semenjak ia kecil, ia hanya dibesarkan oleh neneknya yang bekerja di Jepang, hingga Ninda dibawa dari Tanah Air ke sana, namun umur nenek Ninda tak lama, saat Ninda baru saja tamat SMA di Jepang, neneknya sakit parah hingga wafat meninggalkan Ninda seorang diri. Itu makanya Ninda mengambil kerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan biaya kuliah sembari ia mengambil jam kuliah malam.

Semenjak Shojo hadir di kehidupan Ninda, Ninda merasa akhirnya ia menjalani keluarga bahagianya sendiri. Namun kebahagiaannya itu tak bertahan lama, awalnya keadaan baik-baik saja.

Shojo sangat mencintai dan menyayangi Ninda apa adanya, namun saat Shojo mengetahui Ninda hamil, semenjak itu Shojo bersikap dingin pada istrinya.

Ninda tak tau mengapa, seiring berjalannya waktu, sudah setahun lama bayinya belum keluar, perut Ninda sudah lumayan membesar. Ini aneh.

Namun suaminya Shojo tak pernah sedikitpun perhatian atau membantu istrinya, meski setidaknya mengantarkan Ninda ke dokter atau bidan. Shojo seolah tak peduli lagi, membuat Ninda menjadi sangat sedih terhadap perubahan drastis Shojo.

Hingga suatu hari, Ninda memberanikan diri bertanya saat tidur bersama di kamar pribadi mereka berdua.

"Sayang ..., kenapa akhir-akhir ini kamu gak peduli lagi sama aku?" ucap Ninda lirih seperti ingin menangis.

Ninda tidur menyamping menatap punggung suaminya yang tak pernah lagi berhadapan dengan Ninda saat tidur bersama di kasur.

Shojo mendengar betul pertanyaan istrinya barusan, namun ia tak menjawab sepatah kata pun.

Raut wajah Ninda menjadi semakin tertatih menangis serta isakan tangisnya menderu.

Shojo menyadari itu, lalu Ninda membalikkan tubuhnya membelakangi Shojo saat masih dalam posisi berbaring menyamping di kasur.

"Kenapa ... kenapa kamu gini hiks ...."

Shojo langsung memeluk Ninda dari belakang, sontak Ninda menghentikan tangisnya kaget.

"Aku harus menceritakan ini padamu, hanya kamu yang aku percaya, Ninda." Ucap Shojo ingin memberitahu Istrinya sesuatu.

Ninda langsung duduk dari baringnya mengusap peluh tangis sembari menatap wajah suaminya penuh teka-teki, Shojo menyusul Istrinya Ninda ikut duduk.

"Jujur aku tak suka jika kamu hamil, Ninda. Kamu tau kenapa?" tanya Shojo.

Ninda menjadi sangat bingung kenapa suaminya tak ingin Ninda hamil. "Kenapa?" tanya Ninda lirih.

"Baiklah, aku akan katakan sejujurnya padamu. Aku ini memiliki dua kepribadian ganda. Itu adalah Iblis."

Ninda tercengang tak percaya mendengar perkataan suaminya.

"Aku mengerti kamu tak percaya padaku, Ninda. Tapi ini memanglah kenyataannya. Tubuhku memiliki dua jiwa, Kamu tau mengapa seperti itu, Ninda?"

Ninda hanya terus menatap suaminya penasaran, ia tak menjawab pertanyaan itu, Shojo mengerti karena dialah satu-satunya orang yang tau di dunia ini.

"Jiwa iblis itu berasal dari pedang katana-ku, dia berkata padaku namanya adalah azazel, dia dulu adalah seorang mahkluk iblis yang ditinggalkan oleh ibunya di bulan, dia berkata dirinya berasal dari dunia lain atau dapat kita sebut dimensi lain. Dia bercerita padaku di dalam pikiranku, dirinya adalah anak dari raja iblis. Pada suatu hari ayahnya raja iblis hendak membunuh anaknya karena suatu alasan tertentu, sang ratu ibunya tak terima, dan membawa anaknya ke dunia lain melalui portal dimensi, tibalah mereka di alam semesta tempat dunia bumi kita bernaung, ibunya membawa dirinya ke benda putih bulat yang biasa kita sebut bulan, ibu iblisnya merasakan seperti ada hawa kekuatan besar di bulan itu, ia memutuskan meninggalkan anaknya di situ karena ada energi yang dapat menghidupi anaknya sampai besar, ia hanya meletakkan anaknya di permukaan bulan. Anaknya terus menyerap energi yang ada pada inti bulan, hingga suatu ketika saat ia sudah dewasa, dirinya sangat haus akan kekuatan dari energi inti bulan itu, sekaligus dia ingin cepat-cepat keluar dari bulan ke dunia lain karena dia sudah bosan di tempat itu. Dirinya sangat serakah menguras semua energi kekuatan itu, hingga tiba-tiba energi itu menghempaskan tubuhnya bagaikan petir yang menggelegar ke arah bumi, Kamu tau sebesar apa tubuh iblis itu, Ninda?" tanya Shojo pada istrinya.

