"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.
Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】
Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.
Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Su Qingxue kembali dengan luka.
Bukan luka yang terlihat dari luar — jubah putihnya tetap bersih, langkahnya tetap tegak, wajahnya tetap terkendali seperti biasa. Tapi Lin Chen yang sudah cukup lama mengamati cara orang menyembunyikan sesuatu menangkap semuanya dalam satu pandangan.
Napasnya satu ritme lebih dalam dari biasanya. Tangannya tidak berayun bebas di sisi tubuhnya. Dan saat dia melewati ambang pintu penginapan, ada jeda sangat kecil di langkah kanannya — seperti tubuh yang sedang menghitung ulang berapa banyak energi yang tersisa sebelum memutuskan seberapa jauh bisa melangkah.
Kemenangan yang mahal.
Di belakangnya, Sesepuh Bai dan Sesepuh Duan masuk dengan ekspresi yang Lin Chen belum pernah melihatnya selama perjalanan ini — bukan serius seperti biasanya, bukan waspada seperti malam-malam sebelumnya.
Panik yang sangat terkontrol.
Lin Chen sudah ada di dapur sejak setengah jam sebelum rombongan pulang.
Srak... srak... — pisau di atas talenan, bukan sapu di atas lantai, tapi melodinya tidak jauh berbeda.
Makan malam sudah hampir siap saat pintu penginapan terbuka. Sup jahe untuk menghangatkan meridian, nasi dengan lauk yang ringan untuk tidak membebani sistem pencernaan yang lelah, dan teh herbal dari campuran bahan-bahan yang Lin Chen beli di pasar kemarin dengan alasan yang waktu itu bahkan dia sendiri belum tahu sepenuhnya.
Sekarang dia tahu.
Makan malam berlangsung lebih sunyi dari malam manapun sejak perjalanan dimulai.
Chen Hao makan dengan kepala menunduk — kemenangannya hari ini tidak terasa seperti kemenangan di tengah suasana seperti ini. Fang Rui dan Zhou Bin tidak saling berbisik. Luo Mei tidak membuka catatan formasinya. Wei Peng makan dengan satu tangan seperti biasa, tapi lebih lambat.
Su Qingxue makan sedikit — lebih sedikit dari biasanya, dan itu sudah tidak banyak.
Sesepuh Bai dan Sesepuh Duan makan di meja terpisah dengan suara yang sangat pelan, kepala sedikit merapat. Lin Chen yang mengisi ulang teko air panas di dekat meja mereka menangkap potongan kalimat yang tidak dimaksudkan untuk didengar siapapun selain mereka berdua.
"...pertandingan besok, dia tidak akan bisa—"
"...tidak ada pilihan lain, hanya Su Qingxue yang—"
"...kalau dia turun dalam kondisi ini—"
Lin Chen kembali ke dapur dengan teko yang sudah diisi.
'Jadi begitu,' pikirnya sambil meletakkan teko di atas api kecil. 'Dari seluruh rombongan Taixuan, hanya Su Qingxue yang posisinya cukup kuat untuk membawa sekte ini ke ronde berikutnya. Tanpanya, Taixuan selesai di turnamen ini.'
'Dan kondisinya sekarang tidak memungkinkan dia turun besok.'
Dia mengaduk sup dengan gerakan yang tidak berubah.
'Bukan urusanku.'
Setelah makan malam selesai, semua orang naik ke kamar masing-masing lebih cepat dari biasanya.
Lin Chen membereskan meja, mencuci piring, mematikan kompor. Pekerjaan yang sudah sangat familiar sampai tangannya bergerak sendiri tanpa perlu diarahkan pikirannya.
Pikirannya sedang ada di tempat lain.
Mata Dewa Kekacauan-nya aktif setengah, memindai kondisi Su Qingxue yang kamarnya tepat di lantai atas — di atas dapur, dinding yang memisahkan mereka tidak lebih dari dua lapisan kayu dan batu yang bagi penglihatannya tidak lebih menghalangi dari kain tipis.
Yang dia lihat membuat tangannya berhenti sebentar di atas piring yang sedang dicucinya.
