Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjara
Perjalanan menuju kantor polisi terasa seperti lorong waktu yang menyakitkan bagi Galang. Di dalam mobil patroli yang pengap, suara sirene yang meraung-raung seolah menjadi musik pemakaman bagi ambisinya. Di sampingnya, Dita terus terisak, mencoba menutupi wajahnya dengan tas tangan mahal yang kini terasa seperti beban yang tidak berguna.
"Semua ini karena kamu, Mas," bisik Dita di sela tangisnya. "Kalau saja kamu tidak terobsesi menjatuhkan Arini, kita masih bisa hidup tenang walau tidak punya apa-apa."
Galang tidak menoleh. Ia menatap kosong ke luar jendela. "Salahku? bukankah sejak awal kamu yang mendorongku untuk membalas Arini agar dia tidak merasa tenang di atas penderitaan kita.Jangan kau limpahkan semua kesalahan padaku, karena pada hakekatnya kau sendiri nggak mau hidup susah.."
Dita tidak lagi menjawab ucapan Galang, ia tau kalau ia juga memiliki andil dengan apa yang terjadi saat ini.
Proses pemeriksaan berlangsung berjam-jam. Galang dikonfrontasi dengan tumpukan bukti nyata tentang rekaman suara, log aktivitas digital saat ia mencoba meretas sistem logistik Samudera Group, hingga kesaksian Hendra Wijaya yang secara licin melempar semua kesalahan padanya. Hendra, dengan kekuatan uangnya, berhasil mencuci tangan dan memposisikan dirinya sebagai korban manipulasi Galang.
Malam itu, Galang mendekam di sel sementara. Bau pengap dan lantai semen yang dingin menjadi teman barunya. Saat ia mencoba memejamkan mata, bayangan Arini terus muncul, bukan Arini yang menangis saat ia menindasnya, tapi Arini yang berdiri tenang di atas mimbar kesuksesan.
Keesokan paginya, seorang petugas mengetuk jeruji besi. "Galang, ada pengacara yang ingin menemuimu."
Galang mendongak, berharap itu adalah bantuan dari koneksi lamanya. Namun, saat ia melangkah ke ruang kunjungan, yang duduk di sana bukan pengacara pribadinya, melainkan sosok pria muda yang sangat ia benci, Kevin Mahendra.
"Mau apa kamu ke sini? Mau meludahiku?" desis Galang saat ia duduk di kursi kayu yang keras.
Kevin meletakkan sebuah map cokelat di atas meja. Wajahnya tidak menunjukkan amarah, hanya ada rasa kasihan yang mendalam. "Arini memintaku memberikan ini padamu."
Galang membuka map itu dengan tangan gemetar. Isinya bukan surat tuntutan tambahan, melainkan dokumen pelunasan hutang-hutang lama ibu Galang dan surat kepemilikan sebuah rumah kecil di pinggiran kota atas nama ibunya.
"Apa ini? Permainan psikologi baru?" tanya Galang, suaranya parau.
"Bukan," jawab Kevin tenang. "Arini tahu kamu menggunakan uang perusahaan untuk melunasi hutang judi ibumu dulu. Dia sudah membereskan sisanya. Dia bilang, dia tidak ingin ibumu ikut menanggung dosa yang kamu buat. Arini tetaplah Arini, Galang. Dia menghancurkan lawan bisnisnya, tapi dia tidak pernah menghancurkan manusia yang tidak bersalah."
Galang terdiam. Rasa sesak di dadanya lebih menyakitkan daripada borgol di tangannya. "Kenapa dia tidak datang sendiri? Kenapa harus kamu?"
Kevin tersenyum tipis, sebuah senyum yang menandakan kemenangan mutlak. "Karena baginya, kamu sudah selesai. Kamu bukan lagi orang yang perlu ia pikirkan. Dia sedang sibuk mempersiapkan ekspansi pelabuhan ke pasar internasional. Baginya, melihatmu di sini adalah titik akhir, bukan sebuah drama yang harus ia tonton berulang kali."
Di ruang tunggu yang berbeda, Dita menghadapi kenyataan yang lebih pahit. Karena ia terbukti ikut serta dalam pemalsuan dokumen, status hukumnya pun terancam. Namun, yang lebih menyakitkan baginya adalah kenyataan bahwa aset-aset yang ia banggakan, perhiasan, apartemen, dan mobil mewah kini semua sudah tidak ada lagi.
