Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang ke jakarta
Mobil terus melaju meninggalkan kaki Gunung. Pemandangan sawah dan perbukitan perlahan berganti dengan jalan nasional yang lebih ramai. Truk-truk besar, bus antarkota, dan kendaraan pribadi mulai memenuhi jalan.
Arga menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Tubuhnya masih terasa lelah. Tak butuh waktu lama. Matanya perlahan terpejam.
"Biarkan saja." Suara ibu Arga terdengar pelan.
"Kasihan, dia pasti capek sekali."
Ayah hanya mengangguk sambil tetap fokus mengemudi. Sesekali beliau melirik kaca spion. Arga benar-benar tertidur.
Di samping Arga, Bima memandang keluar jendela. Beberapa hari hidup di tengah hutan, berjalan tanpa arah, tidur dengan rasa cemas.
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari hutan, dia merasa begitu tenang. Tak ada lagi tubuh yang meringkuk karena hawa dingin gunung. Tak ada lagi suara-suara hutan yang membuatnya terjaga. Hanya suara mesin mobil yang mengiringi perjalanan pulang. Entah bisa disebut pulang atu tidak, yang pasti dia tidak lagi berada di dalam hutan.
Deretan bangunan yang terus bertambah rapat membuatnya beberapa kali terdiam.
"Dulu..." gumamnya lirih.
"Di sini masih banyak sawah."
Ibu Arga menoleh.
"Mas masih ingat jalannya?"
Bima tersenyum tipis.
"Sedikit."
"Tapi semuanya berubah."
Ia melihat sebuah jalan layang yang membentang tinggi. Kemudian pusat perbelanjaan yang berdiri megah. Gedung-gedung bertingkat. Papan reklame digital. Mobil-mobil listrik yang sesekali melintas. Dunia benar-benar telah berjalan jauh meninggalkannya. Menjelang siang mereka berhenti di sebuah rest area.
Ayah memarkir mobil di tempat yang teduh.
"Ayo."
"Kita istirahat sebentar."
Arga terbangun ketika pintu mobil dibuka. Ia mengucek matanya.
"Udah sampai?"
Semua tertawa kecil.
"Belum." kata Ayah.
"Masih jauh."
"Tapi kita makan dulu."
Arga mengangguk. Ia turun perlahan. Lambungnya terasa jauh lebih nyaman dibanding pagi tadi. Meski begitu, ibu tetap memilihkan makanan yang lembut.
"Nasi tim aja ya."
"Nanti malam baru makan yang lain kalau perutmu benar-benar enakan."
"Iya, Bu."
Sementara itu, Bima berdiri memandangi suasana rest area. Orang-orang berjalan sambil membawa ponsel. Sebagian memesan makanan melalui layar sentuh. Anak-anak kecil bermain sambil sesekali memanggil orang tuanya lewat jam tangan pintar.
Bima menggeleng pelan.
"Dunia memang sudah berubah."
Ayah Arga menghampirinya.
"Pelan-pelan saja."
"Mas tidak harus memahami semuanya hari ini."
Bima tersenyum.
"Iya."
"Rasanya seperti tidur semalam..."
"...lalu bangun di masa yang berbeda."
Perjalanan kembali dilanjutkan. Semakin mendekati Jakarta, lalu lintas mulai padat. Gedung-gedung tinggi memenuhi cakrawala.
Arga yang sejak tadi memandang keluar jendela tiba-tiba tersenyum.
"Rumah..." bisiknya.
Mungkin bagi sebagian orang, kemacetan Jakarta adalah sesuatu yang melelahkan.
Namun hari itu...
Kemacetan justru menjadi tanda bahwa ia benar-benar telah kembali.
Ayah melirik putranya.
"Sebentar lagi sampai."
Arga mengangguk. Lalu tanpa sadar ia mengeluarkan telepon genggamnya. Puluhan notifikasi memenuhi layar. Pesan dari teman-teman kuliahnya.
Dosen.
Grup organisasi.
Bahkan beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenalnya.
Ia menarik napas panjang.
Selama beberapa hari...
Dunia terus berjalan tanpanya.
Dan kini...
Ia harus kembali mengejar semuanya.
Namun sebelum sempat membuka satu per satu pesan itu...
Ponselnya berdering.
Nama yang muncul di layar membuat Arga tersenyum.
Rizal.
Salah satu sahabatnya yang ikut dalam pendakian sebelum mereka terpisah.
Arga saling berpandangan dengan ayahnya.
"Angkat saja." kata Ayah.
Arga mengusap wajahnya sebentar. Lalu menekan tombol hijau.
"Assalamualaikum."
Belum sempat ia berkata lebih banyak, suara panik dari seberang langsung terdengar.
"Ga!"
