NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DINNER

Malam ini, apartemen Aleta terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara Viana yang berisik dari kamar sebelah. Tidak ada Aura yang sibuk berbicara dengan keluarganya melalui panggilan video. Dan tidak ada Ravian dan Keira yang bermain kejar-kejaran. Mereka semua sudah kembali ke rumah masing-masing.

Viana pulang karena keluarga besarnya sedang mengadakan acara kumpul-kumpul. Sementara Aura kembali karena sudah terlalu lama merindukan kedua orang tuanya. Ravian dan Keira juga pulang karena orang tua Ravian telah kembali dan ingin berbicara langsung dengan mereka mengenai pembatalan pertunangan. Karena itu, malam ini hanya Aleta yang tinggal sendirian.

Dan tidak seorang pun tahu bahwa malam ini Aleta memiliki janji dengan Adrian. Bukan hanya teman-teman Aleta yang tidak tahu, tapi inti Black Demon juga.

Di depan cermin, Aleta saat ini sedang merapikan lipstiknya.

Tidak seperti malam ketika mereka pergi ke club, kali ini ia memilih warna yang lebih lembut. Warna yang membuat wajahnya terlihat elegan tanpa menghilangkan kesan dingin yang menjadi ciri khasnya.

Ia menutup lipstiknya setelah merasa cukup. Tangannya baru saja hendak merapikan sedikit bagian sudut bibir ketika bunyi sebuah notifikasi masuk menghentikan gerakannya.

Ting!

Aleta mengambil ponselnya, lalu membaca isi pesan yang baru saja ia terima.

Adrian: Gue udah di depan.

Sudut bibir Aleta terangkat tipis. Ia lalu mengetik singkat sebagai balasan.

Aleta: Gue segera keluar.

Setelah mengirim pesan, Aleta kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Tangannya kembali merapikan sedikit bagian sudut bibir yang lipstiknya sedikit berantakan. Setelah selesai, ia memastikan tidak ada yang berantakan lagi.

Malam ini, Aleta mengenakan maxi dress hitam dengan potongan sederhana namun elegan. Bahannya jatuh mengikuti gerak tubuhnya, membuat penampilannya terlihat anggun tanpa terkesan berlebihan.

Rambutnya tetap di gerai rapi, sementara riasannya tetap ringan. Heels hitam melengkapi penampilannya. Aleta mengambil tas Chanel miliknya, lalu berdiri. Ia melangkah keluar dari apartemen.

Di bawah gedung, Adrian berdiri di depan mobilnya. Satu tangannya masuk ke saku celana, sementara tangan lainnya sesekali melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan tepat pukul tujuh malam.

Adrian menurunkan tangannya ketika mendengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat.

Tak. Tak. Tak.

Suara heels yang bertemu dengan lantai membuat Adrian mengangkat kepala perlahan.

Deg!

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Dan untuk beberapa detik, ia lupa caranya bersikap biasa. Ia menatap Aleta yang berjalan ke arahnya tanpa berkedip.

Cahaya lampu di sekitar gedung berpadu dengan cahaya bulan yang jatuh lembut di wajah Aleta. Matanya tampak berkilau, sementara rambutnya bergerak ringan tertiup angin malam.

Pandangan Adrian turun perlahan. Maxi dress hitam yang dikenakan Aleta membuat penampilannya terlihat jauh lebih elegan dibanding biasanya. Bukan pakaian yang mencolok. Justru kesederhanaannya yang membuat Aleta terlihat begitu menawan.

Deg! Deg! Deg!

Jantungnya berdetak semakin ga karuan. Apalagi saat Aleta berhenti beberapa langkah di depannya.

"Udah lama nunggu?" Pertanyaan sederhana itu akhirnya membuat Adrian tersadar. Ia segera menggeleng.

Matanya kembali bertemu dengan mata Aleta. Adrian pun langsung membuka pintu mobil untuk Aleta. Aleta sempat menatapnya sebentar sebelum masuk, namun kali ini Adrian mengalihkan pandangannya lebih dulu. Ia benar-benar tidak ingin menatap Aleta lama-lama sekarang. Bisa-bisa ia pingsan karena terlalu terpesona, pikirnya.

"Thanks," ucap Aleta.

Adrian mengangguk lalu menutup pintunya dengan hati-hati. Kemudian ia berjalan ke sisi pengemudi. Namun sebelum masuk, Adrian berhenti sejenak, hanya untuk mengembuskan napas pelan.

"Tenang. Ini cuma dinner."

Setelah itu, ia pun ikut masuk. Ia melirik Aleta yang ternyata belum mengenakan sabuk pengaman. Ia pun mendekat dan membantu memasang sabuk pengaman untuk Aleta dengan hati-hati.

"Sorry, lupa."

Adrian mengangkat wajahnya—

Deg!

Jantung keduanya berdegup kencang, seakan berpacu dalam irama yang sama. Jarak mereka terlalu dekat. Adrian bahkan sampai khawatir jika Aleta bisa mendengar suara detak jantungnya.