Luka di lengan kiri Su Qingxue lebih dalam dari yang terlihat dari luar. Bukan luka terbuka — tapi di dalam, di lapisan meridian yang seharusnya mengalirkan Qi dengan lancar, ada sumbatan gelap yang melilit seperti benang yang kusut. Bekas serangan yang mengandung niat jahat yang disengaja — bukan kerusakan biasa dari pertarungan, tapi sesuatu yang dirancang untuk memperburuk dirinya sendiri setiap kali Si pemilik menggunakan energinya.
'Racun niat,' Lin Chen menyimpulkan dengan sangat datar. 'Bai Ruochen menyuntikkannya saat salah satu serangannya menyentuh lengan kiri Su Qingxue. Tidak terdeteksi karena disembunyikan di dalam teknik serangnya.'
'Ini bukan kecelakaan pertandingan.'
'Ini disengaja. Dan instruksinya datang dari Lin Hao.'
Lin Chen meletakkan piring yang sudah bersih ke raknya.
Berdiri diam selama beberapa detik.
'Kalau racun niat ini tidak ditangani malam ini, kondisi Su Qingxue besok akan jauh lebih buruk dari sekarang. Dan Taixuan akan kehilangan satu-satunya murid yang bisa membawa mereka lebih jauh di turnamen ini.'
'Bukan urusanku,' dia mengulang kalimat yang sama dari tadi.
Tangannya mengambil lap untuk mengeringkan tangan.
'Tapi...'
Dia menatap lap itu sebentar.
'...Sekte Taixuan tidak boleh hancur. Masih ada terlalu banyak lokasi check-in yang belum aku gunakan di sana.'
'Alasan yang sangat tidak mulia.'
'Tapi cukup.'
Dua jam kemudian, seluruh penginapan sudah tenggelam dalam keheningan tidur yang dalam.
Lin Chen memastikan semuanya dengan Mata Dewa-nya — Sesepuh Bai dan Sesepuh Duan di kamar masing-masing, napas teratur, kultivasi mereka dalam mode istirahat aktif yang biasa dilakukan kultivator tingkat tinggi. Para murid semuanya sudah tidur, kelelahan tiga hari terakhir menarik mereka ke bawah lebih dalam dari biasanya.
Su Qingxue tidur dengan tidak nyenyak — napasnya tidak teratur, meridiannya yang terluka bekerja keras melawan racun niat yang perlahan menggerogoti dari dalam. Tidurnya dangkal, mudah terbangun, penuh dengan ketidaknyamanan yang bahkan di alam bawah sadar tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Lin Chen masuk ke kamarnya.
Menutup pintu.
Duduk bersila di tengah ruangan.
Dan mulai bekerja.
Pertama — penghalang.
Lapisan Qi yang sangat tipis dia bentangkan di sekitar kamarnya, menempel di dinding, lantai, dan langit-langit seperti cat yang tidak terlihat. Bukan untuk menyerang siapapun — hanya untuk memastikan tidak ada kebocoran energi yang bisa terdeteksi dari luar saat dia melakukan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Sesepuh Bai dan Sesepuh Duan tidak akan merasakan apapun.
Kedua — pil.
Lin Chen mengeluarkan kantong kecil berisi bahan-bahan yang sudah dia kumpulkan sejak kemarin — beli satu per satu di toko berbeda dengan alasan yang berbeda-beda, tidak ada yang akan menghubungkan pembelian-pembelian itu menjadi satu gambaran yang koheren kecuali seseorang yang tahu persis apa yang dicarinya.
Pemahaman Alkemi Primordial Tingkat Dasar yang didapat dari check-in bulan ini mengalir ke dalam tangannya seperti air yang menemukan jalurnya — formula, rasio, suhu, urutan. Semuanya ada, semuanya jelas, semuanya menunggu untuk dieksekusi.
Lin Chen mulai meramu.
Tidak ada tungku alkemi — dia tidak punya dan tidak bisa membelinya tanpa menarik perhatian. Yang ada hanyalah telapak tangannya, Qi primordial yang mengalir di dalam tubuhnya, dan pemahaman yang terukir sempurna di dalam ingatannya.
Panas yang sangat terkontrol mengumpul di telapak tangannya. Bahan-bahan dimasukkan satu per satu dengan urutan yang sangat presisi — terlalu cepat akan merusak struktur molekuler bahan, terlalu lambat akan kehilangan momen reaksi yang tepat. Lin Chen bergerak di antara keduanya dengan sangat akurat.
