Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017: Bronkosol — Obat yang Membunuh
“Jangan biarkan rekam medisnya hilang,” kata Ardi. “Saya ke sana sekarang.”
Motor tua itu melesat kembali ke Surabaya.
Lampu jalan memanjang di aspal basah. Angin malam menampar wajah Ardi, tetapi pikirannya jauh lebih dingin daripada udara. Bronkosol. Cardiac arrest. Hati yang tampak salah di CT. Tiga kata itu membentuk garis yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Ketika Ardi tiba di UGD RSUD Soetomo, jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam.
Rudi sudah menunggu di depan ruang resus dengan wajah tegang. Bajunya kusut, rambutnya berantakan, dan di tangannya ada berkas rekam medis yang ia peluk seperti barang bukti.
“Bos, pasiennya baru saja masuk arrest lagi,” katanya.
Ardi tidak menjawab dengan kata. Ia langsung masuk.
Di ruang resus, seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun terbaring di atas bed. Kulitnya pucat keabu-abuan. Seragam jaket hijau GoFood masih terlipat di kursi, basah oleh keringat dan hujan. Di monitor, garis irama jantung bergerak kacau, naik turun seperti kabel putus.
Seorang dokter jaga menekan dada pasien.
“CPR lanjut! Adrenalin sudah?”
“Sudah, Dok!”
“Kalium?”
Perawat menjawab cepat, “Hasil lab baru masuk. Kalium 2,1.”
Ruangan terasa berhenti setengah detik.
Hipokalemia berat.
Ardi mendekat ke sisi monitor. “Riwayat?”
Rudi membuka berkas. “Nama pasien: Damar, tiga puluh empat tahun, driver online. Tadi sore batuk, beli Bronkosol di apotek dekat kos. Malamnya minum satu botol kecil arak sama teman, katanya buat hangat badan karena kehujanan. Dua jam kemudian lemas, muntah, lalu pingsan.”
Dokter jaga menggeleng. “Ini drug interaction biasa. Alkohol, obat batuk, mungkin dehidrasi.”
Ardi mengambil lembar hasil lab.
AST dan ALT naik tidak wajar. Laktat tinggi. pH darah turun. Kalium turun terlalu dalam untuk sekadar muntah. EKG menunjukkan gelombang U yang tajam, lalu episode ventricular arrhythmia berulang.
“CT?”
Rudi menyerahkan hasil cetak. “Ini yang bikin gue nggak enak. Hatinya seperti ada cedera akut, tapi keluarga bilang dia nggak punya riwayat hepatitis atau obat keras.”
Ardi menatap gambar itu.
Di kepalanya, Toksikologi Diagnostik Mahir bekerja seperti ruang arsip yang semua lacinya terbuka sekaligus. Alkohol. Komponen obat batuk. Metabolisme hati. Gangguan elektrolit. Kanal kalium. Aritmia fatal.
Ini bukan hanya interaksi biasa.
Ini pola.
“Cek komposisi Bronkosol yang dia minum,” kata Ardi.
Dokter jaga mengerutkan dahi. “Dokter Ardi, sekarang fokus resusitasi dulu.”
“Saya fokus resusitasi karena saya ingin tahu racunnya,” balas Ardi tanpa menaikkan suara. “Kalium drip jalan. Magnesium sulfat siapkan. Koreksi asidosis. Jangan tambah obat yang memperpanjang QT.”
Rudi langsung bergerak. “Perawat, dengar Dokter Ardi!”
Dokter jaga ingin membantah, tetapi monitor menjerit.
Irama jantung pasien runtuh.
“VF!”
Defibrilator ditempelkan. Tubuh Damar terangkat sekali. Dua kali. Tiga kali.
Ardi berdiri di sisi bed, menghitung ritme, menilai pupil, melihat tangan perawat yang mulai gemetar, mendengar suara napas keluarga di luar pintu yang tertahan seperti doa patah.
Mereka berjuang dua puluh tujuh menit.
Pada menit kedua puluh delapan, garis monitor memanjang.
Dokter jaga menunduk.
Rudi memejamkan mata.
Ardi melihat jam dinding.
“Jam kematian, dua puluh tiga lewat tiga puluh delapan.”
Di luar ruangan, seorang perempuan muda langsung jatuh terduduk ketika kabar itu disampaikan. Istri Damar. Di sampingnya, anak laki-laki kecil memegang helm ayahnya, tidak mengerti mengapa semua orang dewasa menangis.
Kematian di UGD bukan hal baru bagi Ardi.
Tetapi ada kematian yang selesai sebagai takdir, dan ada kematian yang meninggalkan bau tangan manusia.
Ini yang kedua.
Ardi melepas sarung tangan dan menatap Rudi.
“Botol Bronkosolnya ada?”
“Ada. Istrinya bawa.”
“Amankan. Foto labelnya. Jangan sampai masuk tong sampah. Minta persetujuan keluarga untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hubungi dokter forensik jaga.”