"Aku tidak tau ..." ucap Ninda

"Besarnya setinggi 50 kaki, seperti raksasa, saat tubuhnya menabrak atmosfer bumi, kekuatan di dalam tubuhnya meledak dan terbakar akibat gesekan atmosfer, raganya berpecah menjadi batu besar berbentuk asteroid, jatuh kepermukaan Negara Uni Soviet, sedangkan jiwanya terpecah menjadi enam bagian meluncur ke benua asia, tepatnya negara kita, Jepang. Saat itu ada seorang pandai besi yang memiliki keahlian teknik samurai tingkat tinggi, dia juga orang yang ahli dalam menempah pedang katana dan panah, saat ia sedang mengeringkan lima tempaan pedang katana yang baru saja panas dari gemeletup bara api. Di saat itu juga lima pecahan jiwa iblis itu masuk ke dalam lima pedang katana itu, inti jiwa iblis membuat salah satu bentuk pedang itu menjadi pedang berukiran huruf A, sedangkan pecahan jiwa yang lain membuat pedang-pedang itu menjadi ukiran, elang emas, naga, harimau putih, dan juga petir hitam, ada satu jiwa lagi yang kembar dengan elang emas masuk ke dalam salah satu panah yang tergantung di dinding rumah pandai besi itu. Sang pandai besi itu heran melihat kelima pedang tempaannya berubah fisik, begitu juga dengan salah satu panahnya, ada yang aneh baginya. Dia mengambil salah satu pedang dan membuka pedang berukiran petir itu, tiba-tiba sebuah petir menyambar tubuhnya entah dari mana hingga membuat dirinya pingsan. Saat ia tersadar dari pingsan, ia merasakan ada perubahan fisik pada tubuhnya, ia merasa seperti ada kekuatan. Awalnya ia merasakan ada yang aneh, tapi lambat laun ia sadar, itu semua berasal dari pedang petir yang ia pegang. Dia adalah senseiku, Ninda. Pada suatu hari dia dipanggil untuk menjadi sensei empat anak katana oleh ayahku, Hiro. Dia melatih kami menjadi kuat dan membagikan kami empat pedang berisi jiwa yang lain pada kami, aku di berikan pedang yang berukiran huruf A itu. Itu adalah pedang yang memiliki inti jiwa iblis, saat aku membuka pedang itu, jiwa iblis itu masuk ke dalam tubuhku, Ninda. Semenjak itu aku memiliki kepribadian ganda. Jika jiwa iblis itu mengambil alih tubuhku, fisikku menjadi sangat kuat dan sulit dikalahkan."

"Lalu apa yang membuat-mu tak suka jika aku hamil?" tanya Ninda pada suaminya. Ninda tak peduli jika suaminya ini benar-benar memiliki kepribadian ganda, atau dalam kata lain tidak normal. Karena Ninda sudah sangat terlanjur cinta pada Shojo, membuatnya tak peduli lagi Shojo itu aslinya apa.

"Iblis itu selalu mendesakku, Ninda. Dia tak suka dengan anak yang kamu kandung di rahim-mu. Bahkan aku hampir gila, makanya akhir-akhir ini aku selalu menjauhi-mu, takut sewaktu-waktu jiwa iblis itu mengambil alih tubuhku dan membunuhmu, aku sangat mencintaimu, Ninda. Namun apa yang bisa kulakukan? itulah iblis, Ninda. Kamu tak akan mengerti." Ujar Shojo tertatih sedih.

Ninda berpikir sesaat, jika suaminya memiliki kepribadian ganda? lalu bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungannya, kekuatan dan sifat jiwa iblis, apa akan di wariskan kepada anaknya? "Astaga! apa yang akan terjadi padaku, tidak itu tidak mungkin. Aku akan baik-baik saja, janin yang ku-kandung akan menjadi anak yang baik." Batin Ninda.

"Aku minta kamu gugurkan anak itu, Ninda!" pinta Shojo.

Mata Ninda terbelalak, "Tidak, aku ... aku tidak akan menggugurkannya, Shojo. Tidak akan pernah bahkan jika aku harus dibunuh olehmu, aku tidak akan merenggut nyawa anakku!" teriak Ninda nyaring pada suaminya.

