NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Pasar Grosir

Predator tidak tidur lagi setelah fajar.

Pukul enam pagi, ketika Cluster Pondok Indah baru mulai hidup dengan suara mesin mobil, semprotan tukang kebun, dan satpam yang berganti shift, Hendry sudah turun dari kamar dengan kemeja putih rapi dan wajah setenang air beku.

Tidak ada yang tahu bahwa pria muda yang berjalan melewati ruang tamu itu baru saja bangun dari kematian dua belas tahun.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik telapak kanannya, sebuah ruang gelap menunggu untuk menelan persediaan satu kota.

Di garasi, Hendry memilih Fortuner hitam, bukan Alphard keluarga. Alphard terlalu mencolok. Fortuner masih cukup mahal untuk membuka pintu gudang, tetapi cukup biasa untuk hilang di antara kendaraan bisnis Jakarta.

Sebelum menyalakan mesin, ia menelepon staf keuangan Wijaya Group.

"Pak Hendry?" Suara perempuan di seberang terdengar masih kaku, mungkin baru sampai kantor. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Aktifkan limit transaksi operasional untuk divisi logistik. Hari ini saya butuh pembayaran cepat ke beberapa pemasok."

"Jumlahnya berapa, Pak?"

Hendry melirik daftar di tablet. Baris pertama saja sudah cukup untuk membuat orang biasa pusing.

"Mulai dari dua puluh miliar. Kalau kurang, saya kabari lagi."

Hening dua detik.

"Dua puluh miliar, Pak?"

"Ini pembelian stok untuk kontrak ekspor dan perluasan gudang dingin. Catat sebagai pembelian komoditas. Beras, daging, seafood, minyak goreng, barang konsumsi. Semua invoice masuk ke PT Wijaya Perkasa Group."

Nada staf itu langsung berubah menjadi lebih hati-hati. "Baik, Pak. Apakah perlu persetujuan Pak Hartono?"

Jari Hendry berhenti di tombol start.

Nama itu seperti karat di lidah.

"Saya masih pemegang akses operasional," katanya datar. "Jalankan dulu. Kalau Om Hartono tanya, bilang saya sedang menutup peluang harga sebelum naik."

"Baik, Pak Hendry."

Telepon ditutup.

Hendry menyalakan mesin.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu lama percaya bahwa perusahaan keluarga adalah pelindung. Setelah kiamat turun, semua struktur itu berubah menjadi kandang. Om Hartono memegang dokumen. Kevin memegang preman. Ferry memegang jalur palsu. Hendry hanya memegang amarah dan perut kosong.

Kali ini, sebelum kandang itu dikunci, ia akan mengambil seluruh isinya.

Pasar Grosir Tanah Abang sudah padat ketika Hendry tiba. Truk boks, mobil pikap, buruh angkut, suara tawar-menawar, aroma karung beras, debu jalan, dan kopi sachet dari warung pinggir jalan bercampur menjadi satu. Jakarta masih merasa dirinya kota perdagangan biasa.

Bagi Hendry, tempat ini adalah tambang emas.

Emas yang bisa dimakan.

Ia tidak masuk seperti pembeli eceran. Ia langsung menuju deretan gudang besar di belakang, tempat para pemilik stok bicara dengan angka ton, bukan karung.

Seorang pria berkemeja kotak-kotak menyambutnya dengan senyum lebar setelah melihat kartu nama Wijaya Group.

"Pak Hendry dari Wijaya Group? Wah, jarang tuan muda turun langsung ke gudang begini."

"Saya butuh beras kualitas medium dan premium. Siap kirim hari ini."

"Berapa ton, Pak?"

"Dua ribu."

Senyum pria itu membeku.

Di belakangnya, dua buruh yang sedang mengangkat karung ikut menoleh.

"Maaf, Pak. Dua ribu... karung?"

"Ton."

Suara di sekitar mereka seperti turun satu tingkat. Forklift yang lewat bahkan terasa lebih lambat.

