NovelToon NovelToon
Lovely Rain, Sweet Heart

Lovely Rain, Sweet Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: Liana29

Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan lima detik

Suara ketukan spidol Bu Rahmawati di papan tulis berpadu dengan dengung kipas angin di sudut kelas.

Pelajaran Matematika, subjek yang biasanya membutuhkan konsentrasi penuh, kini terasa seperti latar belakang suara yang samar bagi Althaf dan Diantha.

Althaf menunduk dalam, memegang pensilnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mata Althaf menatap deretan rumus aljabar di bukunya, tetapi tak ada satu pun angka yang benar-benar masuk ke dalam pikirannya.

Otaknya dipenuhi bayangan Diantha yang tadi pagi turun dari motor Reyhan, serta deretan kata-kata Rian yang masih terngiang membakar kesadarannya: Jalan lo udah tertutup rapat, Thaf.

Di barisan sebelah kanan, Diantha pun berusaha melakukan hal yang sama. Pandangannya lurus menatap papan tulis, menyalin setiap langkah penyelesaian soal yang ditulis Bu Rahmawati.

Namun, fokusnya koyak. Dadanya terasa sesak oleh kombinasi rasa marah, bingung, dan kekecewaan yang mendalam. Ia terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa cowok yang selama ini memberinya perhatian-perhatian kecil yang begitu hangat justru menjadi orang pertama yang mendorongnya ke pelukan laki-laki lain?

Masing-masing berusaha membentengi diri. Masing-masing berikrar untuk tidak lagi memedulikan satu sama lain.

Namun, perasaan yang sudah terlanjur bertaut tak bisa dibohongi oleh logika. Tubuh mereka bertindak di luar kendali pikiran.

Seolah digerakkan oleh benang tak kasat mata, dalam satu detik yang bersamaan, Althaf memiringkan kepalanya ke kanan, sementara Diantha menolehkan wajahnya ke kiri.

Netra mereka kembali beradu di udara.

Dunia seolah berhenti berputar di dalam ruang kelas yang bising itu. Tidak ada suara Bu Rahmawati, tidak ada gesekan spidol, tidak ada bisikan murid-murid lain. Yang ada hanya tatapan mata antara dua insan yang saling merindukan namun terhalang oleh gengsi, pengorbanan, dan kesalahpahaman..

Lewat manik mata Althaf, Diantha dapat menangkap sesuatu yang tidak bisa disembunyikan oleh raut wajah datar cowok itu: rasa sakit yang teramat sangat. Ada kepedihan mendalam, kerinduan yang ditahan, dan rasa bersalah yang berkecamuk di balik tatapan cokelat pekat milik Althaf. Diantha tertegun; tatapan itu sama sekali tidak mencerminkan sosok cowok yang 'merelakan'..

Sementara itu, bagi Althaf, menatap mata Diantha terasa seperti disiram air raksa. Di balik binar indah yang biasanya menatapnya penuh kehangatan, kini yang tersisa hanyalah kekecewaan yang begitu dingin. Tatapan Diantha seolah menghujatnya, menagih pertanggungjawaban atas keputusan konyol yang Althaf buat sendiri.

Lima detik.

Hanya lima detik mereka saling mengunci pandangan. Lima detik yang terasa bagai keabadian yang menyiksa. Begitu menyadari kerapuhan masing-masing, Diantha menjadi yang pertama memutuskan kontak mata dengan memutuskan pandangan kembali ke papan tulis, sementara Althaf memejamkan matanya rapat-rapat, meremas dadanya yang terasa seperti dihantam benda tumpul.

Kriiiinggg!...

Bel tanda berakhirnya jam pelajaran pertama melengking nyaring, memecah ketegangan yang menyelimuti atmosfer kelas. Pak Bambang merapikan buku-bukunya, mengucapkan salam singkat, lalu melangkah keluar kelas.

Belum sempat murid-murid menghela napas lega atau membereskan tempat duduk mereka, sebuah sosok sudah berdiri tegak di ambang pintu depan kelas.

Reyhan.

Kakak kelas itu tampil begitu percaya diri. Seragamnya rapi, rambutnya tersisir rapi dengan aroma parfum maskulin yang cukup tajam membelah udara koridor. Wajahnya berseri-seri, memancarkan aura kemenangan setelah keberhasilannya mengantar Diantha tadi pagi. Bagi Reyhan, tidak ada waktu untuk membuang-buang kesempatan. Momentum ini harus ia manfaatkan sebaik mungkin.