Shojo mengusap wajahnya, dia beranjak pergi dari kamar pribadi mereka berdua, meninggalkan Ninda yang masih dengan raut wajah marahnya, Ninda tak percaya Shojo tega berkata akan menggugurkan janin yang ada di dalam kandungan Ninda.

Semenjak itu Shojo tak pernah mengajak istrinya berbicara, Ninda selalu menjalani kesendiriannya di halaman gedung yakuza, dan berjalan-jalan sendiri sejenak mengelilingi kota Tokyo, terkadang ia pergi ke rumah sahabat lamanya Harumi, teman masa Smp hingga SMA-nya di Jepang.

Namun saat ini ada yang aneh dengan janin kandungan Ninda, janin itu belum juga lahir, dan tak pernah membuat Ninda sakit atau apapun itu, membuat Ninda khawatir pada janinnya, apa ada sesuatu yang aneh, atau ada yang cacat pada janinnya.

Saat diperiksa ke dokter, bayi normal dan sehat, terlihat janin seperti sudah berumur tujuh bulan, Ninda merasa aneh, mengapa pertumbuhan anaknya terlihat lambat saat masih di dalam rahim, pasalnya sudah hampir satu tahun lebih janin itu belum keluar dilahirkan. Ini menjadi sangat aneh bagi Ninda.

Sehingga lima tahun lebih kemudian akhirnya sang bayi dilahirkan di rumah sakit umum Tokyo, hanya Hiro yang menemani menantunya melahirkan saat itu, sedangkan Shojo entah pergi kemana.

Bayi itu sehat dan kini tengah digendong oleh kakeknya, Hiro. Hiro bertanya pada Ninda, ingin diberikan nama apa anaknya.

"Aku tidak tahu, terserah ayah saja." Ucap Ninda yang masih lemas.

"Bagaimana jika namanya Bayu dengan nama belakangmu, tapi tidak mungkin Anista, itu seperti nama perempuan, tapi bukankah kamu memiliki nama belakang satu lagi."

"Iya, ada nama belakangku Ayah. Purbawingga ..." sebut Ninda pada mertuanya.

"Ya Baiklah. Bayu Purbawingga ..." ucap kakeknya Hiro sambil terkekeh. Ia bahagia memiliki cucu pertamanya tepat saat ini tengah digendong olehnya.

Di gedung yakuza Bayu pun akhirnya tumbuh menjadi anak usia balita yang cerdas, ia juga sesekali diajak bermain pedang-pedangan dengan kakeknya, Mika teman masa kecilnya juga terkadang sering bermain bersamanya. Apalagi Ibu Bayu, dia sering membawa anaknya ke rumah temannya Harumi, Ibu Mika.

Harumi adalah sahabat Ninda yang menemani kesendiriannya akhir-akhir ini. Cukup membuat Ninda bahagia melihat anaknya bermain riang gembira bersama anak sahabatnya Harumi, yaitu gadis kecil Mika Naomi.

Namun lagi-lagi kebahagiaan itu tak bertahan lama, pada suatu hari Ayah Bayu hendak membunuh anaknya saat berjalan sendiri di gedung Yakuza. Ia mengacungkan pedangnya ke anaknya itu. Tiba-tiba saja Ninda muncul menahan tangan Shojo sekuat tenaga, "Tolong jangan bunuh dia ..." suara Ninda tertatih.

Shojo mendorong tubuh istrinya itu, ia hendak menghunuskan pedang itu ke arah anaknya.

"Tang ...!!!" suara dentangan pedang nyaring di seisi ruangan gedung, itu adalah Hiro.

"Mengapa kau ingin membunuh anakmu? apa kau gila?" ucap Hiro membentak anak angkatnya, Shojo.

"Maaf Ayah, aku khilaf ... ada sesuatu yang tak beres dengan pikiranku." Ucap Shojo beranjak pergi dari tempat itu.

Ninda masih syok dengan kejadian barusan, hampir saja anaknya mati, Bayu yang masih kecil itu juga tak tau menahu apa yang akan dilakukan ayahnya saat itu, mengingat dirinya masih berusia balita, apa yang bisa ia ingat? lagipula ia tak tau jika itu ayahnya, dia sangat jarang sekali bertemu dengan ayahnya yang sibuk mengurus urusan lain.

Semenjak kejadian itu, Ninda memutuskan untuk pergi dari Jepang, ia tak mau kejadian yang sama terulang kembali. Ia memutuskan pergi ke negara asalnya, Negeri Tanah Air. Tanah yang tidak pernah dia pijaki semenjak kecil.

Ninda hanya berpamitan dengan mertuanya, Hiro. Hiro melepaskan kepergian menantu dan cucunya itu dengan memberi setumpuk uang yang sangat banyak. Ninda yang tengah menggendong anaknya membungkuk hormat serta berterimakasih kepada mertuanya dan langsung beranjak pergi.

