Namanya Sinta Anjani, janda satu anak yang mempunyai ambisi untuk mencari suami dan ayah baru untuk anaknya, James. Kegagalan rumah tangga disebabkan oleh mantan suami yang dengan tega menyelingkuhi dirinya bahkan ketika janda itu dalam keadaan hamil. Tentu saja banyak rintangan dalam masa pencarian jodohnya, beberapa konflik keluarga bahkan sahabat baru dalam hidupnya menjadi kendala besar bagi janda itu. Akankah Sinta melabuhkan lagi cintanya? atau dia memutuskan untuk hidup tanpa ikatan pernikahan dan memilih menjadi seorang janda seumur hidup? entahlah kita ikuti saja takdir sang kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurlaeli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANEH
Sinta terus membawa langkah kakinya menuju arah Natasya, langkahnya sangat pelan sehingga kedua orang itu tidak bisa mendengar suara sepatu Sinta.
"Oh hai!"
Tap tap tap
Greb
Natasya menyadari Sinta, gadis itu telah berlari dan memeluk janda itu.
"Kamu kok ada disini?" Sinta sampai mengabaikan laki-laki yang tadi bersama Natasya.
"Aku kebetulan sedang libur, kan aku kangen sama kamu."
"Bisa aja kamu, James tidak ikut?"
"Ikut kok, dia dimobil."
"Kok tidak kamu bawa masuk si?"
"Memangnya boleh kalau aku membawa bayi ke kantor ini?" Natasya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, gadis itu cengengesan.
Hingga akhirnya Sinta menolehkan wajahnya menghadap laki-laki tadi, mata bulat Sinta seketika membesar. Sungguh dia tidak mengerti atas apa yang sebenarnya terjadi. Yang ditatap sempat menampilkan ekspresi pucatnya namun itu semua seolah tertutup tampang datar yang Sinta lihat. Disana, berdiri menjulang laki-laki yang baru kemarin Sinta tolak lamarannya.
"Nanti kita ngobrol lagi Natasya, aku pulang dulu."
"Loh kok buru-buru?"
"Nanti aku telfon."
Setelah itu Sinta bisa mendengar langkah kepergian laki-laki itu, tangan kanan Sinta ditarik oleh Natasya menuju sebuah ruangan. Yang Sinta ingat ruangan itu adalah tempat dimana tujuannya tadi.
"Natasya?"
"Iya, kenapa?"
"Tadi itu siapa?"
"Namanya mas Firman."
"Kamu ada hubungan apa sama dia?"
"Aku?" Sinta mengangguk memberi jawaban.
"Dia salah satu klien di perusahaan ini."
"Tapi kenapa kalian terlihat sangat dekat sekali?"
"Ah kamu kenapa si?" Sinta menyadari tingkahnya yang seperti ingin tahu lebih dalam itu, di tariknya senyum untuk Natasya agar gadis itu tidak curiga.
"Aku cuma mau tau, setahuku kamu tidak pernah dekat dengan laki-laki selain Bram."
"Ya begitulah."
"Lalu yang tadi?"
"Sinta, dia itu ya hanya rekan kerja. Itu saja."
"Tapi kamu tidak perlu melotot begitu, kan?"
Sinta dan Natasya saling tertawa mendapati respon tidak biasa dari Natasya, meski ada banyak sekali pertanyaan bersarang diotak janda itu.
"Kamu sudah lama kenal sama dia?"
"Semenjak aku masuk ke kantor ini."
Sinta sekarang tahu, ternyata Firman tidak sepenuhnya laki-laki yang tulus. Barusaja kemarin mau mengikat dirinya dengan sebuah lamaran, dan hari ini Sinta dibuat tidak percaya dengan kedekatan Firman dan Natasya. Meskipun Sinta menolak lamaran Firman dan hal lumrah ketika laki-laki itu mendekati perempuan lain namun rasanya itu sangat aneh bagi Sinta. Terlebih perempuan itu adalah sahabatnya sendiri. Dan Sinta yakin kalau Firman tidak mengetahui persahabatan antara Natasya dan Sinta sebelumnya, sebuah kebetulan yang sangat aneh.
"Oh ya, kamu mau aku pesankan makanan apa?" Natasya membuka suara kembali sembari matanya menatap ke layar ponselnya.
"Tidak perlu, aku akan makan nanti bersama Siti."
Natasya mengangguk sebagai jawaban, Sinta sebenarnya ingin menanyakan tentang Bram. Tetapi dia tidak tahu harus memulai dengan kalimat apa agar Natasya tidak merasa curiga atas ucapannya nanti.
Melupakan tentang Firman tadi, Sinta akhirnya menemukan beberapa kalimat untuk dia todongkan kepada Natasya mengenai Bram.
"Kamu sama Bram bagaimana?" Natasya menatap Sinta kali ini, mengerutkan kening mendengar pertanyaan Sinta.
"Bagaimana apanya?"
"Hubungan kalian?"
"Kamu adalah orang pertama yang aku beritahu tentang berakhirnya hubungan aku dan Bram, masih sama. Ya, berakhir."
Sinta tidak menemukan apa yang dia cari, ya dia sendiri mengakui pertanyaan itu konyol.
"Memangnya sekarang dia dimana?" Sinta bertanya dengan takut, Natasya berdiri sambil terus menatap layar ponselnya. Sesaat setelah itu nada dering panggilan terdengar dengan jelas ditelinga Sinta dan juga Natasya. Gadis itu menggeser tombol hijau pada layar ponselnya untuk menjawab panggilan yang ternyata dari boss nya.