"Ya Allah..."
"Itu benar kamu?"
Arga tersenyum kecil.
"Iya."
"Aku..."
"...udah pulang."
Di dalam mobil, semua orang saling berpandangan.
Mereka tahu...
Perjalanan Arga keluar dari hutan memang telah berakhir.
Namun kisah tentang hilangnya seorang pendaki...
Dan kembalinya ia dengan membawa misteri yang tak pernah terbayangkan...
Baru saja akan mulai terdengar oleh dunia luar.
Suara di seberang telepon mendadak terdiam.
Beberapa detik...
Hanya terdengar embusan napas yang tidak beraturan.
Lalu...
Rizal kembali berbicara dengan suara yang bergetar.
"Ga..."
"Ini serius?"
"Iya."
"Aku beneran udah keluar."
"Ya Allah..."
Rizal terdengar seperti menahan tangis.
"Kita semua nyangka..."
"...kamu..."
Kalimatnya terhenti.
Arga memahami apa yang ingin diucapkan sahabatnya. Mereka mengira dirinya telah meninggal.
Ia tersenyum kecil.
"Alhamdulillah."
"Allah masih kasih aku kesempatan pulang."
Di kursi depan, ayah Arga mendengarkan percakapan itu tanpa menyela. Sementara Bima ikut menatap Arga, seolah ikut merasakan kelegaan yang sedang dirasakan orang-orang di seberang telepon.
Rizal menarik napas panjang.
"Ga..."
"Kamu sekarang di mana?"
"Lagi perjalanan ke Jakarta."
"Kamu sendirian?"
"Nggak."
"Aku sama Ayah, Ibu..."
Arga melirik ke samping.
"...dan satu orang lagi."
"Satu orang?"
"Iya."
"Nanti aku ceritain."
Rizal mengusap wajahnya di seberang sana.
"Ya Allah..."
"Teman-teman pasti kaget."
"Mereka sampai beberapa kali ikut nyari kamu."
"Tim SAR juga."
"Semua orang nyari."
Arga menundukkan kepala. Dadanya kembali dipenuhi rasa haru.
"Terima kasih..." bisiknya.
"Bilang ke semuanya..."
"...makasih."
Rizal mengangguk, meski Arga tak dapat melihatnya.
"Pasti."
"Oh iya!"
"Nanti jangan kaget."
"Kenapa?"
"Besok atau lusa mungkin banyak orang yang datang."
"Teman kampus."
"Anak mapala."
"Bahkan dosen."
"Semuanya pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Arga menghela napas pelan. Ia sudah menduga hal itu. Namun membayangkannya tetap membuatnya sedikit gugup.
"Aku belum siap cerita ke banyak orang." ucapnya jujur.
"Nggak apa-apa." jawab Rizal.
"Istirahat dulu."
"Yang penting sekarang kamu udah selamat."
Arga tersenyum.
"Iya."
Setelah berbincang beberapa menit lagi, telepon itu akhirnya ditutup. Arga memandangi layar ponselnya yang kembali gelap.
Belum sampai satu menit...
Notifikasi baru mulai bermunculan.
Rizal rupanya telah mengabarkan kepulangannya kepada teman-teman yang lain.
Satu demi satu pesan masuk.
Alhamdulillah!
Serius itu Arga?
Ya Allah, akhirnya!
Besok kita ke rumahmu ya!
Arga membaca semuanya tanpa sempat membalas.
Matanya kembali berkaca-kaca.
Ia baru menyadari...
Begitu banyak orang yang ternyata menunggunya kembali.
Ayah melirik melalui kaca spion.
"Banyak pesan?"
Arga mengangguk.
"Iya."
"Semuanya..."
"...ternyata masih nyari Arga."
Ayah tersenyum hangat.
"Itu tandanya..."
"...kamu dicintai banyak orang."
Kalimat sederhana itu membuat Arga tersenyum. Ia kembali menatap keluar jendela. Gedung-gedung Jakarta kini semakin dekat. Namun di balik rasa syukur karena akhirnya pulang...
Masih ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya.
Bagaimana ia akan menjelaskan semua yang telah terjadi?
Siapa yang akan percaya bahwa di balik hutan itu...
Ada sebuah kampung yang seolah terpisah dari dunia.
Bahwa seorang laki-laki yang duduk di sampingnya...
Sebenarnya berasal dari tiga puluh tahun yang lalu.
Dan bahwa...
Mungkin masih ada orang lain yang hingga hari ini masih terjebak di sana.
Arga memejamkan mata sejenak.
Ia sadar...
Perjuangan untuk keluar dari hutan memang telah selesai.
Tetapi perjuangan untuk membuat orang lain memahami kenyataan yang ia alami...
Baru saja dimulai.