Satu jam kemudian, di telapak tangannya, ada sebuah pil kecil berwarna abu-abu keemasan yang memancarkan aroma yang sangat samar — seperti angin gunung setelah hujan, seperti tanah yang baru dibalik, seperti sesuatu yang sangat tua dan sangat murni sekaligus.
Pil Pemulihan Primordial.
Bukan hanya menyembuhkan luka biasa — racun niat yang tersembunyi di dalam meridian Su Qingxue akan diurai dan dibuang, dan meridiannya akan diperkuat lebih baik dari kondisi sebelum pertandingan.
Lin Chen menatap pil itu di telapak tangannya.
'Bagian mudahnya selesai,' batinnya. 'Sekarang bagian yang lebih rumit.'
Memasuki kesadaran seseorang yang sedang tidur adalah teknik yang bahkan tidak ada dalam kurikulum resmi kultivasi manapun yang Lin Chen pernah pelajari — ini bukan teknik yang diajarkan, ini teknik yang lahir dari kombinasi Mata Dewa Kekacauan, Tubuh Hegemoni Hongmeng, dan pemahaman tentang cara energi jiwa bekerja yang mengalir masuk ke dalam ingatannya sebagai bagian dari hadiah-hadiah check-in yang terus menumpuk.
Dia tidak pernah mencobanya sebelumnya.
'Pertama kali untuk segalanya,' dia menyimpulkan dengan sangat datar, lalu mulai.
Kesadaran spiritualnya keluar dari tubuhnya perlahan — seperti uap yang naik dari permukaan air, tidak berbentuk tapi hadir, tidak terlihat tapi nyata. Naik menembus langit-langit kamarnya, menembus lantai kamar Su Qingxue di atas, menembus batas antara dunia sadar dan dunia tidur yang di malam ini sangat tipis karena Su Qingxue tidak cukup tidur untuk membangun pertahanan bawah sadar yang solid.
Lalu dia masuk.
Dunia di dalam kesadaran Su Qingxue bukan seperti yang Lin Chen bayangkan.
Bukan kacau. Bukan gelap. Bukan penuh dengan gambaran-gambaran acak seperti mimpi kebanyakan orang.
Ini adalah sebuah halaman yang sangat familiar — halaman di depan Paviliun Kitab Suci Sekte Taixuan, dengan pohon kuno berdaun merah di tengahnya dan dinding batu besar yang penuh coretan pedang di ujungnya. Langitnya abu-abu, tidak siang tidak malam, dan tidak ada suara kecuali angin yang menggerakkan daun-daun merah jatuh dengan pola berputar yang sangat familiar.
Su Qingxue berdiri di depan dinding batu itu.
Sendirian.
Punggungnya ke arah Lin Chen — atau ke arah apapun bentuk Lin Chen di tempat ini. Dia tidak bergerak, hanya menatap coretan-coretan di dinding dengan intensitas orang yang sedang mencari sesuatu yang dia tahu ada tapi tidak bisa ditemukannya lagi.
Lin Chen memperhatikan wujudnya sendiri.
Di dunia kesadaran ini, dia tidak punya wajah — atau lebih tepatnya, wajahnya tertutup kabut yang tidak bisa ditembus, bahkan oleh penglihatannya sendiri. Wujudnya hanya siluet abu-abu yang tidak terlalu jelas bentuknya, suaranya — kalau nanti dia berbicara — akan keluar sebagai sesuatu yang tidak bisa dikaitkan dengan siapapun yang Su Qingxue kenal.
'Cukup,' dia menyimpulkan.
Dia melangkah maju.
Dedaunan merah di halaman mimpi itu tidak bersuara saat diinjak. Langkahnya tidak menghasilkan suara apapun. Tapi Su Qingxue merasakan kehadirannya — bahunya sedikit menegang, tangannya yang menggantung di sisi tubuhnya bergerak sangat kecil ke arah gagang pedang yang tidak ada di sana.
"Siapa?"
Suaranya di dunia mimpi ini lebih datar dari suaranya di dunia nyata — tapi lebih jujur. Tidak ada lapisan kontrol yang biasanya dia pakai.