"Iya hallo Pak."
Sinta menatap kepergian Natasya keluar ruangan, hingga tidak lagi terlihat dimata Sinta. Janda itu mengamati sekeliling dan berhenti tepat ketika matanya menangkap satu foto di meja kerja Natasya, bukan Bram ataupun orang tua gadis itu. Kini Sinta kembali dibuat bingung dengan foto Natasya yang tampak anggun menggunakan dress warna merah pudar dan dipinggang gadis itu melekat tangan Firman, mereka berdua berfoto dengan pose ala-ala model pakaian. Latar tempat itu sendiri berada disebuah taman, yang diambil ketika malam hari. Sinta dengan cepat mengambil ponselnya yang berada didalam tas, dia menekan layar kamera lalu memotret foto Natasya dan Firman. Buru-buru dia menyimpan kembali ponselnya ketika sudah terjepret dengan sempurna.
"Maaf Sin, aku harus keluar sekarang. Ada jadwal pemotretan."
"Kalau begitu aku juga pergi sekarang."
"Kamu mau kemana lagi?"
"Berkeliling kota Jogja mungkin?" Sinta mengedikan bahunya, tidak tahu juga harus pergi kemana lagi dia.
"Baiklah, kalau kamu punya waktu yang lama disini. Aku antar kamu jalan-jalan."
"Aku tunggu ya, jadwal kosong kamu."
Greb
Mereka berdua kembali berpelukan, Natasya mengiring langkah Sinta hingga mereka berdua terpisah dilorong kantor itu. Sinta tersenyum sebagai tanda perpisahan, begitu juga dengan Natasya. Gadis itu melambaikan tangan sampai tubuh sintal Sinta tidak lagi terlihat.
-------
"Kenapa semuanya sangat membingungkan?"
"Bu Sinta?" Siti menyadarkan janda muda itu dari lamunannya, mereka kini tengah makan ditempat warung soto sapi sederhana langganan Sinta dulu.
"Biar saya yang menggendong James, Bu Sinta makan dulu."
Sinta melepas James dalam gendongannya, perempuan itu memang menyuruh Siti agar makan lebih dulu. Setelah pengurus James selesai barulah Sinta kembali ke meja makan dan mulai menyantap hidangannya.
Posisi mejanya sama dengan waktu pertama kali Sinta bertemu Bram, laki-laki itu dulu bersama Natasya. Sinta kembali teringat hal itu, sungguh tidak bisa Sinta duga bahwa kini dirinya bisa terjebak perasaan dengan laki-laki itu. Takdir siapa yang tahu, rasanya perpisahan Bram dan Natasya begitu tidak nyata bagi Sinta. Mereka adalah pelanggan pertama Sinta dibutiknya dulu, kenapa permainan hidup begitu membingungkan bagi janda itu.
"Mbak, sepertinya kita akan menginap satu malam disini."
"Tidak apa-apa Bu."
"Setelah ini kita cari hotel, dan besok sore kita kembali ke Bandung. Maaf ya, hari ini Mbak hanya bisa duduk dimobil."
"Tidak apa-apa kok Bu, seperti ini saja sudah sedikit mengobati rasa rindu saya dikota ini."
"Tapi Mbak tenang saja, besok kita jalan-jalan."
"Iya Bu."
Sinta tersenyum ke arah Siti, kembali di lahap soto sapi yang masih setengah mangkuk itu. James melihat Sinta dengan tatapan sayu, seolah bayi itu lelah dengan perjalanan. Sinta yang menyadari tampang lesu dan datar diwajah James terkekeh. Anak itu biasanya sangat ceria dan bersemangat, Sinta akui mungkin dirinya telah membuat anaknya jengkel karena membuat James hanya berdiam diri seharian didalam mobil.
Tidak punya harga diri rupanya
Lanjut lagi
Mau lanjut baca nih
Maaf tekat
Lama ya, kita nggak berjumpa.wkwkwk
Btwe sekarang author sudah ada kerjaan lain. Alhamdulillah.
Aku datang membawa info tentang cuan. Hehe.
Apakah di sini ada yang mau menjajal platfrom lain? Kebetulan saya salah satu Editor Akuisisi di sana. Maaf sebelumnya, saya sengaja tulis ini di kolom komentar. Takutnya kalau lewat pengumuman menyinggung pemilik rumah. Buat kalian yang mau dapat fee hingga 400 dollar. Boleh whatsapp ke saya 081413030520.. untuk info lain saya jelaskan di wa ya teman-teman. Terima kasih.
apa dibiarkan menggantung..
up trus Thor sukak banget sma karyamu lope lope
semangat terus jangan sampai DOWN
Contohnya dilapak aku banyak siders yang baca perhari tapi kamu lihatkan yang komen hanya itu2 saja, like cuma seberapa? Tapi itu tak apa? Yang penting Aku sudah memberikan yang terbaik untuk mereka kalau masalah like dan komen itu Bonus bwat aku yang penting mereka BACA.
Sebenarnya aku nulis ini desakkan dari temen2 sesama author padahal aku sibuk banget kerja.Ini aku juga nulis di sela-sela waktu santai kalau gak ada kerjaan.Makanya saat ada yang minta bwat crazy Up itu tidak mungkin terjadi...??!
Semangat jangan sampai menyerah begitu mudah 🤗🤗🤗
main main ke karyaku ya mkasih