Rudi mengangguk cepat. “Lo yakin ini bukan interaksi biasa?”
Ardi menatap monitor yang sudah diam.
“Interaksi biasa tidak menurunkan kalium sedalam ini dengan pola hati seperti itu. Dan tidak membuat ventricular arrhythmia secepat ini pada pria sehat.”
Di ruang kecil dokter, botol Bronkosol diletakkan di atas meja dengan plastik bening.
Labelnya bersih. Desainnya profesional. Ada logo PT Surya Perkasa Group di bagian belakang, kecil tetapi jelas. Iklan di kemasan menjanjikan batuk reda, napas lega, aman untuk keluarga.
Aman.
Kata itu membuat rahang Ardi mengeras.
Ia membuka laptop rumah sakit, lalu masuk ke database jurnal, laporan farmakovigilans, dan catatan internal kasus kematian tidak jelas. Rudi duduk di sampingnya, masih membawa kopi yang belum diminum.
“Kalau ini produk Surya Perkasa,” kata Rudi pelan, “berarti...”
“Berarti kita tidak boleh salah satu langkah pun.”
Ardi mulai mencari.
Bronkosol.
Hipokalemia.
Aritmia.
Alkohol.
Gagal hati akut.
Awalnya hanya muncul artikel promosi, laporan pemasaran, dan brosur apotek. Lalu satu catatan kasus dari rumah sakit kecil di Gresik. Pria empat puluh tahun, meninggal setelah obat batuk dan alkohol. Penyebab resmi: henti jantung mendadak.
Kasus kedua dari Sidoarjo. Perempuan tiga puluh delapan tahun, batuk, minum Bronkosol, memakai obat diuretik, ditemukan tidak sadar. Kalium rendah. Meninggal sebelum rujukan.
Kasus ketiga dari Pasuruan.
Keempat dari Malang.
Kelima, keenam, ketujuh.
Semua tersebar. Semua kecil. Semua dicatat sebagai kejadian terpisah. Tidak ada satu dokter pun yang menghubungkan mereka, karena masing-masing terlihat seperti kematian biasa: alkohol, lelah, obat lain, penyakit dasar, takdir buruk.
Namun di mata Ardi, garis itu menyatu.
Bronkosol bukan sekadar obat batuk.
Dalam kondisi tertentu, komponennya mengganggu metabolisme hati dan memicu penurunan kalium ekstrem. Pada orang yang minum alkohol, memakai diuretik, atau memiliki cadangan hati buruk, efek itu bisa berubah menjadi aritmia fatal.
Dan jika tujuh kasus sudah muncul di dokumen yang bisa ia akses dalam satu malam, jumlah sebenarnya pasti lebih besar.
Panel biru muncul.
[Misi Berantai — Tahap 1/5 selesai.]
[Menemukan Kebenaran: efek samping fatal Bronkosol teridentifikasi.]
[Hadiah tahap: 100 PM.]
[Saldo PM: 210.]
[Tahap 2/5 terbuka.]
+--------------------------------------------------+
| Tahap 2/5: Mengumpulkan Bukti Klinis |
| Syarat: minimal 3 kasus kematian terkait |
| Bronkosol dengan data medis lengkap. |
| Hadiah: 500 PM |
+--------------------------------------------------+
Rudi tidak melihat panel itu. Ia hanya melihat Ardi yang diam terlalu lama di depan layar.
“Di?”
Ardi menutup tujuh file kasus itu satu per satu, lalu menyimpannya ke folder terenkripsi.
“Ini bukan cuma kasus Damar.”
“Berapa banyak?”
“Yang terlihat malam ini, minimal tujuh.”
Wajah Rudi memucat. “Tujuh orang mati karena obat batuk?”
“Karena obat yang risikonya tidak dilaporkan dengan benar.” Ardi menatap logo PT Surya Perkasa Group di botol kecil itu. “Dan kalau perusahaan sebesar itu tahu tetapi diam, ini bukan kelalaian. Ini pembunuhan yang memakai kemasan legal.”
Rudi mengusap wajahnya.
“Lo sadar kita bicara tentang siapa?”
“Saya sadar.”
“Surya Perkasa bukan Hendro. Bukan Rangga yang bisa panik di pengadilan. Mereka punya pengacara, media, koneksi BPOM, semuanya.”
Ardi mengambil ponselnya.
“Karena itu kita tidak bergerak dengan emosi.”
Ia keluar ke halaman belakang UGD. Malam sudah lewat jauh, tetapi lampu rumah sakit masih menyala seperti mata yang tidak bisa tidur.
Hartono mengangkat pada dering kedua.
“Ardi?”
Ardi menatap botol Bronkosol di dalam plastik bukti yang ia pegang.
“Bang Hartono,” katanya, suaranya rendah, “saya menemukan sesuatu tentang Surya Perkasa Group.”
Di ujung telepon, Hartono diam.
Ardi melanjutkan, “Dan ini besar.”
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