Ia keluar dari kantor polisi dengan jaminan karena dianggap hanya sebagai saksi yang terperdaya, namun ia keluar tanpa membawa apa pun kecuali pakaian di badannya.
Dita berdiri di trotoar, menatap gedung-gedung tinggi Jakarta. Ia mencoba menghubungi Hendra, namun nomor itu sudah tidak aktif. Ia mencoba menghubungi teman-teman sosialitanya, namun semua panggilan dialihkan. Di dunia yang ia tinggali, saat kamu jatuh, kamu adalah hantu yang harus dihindari agar tidak menular.
"Mas Galang benar," gumam Dita pahit. "Arini tidak membunuh kita. Dia hanya mencabut semua akar kita dan membiarkan kita layu sendiri."
****
Satu minggu kemudian, peresmian Samudera International Port dilakukan dengan megah. Arini berdiri di depan ratusan wartawan. Tidak ada lagi jejak kesedihan di wajahnya. Ia telah bertransformasi sepenuhnya dari seorang istri yang terabaikan menjadi pemimpin yang ditakuti sekaligus disegani.
Setelah pidato selesai, Arini berjalan menuju dermaga, menatap hamparan laut yang biru. Kevin menghampirinya.
"Semua sudah selesai, Rin. Galang dijatuhi hukuman lima tahun. Dita kehilangan segalanya. Hendra Wijaya sedang berjuang dengan kasus sabotase yang kita arahkan padanya," lapor Kevin.
Arini menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma laut yang segar. "Terima kasih, Vin. Kamu tahu, banyak orang berpikir aku melakukan ini karena dendam."
"Bukan karena itu?" tanya Kevin penasaran.
"Dendam itu melelahkan," sahut Arini pelan. "Aku melakukan ini karena aku harus melindungi apa yang aku miliki. Galang mengira dia mengenal titik lemahku, tapi dia lupa bahwa seorang wanita yang sudah kehilangan segalanya tidak akan takut kehilangan apa pun lagi. Itu adalah kekuatan terbesarku."
Arini mengeluarkan ponselnya. Ia melihat foto lama di galeri, foto dirinya dan Galang saat awal pernikahan. Dengan gerakan jari yang mantap, ia menekan tombol delete.
"Hapus masa lalu agar masa depan punya ruang untuk tumbuh," bisiknya pada angin laut.
***
Di dalam selnya, Galang mendengar berita peresmian itu dari televisi kecil di sudut ruangan. Ia melihat Arini tertawa kecil saat memotong pita. Ia menyadari satu kebenaran yang paling pahit: Arini tidak pernah benar-benar membencinya. Kebencian masih membutuhkan perasaan, namun Arini sudah sampai pada tahap ketidakpedulian.
Bagi Arini, Galang hanyalah sebuah kesalahan yang pernah datang dalam hidupnya
Galang merebahkan tubuhnya di dipan keras. Ia teringat kembali kata-kata terakhir di pesan singkat Arini. "Terima kasih telah menunjukkan kepadaku siapa saja musuh yang harus kubersihkan."
Ternyata, selama ini ia bukan sedang menyerang Arini. Ia sedang membantu Arini melakukan pembersihan besar-besaran di perusahaannya sendiri. Galang telah menjadi instrumen gratis bagi Arini untuk menyaring orang-orang tidak setia seperti Hendra Wijaya.
"Aku memang bodoh," tawa Galang pecah dalam kegelapan sel. Tawa itu terdengar serak dan hampa.
Ia kini memiliki waktu lima tahun untuk merenung. Lima tahun untuk mengingat setiap detail pengkhianatannya. Lima tahun untuk menyadari bahwa dalam setiap langkah yang ia susun dengan penuh kesombongan, Arini selalu berada tiga langkah di depannya, menunggunya di garis akhir untuk menyaksikannya jatuh ke dalam lubang yang ia gali sendiri.
Kehancuran itu sempurna bukan karena ia kehilangan segalanya, tapi karena ia menyadari bahwa bahkan dalam kekalahannya pun, ia tetap berguna bagi Arini, sebagai tumbal kemajuan Samudera Group.
Malam itu, di bawah lampu penjara yang remang-remang, Galang akhirnya menyerah. Ia berhenti melawan. Ia berhenti membenci. Karena di dunia Arini, ia sudah tidak lagi ada. Dan itulah hukuman yang paling berat bagi seorang pria yang memiliki ego setinggi langit seperti Galang, menjadi tidak berarti di mata orang yang pernah ia anggap kecil.