Aleta yang sejak tadi diam akhirnya menyadari kedekatan keduanya. Adrian bahkan bisa mencium aroma lembut lipstik yang dikenakan Aleta, sementara Aleta menangkap samar aroma mint dari napas Adrian.

Adrian menelan ludah. Tangannya yang masih memegang ujung sabuk pengaman tanpa sadar meremasnya sedikit. Entah kenapa, melihat Aleta sedekat ini membuat pikirannya menjadi liar.

Adrian mendekat sedikit, seolah dikendalikan oleh sesuatu yang bukan dirinya sendiri. Aleta menahan napas, membuat Adrian tersadar.

"Gapapa," ucap Adrian, menanggapi ucapan Aleta satu menit yang lalu hanya agar Aleta tidak curiga akan hal bodoh yang ingin Adrian lakukan tadi.

Ia lalu kembali ke tempat duduknya dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia memasang sabuk pengamannya sendiri, lalu menyalakan mesin mobilnya.

Aleta masih diam, sementara Adrian menatap lurus ke depan. Beberapa detik kemudian, mobil perlahan meninggalkan area apartemen.

Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi cahaya malam.

Aleta duduk tenang di kursi penumpang, sesekali memandangi pemandangan dari balik jendela. Lampu-lampu gedung tinggi memantul di kaca mobil, menciptakan bayangan samar di wajahnya.

Adrian yang sejak tadi fokus menyetir pun akhirnya membuka suara untuk menghilangkan suasana canggung yang ia ciptakan sendiri.

"Mau makan di mana, Queen?"

"Nggak tahu."

"Jawaban lo selalu gitu, ya?"

"Gitu gimana?" tanya Aleta sambil menoleh pada Adrian yang tetap fokus.

"Gatau. Maybe. Nggak tahu."

"Kenapa? Gasuka?" tanya Aleta, dengan nada bercanda.

"Bukannya nggak suka. Lucu aja." Adrian tersenyum.

"Lagian... Kan lo yang ngajak gue dinner. Harusnya lo juga dong, yang nentuin tempatnya," ucap Aleta.

"Sorry, gue nanya cuma karena pengen ngobrol sama lo. Lo tenang aja, gue tau kok tempat yang enak di mana."

Aleta hanya menanggapinya dengan anggukan singkat.

Tak lama kemudian, mobil mulai memasuki kawasan yang jauh lebih tenang. Gedung-gedung tinggi perlahan berganti menjadi deretan bangunan mewah dengan pencahayaan hangat. Aleta mengerutkan kening ketika Adrian memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran mewah.

"Di sini?" tanya Aleta.

Adrian mengangguk. "Kenapa?"

"Kelihatannya mahal."

"Semahal mahalnya makanan disini ga akan mampu bikin dompet lo kurus, Queen," ucap Adrian.

Aleta menatapnya serius. "Kalau gue lupa bawa dompet?"

"Siapa yang minta lo bayar?" tanya Adrian balik, membuat Aleta terdiam.

Adrian terkekeh kecil. "Gue yang ngajak lo makan di sini, berarti gue yang bayarin semuanya. Dan selama lo jalan sama gue, lo nggak perlu keluarin uang sepeser pun."

"My type..." batin Aleta sambil tersenyum tanpa sadar.

"Kamu senyum..." gumam Adrian, menyadarkan Aleta.

"Yuk, keluar." Aleta yang salah tingkah pun langsung membuka pintunya dan hendak keluar tapi tertahan oleh sabuk pengaman yang lupa ia lepaskan.

Adrian terkekeh melihatnya. Aleta buru-buru melepaskan sabuk pengamannya lalu keluar dengan wajah yang memerah. Setelah Adrian keluar, keduanya pun berjalan berdampingan memasuki restoran.

Begitu pintu restoran terbuka, aroma makanan yang lembut langsung menyambut mereka. Suasananya jauh berbeda dari restoran biasa. Lampu gantung kristal menggantung di langit-langit tinggi. Meja-mejanya tertata rapi dengan lilin kecil di tengah, sementara alunan musik piano terdengar pelan dari sudut ruangan.

"Tempat semewah ini buat dinner atau buat lamaran?" pikir Aleta yang baru kali ini melihat restoran semewah ini. Di kehidupan sebelumnya, ia juga belum pernah ke tempat seperti ini.

"Zaman berkembang begitu cepat, tapi manusia belum tentu ikut berkembang," batin Aleta lagi, sambil mengamati sekitar nya.

"Selamat malam, Tuan. Meja Anda sudah kami siapkan," ucap seorang pelayan yang menghampiri mereka.

Adrian mengangguk.

Pelayan itu lalu membawa mereka menuju meja yang berada sedikit jauh dari meja lainnya. Pemandangan dari meja mereka langsung mengarah ke jendela besar yang memperlihatkan gemerlap kota.