Pemilik gudang itu tertawa kecil, mengira Hendry sedang bercanda. "Pak, dua ribu ton itu bukan transaksi kecil. Perlu gudang penerima, jadwal truk, dokumen..."

"Saya bayar DP lima puluh persen sekarang. Sisanya setelah barang dihitung. Gudang penerima urusan saya."

Hendry meletakkan tablet di atas meja kayu kecil. Layar menampilkan surat pemesanan atas nama PT Wijaya Perkasa Group, nomor rekening perusahaan, dan draft kontrak singkat yang sudah ia siapkan sebelum matahari terbit.

Tidak ada orang pasar yang membenci uang cepat.

Pemilik gudang menelan ludah. Matanya bolak-balik antara wajah Hendry dan angka di layar.

"Kalau begitu... kami bisa gabungkan stok dari tiga gudang. Tapi pengeluaran harus bertahap."

"Saya tidak butuh truk kalian keluar pasar." Hendry menunjuk gudang belakang. "Saya cek barang, segel area, lalu tim saya yang urus pemindahan malam ini."

"Tim Bapak?"

Hendry tersenyum tipis. "Wijaya Group bergerak di cold chain dan logistik, Pak. Kami tidak datang tanpa tangan."

Itu bohong yang indah karena setengahnya benar.

Satu jam kemudian, pintu gudang pertama ditutup dari dalam.

Pemilik gudang berdiri di luar bersama mandor, sibuk menelepon gudang lain dan mengejar invoice. Di dalam, Hendry berdiri sendirian di antara dinding karung beras yang menjulang sampai hampir menyentuh atap seng.

Aroma beras kering menusuk hidungnya.

Di kehidupan sebelumnya, aroma seperti ini pernah membuat satu kelompok penyintas saling membunuh.

Hendry mengangkat tangan kanan.

Ruang di depannya beriak.

Karung pertama lenyap.

Lalu baris kedua.

Lalu satu tumpukan.

Kemudian seluruh dinding putih itu runtuh ke dalam kegelapan tanpa suara, seolah ada mulut raksasa tak terlihat yang menelan gudang dari dalam.

Sepuluh meter kubik?

Hendry merasakan batas itu bergetar.

Jika ruang biasa dipaksa menampung dua ribu ton beras, hukum fisika pasti berteriak. Namun Ruang Dimensi bukan gudang biasa. Ia melipat volume, membekukan waktu, dan menyusun setiap benda seperti bayangan di dalam air hitam.

Tetap saja, tekanan itu nyata.

Pelipis Hendry berdenyut. Dada kanannya terasa ditusuk jarum halus. Ia berhenti sejenak, bernapas pelan, lalu melanjutkan.

Satu gudang.

Dua gudang.

Tiga gudang.

Ketika stok terakhir masuk, ruang gelap dalam kesadarannya tiba-tiba mengembang.

Bukan meledak. Bukan pecah. Ia melebar seperti paru-paru yang baru pertama kali menarik napas penuh.

Dari sekitar sepuluh meter kubik, ruang itu menjadi lima kali lebih besar.

Sekitar lima puluh meter kubik.

Lebih stabil. Lebih dalam. Lebih lapar.

Hendry membuka mata.

Keringat tipis muncul di dahinya, tetapi sudut bibirnya naik.

"Jadi benar," gumamnya. "Makin dipakai, makin besar."

Di luar, pemilik gudang mengetuk pintu. "Pak Hendry? Semua aman?"

Hendry melirik ruang kosong di belakangnya. Tiga gudang yang beberapa menit lalu penuh kini bersih seperti baru disapu.

Ia membuka pintu sedikit, tubuhnya menutup celah pandang.

"Aman. Tim saya efisien."

Pemilik gudang memandang ke dalam, tetapi tidak sempat melihat apa pun selain bagian depan gudang yang memang sengaja Hendry sisakan beberapa karung untuk kamuflase.