Reyhan melangkah masuk ke dalam kelas X-2 tanpa ragu, mengabaikan tatapan beberapa siswa yang heran melihat anak kelas dua berada di sana saat jam istirahat baru saja dimulai. Langkah kakinya yang mantap langsung tertuju ke meja Diantha.

"Diantha," sapa Reyhan dengan senyum manis terbaiknya, berdiri tepat di samping meja gadis itu.

Diantha yang baru saja memasukkan buku matematikanya ke dalam tas terkejut. Ia mendongak, mendapati Reyhan sudah berdiri menyunggingkan senyum di dekatnya.

"Eh, Kak Reyhan..." sahut Diantha canggung, sudut matanya refleks melirik ke arah meja Althaf di pojok kiri.

Althaf sedang menunduk, pura-pura sibuk membereskan alat tulisnya, namun pergerakan tangannya yang kaku menunjukkan bahwa ia mendengarkan setiap detail interaksi itu.

"Ke kantin yuk? Atau mau ke tempat rahasia di belakang sekolah yang biasa itu?" ajak Reyhan antusias, suaranya cukup nyaring hingga terdengar oleh Sari dan Rian yang berada tak jauh dari sana. "Aku yang traktir deh. Mau makan mi ayam, bakso, atau minum yang segar-segar? Biar makin segar harinya."

Sari menyikut lengan Diantha pelan sambil memberikan isyarat mata, seolah menyuruhnya untuk menerima ajakan tersebut. Di sisi lain, Rian membuang muka, pura-pura menyalin catatan agar tidak perlu melihat adegan menyakitkan yang sedang terjadi di depan sahabatnya.

Diantha merasakan dadanya kembali bergejolak. Rasa enggan dan risih yang biasa ia rasakan pada Reyhan mendadak berbenturan dengan dorongan untuk membuktikan keputusannya di depan Althaf. Ia ingin melihat, apakah Althaf benar-benar akan tetap diam jika ia melangkah pergi bersama Reyhan saat ini juga.

"Boleh, Kak," jawab Diantha akhirnya. Suaranya terdengar cukup tenang, meski di dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. "Ke kantin aja ya, aku agak lapar."

Mendengar jawaban itu, senyum Reyhan makin merekah lebar. Rasa percaya dirinya membumbung tinggi hingga ke langit-langit. Di dalam kepalanya, skenario besar sudah tersusun rapi. Ini adalah awal yang luar biasa. Jika dalam sehari ia sudah bisa mengantar-jemput dan mengajak Diantha ke kantin, maka targetnya bukan lagi hal yang mustahil.

Reyhan bertekad, ia akan memberikan seluruh perhatian, kejutan, dan pesonanya selama dua minggu ke depan. Dan tepat di hari ke-14 nanti, ia akan menyatakan perasaannya secara resmi untuk menjadikan Diantha sebagai kekasihnya. Ia sangat yakin, tidak ada alasan bagi Diantha untuk menolaknya lagi..

"Sip! Yuk, jalan sekarang sebelum kantin rame," ujar Reyhan penuh semangat, memberi ruang agar Diantha bisa berdiri dari bangkunya.

Diantha berdiri, merapikan rok seragamnya. Sebelum melangkah keluar mengekor di belakang Reyhan, Diantha sengaja berjalan melewati meja Althaf. Langkah kakinya melambat sejenak di samping cowok itu. Namun, Althaf tetap menunduk dalam, menatap kosong ke arah meja kayunya tanpa berani membalas keberadaan Diantha yang hanya berjarak beberapa senti darinya.

Diantha memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas pahit, lalu melanjutkan langkahnya keluar kelas bersama Reyhan.

Begitu bayangan Diantha dan Reyhan menghilang di balik pintu kelas, Althaf melepaskan genggaman pensilnya. Pensil kayu itu patah menjadi dua di dalam tangannya yang gemetar..

Rian yang melihat sahabatnya berusaha keras menahan sakit pun berusaha mengalihkan perhatian Althaf, ia mengajak nya ke belakang sekolah untuk sekedar menghibur diri..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!