"Duduk." Adrian menarik kursi untuk Aleta.

Pelayan kemudian memberikan menu kepada mereka.

"Pesan aja yang lo mau. Jangan lihat harganya," ucap Adrian.

Aleta menutup menu.."Kalau gue pesan semuanya?"

"boleh," ucap Adrian santai.

"Kalau gue pesan restoran ini?"

Adrian mengangkat alisnya. Ia lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Restoran ini punya Mommy gue, yang bakalan di warisin ke menantu cewek. Kalau lo nikah ama gue, otomatis restoran ini bakal jadi punya lo. Dan itu gratis," ucap Adrian, membuat Aleta menatapnya tanpa berkedip.

...****************...

Di saat yang sama, jauh dari restoran tempat Aleta dan Adrian menghabiskan malam mereka, suasana di mansion keluarga Lee justru terasa jauh lebih berat.

Ravian dan Keira duduk di sofa ruang keluarga. Di hadapan keduanya, Tuan Besar Lee duduk dengan wajah serius. Sementara Nyonya Lee berada di sampingnya.

Tidak ada pelayan yang berani berada terlalu dekat. Bahkan suasana mansion yang biasanya terasa hangat malam itu terasa dingin. Tuan Besar Lee akhirnya membuka suara.

"Jadi, kalian berdua benar-benar ingin membatalkan pertunangan?"

Ravian dan Keira mengangguk.

"Ya, Dad/om," ucap Ravian dan Keira bersamaan.

Nyonya Lee menarik napas panjang."Kenapa?"

"Ravian sudah nggak punya perasaan apa-apa lagi sama Keira, Mom," jawab Ravian. Jawaban itu membuat wajah Nyonya Lee berubah.

"Lalu bagaimana dengan, Kei?" tanya Nyonya Lee.

"Maaf, Tante... Keira juga pengen bebas. Keira ingin seperti remaja lainnya yang bisa memilih pasangan sendiri. Keira harap Om dan Tante mengerti perasaan Kei," cicit Keira.

"Bebas? Jadi selama ini keluarga Lee tidak pernah memberi mu kebebasan Keira? Kau ingin jalan-jalan selalu dituruti. Mobil baru, vila baru, semua yang kamu mau selalu dituruti. Kurang baik apa keluarga Lee padamu sampai-sampai kau ingin kembali ke keluarga sampah mu yang kau pikir akan memberimu kebebasan. Keluarga mu tidak jauh lebih baik dari keluarga Lee," ucap Nyonya Lee penuh amarah.

Keira langsung terdiam mendengar kalimat itu yang terasa lebih menyakitkan dari tusukan pisau yang pernah ia rasakan.

"Tante sudah menyayangimu seperti anak sendiri." Nyonya Lee menatap Keira dengan mata berkaca-kaca.

Keira menelan ludah. "Maaf..."

"Tante tidak rela mengembalikan Keira pada keluarga bejat itu."

Keira menunduk semakin dalam. "Keira juga tidak mau Tante. Keira tau keluarga Lee selalu baik pada Keira. Tapi Keira ga punya pilihan selain kembali."

"Lo punya pilihan," ucap Ravian dingin. Ketiganya menatap ke arahnya dengan tatapan heran.

"Keira tetap bisa tinggal di sini, kalau Mommy dan Daddy mau," lanjutnya.

"Lalu, kamu?" tanya Tuan Besar Lee.

"Aku sudah menganggap Keira sebagai kakak sendiri, jadi tidak apa-apa jika ia menganggap mansion ini sebagai rumahnya. Aku juga tidak akan membiarkan orang lain mengusirnya, kecuali kalian, Dad, Mom. Kalian juga bisa mengangkat nya menjadi anak kalian, biar aku yang mengurus nya."

Keira dan kedua orang tua Ravian menganga mendengar ucapan Ravian barusan.

"Kau yakin, boy?" tanya Tuan Besar Lee.

"Yakin, Dad. Asalkan kalian tidak memaksa kami untuk bertunangan. Ku akui, aku dulu memang bersalah pada Keira dengan memaksanya."

"Jadi sekarang kamu sudah tidak mencintainya?" tanya Nyonya Lee.

"Nggak."

"Apa karena ada orang ketiga?" tanya Nyonya Lee lagi, yang sukses membuat Ravian terdiam selama beberapa detik. Dan bagi seorang ibu yang mengenal putranya sejak lahir, jeda sekecil itu sudah cukup sebagai jawaban..

"Benar kan?" tanya Nyonya Lee.

"Engga, Mom."

"Jangan bohong."

"Aku nggak bohong."

"Kalau begitu lihat mata Mommy dan bilang tidak ada perempuan lain."

"Tidak ada orang ketiga, Mom. Yang ada hanya seseorang yang sudah kembali. Dan Ravian nggak berniat kehilangan orang itu untuk kedua kalinya." ucap Ravian sebelum beranjak dari tempat duduknya menuju kamar.

1
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
LOHHH
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!