"Cepat sekali, Pak."

"Itulah alasan kalian menjual ke Wijaya Group."

Kalimat itu membuat pemilik gudang tertawa gugup, lalu mengangguk berkali-kali. Uang sudah masuk. Stok sudah terjual. Pertanyaan yang terlalu dalam hanya akan mengganggu rezeki.

Menjelang siang, Hendry meninggalkan Tanah Abang dengan dua ribu ton beras di Ruang Dimensi.

Ia makan siang di dalam mobil, hanya sepotong roti dan air mineral. Di sebelahnya, tablet menampilkan daftar cold storage Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan Bogor. Banyak nama di sana pernah ia dengar dari mulut penyintas yang mati kelaparan.

"Di gudang itu dulu ada daging."

"Di cold storage sana ada ayam beku, tapi sudah dikuasai kelompok bersenjata."

"Kalau kita datang dua hari lebih cepat, kita tidak perlu makan tikus."

Hendry mengingat semuanya.

Maka ia datang tiga puluh hari lebih cepat.

Cold storage pertama berada di kawasan industri Jakarta Barat. Udara di dalamnya menggigit kulit. Deretan daging sapi beku menggantung dan tersusun dalam karton besar, diberi label tanggal produksi, berat, dan sertifikasi halal. Manajer gudang, pria gemuk berkacamata, berkali-kali memastikan angka pesanan.

"Seribu lima ratus ton daging sapi, Pak? Untuk ekspor?"

"Untuk stok kontrak jangka panjang."

"Harga sedang naik."

"Itu sebabnya saya beli sekarang."

"Pembayaran?"

"Transfer bertahap. DP masuk dalam sepuluh menit."

Pria itu tidak bertanya lagi setelah notifikasi bank berbunyi.

Hendry menyapu gudang itu seperti badai sunyi.

Daging sapi 1500 ton masuk.

Di tempat kedua, daging ayam 800 ton masuk.

Di tempat ketiga, seafood 500 ton masuk: ikan beku, udang, cumi, beberapa kontainer rajungan. Bau laut yang dingin membuat Hendry terdiam sebentar.

Tahun ketujuh kiamat, ia pernah melihat seorang pria menukar cincin kawin istrinya dengan satu ikan asin busuk.

Sekarang, ratusan ton makanan laut tidur diam dalam ruang miliknya, segar selamanya.

Sore turun. Jakarta mulai macet. Orang-orang mengeluh karena antrean tol, karena harga kopi naik, karena pesan makanan terlambat.

Hendry melewati mereka dengan tenang.

Di dalam Ruang Dimensi, gunung beras berdiri dalam gelap. Daging sapi, ayam, dan seafood tertata seperti benteng makanan. Waktu berhenti di sana. Tidak ada busuk. Tidak ada lalat. Tidak ada perebutan.

Semua miliknya.

Namun itu belum cukup.

Tiga puluh hari setelah kiamat, satu kilogram beras bisa membeli loyalitas.

Tiga bulan setelah kiamat, satu karung beras bisa membeli nyawa.

Satu tahun setelah kiamat, orang akan memanggilmu raja jika kau bisa memberi makan seribu orang selama seminggu.

Hendry tidak ingin menjadi raja kecil.

Ia ingin semua raja kecil datang menunduk karena lapar.

Malam itu, ia kembali ke Tanah Abang melalui jalur belakang dan mengambil batch kedua dari pemasok berbeda. Tiga ribu ton beras lagi masuk ke Ruang Dimensi. Setelah itu, ia bergerak ke gudang bahan pokok: minyak goreng, garam, gula, kecap, bumbu kering, sambal kemasan, kopi, teh, susu bubuk, dan ratusan dus Indomie.

Pemilik gudang bumbu, seorang ibu paruh baya dengan suara tajam, memandangnya curiga.

"Anak muda, kamu mau buka supermarket sendiri?"