Lalu ia menumpangi pesawat melalui bandara Narita menuju bandara Tanah Air, Kota Axel.

.........

Bayu kini mengangguk paham dengan semua cerita Ibunya, ia juga syok pada dirinya, bahwa ayahnya memiliki kepribadian ganda, lagi ia saat ini sadar seperti mewarisi kekuatan dari jiwa iblis ayahnya, "I-ibu, aku ini makhluk apa, apa aku ... m-monster ?" tanya Bayu seperti depresi, ia meremas kepalanya.

"Bayu, ibu mohon kamu tenang ..." ujar Ibunya berusaha menenangkan anaknya.

"Tidak ibu ... aku ini bukan manusia ..." diri Bayu panik. "Makhluk apa aku ini ...."

"Bayu, lihat ibu, lihat ..." ucap Ibunya memegang wajah anaknya, tatapan sayang Ibunya benar-benar ketulusan hati seorang Ibu.

Suasana di ruang tamu lengang sejenak, Bayu menghirup nafasnya dalam-dalam mencoba untuk tenang. "Ibu ..., apakah aku akan memiliki sifat jahat seperti ayah, aku dengar ayah membunuh Kakek Hiro?" ucap Bayu bertanya, khawatir dirinya menjadi sosok iblis sungguhan.

Ibunya kaget, Bayu sudah mengetahui hal itu. Jika ayahnya adalah orang yang jahat seperti iblis, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Benar yang dikatakan orang-orang, Bayu memang disebut-sebut kuat seperti iblis. Ia mewarisi kekuatan iblis dari roh jiwa iblis ayahnya. Ia seperti tak menerima kehidupan ini.

"Aku menyesal untuk hidup ibu, aku tidak ingin diriku menjadi orang yang jahat seperti ayah. Lebih baik aku mati saja."

"Bayu ..., kamu jangan pernah sekalipun menyesali kehidupan kamu, kehidupan itu anugrah Bayu." Ujar Ibunya berusaha menyadarkan Bayu.

"Ibu yakin, kamu itu orang yang baik. Ibu sangat yakin sama kamu ...."

Mata Bayu setetes demi setetes mengeluarkan air mata, matanya berubah menjadi merah darah, Ibunya sudah biasa dengan hal itu, hal itu pertama kali Ibunya lihat saat Bayu masih Sd, kini Ninda sudah terbiasa dengan mata anaknya yang tiba-tiba menjadi merah. Langsung Ninda memeluk tubuh anaknya agar Bayu menjadi tenang.

"Sudah Bayu, gak apa-apa. Kamu itu keturunan manusia, Bayu. Bukan iblis, lagi kamu juga tak memiliki kepribadian ganda seperti ayahmu, kamu hanya diri kamu seorang, kamu juga pasti punya hati nurani untuk menghindari perbuatan jahat. Ibu kenal kamu Bayu, kamu itu aslinya anaknya yang baik," bujukan Ibunya berhasil meluluhkan hati anaknya.

"Tapi aku ingin jujur sama Ibu ..."

"Jujur soal apa ..."

"Aku tidak sepenuhnya orang yang baik Ibu, aku pernah berniat membunuh seseorang,"

"A-apa ...?"

1
Joe Lian
suaranya seperti ka Sensen
Joe Lian: kak IF
total 1 replies
jingga
jelek banget ceritanya dibolak-balik gk karuan
Y. I.
Petualangan seorang remaja dengan kekuatan merealisasikan pikiran dan membalaskan dendamnya sejak kecil.

Baca di "Dangerous Minds" untuk kelanjutannya!

Oh ya, untuk rasa terimakasih nitip promo, saya sudah kasih 15 like dan favorit novel ini. Terimakasih, Thor!
Sejahtera
Semangat Kakak
Sejahtera
Semangat ^^
Sejahtera
Semangat Kakak
Bumi
good
connect official
keren klo di buat film ini
Rei Na
Keren
Samy
ngga nyambung
Samy
ini mungkin cerita inga ingantan masalalu kai yaaa
Samy
ceritanya putus-ngga nyambung sama sekali
Hitagi
wahhh akhirnya tamat, sukses selalu thor.

buat temen2 yang mau baca tulisanku juga mampir yuuk
Sejahtera
Seeeemangat ^_^
Sejahtera
Semangat Kakak ^_^
Sejahtera
Semangat Kakak
煙草×Sebatss🚬
Mantap. Lanjut up dan semoga sehat selalu
煙草×Sebatss🚬
Bagus. Lanjut up terus
煙草×Sebatss🚬
Mantap
煙草×Sebatss🚬
Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!