"Lebih besar dari supermarket, Bu."

"Gudangnya di mana?"

Hendry menatap rak-rak yang sebentar lagi akan kosong. "Dekat sekali."

Ibu itu mengira ia bercanda dan tertawa. "Yang penting bayarannya jelas."

"Itu bagian paling mudah."

Ketika jarum jam melewati pukul sebelas malam, kaki Hendry mulai berat. Kepalanya berdenyut karena terlalu sering membuka Ruang Dimensi. Namun rasa lelah itu kalah oleh kepuasan yang mengalir dingin di tulang.

Daftar awal hari itu berubah menjadi angka nyata.

Beras 5000 ton.

Daging sapi 1500 ton.

Daging ayam 800 ton.

Seafood 500 ton.

Minyak, garam, gula, bumbu, dan kebutuhan dasar beberapa ton.

Puluhan miliar rupiah mengalir keluar dari rekening perusahaan seperti air.

Dalam kehidupan lama, uang itu menjadi angka mati di sistem bank yang runtuh pada hari pertama kiamat.

Dalam kehidupan ini, uang itu berubah menjadi makanan yang tidak bisa busuk dan tidak bisa dirampas.

Hendry berdiri di cold storage terakhir malam itu. Ruangan sudah kosong. Lantai basah memantulkan lampu putih. Napasnya membentuk kabut tipis di udara dingin.

Ia baru saja menutup riak Ruang Dimensi ketika ponselnya bergetar.

Nama di layar membuat senyum di wajahnya menghilang.

Om Hartono.

Hendry membiarkan dering pertama lewat.

Dering kedua.

Dering ketiga.

Baru kemudian ia mengangkat.

"Iya, Om?"

Suara Hartono Wijaya terdengar pelan, tetapi tekanannya langsung memenuhi telinga.

"Hendry, kamu belanja pakai uang perusahaan berapa banyak hari ini?"

Hendry tidak menjawab.

Di ujung sana, Om Hartono menarik napas pendek.

"Ada yang lapor ke Om. Beras ribuan ton. Daging. Cold storage. Transfer puluhan miliar. Kamu sedang main apa?"

Lampu cold storage berkedip sekali.

Hendry menatap lantai kosong di depannya, lalu menatap kegelapan Ruang Dimensi yang hanya bisa ia rasakan sendiri.

"Bukan main, Om," katanya tenang. "Saya sedang investasi."

Hening.

Lalu suara Hartono turun lebih rendah.

"Besok pagi, datang ke kantor. Kita bicara sebagai keluarga."

Hendry tersenyum tipis.

Keluarga.

Kata itu terdengar lucu dari mulut seorang pencuri.

"Baik, Om."

Telepon terputus.

Di luar cold storage, malam Jakarta masih panas dan lembap. Hendry memasukkan ponsel ke saku, berjalan keluar, dan mengunci pintu gudang kosong di belakangnya.

Ia menyetir pulang tanpa menyalakan musik. Jalan tol masih ramai oleh orang-orang yang mengejar rumah, restoran, hotel, kehidupan kecil mereka masing-masing. Tidak satu pun dari mereka tahu bahwa tiga puluh hari lagi, jalan yang sama akan dipenuhi mobil terbalik dan zombie yang mengetuk kaca dengan kuku patah.

Lewat tengah malam, Fortuner hitam masuk kembali ke Cluster Pondok Indah. Satpam mengangkat palang dengan malas.

"Malam, Pak Hendry."

"Malam."

Di garasi villa, Hendry mematikan mesin dan duduk diam beberapa detik. Di rumah yang tenang itu, ia bisa merasakan gunung makanan di dalam Ruang Dimensi lebih jelas daripada suara AC.

Hari pertama stockpile selesai.

Ruang Dimensi sudah lapar untuk hari kedua.

Dan Om Hartono akhirnya mencium bau uang yang hilang.

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!